Syekh Nawawi al-Bantani: Ketika Ilmu dari Tanara Menjadi Cahaya bagi Dunia

Syekh Nawawi al-Bantani: Ketika Ilmu dari Tanara Menjadi Cahaya bagi Dunia

Bagaimana seorang ulama Nusantara membangun warisan ilmu yang menghubungkan Tanara, Haramain, dan pesantren — serta apa makna ilmu bagi Muslim zaman digital

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Ada nama-nama ulama yang dikenang karena khutbahnya. Ada yang dikenang karena keberaniannya. Ada pula yang dikenang karena kitab-kitab yang terus dibaca, bahkan ketika penulisnya telah lama meninggalkan dunia.

Syekh Nawawi al-Bantani termasuk dalam golongan yang terakhir.

Namun kisahnya bukan sekadar kisah tentang seorang penulis kitab yang produktif. Ia adalah kisah tentang perjalanan ilmu: dari Tanara menuju Makkah, dari seorang murid menjadi guru, dari seorang penuntut ilmu Nusantara menjadi bagian dari jaringan keilmuan Islam yang lebih luas.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadalah: 11)

Kisah hidup Syekh Nawawi memperlihatkan salah satu bentuk nyata bagaimana ilmu, ketika dicari dengan kesungguhan dan diwariskan dengan amanah, dapat mengangkat derajat seseorang dan memperluas manfaatnya jauh melampaui batas tempat dan zaman.

Dari Tanara: Sebuah Awal yang Sederhana

Syekh Nawawi al-Bantani dikenal dengan nama Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi al-Jawi al-Bantani. Ia lahir di Tanara, Banten, sekitar tahun 1813 M atau 1230 H, dan wafat di Makkah pada 1897 M atau 1314 H.

Julukan al-Bantani menunjukkan asal geografisnya dari Banten, sedangkan nisbah al-Jawi dalam tradisi keilmuan Timur Tengah digunakan untuk menyebut para Muslim dari kawasan Nusantara atau dunia Melayu.

Ayahnya, Umar bin Arabi, dikenal sebagai seorang ulama dan penghulu di Tanara. Sejak usia dini, Nawawi telah mendapatkan pendidikan agama dari keluarganya. Ia mempelajari dasar-dasar bahasa Arab, fikih, tauhid, Al-Qur'an, dan tafsir. Pendidikan itu kemudian berlanjut kepada para ulama di Banten dan Jawa, di antaranya Kiai Sahal di Banten dan Raden Haji Yusuf di Purwakarta.

Sejak awal, perjalanan hidupnya memperlihatkan satu pola yang kelak menjadi ciri penting kehidupannya: ilmu tidak dikejar untuk mendapatkan gelar, tetapi untuk membentuk diri. Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang keutamaan jalan menuntut ilmu:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

Dan untuk mendapatkan ilmu semacam itu, seseorang harus bersedia meninggalkan kenyamanan.

Ketika Usia Muda Berhadapan dengan Dunia yang Luas

Pada usia muda, Nawawi melakukan perjalanan ke Makkah. Ia datang bukan sekadar sebagai seorang musafir yang hendak menunaikan ibadah haji. Ia datang sebagai seorang pencari ilmu.

Makkah pada masa itu merupakan salah satu pusat penting jaringan intelektual Islam. Para ulama dari berbagai penjuru dunia datang dan berkumpul. Di sana, seorang pelajar Nusantara dapat berjumpa dengan tradisi keilmuan yang jauh lebih luas daripada yang pernah ia kenal di tanah kelahirannya.

Di lingkungan Masjidil Haram dan pusat-pusat pembelajaran di Hijaz, Nawawi memperdalam berbagai cabang ilmu Islam. Ia belajar kepada sejumlah ulama yang dikenal dalam tradisi keilmuan Hijaz, termasuk Syekh Ahmad Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati, dan Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Sejumlah sumber juga menyebutkan perjalanan belajarnya kepada ulama di Madinah.

Namun perjalanan ilmu tidak selalu berarti tinggal selamanya di satu tempat. Dalam perjalanan hidupnya, Syekh Nawawi sempat kembali ke Nusantara. Tetapi situasi sosial-politik kolonial dan kondisi masyarakat yang dihadapinya turut membentuk pilihan hidupnya untuk kembali ke Makkah.

Di sinilah perjalanan seorang pelajar berubah menjadi perjalanan seorang ulama. Ia tidak lagi sekadar belajar dari guru. Ia mulai menjadi guru.

Dari Murid Menjadi Guru

Kehebatan seorang ulama tidak hanya dapat diukur dari berapa banyak kitab yang ia tulis. Ukuran yang lebih dalam adalah: berapa banyak manusia yang berubah karena ilmu yang ia ajarkan?

Syekh Nawawi al-Bantani menjadi bagian penting dari mata rantai keilmuan yang menghubungkan Hijaz dengan Nusantara. Para pelajar dari kepulauan Melayu datang ke Makkah, belajar, mengaji, berdiskusi, dan membangun jaringan. Sebagian dari mereka kemudian kembali ke tanah air dan mendirikan pesantren atau menjadi guru bagi masyarakat.

Syekh Nawawi juga memiliki posisi penting dalam jaringan keilmuan yang kemudian ikut memengaruhi generasi ulama Nusantara, termasuk lingkungan keilmuan yang melahirkan tokoh-tokoh seperti KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Sifat hubungan tersebut — apakah sebagai guru langsung atau bagian dari jaringan sanad yang lebih luas — disebutkan berbeda-beda dalam berbagai catatan biografis, sehingga perlu dibaca sebagai bagian dari mata rantai keilmuan yang lebih besar, bukan sekadar relasi personal semata.

Karena itu, pengaruh Syekh Nawawi tidak selalu harus dicari dari seberapa sering namanya disebut dalam sejarah politik. Pengaruhnya justru dapat dilihat dari ruang-ruang pesantren — dari seorang kiai yang membaca kitabnya, dari seorang santri yang memahami fikih melalui penjelasannya, dan dari generasi yang bahkan tidak pernah bertemu dengannya, tetapi belajar melalui ilmu yang ia tinggalkan.

Salah satu warisan terbesar Syekh Nawawi adalah karya tulisnya. Ia menulis dalam berbagai bidang keislaman, antara lain tafsir, fikih, tauhid, hadis, tasawuf, dan akhlak. Ia meninggalkan puluhan karya, dan sejumlah sumber menyebut jumlahnya mencapai lebih dari seratus judul, meskipun daftar dan cara penghitungan karya berbeda antarpeneliti.

Di antara karya yang paling dikenal adalah Marah Labid, sebuah karya tafsir yang juga dikenal dengan judul at-Tafsir al-Munir li Ma'alim at-Tanzil. Ia juga menulis Nihayatuz Zain, yang menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian fikih mazhab Syafi'i; Kasyifatus Saja, syarah atas Safinatun Najah; serta Nashaih al-'Ibad, karya yang banyak dibaca dalam kajian nasihat, akhlak, dan pembinaan jiwa.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang keutamaan pemahaman agama yang mendalam semacam ini:

Dari Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan memahamkannya dalam urusan agama." (HR. Bukhari dan Muslim)

Keluasan karya Syekh Nawawi memperlihatkan bahwa fikih, tafsir, akidah, akhlak, dan pembinaan jiwa tidak ia letakkan sebagai wilayah yang saling terpisah. Ilmu, dalam pandangan yang beliau warisi dari tradisi keilmuan Islam, pada akhirnya mengarah pada satu tujuan yang sama:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ilmu, seluas apa pun cabangnya, pada akhirnya tidak berhenti pada pengetahuan itu sendiri, melainkan mengantarkan manusia kepada tujuan penciptaannya.

Kitab yang Melampaui Batas Geografi

Di sinilah kita menemukan salah satu fenomena menarik dalam sejarah intelektual Islam Nusantara. Syekh Nawawi menulis dalam bahasa Arab, bahasa yang menjadi bahasa keilmuan Islam internasional. Dengan pilihan bahasa itu, karya-karyanya tidak berhenti di Banten. Ia dapat dibaca di Makkah, dipelajari oleh para penuntut ilmu dari berbagai negeri, dan kemudian, melalui jaringan pesantren, kembali ke Nusantara.

Terjadi sebuah perjalanan ilmu yang sangat indah: Nusantara mengirim seorang anak untuk belajar ke Tanah Suci; Tanah Suci menjadi tempat ia mengembangkan ilmu; lalu ilmu itu kembali ke Nusantara melalui kitab dan murid-muridnya.

Inilah salah satu alasan mengapa sejarah Syekh Nawawi tidak dapat dipisahkan dari sejarah jaringan ulama Nusantara dan Haramain. Tradisi keilmuan Islam di Nusantara tidak tumbuh dalam keterasingan dari dunia Islam. Sejak dahulu, pesantren memiliki hubungan yang kuat dengan jaringan intelektual Islam yang menghubungkan Nusantara dengan Haramain dan pusat-pusat keilmuan Islam lainnya, dan Syekh Nawawi al-Bantani adalah salah satu bukti penting dari hubungan tersebut.

Seorang Ulama yang Menulis dengan Banyak Pintu

Jika kita membaca karya-karya Syekh Nawawi, kita akan menemukan sebuah pola yang menarik. Ia tidak mengajarkan Islam melalui satu pintu saja. Ada pintu fikih, tafsir, tauhid, hadis, akhlak, dan pula pintu tasawuf.

Semua itu menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam yang ia wariskan tidak dibangun dari satu dimensi. Seorang Muslim harus mengetahui bagaimana beribadah dengan benar, tetapi ia juga harus mengetahui mengapa ia beribadah. Ia harus memahami hukum, tetapi hukum harus melahirkan akhlak. Ia harus mengenal Allah melalui ilmu, tetapi ilmu itu harus melahirkan rasa takut, harap, cinta, dan penghambaan kepada-Nya.

Di titik inilah kita sampai pada gagasan yang sesungguhnya menjadi ruh dari seluruh perjalanan Syekh Nawawi. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama." (QS. Fathir: 28)

Dalam perspektif inilah, puncak ilmu bukanlah banyaknya informasi yang dikuasai, melainkan lahirnya khasyah — rasa takut dan pengagungan kepada Allah — dari ilmu tersebut. Karena itu, kisah Syekh Nawawi sesungguhnya bukan sekadar kisah "seorang anak kampung menjadi ulama dunia". Ia adalah kisah tentang seorang penuntut ilmu yang menjadikan ilmu sebagai jalan menuju khasyah dan pengabdian kepada Allah.

Ketika Ilmu Tidak Berhenti pada Akal

Dalam tradisi keilmuan Islam, terdapat perbedaan antara orang yang banyak mengetahui dan orang yang benar-benar berilmu. Orang yang banyak mengetahui mungkin memiliki banyak informasi. Tetapi orang yang berilmu memiliki kemampuan untuk menempatkan pengetahuan pada tempatnya — ia tahu kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan bagaimana berbeda pendapat tanpa merendahkan.

Ia memahami bahwa semakin luas ilmu seseorang, semakin besar pula kesadarannya terhadap keterbatasan dirinya. Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan batas dari segala pengetahuan manusia:

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
"Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada Yang Maha Mengetahui." (QS. Yusuf: 76)

Warisan intelektual Syekh Nawawi al-Bantani dapat dibaca dalam kerangka tersebut. Ilmu bukan untuk membangun kesombongan. Ilmu adalah jalan menuju pengenalan kepada Allah. Semakin seseorang mengenal Tuhannya, seharusnya semakin lembut hatinya; semakin luas ilmunya, seharusnya semakin dalam tawaduknya.

Syekh Nawawi dan Tradisi Pesantren

Jika ingin memahami pengaruh Syekh Nawawi al-Bantani, mungkin kita tidak perlu hanya melihat ke Makkah. Kita cukup melihat ke pesantren. Di sana, namanya hidup dalam bentuk yang sederhana: kitab dibuka, santri duduk bersila, kiai membaca, makna dituliskan di pinggir halaman, kalimat demi kalimat dipelajari, ilmu berpindah dari guru kepada murid, lalu murid menjadi guru, dan ilmu kembali diwariskan.

Begitulah sebuah tradisi intelektual bertahan. Bukan hanya karena sebuah kitab pernah ditulis, tetapi karena selalu ada manusia yang bersedia membacanya, memahaminya, mengajarkannya, dan menghidupkannya.

Dalam hal ini, Syekh Nawawi merupakan salah satu tokoh penting yang ikut memperkuat kesinambungan tradisi keilmuan pesantren. Sejumlah kajian kontemporer bahkan melihat karya-karyanya sebagai bagian penting dari pembentukan pola pengajaran fikih, tafsir, akidah, dan akhlak di pesantren Indonesia.

Pelajaran dari Seorang Ulama yang Tidak Pulang dengan Tangan Kosong

Ada orang yang pergi jauh untuk mencari kehidupan yang lebih baik, ada yang pergi untuk mencari kekayaan atau kedudukan. Namun ada pula yang pergi karena ingin mencari ilmu.

Syekh Nawawi al-Bantani adalah gambaran tentang seseorang yang menempuh perjalanan jauh, tetapi tidak melupakan asal-usulnya. Ia memang tidak kembali ke Tanara untuk menghabiskan seluruh masa hidupnya. Tetapi ilmu yang ia hasilkan kembali — melalui kitab, melalui murid, melalui jaringan ulama, melalui pesantren, melalui generasi yang terus membaca namanya.

Di sinilah makna "pulang" menjadi lebih luas. Seseorang tidak selalu harus kembali secara fisik untuk memberikan manfaat kepada tanah kelahirannya. Kadang-kadang seseorang pulang melalui ilmu, melalui karya, melalui murid, melalui nilai-nilai yang terus hidup setelah ia tiada.

Warisan yang Lebih Panjang daripada Usia

Syekh Nawawi al-Bantani wafat di Makkah pada 1897. Namun wafatnya tidak berarti berakhirnya pengaruhnya, sebab ada jenis kehidupan yang lebih panjang daripada kehidupan biologis. Itulah kehidupan ilmu.

Seorang manusia dapat meninggal. Tetapi jika ia meninggalkan ilmu yang bermanfaat, maka ilmu itu dapat terus berjalan melintasi waktu. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Kita tentu tidak dapat memastikan keadaan seseorang di sisi Allah. Namun karya-karya Syekh Nawawi memberi kita gambaran tentang bagaimana ilmu yang bermanfaat dapat terus hidup setelah wafatnya seorang alim. Ia wafat lebih dari satu abad yang lalu. Tetapi kitab-kitabnya masih dibaca, namanya masih disebut, dan jejak intelektualnya masih dapat ditemukan dalam tradisi pesantren Nusantara.

Tanara dan Makkah: Dua Titik dalam Satu Perjalanan

Kisah Syekh Nawawi al-Bantani sebenarnya bukan hanya kisah tentang perjalanan dari Tanara menuju Makkah. Ia adalah kisah tentang bagaimana sebuah kampung kecil dapat terhubung dengan dunia melalui ilmu.

Tanara memberinya akar. Makkah memberinya cakrawala. Guru-gurunya memberinya sanad. Perjalanan memberinya pengalaman. Kitab-kitabnya memberinya ruang untuk berbicara melampaui zaman. Dan pesantren memberinya tempat untuk terus hidup dalam ingatan generasi.

Mungkin inilah salah satu pesan terbesar dari perjalanan hidupnya: jangan pernah meremehkan tempat dari mana seseorang berasal. Sebuah kampung kecil tidak menghalangi seseorang untuk berpikir besar. Yang menentukan bukan hanya dari mana seseorang berasal, tetapi ke mana ia mengarahkan hidupnya.

Pelajaran untuk Generasi Digital

Di zaman ketika anak-anak muda dapat berpindah dari satu informasi ke informasi lain hanya dengan menggeser layar, kisah Syekh Nawawi mengajarkan sesuatu yang hampir terlupakan: kedalaman membutuhkan waktu.

Ia tidak menjadi ulama besar dalam satu malam. Ia belajar dari guru, menempuh perjalanan, membaca, menulis, dan mengajar. Ia menjalani proses yang panjang. Di zaman ketika ilmu begitu mudah diakses, kisah Syekh Nawawi mengingatkan kita bahwa akses kepada pengetahuan tidak selalu sama dengan kedalaman ilmu.

Padahal ilmu yang matang tidak lahir dari kecepatan semata. Ilmu lahir dari ketekunan, dari kesabaran duduk bersama buku, dari kerendahan hati di hadapan guru, dan dari kesediaan untuk terus belajar bahkan ketika tidak ada seorang pun yang memberi tepuk tangan.

Di zaman ketika popularitas sering disamakan dengan otoritas, perjalanan Syekh Nawawi mengingatkan kita bahwa kedalaman ilmu dibangun jauh sebelum seseorang dikenal. Karya-karyanya memperlihatkan bahwa perhatian utamanya bukan sekadar membangun nama, tetapi menyampaikan dan mengembangkan ilmu yang ia kuasai — menulis, mengajar, menjelaskan, mewariskan.

Ilmu yang Menghubungkan, Bukan Memisahkan

Warisan Syekh Nawawi juga memberi pelajaran penting tentang hubungan antara Islam Nusantara dan dunia Islam. Tradisi keilmuan di Nusantara tidak tumbuh dalam ruang hampa. Ia berada dalam jaringan keilmuan yang menghubungkan Nusantara dengan Haramain dan pusat-pusat keilmuan Islam lainnya, melalui perjalanan para ulama, perpindahan kitab, dan sanad yang mengalir dari guru kepada murid.

Dalam jaringan semacam itu, Syekh Nawawi al-Bantani menjadi salah satu simpul penting. Ia menunjukkan bahwa seorang ulama dari Nusantara dapat berkontribusi kepada dunia Islam tanpa harus kehilangan akar identitasnya. Ia adalah seorang al-Bantani. Ia juga seorang al-Jawi. Dan pada saat yang sama, ia menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam yang lebih luas. Identitas lokal dan keterhubungan global tidak harus saling bertentangan.

Warisan yang Seharusnya Tidak Hanya Dibaca

Namun ada satu pertanyaan penting bagi kita hari ini. Apakah kita hanya ingin mengenang Syekh Nawawi? Ataukah kita ingin belajar dari jalan hidupnya? Sebab mengagumi ulama tanpa mengikuti nilai yang mereka perjuangkan akan menjadikan sejarah hanya sebagai cerita.

Syekh Nawawi mengajarkan kita tentang kesungguhan menuntut ilmu, pentingnya guru, tradisi membaca dan menulis, kedalaman, adab, dan kesinambungan generasi. Dan yang tidak kalah penting, tentang bagaimana ilmu harus kembali kepada tujuan awalnya: mendekatkan manusia kepada Allah dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Di tengah zaman ketika ilmu sering dijadikan alat untuk memenangkan perdebatan, warisan Syekh Nawawi mengajak kita mengingat bahwa ilmu seharusnya terlebih dahulu memenangkan pertarungan melawan kebodohan dalam diri sendiri.

Penutup: Dari Tanara, Sebuah Cahaya Terus Menyala

Syekh Nawawi al-Bantani telah lama meninggalkan dunia. Tetapi ilmu tidak mengenal batas kubur sebagaimana manusia mengenal batas usia. Sebuah kitab dapat berjalan lebih jauh daripada kaki penulisnya.

Syekh Nawawi berangkat dari Tanara. Ia menempuh perjalanan menuju Makkah. Ia belajar, mengajar, dan menulis. Dan akhirnya, melalui karya-karyanya, ia kembali kepada tanah kelahirannya dengan cara yang jarang disadari — ia kembali dalam bentuk kitab, melalui pesantren, melalui murid-murid, melalui generasi yang terus membaca dan mengajarkan warisannya.

Barangkali, itulah makna paling indah dari sebuah perjalanan ilmu. Bahwa seorang manusia boleh pergi jauh, tetapi jika ilmu yang dibawanya memberi manfaat, maka ia tidak pernah benar-benar meninggalkan tanah kelahirannya. Dan pada akhirnya, sebagaimana diingatkan dalam QS. Fathir: 28, puncak dari perjalanan ilmu itu bukanlah keluasan pengetahuan semata, melainkan khasyah — rasa takut dan pengagungan kepada Allah — yang lahir darinya.

Dan mungkin dari perjalanan Syekh Nawawi al-Bantani kita dapat belajar satu hal sederhana: jangan takut berasal dari tempat yang kecil, jangan takut menempuh jalan yang panjang, dan jangan takut belajar dalam kesunyian. Sebab dunia mungkin tidak segera mengenal nama kita, tetapi jika ilmu ditanam dengan ketekunan, akhlak dijaga dengan keikhlasan, dan manfaat terus diwariskan, boleh jadi suatu hari nanti, dari sebuah tempat yang tidak banyak dikenal, Allah menumbuhkan cahaya yang menerangi banyak manusia.

Seperti Tanara. Seperti Syekh Nawawi. Seperti ilmu yang hingga hari ini masih terus dibaca.

Wallahu a'lam bish-shawab.


Referensi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia, Nawawi al-Bantani, sebagai rujukan ensiklopedis awal.
  2. NU Online, Syekh Nawawi Banten dan Beberapa Pemikiran Pentingnya.
  3. Ensiklopedia Islam, Nawawi al-Jawi.
  4. Firdaus, Syarif & Imawan, Dzulkifli Hadi, The Intellectual Legacy of Sheikh Nawawi al-Bantani and Sheikh Mahfudz at-Tarmasi, Jurnal Pemikiran Islam.
  5. Karya-karya Syekh Nawawi al-Bantani, antara lain Marah Labid, Nihayatuz Zain, Kasyifatus Saja, dan Nashaih al-'Ibad.
  6. Al-Qur'an: QS. Al-Mujadalah: 11; QS. Adz-Dzariyat: 56; QS. Fathir: 28; QS. Yusuf: 76.
  7. Hadits: HR. Muslim (keutamaan menempuh jalan menuntut ilmu; amal yang terputus kecuali tiga perkara); HR. Bukhari dan Muslim (tafaqquh fid-din sebagai tanda kebaikan dari Allah).

✒️ Tsaqif Rasyid Dai
🌐 persadani.org

Artikel Populer

Mengapa Indonesia Memakai Pancasila, Bukan Piagam Madinah?

Mendidik Anak yang Keras Kepala: Perspektif Islam tentang Komunikasi Penuh Hikmah

Anak yang Kita Jaga Tubuhnya, tetapi Lupa Kita Rawat Hatinya

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya