Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tarbiyah

Mengapa Nabi ﷺ Disebut Rahmat bagi Semesta?

Gambar
Mengapa Nabi ﷺ Disebut Rahmat bagi Semesta? Ketika Kesalehan Pribadi Berubah Menjadi Rahmat bagi Sesama Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri sendiri, padahal jawabannya menentukan mutu keberagamaan kita: bukan "seberapa saleh saya?", melainkan "seberapa banyak rahmat yang mengalir melalui kesalehan saya?" Perlu segera diluruskan agar tidak terjebak kesalahpahaman: ini bukan berarti kesalehan seseorang hanya bernilai jika orang lain merasa nyaman dengannya. Ada orang yang menjalankan kebenaran secara benar tetapi tetap tidak disukai — Nabi ﷺ sendiri ditentang, dicaci, bahkan diperangi oleh sebagian kaumnya. Maka ukuran yang lebih tepat adalah: kesalehan yang benar tidak selalu membuat kita disukai semua orang, tetapi semestinya membuat kita semakin sulit berbuat zalim kepada siapa pun. Kata "semestinya" penting di sini, sebab tazkiyah adalah proses, bukan klaim kesempurnaan. Pertanyaan ini mengantarkan ...

Syekh Nawawi al-Bantani: Ketika Ilmu dari Tanara Menjadi Cahaya bagi Dunia

Gambar
Syekh Nawawi al-Bantani: Ketika Ilmu dari Tanara Menjadi Cahaya bagi Dunia Bagaimana seorang ulama Nusantara membangun warisan ilmu yang menghubungkan Tanara, Haramain, dan pesantren — serta apa makna ilmu bagi Muslim zaman digital Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada nama-nama ulama yang dikenang karena khutbahnya. Ada yang dikenang karena keberaniannya. Ada pula yang dikenang karena kitab-kitab yang terus dibaca, bahkan ketika penulisnya telah lama meninggalkan dunia. Syekh Nawawi al-Bantani termasuk dalam golongan yang terakhir. Namun kisahnya bukan sekadar kisah tentang seorang penulis kitab yang produktif. Ia adalah kisah tentang perjalanan ilmu: dari Tanara menuju Makkah, dari seorang murid menjadi guru, dari seorang penuntut ilmu Nusantara menjadi bagian dari jaringan keilmuan Islam yang lebih luas. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ "Allah akan meninggikan orang-orang yang berima...

Imam Al-Ghazali dan Transformasi Diri: Ketika Puncak Keberhasilan Justru Melahirkan Pergulatan Batin

Gambar
Imam Al-Ghazali dan Transformasi Diri: Ketika Puncak Keberhasilan Justru Melahirkan Pergulatan Batin Belajar dari Hujjatul Islam tentang Perubahan yang Bermula dari Hati Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada satu kisah dalam sejarah Islam yang selalu menggugah kesadaran setiap kali dibaca ulang: seorang ulama besar, guru paling terpandang di zamannya, mengalami keguncangan batin yang dahsyat ketika berada di puncak kejayaannya. Beliau adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi, ulama besar yang kemudian dikenal sepanjang sejarah dengan gelar Hujjatul Islam —Pembela Agung Islam. Kisah hidupnya mengajarkan sesuatu yang sering luput dari perhatian kita hari ini: bahwa keberhasilan lahiriah tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan batin, dan bahwa transformasi sejati seorang hamba tidak dimulai dari perubahan status atau pekerjaan, melainkan dari perubahan hati. Allah berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ "...

Ketika China Melahirkan Jutaan Talenta AI, Apa Konsekuensinya bagi Indonesia?

Gambar
Ketika China Melahirkan Jutaan Talenta AI, Apa Konsekuensinya bagi Indonesia? Membaca Ulang Revolusi Pendidikan Tinggi China dari Sudut Kepentingan dan Masa Depan Bangsa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai China baru saja menutup lebih dari 12.200 program studi sarjana antara 2021 hingga 2025, dan menggantinya dengan 10.200 program studi baru yang berorientasi pada kecerdasan buatan, robotika, dan semikonduktor. Khusus pada 2024 saja, 1.428 program studi dihapus secara permanen. Perlu ditegaskan sejak awal, yang dihapus adalah program studi tertentu di sejumlah kampus, bukan seluruh disiplin ilmu itu lenyap dari peta akademik China. Data ini berasal dari Kementerian Pendidikan China dan telah dilaporkan konsisten oleh Xinhua, South China Morning Post, Caixin Global, dan China Daily. Namun pertanyaan yang lebih penting bagi kita bukan sekadar apa yang terjadi di China, melainkan: apa artinya bagi Indonesia? Mengapa Ini Bukan Sekadar Berita Luar Negeri Dengan arah kebijakan saat ini, China...

Fitrah Bukan Takdir Instan

Gambar
Fitrah Bukan Takdir Instan Meluruskan cara pandang tentang potensi anak antara fitrah ikhtiar dan tarbiyah dalam perspektif Islam Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | Rubrik Tarbiyah & Parenting Islam | Persadani.org Tidak sedikit anak kehilangan keberanian mencoba — bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu cepat dipercaya bahwa dirinya "memang bukan bakatnya". Dan yang menanamkan keyakinan itu, seringkali, adalah orang-orang yang paling mencintainya. "Anak saya cocoknya apa, ya?" Pertanyaan itu muncul di mana-mana — di grup WhatsApp orang tua, di ruang konsultasi sekolah, di seminar parenting yang penuh sesak. Orang tua hari ini tidak kekurangan kegelisahan. Mereka takut anak salah jurusan. Takut membuang waktu untuk hal yang bukan "bidangnya". Takut masa depan anak kandas karena satu keputusan yang salah di usia dini. Dari kegelisahan itulah muncul kecenderungan yang semakin umum: mencari jawaban instan tentang siapa anak kita. Tes potensi, peme...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...