Fikrah — Saat Pikiran Menjadi Kompas Hati
Fikrah — Saat Pikiran Menjadi Kompas Hati
Mengapa Begitu Banyak Orang Tahu Kebenaran, Namun Tetap Berjalan di Arah yang Salah
Ada orang yang banyak berpikir — tetapi hidupnya tetap berantakan.
Ada yang berilmu tinggi — tetapi langkahnya salah arah.
Ada yang tahu mana halal dan haram — tetapi tetap terjerumus ke dalam dosa yang sama, berulang kali.
Kita mungkin pernah berdiri di titik itu. Atau mengenal seseorang yang ada di sana. Atau — dengan jujur — kita sendiri masih berada di sana hari ini.
Masalahnya bukan kurang berpikir. Masalahnya bukan kurang ceramah, bukan kurang konten motivasi, bukan kurang seminar. Masalahnya jauh lebih dalam dari itu: belum sampai kepada fikrah.
Tulisan ini mengajak kita memahami apa itu fikrah dalam tradisi keilmuan Islam, mengapa ia menjadi tahap krusial dalam perjalanan ruhani seorang hamba, dan apa yang dikatakan psikologi modern tentang fenomena yang sudah ribuan tahun disadari oleh para ulama kita.
Antara Ilmu dan Perubahan, Ada Jurang yang Lebar
Sebelum berbicara tentang fikrah, mari kita dudukkan sebuah realitas yang sering kita abaikan.
Di era informasi ini, manusia tidak kekurangan pengetahuan. Jutaan artikel tersebar di internet. Ratusan kajian Islam bisa diakses gratis. Ribuan podcast motivasi dan ceramah agama hadir di genggaman tangan. Tapi lihatlah: apakah manusia semakin berubah menjadi lebih baik? Apakah semakin banyak yang istiqamah? Apakah semakin sedikit yang berbuat maksiat?
Allah subhanahu wa ta'ala sudah menyindir fenomena ini jauh sebelum era digital:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
"Perumpamaan orang-orang yang diberi beban (kewajiban mengamalkan) Taurat, kemudian mereka tidak mengamalkannya, seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal."
(QS. Al-Jumu'ah: 5)
Keledai yang memikul kitab tidak menjadi lebih pandai karena beban yang dibawanya. Ia tetap keledai. Begitu pula manusia yang memenuhi kepalanya dengan ilmu, tapi ilmu itu tidak turun ke hati dan tidak bergerak ke anggota badan — ia tetap di tempat yang sama.
Inilah yang oleh para ulama suluk disebut sebagai tahap sebelum fikrah. Seseorang sudah memiliki ilmu, tapi belum memiliki fikrah. Dan di sinilah letak persoalannya.
Fikrah dalam Peta Perjalanan Ruhani
Dalam khazanah tasawuf dan suluk Islam, perjalanan seorang hamba menuju Allah memiliki tahap-tahap yang saling berkaitan. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam karya agungnya Madarij al-Salikin — sebuah syarah atas Manazil al-Sa'irin karya Syaikh al-Islam Abu Ismail al-Harawi — memerinci maqamat (tahapan-tahapan) ruhani seorang hamba secara sistematis dan mendalam.
Salah satu tahap yang datang setelah yaqazah (kebangkitan dari kelalaian) adalah fikrah.
Jika yaqazah adalah momen seseorang tersadar dari tidurnya yang panjang — seperti orang yang tiba-tiba terjaga di tengah malam dan menyadari bahwa ia telah lalai — maka fikrah adalah langkah selanjutnya: ia mulai berpikir dengan serius tentang ke mana harus pergi.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyatakan dalam Madarij al-Salikin:
الفكرة مبدأ الإرادة والطلب في القلب، وهي روح الأعمال الصالحة وأصلها
"Fikrah adalah awal lahirnya kehendak dan pencarian dalam hati, dan ia adalah ruh dari amal-amal shalih serta pangkalnya."
