PUASA DAN IKHLAS

PUASA DAN IKHLAS

Ketika Tidak Ada yang Melihat — Kecuali Allah

— Sebuah Renungan di Bulan Ramadhan —

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Wahai jiwa yang sedang berpuasa...

Izinkan aku bertanya sesuatu yang mungkin belum pernah kau tanyakan kepada dirimu sendiri.

Bukan kepada orang lain. Bukan di depan umum. Tapi di sini — dalam keheningan antara kamu dan hatimu.

Andaikan hari ini tidak ada seorang pun yang tahu apakah kau berpuasa atau tidak — apakah kau tetap berpuasa?

Pertanyaan itu bukan jebakan.

Pertanyaan itu adalah cermin.

Dan jawaban yang jujur di dalam hatimu — adalah potret sesungguhnya dari niatmu selama ini.

I. Rahasia yang Hanya Allah Ketahui

Di antara seluruh ibadah yang Allah wajibkan...

Puasa adalah yang paling istimewa.

Bukan karena ia yang paling berat — meskipun ia memang berat.

Tapi karena ia adalah satu-satunya ibadah yang tidak bisa dipalsukan di hadapan Allah.

Shalat bisa dilihat orang.

Sedekah bisa diketahui orang.

Haji bisa disaksikan orang.

Tapi puasa...

Tidak ada yang tahu apakah kau benar-benar berpuasa atau tidak — kecuali dirimu dan Allah.

Kau bisa masuk dapur diam-diam. Kau bisa minum tanpa ada yang melihat. Kau bisa berbuka sebelum waktunya — dan tidak satu pun manusia akan mengetahuinya.

Tapi Allah tahu.

Allah selalu tahu.

« مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." — HR. Bukhari & Muslim

Perhatikan dua kata itu: iimanan dan ihtisaban.

Iman — karena keyakinan yang sungguh-sungguh.

Ihtisaban — karena mengharap Allah, bukan mengharap penilaian manusia.

Dua sayap inilah yang mengangkat puasamu ke langit.

Jika salah satunya patah — ia akan jatuh sebelum sampai.

II. Dua Syarat yang Tidak Bisa Ditawar

Imam Fudhail bin Iyadh — salah satu ulama besar yang pernah hidup — ditanya tentang makna firman Allah:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

"...supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." — QS. Al-Mulk: 2

Dan jawaban beliau menggetarkan.

Bukan yang terbanyak. Bukan yang terbesar. Tapi yang ahsanu amala — yang terbaik amalnya.

Lalu apa yang membuat amal itu terbaik?

Beliau berkata dengan tegas:

"Amal yang paling ikhlas dan paling benar. Sesungguhnya suatu amal jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak benar — tidak diterima. Dan jika dikerjakan dengan cara yang benar namun tidak ikhlas — juga tidak diterima."

Dua syarat. Keduanya wajib hadir bersama.

Pertama: ikhlas — murni karena Allah, bukan karena manusia.

Kedua: ittiba' — mengikuti cara Rasulullah ﷺ, bukan cara yang kita karang sendiri.

Ikhlas tanpa ittiba' — ibarat burung yang punya niat terbang tapi tidak punya sayap.

Ittiba' tanpa ikhlas — ibarat burung yang punya sayap tapi tidak punya keinginan untuk terbang.

Keduanya tidak akan sampai ke langit.

III. Niat — Mahkota yang Paling Berat Dijaga

Rasulullah ﷺ bersabda:

« إنَّما الأعْمالُ بالنِّيّاتِ »

"Sungguh, seluruh amal itu tergantung niatnya." — HR. Bukhari & Muslim

Kalimat pendek. Tapi ia mengguncang seluruh bangunan ibadah kita.

Karena niat bukan sekadar ucapan di awal.

Niat adalah ruh yang harus terus hidup dari awal amal hingga akhirnya.

