Ukhuwah yang Diuji: Ketika Persaudaraan Menjadi Cermin Kebersihan Hati

Ukhuwah yang Diuji: Ketika Persaudaraan Menjadi Cermin Kebersihan Hati

Mengapa Konflik Sesama Muslim Sering Berasal dari Penyakit Hati?

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Hampir setiap orang pernah kecewa kepada saudara seiman. Ada yang dulu begitu akrab, lalu perlahan menjauh tanpa sebab yang jelas. Ada yang dulu berjuang bersama dalam satu barisan dakwah, lalu diam-diam saling curiga. Ada pula yang semula saling mendoakan dalam sujud, kemudian saling membicarakan di belakang punggung. Pertanyaannya bukan siapa yang salah, melainkan lebih dalam dari itu: apakah yang sebenarnya rusak — ukhuwahnya, atau hati kita?

Ukhuwah imaniyyah adalah ikatan ruhani yang Allah tumbuhkan di antara orang-orang beriman karena kesamaan akidah, yang kemudian melahirkan hak, tanggung jawab, dan kasih sayang sebagai bagian dari ibadah kepada-Nya. Ia bukan sekadar hubungan sosial yang lahir dari nasab atau kepentingan. Para ulama tazkiyah memandangnya dari dua sisi yang berjalan bersamaan: ukhuwah adalah buah dari hati yang bersih, sekaligus sarana yang Allah pakai untuk terus-menerus menyucikan hati itu. Dengan kata lain, ukhuwah bukan hanya hasil dari tazkiyatunnufus, melainkan juga prosesnya — sebuah madrasah akhlak yang tidak pernah selesai mengajar.

Di sinilah muncul pertanyaan yang jarang direnungkan: mengapa Allah membiarkan konflik terjadi bahkan di antara orang-orang saleh? Jawabannya terletak pada hikmah ujian itu sendiri. Tanpa gesekan, kita tidak akan pernah tahu isi hati kita yang sesungguhnya. Tanpa ada yang menyakiti, memaafkan tidak akan bermakna apa-apa. Tanpa ujian, kesabaran hanya menjadi teori. Maka ukhuwah Allah jadikan sebagai arena mujahadah — bukan karena Allah ingin mempermalukan hamba-Nya yang saleh, melainkan karena Dia hendak membersihkan hati mereka justru melalui interaksi dengan saudara-saudaranya. Firman-Nya menegaskan bahwa persaudaraan adalah identitas paling mendasar orang beriman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)

Kata innamā pada ayat ini berfungsi sebagai adāt al-ḥaṣr, kata pembatas yang menegaskan penekanan: identitas paling hakiki orang beriman adalah persaudaraan, bukan permusuhan. Namun ayat ini tidak berhenti pada deklarasi. Allah langsung memerintahkan fa aṣliḥū — maka damaikanlah. Perintah ini justru mengisyaratkan bahwa konflik adalah realitas yang mungkin terjadi bahkan di antara orang-orang beriman; yang dilarang bukan berselisihnya, melainkan membiarkannya berlarut tanpa upaya islah. Ukhuwah, dengan demikian, bukan berarti tidak pernah berselisih, melainkan selalu ada kesungguhan untuk kembali berdamai.

Persatuan hati semacam ini pun bukan produk rekayasa manusia. Allah mengingatkan bahwa Rasul-Nya hanyalah penyampai risalah, sementara yang menyatukan hati hanyalah Allah semata:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
"Dan Dialah yang mempersatukan hati mereka. Sekiranya engkau menginfakkan seluruh apa yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukannya." (QS. Al-Anfal: 63)

Persatuan organisasi bisa dibangun dengan aturan. Persatuan pekerjaan bisa dibangun dengan kepentingan bersama. Tetapi persatuan hati hanya lahir dari hidayah Allah — sesuatu yang tidak bisa dibeli, dilobi, atau direkayasa. Allah sendiri mengingatkan proses lahirnya ukhuwah ini dalam ayat lain, mengenang masa jahiliyah ketika permusuhan begitu mengakar sebelum iman menyatukan hati mereka:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ
"Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu." (QS. Ali 'Imran: 103)

Namun karena ukhuwah adalah karunia yang begitu halus, ia sangat rentan tercemar oleh penyakit hati (amradh al-qulub) — bukan sekadar gangguan emosi sesaat, melainkan kerusakan spiritual yang mengaburkan cahaya petunjuk Allah dalam hati serta melemahkan kemampuan membedakan kebenaran dan kebatilan. Perlu digarisbawahi: tidak semua konflik lahir dari penyakit hati. Ada pula perselisihan yang muncul dari perbedaan ijtihad, kesalahpahaman komunikasi, atau kezaliman yang nyata. Namun sebagian besar konflik yang berlarut-larut dan sulit didamaikan, bila ditelusuri ke akarnya, memang berpangkal dari sana.

Penyakit-penyakit itu bisa dipetakan menjadi empat kelompok. Pertama, penyakit terhadap nikmat yang diterima orang lain: hasad, yakni kebencian terhadap nikmat yang Allah berikan kepada saudara kita disertai keinginan agar nikmat itu lenyap, baik berpindah kepadanya maupun tidak. Ini adalah salah satu penyakit hati yang paling awal disebutkan dalam sejarah manusia — hasad yang berakar dari kesombongan Iblis terhadap Adam di langit, dan hasad Qabil kepada Habil di bumi. Kedua, penyakit terhadap kehormatan saudara: su'uzhan atau prasangka buruk, tajassus atau mencari-cari aib, ghibah atau menggunjing, dan namimah atau menyebarkan isu untuk memecah belah. Ketiga, penyakit yang berpusat pada diri sendiri: takabur dan 'ujub, riya' dan hubb al-jāh — cinta kedudukan yang mencakup bukan hanya jabatan, tetapi juga popularitas dan pengaruh — serta anāniyyah, egoisme yang selalu ingin didahulukan. Keempat, penyakit yang merusak hubungan itu sendiri: hijr atau memboikot, hiqd atau dendam yang disimpan lama, dan persaingan memperebutkan harta serta kedudukan duniawi.

Menariknya, Allah menyusun urutan penyakit ini dengan sangat rapi dalam satu ayat. Dia mendahulukan larangan berprasangka, baru kemudian larangan memata-matai, dan terakhir larangan menggunjing — menunjukkan bahwa ghibah bukanlah awal penyakit, melainkan ujung dari sebuah proses: su'uzhan menumbuhkan tajassus, dan tajassus bermuara pada ghibah.

اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
"Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik." (QS. Al-Hujurat: 12)

Pola serupa juga tampak dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau menyebut hasad lebih dahulu sebelum kebencian, karena hasad sering menjadi akar yang menumbuhkan kebencian, lalu kebencian menumbuhkan sikap saling membelakangi, hingga akhirnya melahirkan perpecahan:

"Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, dan saling membelakangi... dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya: ia tidak menzhaliminya, tidak menghinanya, dan tidak meremehkannya." (HR. Muslim)

Bila dendam ini dibiarkan, ujungnya sering berupa hijr — memutus sapaan dan silaturahmi. Karena itu Nabi memberi batas yang tegas:

"Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari... dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai salam." (HR. Bukhari & Muslim)

Mengapa batasnya tiga hari, bukan sehari atau seminggu? Sebagian ulama menjelaskan bahwa syariat memberi ruang bagi tabiat manusia untuk meredakan emosi yang wajar muncul sesaat setelah tersinggung. Namun setelah rentang itu, ego tidak lagi diberi ruang untuk dipelihara — sebab hati yang dibiarkan mendiamkan saudaranya terlalu lama akan mengeras, dan yang mengeras akan semakin sulit didamaikan.

Kesempurnaan iman seseorang, dalam sabda Nabi, diukur justru dari kualitas ukhuwahnya:

"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri." (HR. Bukhari & Muslim)

Perhatikan bahwa Nabi tidak mengatakan "tidak sempurna Islam", melainkan "tidak sempurna iman". Ini menunjukkan bahwa ukhuwah bukan sekadar perkara syariat lahiriah, melainkan tolok ukur kedalaman iman itu sendiri — sesuatu yang bersemayam di hati, bukan hanya tampak dalam perbuatan. Dan kaum mukminin, dalam sabda beliau yang lain, diibaratkan seperti satu tubuh:

"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh; apabila satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur." (HR. Bukhari & Muslim)

Mengapa tubuh, bukan perumpamaan lain? Karena mata tidak pernah iri kepada tangan, dan tangan tidak pernah dengki kepada kaki — semua anggota bekerja sama demi satu kehidupan yang sama. Begitu pula ukhuwah: keberhasilan saudara kita sejatinya adalah keberhasilan tubuh yang sama, bukan ancaman bagi bagian tubuh yang lain.

Di era media sosial, penyakit-penyakit hati ini berkembang jauh lebih cepat daripada masa sebelumnya. Hasad tidak lagi lahir karena melihat tetangga membeli hewan ternak atau kebun baru, melainkan cukup lewat layar ponsel. Jumlah pengikut, unggahan pencapaian, jabatan dalam organisasi dakwah, bahkan amal saleh yang dipublikasikan sekalipun dapat berubah menjadi bahan bakar hasad bila hati tidak dibersihkan. Grup WhatsApp yang semula dibentuk untuk silaturahmi, tidak jarang berubah menjadi arena su'uzhan dan namimah yang justru merenggangkan ukhuwah yang hendak dirawat.

Persoalan ini telah lama menjadi perhatian para ulama tazkiyatunnufus. Menariknya, tiga tokoh besar berikut menjelaskannya dalam tahapan yang saling melengkapi, seperti tiga babak dari satu diagnosis yang sama. Al-Harits Al-Muhasibi menunjukkan akar penyakitnya: hasad yang diharamkan, jelasnya, adalah kebencian terhadap nikmat yang Allah berikan kepada saudara kita disertai keinginan agar nikmat itu lenyap — perasaan yang tumbuh dari kesombongan, dendam, riya, dan cinta kedudukan yang berlebihan. Menurutnya, dua sebab utama rusaknya hati adalah ditinggalkannya muhasabah harian dan panjangnya angan-angan terhadap kemuliaan diri (Al-Muhasibi, Ar-Ri'ayah li Huquqillah — pembahasan tentang hasad dan muhasabah).

Dari titik itu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah melangkah lebih jauh menjelaskan mengapa penyakit ini begitu bertahan dalam hati manusia. Dalam telaahnya, hasad pada hakikatnya adalah bentuk protes terhadap pembagian dan takdir Allah — seseorang yang hasad sedang, tanpa disadarinya, mempersoalkan keadilan pembagian rezeki dan kemuliaan yang Allah tetapkan. Karena itu ia menyakiti dirinya sendiri lebih dahulu sebelum menyakiti saudaranya, sebab hati yang dipenuhi hasad tidak akan pernah mengenal ketenangan (Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ighatsat al-Lahfan — pembahasan tentang amradh al-qulub dan hasad). Ukhuwah sejati, tegasnya, adalah buah dari mahabbatullah: mencintai orang-orang yang dicintai Allah adalah cabang dari cinta kepada Allah itu sendiri, sehingga ikatan ini akan tetap kokoh hingga ke akhirat (Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin — pembahasan tentang mahabbatullah dan tazkiyatun nafs). Ibnu Katsir sendiri menyaksikan bahwa gurunya ini adalah pribadi yang tidak pernah hasad, menyakiti, atau membenci siapa pun — bukti bahwa ilmu tazkiyah dalam dirinya benar-benar menjelma menjadi akhlak nyata.

Barulah Imam Al-Ghazali menawarkan terapi penyembuhannya secara paling rinci. Ia mengangkat ukhuwah ke derajat yang begitu mulia hingga menyamakannya dengan ikatan pernikahan:

اعْلَمْ أَنَّ عَقْدَ الْأُخُوَّةِ رَابِطَةٌ بَيْنَ الشَّخْصَيْنِ كَعَقْدِ النِّكَاحِ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ
"Ketahuilah, ikatan persaudaraan yang mengikat dua orang itu laksana akad nikah antara suami-istri, maka saudaramu memiliki hak atasmu dalam harta, jiwa, lisan, dan hati." (Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin — Kitab Adab al-Ulfah wal Ukhuwwah wash-Shuhbah)

Terapi yang ditawarkannya bersifat sangat praktis. Ia mengajarkan mujahadah: memaksa diri melakukan kebalikan dari hasad — memuji, mendoakan, dan membantu orang yang justru sulit kita cintai, hingga perlahan hati menjadi lapang (Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin — Kitab Dzamm al-Hasad). Dari rangkaian ajaran ketiga ulama ini, dapat disarikan lima langkah menjaga ukhuwah yang bisa diamalkan siapa pun: bersihkan niat sebelum berusaha memperbaiki saudara, sebab memperbaiki orang lain tanpa hati yang bersih hanya akan menambah kerusakan; muhasabah sebelum menyalahkan, menanyakan pada diri sendiri lebih dulu apa yang sesungguhnya terluka; doakan saudara yang justru sulit kita cintai, karena doa adalah mujahadah paling efektif melawan hasad; latih itsar dalam perkara-perkara kecil sebelum menuntutnya dalam perkara besar; dan hidupkan dzikir yang menghadirkan hati, sebab hati yang lalai jauh lebih mudah dijangkiti iri dan dendam daripada hati yang senantiasa mengingat Allah.

Puncak dari ukhuwah semacam ini digambarkan Allah lewat tiga sifat penghuni hati yang bersih: mencintai saudaranya, tidak merasa iri terhadap apa yang diberikan kepadanya, hingga akhirnya mendahulukannya atas diri sendiri sekalipun dalam keadaan berkekurangan.

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9)

Cinta, lapang dada, lalu itsar — inilah tangga tazkiyatunnufus dalam ukhuwah, dan salah satu puncak manifestasinya adalah itsar itu sendiri, sekalipun ukhuwah juga mencapai kedalamannya lewat saling menasihati dan loyalitas dalam kebenaran. Persaudaraan yang terus-menerus dipelihara dengan hasad, dendam, dan keengganan memaafkan sering kali menjadi cermin adanya penyakit hati yang perlu segera diobati — bukan alasan untuk berputus asa dari saudara kita, melainkan panggilan untuk kembali kepada diri sendiri lebih dahulu.

Generasi salaf memahami betul prinsip ini dan mempraktikkannya bukan sekadar sebagai teori. Hasan al-Bashir rahimahullah, seorang tabi'in yang dikenal luas keteladanannya dalam menjaga hati dan ukhuwah, mengajarkan bahwa keutamaan dalam perselisihan antar-saudara justru terletak pada siapa yang lebih dahulu berinisiatif kembali berdamai — sebuah ajaran yang menegaskan bahwa dalam ukhuwah, kemuliaan bukan pada siapa yang benar, melainkan pada siapa yang pertama kali melangkah untuk mendamaikan.

Maka setiap kali sekecil apa pun benih iri, prasangka buruk, atau dorongan untuk selalu menang sendiri mulai tumbuh dalam hati terhadap saudara seiman, di situlah sesungguhnya panggilan muhasabah sedang berbunyi. Bukan saudara kita yang perlu diperbaiki lebih dulu, melainkan hati kita sendiri. Sebab pada akhirnya, hanya persaudaraan yang dibangun di atas takwa yang akan tetap bertahan hingga hari ketika seluruh ikatan duniawi berubah menjadi permusuhan:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
"Sahabat-sahabat karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa." (QS. Az-Zukhruf: 67)

Persahabatan karena dunia memiliki umur. Persaudaraan karena Allah memiliki keabadian. Dan di antara tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, ada dua orang yang saling mencintai karena-Nya semata — berkumpul karena Allah, dan berpisah pun karena Allah (HR. Bukhari & Muslim).

Ya Allah, satukanlah hati kami sebagaimana Engkau satukan hati orang-orang beriman sebelum kami. Sucikanlah hati kami dari hasad, dendam, dan prasangka buruk terhadap saudara-saudara kami. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang bersaudara karena-Mu, berkumpul karena-Mu, dan berpisah karena-Mu semata. Amin.


Referensi

  1. Al-Qur'an: QS. Al-Hujurat (49): 10-12; QS. Ali 'Imran (3): 103; QS. Al-Anfal (8): 63; QS. Az-Zukhruf (43): 67; QS. Al-Hasyr (59): 9
  2. HR. Bukhari & Muslim — hadits hak-hak persaudaraan, kesempurnaan iman, perumpamaan satu tubuh, larangan hijr, tujuh golongan yang dinaungi Allah
  3. HR. Muslim — larangan hasad, kebencian, dan saling membelakangi
  4. Al-Harits Al-Muhasibi, Ar-Ri'ayah li Huquqillah (pembahasan tentang hasad dan muhasabah)
  5. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin (pembahasan tentang mahabbatullah dan tazkiyatun nafs) dan Ighatsat al-Lahfan (pembahasan tentang amradh al-qulub dan hasad)
  6. Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin — Kitab Adab al-Ulfah wal Ukhuwwah wash-Shuhbah, dan Kitab Dzamm al-Hasad
  7. Hasan al-Bashri — teladan akhlak generasi tabi'in tentang keutamaan mendahului islah dalam perselisihan sesama saudara

Artikel Populer

Growth Mindset dalam Perspektif Islam: Belajar dari Carol Dweck, Imam Al-Ghazali, dan Ibnu Qayyim

Mengapa Indonesia Memakai Pancasila, Bukan Piagam Madinah?

Framework Kepemimpinan Muslim (seri 7)

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...