Perhatikan betapa dalamnya kalimat ini. Fikrah bukan hanya aktivitas akal. Ia adalah ruh dari amal shalih. Tanpa fikrah, amal bisa menjadi kosong, hampa makna, mudah luruh oleh godaan. Dengan fikrah, amal memiliki akar yang menghujam.
Ini bukan sekadar aktivitas otak. Ini adalah saat pikiran mulai dipimpin oleh hati yang sadar tujuan. Fikrah adalah perpaduan antara kekuatan akal dan kesadaran hati yang keduanya mengarah ke satu tujuan yang sama: Allah subhanahu wa ta'ala.
Apa Itu Fikrah — Definisi yang Sering Disalahpahami
Kata fikrah — فِكْرَة — berasal dari akar kata fakara (فَكَرَ) yang berarti berpikir, merenungkan, mempertimbangkan. Namun dalam tradisi keilmuan Islam, maknanya jauh melampaui sekadar "kegiatan berpikir".
Syaikh al-Harawi dalam Manazil al-Sa'irin mendefinisikan fikrah sebagai:
استدعاء المعرفة لاستجلاء المطلوب
"Memanggil pengetahuan untuk menjernihkan apa yang sedang dicari (dituju)."
Fikrah bukan sekadar berpikir acak. Fikrah adalah proses aktif mengumpulkan dan mengerahkan pengetahuan yang dimiliki untuk menerangi tujuan hidup. Ia adalah ketika akal dan hati fokus ke satu arah — tidak lagi berserakan, tidak lagi bingung, tidak lagi mengikuti arus deras pergaulan dan tren.
Fikrah adalah saat seseorang mulai bertanya dengan sungguh-sungguh: "Aku hidup ini sebenarnya menuju ke mana?"
Di sinilah perjalanan manusia berubah. Di sinilah garis batas antara orang yang sekadar hidup dan orang yang benar-benar menghidupi hidupnya.
Dua Jenis Fikrah yang Mengubah Hidup
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij al-Salikin menjelaskan bahwa fikrah manusia berkembang dalam dua tahap besar yang saling berkaitan dan berurutan.
Fikrah Ilmu — Belajar Melihat Realitas dengan Cahaya Wahyu
Ini adalah tahap pertama. Pada tahap ini, seseorang mulai menggunakan akal dan ilmunya untuk membedakan realitas sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang ia inginkan. Ia mulai membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang fakta dan mana yang ilusi, mana sunnah yang shahih dan mana bid'ah yang menggiurkan, mana jalan yang menuju Allah dan mana jalan yang hanya tampak menuju Allah padahal sesungguhnya jebakan dunia.
Ini seperti seseorang yang akhirnya memiliki kompas intelektual. Sebelumnya ia hanya berjalan mengikuti kerumunan. Sekarang ia mulai bertanya: ke manakah kerumunan ini pergi? Apakah arahnya benar?
Ia tidak lagi percaya semua yang viral. Tidak lagi mengikuti semua yang populer. Tidak lagi menganggap sesuatu benar hanya karena banyak orang melakukannya. Ia mulai melihat dengan cahaya ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Allah ta'ala berfirman:
أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran."
(QS. Ar-Ra'd: 19)
Fikrah Amal — Memilih Jalan Hidup dengan Sadar
Berhenti di ilmu saja belum cukup. Setelah tahu mana yang benar, muncul pertanyaan lanjutan yang lebih tajam dan lebih personal: Mana yang sesungguhnya bermanfaat bagiku? Mana yang merusakku? Jalan mana yang harus aku pilih?
Di sinilah fikrah berubah menjadi keputusan hidup. Ini bukan lagi soal teori. Ini soal sikap. Seseorang mulai bertanya: bagaimana caranya mendapatkan yang bermanfaat itu? Bagaimana caranya menjauhi yang merusak itu? Jalan konkret mana yang harus ditempuh?
Di titik ini, fikrah tidak lagi teori belaka. Ia menjadi kompas arah hidup. Ia menjadi fondasi dari setiap keputusan besar maupun kecil dalam keseharian.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ
"Orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah."
(HR. Tirmidzi, hasan)
Hadits ini berbicara tentang esensi fikrah amal: orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang pikirannya sudah terfokus pada apa yang paling penting — kehidupan setelah mati — dan bertindak sesuai dengan itu.
Enam Poros Pikiran yang Sehat Menurut Ibnu Qayyim
Salah satu temuan paling menarik dari Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij al-Salikin adalah bahwa seluruh pemikiran manusia yang sehat dan produktif sebenarnya hanya berputar pada enam perkara — tidak lebih dari itu.
| Dimensi | Perkara | Pertanyaan Kuncinya |
|---|---|---|
| Fikrah Ilmu (Dimensi Pengetahuan) |
1. Mengenali kebenaran | Apa yang benar dalam perkara ini? |
| 2. Membedakan kebatilan | Apa yang salah dan harus dihindari? | |
| 3. Memahami hakikat realitas | Bagaimana sesungguhnya duduk persoalan ini? | |
| Fikrah Amal (Dimensi Tindakan) |
4. Menentukan mana yang bermanfaat | Apa yang baik dan menguntungkan bagiku? |
| 5. Menemukan cara meraih manfaat | Bagaimana cara mendapatkannya? | |
| 6. Menemukan cara menghindari mudarat | Bagaimana cara menjauhi yang merusak? |
Perhatikan implikasinya: jika pikiran kita tidak berputar pada salah satu dari enam hal ini, maka kemungkinan besar kita sedang terdistraksi. Kita sedang membuang waktu, energi, dan kapasitas akal kita pada hal-hal yang tidak membawa kita ke mana-mana.
Berapa banyak jam dalam sehari yang pikiran kita habiskan pada hal-hal di luar enam poros ini? Berapa banyak energi mental yang kita curahkan untuk menggunjing, membandingkan diri dengan orang lain, mengkhawatirkan pendapat orang, atau tenggelam dalam hiburan tanpa ujung?
Ini bukan ajakan untuk menjadi manusia kaku dan tidak bisa bersenang-senang. Ini adalah undangan untuk menjadi lebih sadar tentang ke mana kita mengarahkan pikiran kita — karena pikiran adalah awal dari segalanya.
Al-Qur'an Menyeru Manusia kepada Fikrah
Salah satu hal yang paling mengagumkan dalam Al-Qur'an adalah betapa seringnya Allah memuji orang-orang yang berpikir, merenungkan, dan memahami. Kata-kata seperti yatafakkarun (يَتَفَكَّرُون), ya'qilun (يَعْقِلُون), yatadabbarun (يَتَدَبَّرُون), dan yatazakkarun (يَتَذَكَّرُون) berulang puluhan kali dalam Al-Qur'an.
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
(QS. Ar-Ra'd: 3, Az-Zumar: 42, Al-Jasiyah: 13)
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an, ataukah hati mereka terkunci?"
(QS. Muhammad: 24)
Ayat yang terakhir ini sangat menusuk. Allah memberikan dua kemungkinan: seseorang tidak merenungkan Al-Qur'an karena memang tidak mau, atau karena hatinya sudah terkunci. Dan hati yang terkunci itulah yang menghalangi lahirnya fikrah.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din berkata:
التفكر هو تحريك القلب بالنظر في الدليل للوصول إلى المطلوب
"Tafakkur (berpikir mendalam) adalah menggerakkan hati melalui perenungan terhadap dalil untuk sampai kepada yang dituju."
Perhatikan kata-katanya: menggerakkan hati. Bukan sekadar mengaktifkan otak. Ini adalah proses yang melibatkan seluruh kedalaman diri manusia.
Mengapa Orang Tahu Kebenaran tapi Tidak Berubah
Inilah pertanyaan yang paling banyak menggelisahkan hati manusia — termasuk hati para pendidik, da'i, orang tua, dan siapa pun yang pernah mengamati dirinya sendiri dengan jujur.
Semua orang tahu merokok berbahaya. Tapi tidak semua berhenti. Semua orang tahu shalat adalah kewajiban pertama yang akan dihisab. Tapi banyak yang masih menundanya. Semua orang tahu waktu adalah aset paling berharga yang tidak bisa dibeli kembali. Tapi tetap berjam-jam dihabiskan untuk hal yang tidak menghasilkan apa-apa selain penyesalan.
Mengapa?
Karena informasi belum berubah menjadi fikrah. Ilmu hanya memenuhi kepala. Fikrah menggerakkan hidup.
Ini adalah perbedaan yang sangat fundamental. Ilmu bisa didapat dalam hitungan menit. Fikrah membutuhkan proses, perenungan, dan — yang paling penting — ketulusan hati untuk mau berubah.
Tiga Penghalang Lahirnya Fikrah
Para ulama telah mengidentifikasi beberapa hal yang menghalangi seseorang dari mencapai tahap fikrah. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Al-Fawa'id menyebut di antaranya:
Pertama adalah al-ghaflah (الْغَفْلَة) — kelalaian. Hati yang lalai adalah hati yang tidak pernah merenungkan apa pun secara mendalam. Ia menerima informasi tapi tidak mencernanya. Ia mendengar kebenaran tapi tidak membiarkannya bersarang. Allah ta'ala memperingatkan:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
"Dan sungguh, Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati tapi tidak digunakan untuk memahami, mata tapi tidak digunakan untuk melihat, telinga tapi tidak digunakan untuk mendengar. Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi."
(QS. Al-A'raf: 179)
Kedua adalah hawa an-nafs (هَوَى النَّفْس) — hawa nafsu yang tidak terkendali. Ketika hawa nafsu mendominasi, akal tidak bisa berjalan lurus. Pikiran akan selalu mencari pembenaran atas apa yang diinginkan nafsu, bukan kebenaran yang sesungguhnya. Inilah yang para psikolog modern sebut sebagai motivated reasoning — kita berpikir untuk membenarkan kesimpulan yang sudah kita inginkan, bukan untuk menemukan kebenaran.
Ketiga adalah al-istighraqu fi al-dunya (الاسْتِغْرَاق فِي الدُّنْيَا) — tenggelam sepenuhnya dalam urusan dunia sehingga pikiran tidak pernah punya ruang untuk merenung. Seseorang yang setiap detiknya diisi dengan hiruk pikuk, notifikasi, dan distraksi tidak akan pernah bisa sampai pada fikrah — karena fikrah membutuhkan keheningan dan kesungguhan.
Psikologi Modern dan Konfirmasi atas Wisdom Para Ulama
Menariknya, apa yang telah diungkap oleh para ulama Islam berabad-abad lalu kini menemukan konfirmasinya dalam temuan psikologi modern. Sains — yang lahir jauh setelah masa Ibnu Qayyim — justru semakin memperkuat apa yang sudah beliau ajarkan.
The Intention-Behaviour Gap — Jurang antara Niat dan Perilaku
Dalam psikologi kesehatan dan psikologi perubahan perilaku, para peneliti menemukan fenomena yang mereka sebut sebagai intention-behaviour gap — jurang antara niat dan perilaku nyata. Riset menunjukkan bahwa mengetahui sesuatu itu berbahaya tidak otomatis mengubah perilaku. Orang bisa berniat untuk berolahraga, makan sehat, berhenti merokok — namun tidak melakukannya.
Profesor Peter Gollwitzer dari New York University menemukan bahwa niat saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah apa yang ia sebut sebagai implementation intentions — rencana konkret tentang kapan, di mana, dan bagaimana seseorang akan bertindak. Ini sangat mirip dengan apa yang disebut Ibnu Qayyim sebagai fikrah amal: tidak hanya tahu mana yang benar dan mana yang salah, tapi juga tahu cara konkret untuk mencapai yang bermanfaat dan menjauhi yang merusak.