Bahkan ada hadis yang lebih mengejutkan lagi:

« نيَّةُ المؤمنِ أبلَغُ مِن عملِه »

"Niat seorang mukmin lebih mengena daripada tindakannya." — HR. Baihaqi dalam Syu'abul Iman

Niat lebih mengena dari amal.

Artinya — seseorang yang berniat baik tapi tidak mampu melaksanakannya karena uzur, bisa mendapatkan pahala yang sama dengan yang melaksanakannya.

Sebaliknya — seseorang yang beramal banyak tapi niatnya melenceng, bisa pulang dengan tangan kosong.

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah pernah berpesan kepada murid-muridnya:

"Belajarlah tentang niat — karena ia lebih penting dari amal." — Jami'ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab

Belajar tentang niat.

Bukan belajar memperbanyak amal — tapi belajar membenarkan niat di balik amal itu.

Karena amal tanpa niat yang lurus adalah jasad tanpa ruh — tampak hidup, tapi sesungguhnya mati.

IV. Ikhlas Itu Berat — Bahkan bagi Orang Shalih

Jangan merasa kamu seorang diri yang berjuang dengan niat.

Bahkan imam-imam besar pun bergulat dengan hal yang sama.

Sufyan Ats-Tsauri — salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam — pernah mengakui dengan jujur:

"Tidak ada yang lebih berat bagiku melebihi beratnya mengobati niatku — karena ia selalu berubah-ubah dalam diriku."

Imam Sufyan Ats-Tsauri.

Bukan orang biasa. Tapi ia mengakui bahwa niatnya pun tidak stabil.

Dan Yusuf Ar-Razi menambahkan dengan kata-kata yang lebih menohok:

"Sesuatu yang paling berat di dunia adalah ikhlas. Aku sering menghilangkan riya' dari hatiku — tetapi seolah ia tumbuh lagi dengan warna yang berbeda."

Tumbuh lagi dengan warna yang berbeda.

Inilah yang membuat ikhlas begitu sulit.

Riya' tidak selalu datang dengan wajah yang sama.

Kadang ia hadir sebagai keinginan dipuji.

Kadang sebagai takut dicela.

Kadang sebagai rasa ingin dikenal sebagai orang yang shalih.

Kadang — yang paling berbahaya — ia hadir tanpa kita sadari sama sekali.

V. Resep Ibnul Qayyim — Menjaga Niat agar Tidak Bocor

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah memberikan tiga resep praktis untuk menjaga niat sebelum, selama, dan sesudah beramal.

Tiga pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri:

Waktu Pertanyaan kepada Diri Sendiri Tindakannya
Sebelum beramal "Untuk siapa aku berbuat ini?" Jika karena Allah — lanjutkan. Jika karena yang lain — hentikan dan luruskan.
Saat beramal "Apakah niatku masih di tempat?" Jaga — jangan biarkan setan atau hawa nafsu mencurinya di tengah jalan.
Setelah beramal "Apakah aku masih menyebut-nyebutnya?" Lupakan. Serahkan kepada Allah. Amal yang disebut-sebut berisiko kehilangan nilainya.

Tidak mudah.

Ibnul Qayyim sendiri yang berkata: wallahul musta'an — hanya Allah tempat meminta pertolongan.

Karena menjaga niat adalah pertempuran yang tidak pernah berhenti — selama kita masih bernapas.

VI. Tanda-tanda Orang yang Ikhlas

Bagaimana kita tahu apakah kita sudah ikhlas atau belum?

Ada tanda-tandanya. Dan para ulama telah menguraikannya dengan sangat jelas.

Pertama — ia hanya mengharap ridha Allah.

Bukan pujian. Bukan jabatan. Bukan nama baik.

Ia beribadah di keramaian sama persis dengan cara ia beribadah ketika sendirian.

Tidak ada performa. Tidak ada panggung. Yang ada hanya Allah.

Kedua — ia tetap beramal meski sendirian.

Ini yang paling berat dan paling jujur.

Rasulullah ﷺ pernah menceritakan tentang seseorang yang amalnya setinggi gunung Tihamah yang putih — kemudian Allah lenyapkan seluruhnya. Mengapa?

