Menumbuhkan Syukur Sebelum Prestasi

Menumbuhkan Syukur Sebelum Prestasi

Mendidik Hati Sebelum Mengejar Hasil

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Ada pertanyaan yang nyaris otomatis terlontar dari lisan orang tua begitu anak pulang sekolah: "Nilainya berapa?" "Ranking berapa?" Pertanyaan itu tidak salah, dan tidak ada yang keliru dari kepedulian orang tua terhadap capaian anaknya. Namun jika pertanyaan tentang nilai jauh lebih sering terdengar daripada penghargaan terhadap proses dan syukur, anak dapat menangkap kesan bahwa prestasi adalah syarat utama untuk memperoleh penerimaan. Dari kesan kecil yang berulang inilah, tanpa disadari, prestasi mulai menempati ruang yang seharusnya diisi oleh syukur.

Jarang sekali kita mendengar orang tua bertanya di penghujung hari, "Apa yang kamu syukuri hari ini?" Padahal pertanyaan sederhana itu jauh lebih dekat kepada cara Allah mendidik manusia.


Islam memulai pendidikan bukan dari target pencapaian, melainkan dari pembentukan orientasi hati. Sebab tauhid mengajarkan bahwa segala nikmat, termasuk kemampuan mendidik, berasal dari Allah semata. Karena itu, ketika Al-Qur'an mengabadikan sosok pendidik ideal yang namanya diangkat menjadi nama surah, Allah tidak memulai kisahnya dengan daftar prestasi anak. Allah memulainya dengan fondasi ruhani yang ditanamkan kepada mereka lebih dahulu.

Perhatikan bagaimana Allah berkisah tentang Luqman al-Hakim. Allah tidak berfirman bahwa Luqman diberi al-māl (harta) atau al-quwwah (kekuatan). Yang Allah sebutkan justru:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ

"Dan sungguh Kami telah memberikan hikmah kepada Luqman, (yaitu): Bersyukurlah kepada Allah." (QS. Luqman: 12)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hikmah yang dianugerahkan kepada Luqman mencakup ilmu yang benar, pemahaman agama, serta kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan dari seluruh hikmah itu, syukur disebut sebagai buahnya yang paling utama.

Ada satu hal yang menarik jika diperhatikan susunan ayat-ayatnya. Al-Qur'an tidak langsung menampilkan nasihat Luqman kepada anaknya. Sebelum sampai pada nasihat itu, Allah terlebih dahulu menjelaskan bagaimana Luqman sendiri dibentuk: diberi hikmah yang melahirkan syukur. Seakan-akan Al-Qur'an ingin mengajarkan bahwa sebelum seorang ayah layak mendidik anaknya, Allah terlebih dahulu mendidik sang ayah. Pendidikan yang benar selalu berjalan dari atas ke bawah: dari Allah kepada hamba, baru kemudian dari orang tua kepada anak. Tidak ada orang tua yang bisa menanamkan syukur pada anaknya jika hatinya sendiri belum ditumbuhi syukur oleh Allah.

Di sinilah letak fondasi tauhid dalam pendidikan anak, dan alurnya dapat dirangkai sederhana: tauhid mengantarkan pengenalan bahwa Allah adalah Pemberi segala nikmat; pengenalan ini melahirkan syukur; syukur menenangkan hati; hati yang tenang menjadikan belajar sebagai ibadah, bukan beban; dan dari sanalah lahir prestasi yang berkah, bukan prestasi yang mencemaskan. Prestasi menjadi buah. Sedangkan syukur adalah akar.


Karena tauhid mengajarkan bahwa semua nikmat berasal dari Allah, maka syukur pun tidak berhenti sebagai emosi atau ucapan lisan semata. Syukur adalah ibadah, yaitu cara seorang hamba menggunakan setiap nikmat sesuai kehendak Pemberinya. Ilmu yang disyukuri akan digunakan untuk mencari kebenaran, bukan untuk kesombongan. Kecerdasan yang disyukuri akan melahirkan manfaat bagi orang lain, bukan sekadar bahan kebanggaan diri. Maka ketika seorang anak dilatih bersyukur atas nilai yang ia raih, sesungguhnya ia sedang dilatih menunaikan hak Allah atas kecerdasan yang dititipkan kepadanya, bukan sekadar dilatih bersikap rendah hati.


Bandingkan dua pola yang sering tanpa sadar kita terapkan di rumah. Pendidikan yang berorientasi prestasi mengajarkan anak belajar supaya juara; ketika gagal, ia kecewa; motivasinya pun ikut runtuh. Sedangkan pendidikan yang berorientasi syukur mengajarkan anak belajar karena Allah telah memberinya akal; belajar menjadi ibadah; nilai hanyalah bonus yang menyertai, bukan tujuan yang dikejar dengan cemas.


Allah bahkan menjanjikan sesuatu yang luar biasa bagi hamba yang bersyukur:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)

Perlu digarisbawahi agar tidak keliru dipahami: ayat ini bukan janji bahwa setiap anak yang dibiasakan bersyukur otomatis akan meraih nilai atau ranking lebih tinggi. Yang Allah janjikan adalah bertambahnya nikmat sesuai hikmah-Nya sendiri, dapat berupa ketenangan hati, keberkahan ilmu, kemudahan urusan, atau bentuk lain yang Allah pilihkan. Justru di sinilah keindahannya, karena anak yang bersyukur tidak menuntut balasan tertentu dari Allah; ia bersyukur karena itu adalah haknya Allah untuk disyukuri, bukan transaksi untuk mendapat lebih banyak.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan seorang mukmin bukan pada hasil semata, melainkan pada bagaimana ia menyikapi nikmat dan ujian:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ ... إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

"'Ajaban li amril mu'min... in ashābat-hu sarrā'u syakara fa kāna khayran lah."

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Jika memperoleh kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya." (HR. Muslim, sahih)

Jika orang tua berhasil membiasakan anak membaca setiap keberhasilan sebagai alasan untuk bersyukur, bukan sekadar alasan untuk berbangga, maka sesungguhnya anak sedang dilatih menjadi sosok mukmin yang digambarkan Rasulullah dalam hadis ini: pribadi yang urusannya selalu baik, baik saat lapang maupun saat sempit.

Keteladanan ini pun tampak nyata dalam keseharian Rasulullah. Beliau tidak pernah mencela makanan yang dihidangkan kepadanya, sesederhana apa pun bentuknya, dan senantiasa mengaitkan setiap suapan dengan nikmat dari Allah. Ketika makanan terasa nikmat, beliau memuji Allah. Ketika hanya kurma dan air yang tersedia, beliau tetap bersyukur tanpa mengeluh. Kebiasaan kecil inilah yang menunjukkan bahwa syukur bagi Rasulullah bukan reaksi atas hasil besar, melainkan sikap hati yang menyertai setiap keadaan, lapang maupun sempit.


Inilah buah dari hati yang mengenal Rabb-nya: ia lebih tenang menghadapi hidup. Ilmu psikologi modern, dari sudut pandang yang berbeda, turut mengonfirmasi sebagian hikmah ini. Penelitian tentang conditional self-worth menunjukkan bahwa anak yang merasa dicintai hanya ketika berprestasi cenderung tumbuh dengan kecemasan yang lebih tinggi, sementara riset gratitude oleh Emmons dan McCullough (2003) dalam Counting Blessings Versus Burdens: An Experimental Investigation of Gratitude and Subjective Well-Being menemukan bahwa kebiasaan bersyukur berkorelasi dengan kesejahteraan psikologis yang lebih stabil, sejalan pula dengan gagasan Carol Dweck (2006) dalam Mindset: The New Psychology of Success tentang pentingnya orientasi proses dibanding orientasi hasil semata.


Karena tauhid mengajarkan bahwa nikmat adalah amanah dan bukan milik pribadi yang boleh dipamerkan, ada satu fenomena zaman ini yang layak direnungkan. Di era media sosial, prestasi anak sering kali tanpa disadari berubah menjadi prestasi orang tua. Nilai rapor, piala, bahkan foto wisuda dipamerkan bukan semata sebagai ungkapan syukur, melainkan kadang menjadi ukuran keberhasilan diri orang tua di hadapan orang lain. Anak pun memikul beban yang sesungguhnya bukan miliknya. Selain itu, banyak sekolah dan lingkungan sosial memberi penghargaan untuk ranking, juara, dan medali, namun hampir tidak pernah ada penghargaan untuk anak paling jujur, paling bersyukur, paling amanah, atau paling suka menolong temannya. Ini bukan untuk menyalahkan sekolah, sebab sekolah memiliki perannya sendiri. Tetapi ini pengingat bahwa rumahlah yang bertanggung jawab menghadirkan penghargaan jenis kedua itu, sebab dari sanalah karakter yang kekal dibentuk.


Anak yang tumbuh dalam rumah yang menomorsatukan syukur biasanya memiliki tanda-tanda yang mudah dikenali: ia senang berbagi, tidak mudah iri pada pencapaian temannya, menghargai proses dan usaha, terbiasa berterima kasih atas hal-hal kecil, tidak sombong ketika berhasil, dan tidak hancur ketika gagal. Ia merasa cukup, dan dari rasa cukup itulah lahir kerendahan hati yang tulus, bukan kerendahan hati yang dipaksakan.


Menumbuhkan syukur tidak memerlukan metode rumit, tetapi memerlukan kalimat yang tepat pada momen yang tepat. Saat anak pulang membawa nilai seratus, respons pertama yang keluar dari lisan orang tua sering kali hanya "Hebat, anak Mama pintar!" Respons ini tidak salah, tetapi ada respons yang lebih menanamkan akar syukur: "Alhamdulillah, Allah memberimu kemudahan belajar hari ini. Sekarang bagaimana kita gunakan nikmat ini agar bermanfaat bagi orang lain?" Kalimat sederhana ini mengalihkan fokus anak dari kebanggaan pribadi menuju rasa syukur dan tanggung jawab.

Sebaliknya, saat anak pulang dengan nilai yang mengecewakan, kalimat yang menenangkan sekaligus mendidik bisa berbunyi: "Nilai ini bukan siapa dirimu. Mari kita syukuri karena Allah masih memberimu kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri." Kalimat semacam ini menjaga harga diri anak tetap utuh sekaligus mengarahkannya kembali kepada Allah, bukan kepada angka.

Selain momen-momen besar seperti itu, kebiasaan kecil harian juga penting dirawat: mengucap Alhamdulillah atas nikmat-nikmat sederhana yang sering luput dari perhatian, mengajak anak menyebutkan tiga hal yang ia syukuri sebelum tidur, mengaitkan setiap keberhasilan dengan karunia Allah dan bukan semata kehebatan diri, memberi apresiasi pada kesungguhan usaha dan bukan hanya pada hasil akhir, serta membiasakan berbagi setiap kali memperoleh nikmat. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini, jika dirawat bertahun-tahun, akan membentuk fondasi jiwa yang jauh lebih kokoh daripada tumpukan nilai ujian.

Anak yang sejak kecil belajar bersyukur tidak akan membiarkan prestasi mengambil tempat yang hanya layak dimiliki Allah dalam hatinya. Ia memandang setiap keberhasilan sebagai amanah, setiap kegagalan sebagai pelajaran, dan setiap nikmat sebagai jalan untuk semakin mengenal Allah. Tauhid yang berakar dalam hati melahirkan syukur. Syukur menumbuhkan ketenangan. Dan dari hati yang tenang itulah pendidikan Islam mulai bertumbuh.


Referensi

  1. Al-Qur'an, QS. Luqman: 12.
  2. Al-Qur'an, QS. Ibrahim: 7.
  3. Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. Luqman ayat 12 dan QS. Ibrahim ayat 7.
  4. Tafsir Jalalain, QS. Luqman ayat 12 dan QS. Ibrahim ayat 7.
  5. Shahih Muslim, hadis tentang keajaiban urusan seorang mukmin.
  6. Emmons, Robert A., & McCullough, Michael E. (2003). Counting Blessings Versus Burdens: An Experimental Investigation of Gratitude and Subjective Well-Being. Journal of Personality and Social Psychology.
  7. Dweck, Carol S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.

Artikel Populer

Framework Kepemimpinan Muslim (seri 7)

Mengapa Indonesia Memakai Pancasila, Bukan Piagam Madinah?

Brain Rot: Fenomena Neurologis yang Mengancam Generasi Muslim — Dan Cara Mengatasinya

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...