Dual Process Theory — Akal dan Hati dalam Bahasa Sains
Psikolog Daniel Kahneman, pemenang Nobel Ekonomi, dalam bukunya Thinking, Fast and Slow membagi proses berpikir manusia menjadi dua sistem: Sistem 1 yang bekerja cepat, otomatis, dan intuitif; serta Sistem 2 yang lambat, deliberatif, dan penuh upaya.
Kebanyakan orang hidup hampir sepenuhnya dalam mode Sistem 1 — bereaksi, bukan merespons; mengikuti arus, bukan memilih arah. Fikrah dalam perspektif ini adalah pengaktifan Sistem 2 yang disengaja dan terarah — namun lebih dari itu, ia juga melibatkan apa yang Kahneman sendiri akui sebagai dimensi yang sulit diukur secara ilmiah: nilai-nilai terdalam yang mengarahkan pertimbangan seseorang.
Self-Determination Theory dan Motivasi Intrinsik
Para psikolog Edward Deci dan Richard Ryan mengembangkan Self-Determination Theory (SDT) yang menemukan bahwa perubahan perilaku yang lasting (tahan lama) hanya terjadi ketika seseorang memiliki motivasi intrinsik — motivasi yang berasal dari dalam diri, bukan dari tekanan luar.
Ini adalah konfirmasi ilmiah atas apa yang sudah diajarkan para ulama berabad-abad lalu: perubahan sejati tidak lahir dari tekanan sosial, tidak lahir dari rasa malu, tidak lahir dari ceramah-ceramah yang memaksa. Ia lahir dari dalam — dari fikrah yang sudah tertanam dalam hati.
Ibnu Qayyim menyebutkan dalam Madarij al-Salikin:
من عرف نفسه اشتغل بإصلاحها، ومن عرف ربه اشتغل بعبادته، ومن عرف الدنيا أعرض عنها
"Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaikinya. Barangsiapa mengenal Tuhannya, ia akan sibuk beribadah kepada-Nya. Barangsiapa mengenal dunia, ia akan berpaling darinya."
Pengenalan — atau dalam bahasa psikologi, insight dan self-awareness yang mendalam — adalah pintu masuk kepada perubahan yang genuine.
Neuroscience dan Neuroplastisitas Pikiran
Neurosains modern menemukan bahwa otak manusia bersifat neuroplastic — ia bisa berubah, membentuk koneksi-koneksi baru, dan mereorganisasi dirinya sesuai dengan apa yang sering kita pikirkan dan lakukan. Para peneliti menemukan bahwa praktik perenungan mendalam (contemplative practice), termasuk meditasi dan refleksi spiritual, secara harfiah mengubah struktur otak — terutama di area yang berkaitan dengan regulasi emosi, pengambilan keputusan, dan self-awareness.
Ini memberikan dimensi baru yang menakjubkan pada anjuran Islam untuk bertafakkur, bermuhasabah, dan merenungkan ayat-ayat Allah secara rutin. Bukan hanya secara spiritual, tapi secara neurologis pun, pikiran yang diarahkan dengan benar akan membentuk otak yang lebih mampu membuat keputusan yang baik dan lebih tahan terhadap godaan.
Pertanyaan yang Jarang Kita Tanyakan pada Diri Sendiri
Kita sering bertanya hal-hal yang berputar di permukaan: pekerjaan mana yang paling menguntungkan, investasi mana yang paling aman, strategi mana yang paling efisien, pasangan mana yang paling cocok. Semua pertanyaan yang valid — tapi semuanya bisa menjadi sia-sia jika diajukan oleh seseorang yang belum menemukan arahnya.
Pertanyaan yang jarang kita tanyakan — tapi justru paling menentukan — adalah: Apakah pikiranku sudah menjadi fikrah?
Apakah aku sudah tahu ke mana aku pergi? Apakah aku hidup berdasarkan arah yang jelas, atau hanya mengikuti apa yang datang?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang."
(HR. Bukhari)
Tertipu di sini bukan berarti tidak tahu bahwa keduanya adalah nikmat. Hampir semua orang tahu itu. Tertipu artinya tidak memanfaatkannya dengan benar — karena belum ada fikrah yang mengarahkan.
Syaikh Ibnu 'Athaillah al-Iskandari dalam Al-Hikam-nya berkata dengan sangat puitis dan dalam:
من علامات الاتكاء على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل
"Di antara tanda seseorang bersandar pada amalnya sendiri adalah berkurangnya harapan ketika ia tergelincir dalam dosa."
Ini berbicara tentang kematangan fikrah yang sesungguhnya: seseorang yang benar-benar memiliki fikrah tidak hanya tahu tentang kebenaran secara intelektual, ia juga tahu tentang kelemahannya sendiri, tentang ketergantungannya kepada Allah, dan tentang bagaimana menyikapi kegagalan dengan cara yang benar.
Bagaimana Menumbuhkan Fikrah dalam Diri
Fikrah bukan sesuatu yang tiba-tiba hadir seperti kilat. Ia dirawat, dipupuk, dan dikembangkan. Berikut adalah beberapa prinsip yang diambil dari tradisi keilmuan Islam dan diperkaya dengan temuan psikologi modern.
Muhasabah — Audit Jiwa yang Rutin
Umar ibn al-Khattab radhiyallahu 'anhu berkata dengan kalimat yang sangat terkenal:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَعْمَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنَ عَلَيْكُمْ
"Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang (pada Hari Kiamat)."
(Riwayat al-Tirmidzi dalam Sunannya)
Muhasabah adalah praktik refleksi diri yang terstruktur. Ia bukan hanya tentang menghitung dosa, tapi juga tentang mengevaluasi arah hidup: apakah hari ini aku bergerak mendekati tujuanku atau menjauh? Psikologi modern menyebutnya reflective practice atau metacognition — dan riset menunjukkan bahwa orang yang rutin melakukannya memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang jauh lebih baik.
Tafakkur dan Tadabbur — Merenungkan Tanda-Tanda Allah
Al-Qur'an menganjurkan kita untuk merenungkan alam semesta, kisah-kisah dalam Al-Qur'an, dan juga diri kita sendiri. Ini bukan hanya aktivitas spiritual, tapi juga proses pembentukan fikrah yang paling mendasar.
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru alam dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar."
(QS. Fussilat: 53)
Suhbah — Bergaul dengan Orang-Orang yang Memiliki Fikrah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
"Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya, maka hendaklah setiap kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat."
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, hasan)
Lingkungan membentuk pikiran. Ini bukan sekadar nasihat moral — ini adalah fakta psikologis dan sosiologis yang sudah berulang kali dibuktikan dalam riset. Kita secara tidak sadar mengadopsi nilai, kebiasaan, dan cara berpikir dari orang-orang di sekitar kita. Jika kita ingin mengembangkan fikrah yang sehat, maka kita perlu berada di lingkungan yang orang-orangnya juga memiliki fikrah.
Qillatu al-Kalam — Mengurangi Kebisingan Pikiran
Para ulama suluk selalu menekankan pentingnya mengurangi pembicaraan yang tidak perlu, mengurangi konsumsi informasi yang berlebihan, dan menciptakan ruang keheningan dalam hidup. Ini bukan karena mereka anti-sosial, tapi karena mereka tahu: fikrah tidak bisa lahir di tengah kebisingan.
Psikologi modern menyebutnya cognitive load management — otak manusia memiliki kapasitas yang terbatas, dan ketika kapasitas itu dipenuhi oleh noise (kebisingan), tidak ada ruang untuk pemikiran yang mendalam dan terarah.
Fikrah dan Istiqamah — Hubungan yang Tidak Bisa Dipisahkan
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa banyak orang yang sempat berubah tapi kemudian kembali ke keadaan lama? Mengapa istiqamah begitu sulit?
Jawabannya sering tersembunyi di sini: mereka berubah karena tekanan dari luar, bukan karena fikrah dari dalam. Mereka berhenti merokok karena takut dihakimi, bukan karena betul-betul menyadari bahwa tubuh adalah amanah Allah. Mereka rajin shalat di bulan Ramadhan karena suasana lingkungan, bukan karena fikrah yang tertanam tentang tujuan hidup.
Dan ketika tekanan luar itu hilang, perubahan pun ikut hilang bersamanya.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menulis:
الاستقامة على الطريق تقتضي استقامة القلب على معرفة الله ومحبته والإنابة إليه
"Istiqamah di atas jalan (Allah) mensyaratkan istiqamahnya hati dalam mengenal Allah, mencintai-Nya, dan kembali kepada-Nya."
Istiqamah yang sejati berakar dari hati yang sudah mengenal Allah — dan pengenalan itu hanya mungkin lahir melalui fikrah yang matang.
Fikrah Bukan Milik Orang Alim Saja
Satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan: fikrah bukanlah hak istimewa para ulama atau orang-orang yang sudah lama belajar agama. Fikrah adalah kebutuhan setiap manusia, dari seorang pedagang kaki lima hingga seorang profesional, dari seorang ibu rumah tangga hingga seorang CEO.
Karena setiap manusia — tanpa kecuali — akan berdiri di hadapan Allah dan ditanya tentang umurnya, dihabiskan untuk apa; tentang ilmunya, diamalkan atau tidak; tentang hartanya, dari mana dan ke mana; dan tentang tubuhnya, untuk apa digunakan. (HR. Tirmidzi)
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
"Tidak akan bergeser dua kaki seorang hamba pada Hari Kiamat hingga ia ditanya tentang: umurnya, untuk apa ia habiskan; ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya; hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; serta tubuhnya, untuk apa ia gunakan."
(HR. Tirmidzi, shahih)
Empat pertanyaan ini membutuhkan empat fikrah yang jelas. Tanpa fikrah, kita akan berdiri di hadapan pertanyaan-pertanyaan itu tanpa jawaban yang memuaskan.
Penutup — Saatnya Menguji Pikiran Kita
Di penghujung tulisan ini, ada satu hal yang ingin kita renungkan bersama.
Kita hidup di zaman yang paling banyak informasinya dalam sejarah manusia. Tapi bersamaan dengan itu, mungkin juga zaman yang paling banyak kebingungannya. Orang tahu banyak hal, tapi tidak tahu ke mana pergi. Orang aktif bergerak, tapi tidak tahu sedang menuju apa.
Dan di sinilah relevansi fikrah menjadi sangat akut: kita tidak membutuhkan lebih banyak informasi. Kita membutuhkan pikiran yang sudah menemukan arah.
Cobalah tanyakan pada diri sendiri malam ini, dalam keheningan setelah shalat 'Isya atau di antara shalat tahajjud:
Apakah aku hanya banyak berpikir? Ataukah pikiranku sudah menjadi kompas?
Apakah aku tahu apa yang benar, apa yang salah, apa yang bermanfaat, apa yang merusak, dan bagaimana meraih yang pertama serta menjauhi yang kedua?
Ke manakah hidupku sedang menuju?
Karena di antara tanda seseorang mulai dekat kepada Allah bukanlah banyaknya wacana, bukan rapinya catatan kajian, bukan lamanya duduk di majelis ilmu.
Tetapi saat pikirannya berhenti berputar tanpa arah — dan mulai menunjuk satu tujuan yang jelas dan tidak goyah:
ridha Allah subhanahu wa ta'ala.
Di situlah fikrah lahir. Di situlah perjalanan yang sesungguhnya dimulai.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
"Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-'Ankabut: 69)
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menganugerahkan kepada kita fikrah yang lurus, hati yang hidup, dan langkah yang selalu diarahkan menuju ridha-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi utama: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Madarij al-Salikin | Al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din | Ibnu 'Athaillah al-Iskandari, Al-Hikam | Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wa al-Hikam