"Mereka bangun malam seperti kalian — akan tetapi apabila sendirian dan mendapat kesempatan untuk berbuat dosa, mereka melakukannya." — HR. Ibnu Majah, Shahih

Amalnya banyak. Tapi tersembunyi di balik amal itu ada kemunafikan yang hanya tampak ketika tidak ada yang melihat.

Dan Allah melihat yang di balik itu.

Ketiga — ia tidak menunggu pujian manusia.

Para nabi mengajarkan ini. Allah mengabadikan ucapan mereka:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan ridha Allah — kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu." — QS. Al-Insan: 9

Memberi tanpa menunggu ucapan terima kasih.

Berbuat tanpa menunggu tepuk tangan.

Berkorban tanpa menunggu namanya disebut.

Itulah ikhlas.

Keempat — ia takut amalnya tidak diterima.

Ini paradoks yang indah.

Orang yang paling banyak beramal — justru yang paling takut amalnya tidak diterima.

Allah menyebut mereka dalam Al-Quran:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

"Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati penuh rasa takut karena mereka tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhannya." — QS. Al-Mukminun: 60

Aisyah radhiyallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat ini — apakah yang dimaksud orang yang takut itu adalah orang yang bermaksiat?

Beliau menjawab: bukan. Yang dimaksud adalah orang yang shalat, berpuasa, dan bersedekah — tapi takut amalnya tidak diterima Allah. Karena itulah mereka bergegas dalam kebaikan.

Mereka tidak berhenti beramal karena takut. Mereka justru semakin bersungguh-sungguh.

Kelima — ia tidak takut celaan manusia.

Orang yang ikhlas tidak mengubah ibadahnya hanya karena ada yang mencela.

Tidak menanggalkan hijab karena diejek. Tidak meninggalkan shalat berjamaah karena dianggap berlebihan. Tidak berhenti bersedekah karena dituduh pamer.

Ia hanya peduli pada satu penilaian — penilaian Allah.

VII. Kisah Tiga Orang yang Amalnya Besar — tapi Pulang dengan Tangan Kosong

Ada sebuah kisah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Kisah yang setiap kali dibaca — membuat bulu kuduk berdiri.

Di hari kiamat, tiga orang dibawa ke hadapan mahkamah Allah.

Orang pertama: seorang mujahid — yang berperang di jalan Allah.

Orang kedua: seorang alim — yang belajar dan mengajarkan ilmu.

Orang ketiga: seorang dermawan — yang menginfakkan hartanya dengan banyak.

Tiga orang dengan amal besar. Tiga orang yang tampak mulia di mata manusia.

Tapi bukan surga yang mereka terima.

Justru neraka.

Mengapa?

Karena si mujahid berperang agar disebut pemberani.

Karena si alim belajar dan mengajar agar disebut orang berilmu.

Karena si dermawan memberi agar disebut pemurah.

Mereka mendapat apa yang mereka cari — pujian manusia.

Tapi mereka tidak mendapat apa yang seharusnya mereka cari — ridha Allah.

"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas dan mengharapkan wajah-Nya." — HR. An-Nasai, Shahih

Kisah itu bukan untuk menakut-nakuti.

Kisah itu adalah cermin.

Agar kita berhenti sejenak dan bertanya: untuk siapa sebenarnya aku beramal?

VIII. Buah Keikhlasan yang Tidak Ternilai

Para ulama berkata:

"Semua manusia akan musnah kecuali orang yang berilmu. Semua orang yang berilmu akan musnah kecuali orang yang beramal. Semua orang yang beramal akan musnah kecuali orang yang ikhlas."

Ikhlas adalah penyaring terakhir.

Yang lolos dari penyaring itulah yang benar-benar selamat.

Dan buah keikhlasan itu nyata — tidak harus menunggu akhirat.

Orang yang ikhlas — hatinya bersih dari dengki. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tiga hal yang membersihkan hati seorang mukmin, yang pertama adalah: beramal dengan ikhlas karena Allah.

Orang yang ikhlas — hidupnya tenang meskipun hartanya sedikit. Karena ia tidak mengejar dunia — dan justru dunia yang datang menghampirinya.

« وَمَنْ كَانَتِ الآخَرَةُ نيَّتَهُ ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنيَا وَهِيَ رَاغِمةٌ »

"Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya, maka Allah akan mengumpulkan segala urusannya, menjadikan kekayaan memenuhi hatinya, dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina." — HR. Ibnu Majah, Shahih

Orang yang ikhlas — terlindung dari setan. Iblis sendiri yang mengakui:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ۝ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

"Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya — kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka." — QS. Shad: 82-83

Iblis menyerah di hadapan orang yang ikhlas.

Karena tidak ada celah dalam diri mereka untuk dimasuki.

Tidak ada keinginan dipuji. Tidak ada takut dicela. Tidak ada ambisi dunia yang bisa dijadikan umpan.

Yang ada hanya Allah.

Dan di sana — iblis tidak berdaya.

IX. Puasamu di Bulan Ini — untuk Siapa?

Kita kembali ke pertanyaan awal.

Bukan untuk menghakimi. Tapi untuk meluruskan.

Ramadhan adalah sekolah ikhlas yang paling istimewa yang Allah sediakan setiap tahun.

Sekolah yang kurikulumnya sederhana — menahan diri dari yang halal sekalipun — demi satu hal:

Mendekatkan hati kepada Allah.

Bukan mendekatkan diri kepada pujian orang.

Bukan mendekatkan diri kepada reputasi sebagai orang yang rajin ibadah.

Tapi kepada Allah — yang Maha Melihat apa yang tersembunyi, yang Maha Mendengar apa yang tidak terucapkan, yang Maha Tahu apa yang hanya bergerak di dalam hati.

« مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »

"Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala — maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." — HR. Bukhari & Muslim

Iimanan — dengan iman yang sungguh.

Ihtisaban — mengharap Allah semata.

Dua kata itu. Hanya dua kata. Tapi keduanya adalah kunci pengampunan seluruh dosa yang telah lalu.

Maka malam ini...

Sebelum tidur...

Sebelum Ramadhan ini berlalu...

Perbarui niatmu.

Katakan kepada dirimu sendiri — bukan kepada orang lain, tapi kepada dirimu — dengan sungguh-sungguh:

"Ya Allah, puasaku ini bukan untuk siapa pun kecuali Engkau. Tarawihku ini bukan untuk siapa pun kecuali Engkau. Setiap amal yang aku lakukan di bulan ini — aku persembahkan hanya untuk-Mu. Bukan karena aku layak. Tapi karena tidak ada tempat lain yang lebih pantas untuk aku tuju."

X. Doa Penutup

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الإِخْلَاصَ فِي القَوْلِ وَالعَمَلِ

Ya Allah...

Engkau tahu betapa sulitnya kami menjaga niat.

Engkau tahu betapa seringnya riya' itu menyelinap tanpa kami sadari.

Maka ya Allah — bersihkan hati kami.

Jangan biarkan satu pun amal kami di bulan Ramadhan ini ternoda oleh sesuatu yang bukan Engkau.

Jadikan puasa kami ikhlas.

Jadikan shalat kami ikhlas.

Jadikan setiap langkah kaki kami ke masjid — ikhlas.

Dan kelak, ketika kami berdiri di hadapan-Mu —

jadikan kami termasuk golongan yang Engkau sebut dengan penuh kasih:

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

"...kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas." — QS. Ash-Shaffat: 40

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Inspirasi dari Ustadz Farid Okbah


Artikel Populer

Rahasia Lima Huruf dalam Kata Ramadhan

Ramadhan Bulan Al-Qur'an — Bukan Sekadar Membaca, Tapi Berdialog dengan Allah

Hal-hal yang Membatalkan Puasa Ramadhan dan yang Mengurangi Pahalanya: Panduan Fiqh dan Spiritualitas

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya