Bersegera dalam Amal Kebajikan Tanpa Grusa-Grusu: Keseimbangan antara Semangat dan Kebijaksanaan
Bersegera dalam Amal Kebajikan Tanpa Grusa-Grusu: Keseimbangan antara Semangat dan Kebijaksanaan
Pendahuluan
Dalam kehidupan seorang Muslim, terdapat sebuah paradoks yang menuntut kebijaksanaan untuk diselesaikan: di satu sisi, kita diperintahkan untuk berlomba-lomba dan bersegera dalam kebaikan; di sisi lain, kita diperingatkan untuk tidak tergesa-gesa hingga kehilangan essence atau hakikat dari amal yang kita kerjakan. Inilah keseimbangan halus antara semangat (enthusiasm) dan kebijaksanaan (wisdom) yang menjadi pembeda antara produktivitas sejati dengan kesibukan yang sia-sia.
Istilah Jawa "grusa-grusu" menggambarkan dengan tepat ketergesaan yang kontraproduktif—terburu-buru tanpa perhitungan matang, tanpa persiapan memadai, sehingga hasilnya justru tidak optimal atau bahkan menimbulkan kerusakan. Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana Islam mengajarkan kita untuk bersegera dalam kebaikan dengan tetap menjaga kualitas dan keberkahan amal.
Landasan Syar'i: Perintah Bersegera dalam Kebaikan
Dalil dari Al-Qur'an
Allah SWT berfirman dalam beberapa ayat yang menegaskan pentingnya bersegera dalam kebaikan:
1. Surah Ali Imran ayat 133:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."
Kata سَارِعُوا (saari'uu) berasal dari akar kata yang bermakna bersegera dengan sungguh-sungguh. Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan umat Islam untuk tidak menunda-nunda dalam melakukan amal saleh yang mendekatkan diri kepada Allah dan mengantarkan ke surga.
2. Surah Al-Baqarah ayat 148:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
"Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan."
Kata اسْتَبِقُوا (istabiquu) mengandung makna perlombaan yang serius. Ini menunjukkan bahwa dalam beramal, kita harus memiliki semangat seperti orang yang berlomba—tidak santai-santai, tidak menunda, namun tetap dengan aturan main yang jelas.
3. Surah Al-Mu'minun ayat 61:
أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ
"Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya."
Ayat ini menggambarkan karakteristik orang-orang beriman yang selalu bersegera dalam kebaikan, dan mereka jugalah yang akan menjadi orang-orang yang mendahuluinya—maksudnya mendapat pahala dan kebaikan lebih dulu.
Dalil dari Hadits
1. Hadits tentang bersegera sebelum datang fitnah:
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
"Bersegeralah kalian melakukan amal saleh sebelum datang fitnah-fitnah yang bagaikan bagian-bagian malam yang gelap gulita." (HR. Muslim)
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa akan datang masa-masa yang penuh fitnah dan godaan yang bisa menghalangi kita dari beramal saleh. Oleh karena itu, selagi ada kesempatan dan kemudahan, kita harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
2. Hadits tentang memanfaatkan lima perkara sebelum lima perkara:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
"Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukan, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim, dishahihkan Al-Albani)
Hadits ini menekankan pentingnya sense of urgency dalam beramal. Waktu, kesehatan, dan kesempatan adalah anugerah yang tidak kekal, sehingga harus dimanfaatkan dengan optimal.
3. Hadits tentang amal yang konsisten:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten (kontinyu) meskipun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini memberikan balance terhadap perintah bersegera. Bersegera bukan berarti melakukan amal besar sekali kemudian berhenti, tetapi memulai dengan segera dan menjaganya secara istiqamah.
Bahaya "Grusa-Grusu" dalam Perspektif Islam dan Psikologi
Larangan Tergesa-gesa dalam Al-Qur'an
Menariknya, Al-Qur'an juga memperingatkan tentang bahaya tergesa-gesa yang tidak pada tempatnya:
خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ
"Manusia diciptakan dari sifat tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)-Ku, maka janganlah kamu minta kepada-Ku untuk mendatangkannya dengan segera." (QS. Al-Anbiya: 37)
Kata عَجَلٍ ('ajal) menunjukkan sifat terburu-buru yang menjadi bagian dari kelemahan manusia. Allah menciptakan manusia dengan kecenderungan ini sebagai ujian—apakah kita bisa mengendalikannya dengan akal dan wahyu, atau membiarkannya menguasai diri?
Dampak Negatif Grusa-Grusu
1. Kehilangan Ikhlas dan Khusyu'
Dalam psikologi, kondisi terburu-buru menciptakan apa yang disebut cognitive overload—ketika pikiran terlalu dipenuhi dengan target dan kecemasan akan hasil, sehingga tidak mampu fokus pada proses. Dalam konteks ibadah, ini berarti:
Shalat dikerjakan dengan tergesa-gesa tanpa thuma'ninah (ketenangan). Rasulullah SAW bersabda:
لَا تُجْزِئُ صَلَاةُ الرَّجُلِ حَتَّى يُقِيمَ ظَهْرَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
"Tidak sah shalat seseorang hingga ia menegakkan punggungnya ketika ruku' dan sujud." (HR. Abu Dawud, dishahihkan Al-Albani)
Bahkan ada hadits tentang orang yang shalat seperti burung yang mematuk—sangat tergesa-gesa—yang Rasulullah katakan bahwa jika ia mati dalam kondisi seperti itu, ia mati bukan dalam agamaku (agama Muhammad).
2. Salah Sasaran dan Prioritas
Penelitian dalam decision-making psychology menunjukkan bahwa keputusan yang diambil dalam kondisi terburu-buru cenderung kurang optimal. Ini karena otak tidak memiliki waktu cukup untuk memproses informasi secara komprehensif.
Dalam konteks amal kebajikan, ini bisa berarti:
- Memberikan sedekah kepada yang tidak benar-benar membutuhkan karena tidak sempat melakukan verifikasi
- Ikut program sosial yang tidak jelas accountability-nya
- Mengejar amal-amal sunnah sambil melalaikan yang fardhu
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)." (QS. Al-Baqarah: 264)
Sedekah yang diberikan tergesa-gesa tanpa adab dan empati bisa justru menyakiti dan menghapus pahala.
3. Merusak Hubungan Sosial
Dalam psikologi komunikasi, hasty communication (komunikasi yang terburu-buru) adalah salah satu penyebab utama konflik interpersonal. Seseorang yang terburu-buru cenderung:
- Tidak mendengarkan dengan baik (active listening)
- Memberikan respons defensif
- Mengabaikan konteks emosional lawan bicara
Dalam dakwah dan amar ma'ruf nahi munkar, sikap grusa-grusu bisa berakibat fatal. Allah SWT memerintahkan:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik." (QS. An-Nahl: 125)
Kata حِكْمَةِ (hikmah) mencakup pengertian tentang waktu yang tepat, cara yang tepat, dan pendekatan yang bijaksana—bukan tergesa-gesa memaksakan kehendak.
4. Tidak Berkelanjutan (Unsustainable)
Dalam psikologi burnout, dikenal fenomena initial enthusiasm followed by exhaustion—semangat awal yang tinggi namun cepat padam karena tidak didasari pada sustainable motivation.
Rasulullah SAW memperingatkan:
إِنَّ هَذَا الدِّينَ مَتِينٌ فَأَوْغِلْ فِيهِ بِرِفْقٍ وَلَا تُبَغِّضْ إِلَى نَفْسِكَ عِبَادَةَ اللَّهِ
"Sesungguhnya agama ini kokoh, maka masuklah ke dalamnya dengan lemah lembut, dan janganlah kamu membuat dirimu membenci ibadah kepada Allah." (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani)
Maksudnya, beramallah dengan cara yang bisa kamu pertahankan dalam jangka panjang, jangan sampai karena terlalu memaksakan diri di awal, akhirnya justru berhenti total.
Menemukan Keseimbangan: Bersegera yang Bijaksana
1. Niat yang Lurus dan Jernih
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Niat yang ikhlas akan menghasilkan amal yang berkualitas. Dalam psikologi motivasi, ini sejalan dengan konsep intrinsic motivation—motivasi yang datang dari dalam diri karena nilai dan makna, bukan karena tekanan eksternal atau hasrat untuk dilihat orang.
Tanyakan pada diri sendiri sebelum beramal:
- Apakah saya melakukan ini karena Allah atau karena ingin dipuji?
- Apakah saya bersegera karena menghargai waktu atau hanya karena kompetisi dengan orang lain?
- Apakah saya siap melanjutkan amal ini meski tidak ada yang tahu?
2. Ilmu Sebelum Amal
Imam Bukhari membuat bab khusus dalam Shahih-nya: "Bab Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan" sebagai pengingat bahwa amal yang berkah adalah amal yang didasari ilmu.
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
"Katakanlah, 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'" (QS. Az-Zumar: 9)
Dalam konteks praktis:
- Sebelum bersedekah, pelajari adab dan fiqih sedekah
- Sebelum ikut organisasi sosial, pelajari visi-misi dan track record-nya
- Sebelum berdakwah, pelajari ilmu yang akan disampaikan dan cara menyampaikannya
Ini bukan berarti menunda sampai sempurna, tetapi memastikan bahwa kita memiliki bekal minimal yang cukup.
3. Persiapan yang Matang dengan Tawakal
Allah SWT berfirman:
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ
"Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi." (QS. Al-Anfal: 60)
Meskipun konteks ayat ini tentang persiapan perang, prinsipnya berlaku universal: persiapan adalah bagian dari kesungguhan dalam beramal.
Rasulullah SAW mengajarkan konsep planning dengan tawakal:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
"Ikatlah (untamu) dan bertawakallah." (HR. Tirmidzi)
Maksudnya, lakukan ikhtiar maksimal (ikat unta agar tidak lari), baru pasrahkan hasilnya kepada Allah. Bukan pasrah tanpa usaha, bukan pula usaha tanpa pasrah.
Dalam psikologi goal-setting, ini sejalan dengan prinsip SMART goals: Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound. Amal yang direncanakan dengan baik memiliki peluang sukses yang lebih tinggi.
4. Istiqamah Lebih Utama daripada Intensitas Sesaat
Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا عَمِلَ عَمَلاً أَثْبَتَهُ
"Apabila Rasulullah SAW mengerjakan suatu amalan, beliau menjaganya (istiqamah)." (HR. Muslim)
Dalam psikologi kebiasaan (habit formation), konsistensi kecil lebih efektif daripada upaya besar yang sporadis. James Clear dalam bukum Atomic Habits menjelaskan bahwa perbaikan 1% setiap hari akan menghasilkan peningkatan 37 kali lipat dalam setahun.
Aplikasi dalam kehidupan:
- Lebih baik sedekah Rp 10.000 setiap hari daripada Rp 1.000.000 sekali setahun lalu berhenti
- Lebih baik membaca Al-Qur'an satu halaman setiap hari daripada satu juz sekali kemudian tidak lagi
- Lebih baik shalat sunnah dua rakaat konsisten daripada sepuluh rakaat sekali-kali
5. Kualitas dan Kuantitas: Mengejar Keduanya Secara Bertahap
Allah SWT memuji orang-orang yang beramal dengan kualitas tinggi:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2)
Allah tidak berfirman أَكْثَرُ عَمَلًا (lebih banyak amalnya), tetapi أَحْسَنُ عَمَلًا (lebih baik/berkualitas amalnya).
Al-Fudhail bin 'Iyadh menjelaskan bahwa amal yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai sunnah).
Strategi praktis:
- Mulai dengan kualitas tinggi dalam kuantitas kecil
- Ketika sudah konsisten dan berkualitas, tingkatkan kuantitas secara bertahap
- Jangan korbankan kualitas demi kuantitas
6. Mindfulness dan Khusyu' dalam Beramal
Konsep mindfulness dalam psikologi modern sebenarnya sejalan dengan konsep khusyu' dan muraqabah (merasa diawasi Allah) dalam Islam.
Definisi ihsan dari Rasulullah SAW:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
"Bahwa engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Muslim)
Kesadaran penuh (full awareness) terhadap kehadiran Allah akan membuat kita beramal dengan sepenuh hati, tidak tergesa-gesa, dan penuh penghayatan.
Penelitian neuroscience menunjukkan bahwa mindful practice mengaktifkan prefrontal cortex (pusat pengambilan keputusan rasional) dan menenangkan amygdala (pusat respons stres), sehingga membuat kita lebih bijaksana dalam bertindak.
Contoh Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam Ibadah
Bersegera yang benar:
- Segera bangkit untuk shalat ketika mendengar adzan, namun wudhu dengan tenang dan shalat dengan thuma'ninah
- Segera membayar zakat ketika sampai nisab dan haul, namun menghitung dengan teliti dan menyalurkan kepada yang berhak
- Segera bertaubat setelah berbuat dosa, namun dengan penyesalan yang tulus dan komitmen untuk tidak mengulangi
Grusa-grusu yang salah:
- Shalat dengan gerakan cepat tanpa thuma'ninah hanya karena terburu-buru
- Membayar zakat tanpa menghitung dengan benar atau asal menyalurkan
- Mengucap istighfar ratusan kali tanpa kesungguhan hati
Dalam Muamalah (Interaksi Sosial)
Bersegera yang benar:
- Melihat tetangga kesusahan, segera menawarkan bantuan sambil menanyakan kebutuhan spesifiknya
- Mengetahui ada program sosial yang kredibel, segera mendaftar setelah melakukan verifikasi
- Melihat kemungkaran, segera mengingkari sesuai kadar kemampuan dengan cara yang bijaksana
Grusa-grusu yang salah:
- Langsung memberi uang tanpa tahu apakah itu yang dibutuhkan, mungkin justru yang ia butuhkan adalah teman berbicara atau bantuan mengurus dokumen
- Ikut program sosial hanya karena ramai di media sosial tanpa tahu kredibilitasnya
- Mengingkari kemungkaran dengan cara kasar yang justru membuat orang semakin jauh dari kebaikan
Dalam Menuntut Ilmu
Bersegera yang benar:
- Segera mendaftar kajian atau kursus agama ketika ada kesempatan, lalu mengikutinya dengan konsisten
- Segera mencatat dan mengamalkan ilmu yang didapat
- Segera bertanya ketika ada yang tidak dipahami
Grusa-grusu yang salah:
- Ingin cepat menjadi ustadz tanpa pondasi ilmu yang kuat
- Berpindah-pindah guru atau metode belajar tanpa menyelesaikan satu tahap dengan tuntas
- Langsung berfatwa atau mengajar padahal belum memahami dengan mendalam
Dalam Dakwah
Bersegera yang benar:
- Melihat teman melakukan kesalahan, segera menasihati di waktu dan tempat yang tepat dengan cara yang lembut
- Ada kesempatan dakwah, segera ambil namun dengan persiapan materi yang matang
- Melihat kebutuhan masyarakat, segera merespons dengan program yang terencana
Grusa-grusu yang salah:
- Langsung menasihati di depan umum atau di waktu yang tidak tepat sehingga orang malu dan marah
- Menerima undangan dakwah tanpa persiapan, hasilnya materi dangkal atau bahkan salah
- Membuat program asal-asalan tanpa perencanaan, hasilnya tidak berdampak atau malah kacau
Tinjauan Psikologis: Mengapa Manusia Cenderung Grusa-Grusu?
1. Instant Gratification Bias
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa otak manusia lebih tertarik pada reward yang segera daripada yang ditunda, meskipun reward yang ditunda lebih besar. Ini disebut temporal discounting atau present bias.
Dalam konteks amal, ini membuat kita:
- Lebih suka amal yang segera kelihatan hasilnya (misalnya pujian orang) daripada yang pahalanya di akhirat
- Lebih suka menyelesaikan banyak hal dengan cepat meski hasilnya kurang maksimal, daripada satu hal dengan sempurna
- Cepat bosan dengan amal yang membutuhkan kesabaran jangka panjang
Solusi Islam: Menguatkan iman pada hari akhir sehingga kita lebih menghargai delayed gratification berupa pahala akhirat.
2. FOMO (Fear of Missing Out)
Di era media sosial, fenomena FOMO sangat kuat. Kita takut ketinggalan tren, program, atau kesempatan yang dilihat orang lain lakukan.
Akibatnya:
- Ikut berbagai program kebaikan tanpa fokus
- Beramal untuk konten media sosial, bukan untuk Allah
- Merasa cemas dan tidak puas meski sudah beramal banyak
Solusi Islam: Qana'ah (merasa cukup) dan fokus pada kualitas, bukan kuantitas atau popularitas.
3. Stress dan Anxiety
Ketika seseorang dalam kondisi stres atau cemas, cortisol level meningkat dan executive function otak menurun. Ini membuat pengambilan keputusan menjadi impulsif dan terburu-buru.
Dalam beramal:
- Stres karena merasa dosa banyak membuat orang beribadah berlebihan tanpa strategi yang sehat
- Cemas tentang kematian membuat panik beramal tanpa ilmu
Solusi Islam: Zikir dan doa untuk menenangkan hati, plus self-compassion dalam beramal—memberi diri ruang untuk tumbuh bertahap.
4. Perfectionism vs Excellence
Psikologi membedakan antara perfectionism (tidak mau memulai sampai yakin sempurna) dan excellence (berusaha yang terbaik sambil menerima keterbatasan).
Ironisnya, perfectionism bisa membuat orang:
- Menunda-nunda beramal karena menunggu kondisi sempurna (procrastination)
- Atau sebaliknya, tergesa-gesa beramal karena cemas tidak sempurna sehingga ingin cepat-cepat "menyelesaikannya"
Solusi Islam: Konsep ihsan (melakukan yang terbaik) dengan ridha pada takdir Allah. Kita diminta berusaha optimal, namun menerima bahwa kesempurnaan hanya milik Allah.
Penutup: Hikmah Keseimbangan
Islam adalah agama yang seimbang—دِينُ الْوَسَطِ (diin al-wasath), agama yang pertengahan. Dalam beramal pun demikian: tidak malas-malasan hingga melewatkan kesempatan, namun juga tidak grusa-grusu hingga kehilangan berkah dan makna.
Allah SWT berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan sempurna: kejar akhirat dengan sungguh-sungguh, namun jangan lupakan dunia; beramal dengan optimal, namun dengan cara yang baik dan bijaksana.
Prinsip-Prinsip Akhir yang Perlu Diingat
1. Bersegera dalam memulai, sabar dalam proses
Jangan tunda untuk memulai kebaikan, namun bersabarlah dalam menjalani prosesnya. Seperti hadits:
وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ
"Dan kesabaran adalah cahaya." (HR. Muslim)
2. Cepat dalam responsif, lambat dalam reaktif
Cepat merespons kesempatan kebaikan, namun tidak reaktif secara emosional. Ambil waktu untuk berpikir jernih sebelum bertindak.
3. Produktif, bukan sibuk
Produktivitas diukur dari output berkualitas, bukan dari seberapa sibuk kita. Satu amal yang berkualitas lebih baik daripada sepuluh amal yang asal-asalan.
4. Niat untuk jangka panjang, bukan sprint sesaat
Beramal adalah marathon, bukan sprint. Bangun ritme yang sehat dan berkelanjutan.
5. Evaluasi berkala
Lakukan muhasabah (introspeksi) secara rutin: Apakah amal saya masih berkualitas? Apakah saya masih ikhlas? Apakah perlu penyesuaian strategi?
Rasulullah SAW bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
"Orang yang cerdas adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati." (HR. Tirmidzi)
Semoga artikel ini memberi pencerahan bahwa bersegera dalam kebaikan adalah perintah yang mulia, namun harus dilakukan dengan bijaksana—tidak grusa-grusu yang justru menghilangkan berkah. Kita bersegera karena menghargai waktu dan kesempatan, bukan karena terburu nafsu atau kompetisi semu. Kita produktif dalam kebaikan, namun tetap mindful dan penuh penghayatan.
Wallahu a'lam bishawab. Semoga Allah memberi kita taufik untuk beramal dengan sebaik-baiknya, secepat-cepatnya ketika ada kesempatan, namun seteliti-telitinya dalam menjaga kualitas dan keikhlasan.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
"Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 127)