Anak yang Kita Jaga Tubuhnya, tetapi Lupa Kita Rawat Hatinya
Anak yang Kita Jaga Tubuhnya, tetapi Lupa Kita Rawat Hatinya
Refleksi Tazkiyatun Nufus dan Parenting Islam di Hari Anak Nasional
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
Setiap 23 Juli, bangsa ini merayakan Hari Anak Nasional. Namun tahun ini, perayaan itu berdampingan dengan sebuah kabar yang menyayat: ratusan anak di salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat harus menikah dini setelah hamil di luar nikah, sebuah rentetan kasus yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia mengajak kita melihat persoalan yang lebih dalam: bagaimana anak-anak kita bertumbuh, siapa yang menemani mereka ketika menghadapi perubahan dalam dirinya, dan apakah mereka memiliki ruang yang aman untuk bertanya, bercerita, dan belajar menjaga diri.
Dan sebelum melangkah lebih jauh, ada satu hal yang perlu ditegaskan: tidak semua anak yang mengalami kehamilan di usia dini berada dalam situasi yang sama. Ada yang terjerumus karena ketidaktahuan, ada yang berada dalam relasi yang tidak sehat, bahkan tidak sedikit yang sesungguhnya adalah korban kekerasan atau eksploitasi. Karena itu, setiap kasus membutuhkan penanganan yang manusiawi, perlindungan, dan pendampingan, bukan sekadar penghakiman. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menuduh anak atau menyalahkan orang tua secara sepihak, melainkan untuk mengajak kita semua merenungkan ekosistem yang membesarkan anak-anak kita hari ini.
Pertanyaan yang pantas kita ajukan bukan sekadar mengapa anak-anak itu jatuh pada kesalahan. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: apa yang terjadi jauh sebelum mereka sampai pada titik itu? Sering kali, seorang anak tidak sampai pada kesalahan besar dalam satu malam. Ada proses yang mendahuluinya, dan proses itu tidak selalu terlihat: kebutuhan kasih sayang yang tak terpenuhi, komunikasi keluarga yang merenggang, rasa ingin tahu yang tak mendapat jawaban yang benar, serta derasnya arus dunia digital yang jauh melampaui kesiapan jiwa mereka untuk memahaminya.
Islam mengajarkan bahwa setiap anak terlahir membawa fitrah, sebuah kecenderungan asali kepada kebaikan dan kebenaran. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini mengingatkan bahwa anak lahir membawa fitrah, sementara lingkungan pendidikan dan pengasuhan memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana fitrah itu diarahkan dan berkembang. Fitrah bukan jaminan otomatis, ia adalah amanah yang perlu dijaga, dituntun, dan dirawat sepanjang masa pertumbuhan anak.
Allah ﷻ berfirman, mengingatkan tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar mengawasi perilaku lahiriah anak:
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengingatkan bahwa tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada menjaga tubuh anak dari bahaya fisik. Ada tanggung jawab yang lebih dalam: membimbing iman, membentuk akhlak, menanamkan kesadaran, dan menjaga jiwa mereka agar tidak berjalan menuju kebinasaan. Kita kerap sibuk mengajarkan anak apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, namun lupa mengajarkan mengapa hati harus menjaga diri. Kita menetapkan batasan, tetapi belum tentu menanamkan kesadaran.
Dalam pembahasannya tentang pendidikan anak, Al-Ghazali menggambarkan hati anak sebagai sesuatu yang masih menerima berbagai bentuk pengaruh. Apa yang dibiasakan kepadanya sejak dini akan ikut membentuk karakter dan arah kehidupannya kelak.
Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin (pembahasan tentang tarbiyah dan tahdzib al-akhlak): pendidikan tidak cukup hanya mengisi pikiran anak, tetapi harus membentuk kebiasaan dan akhlak sejak usia dini, sebab hati anak pada masa itu sangat mudah menerima bentuk apa pun yang lebih dulu menyentuhnya.
Ibnul Qayyim, dalam Tuhfatul Maudud, memberikan perhatian serius pada pendidikan anak sejak dini. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan dan pendidikan yang diberikan pada masa awal kehidupan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak di kemudian hari, dan bahwa kelalaian orang tua pada fase ini menjadi salah satu sebab dari banyak kerusakan yang muncul kemudian.
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud (pembahasan tentang tarbiyatul aulad).
Peringatan ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ tentang kepemimpinan dan tanggung jawab:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kepemimpinan atas anak bukan hanya soal menyediakan makan, sekolah, dan pengawasan jadwal. Kepemimpinan itu mencakup kehadiran batin, ruang aman untuk bercerita, kepekaan terhadap kegelisahan yang tidak terucap. Kita memasang parental control, tetapi lupa membangun kedekatan emosional. Kita memeriksa gawai mereka, tetapi lupa memeriksa kegelisahan mereka. Kita tahu dengan siapa mereka berteman, tetapi belum tentu tahu apa yang sedang mereka rasakan. Teknologi dapat membantu orang tua mengawasi anak, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan hubungan yang membuat anak mau diawasi karena ia merasa dicintai, bukan dicurigai.
Allah ﷻ mengajarkan model tarbiyah ini melalui kisah Luqman al-Hakim bersama putranya:
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan-Nya adalah benar-benar kezaliman yang besar.'" (QS. Luqman: 13)
Luqman memadukan kelembutan hubungan dengan ketegasan prinsip. Ia memanggil anaknya dengan sapaan penuh kasih, "yaa bunayya", lalu menyampaikan nilai tauhid yang paling fundamental. Di sinilah kita belajar bahwa kelembutan dan ketegasan bukan dua hal yang bertentangan dalam parenting Islam. Keduanya justru harus berjalan bersama: kelembutan dalam hubungan, ketegasan dalam prinsip.
Dalam psikologi perkembangan modern, pola kedekatan semacam ini dikenal sebagai secure attachment, hubungan emosional yang membuat anak memiliki rasa aman untuk kembali kepada orang tua ketika menghadapi masalah. Anak yang memiliki figur pengasuh yang responsif tidak berarti tumbuh tanpa aturan. Justru ia memiliki fondasi emosional yang lebih kuat untuk menerima batasan, belajar mengelola emosi, dan mencari pertolongan ketika menghadapi risiko. Dalam perspektif Islam, kedekatan semacam ini bukan tujuan akhir, melainkan jalan menuju tarbiyah. Anak merasa aman kepada orang tuanya agar kelak ia belajar merasa aman dalam ketaatan kepada Allah.
Ada satu ruang yang sering dihindari orang tua, padahal justru di situlah banyak anak kehilangan arah: pendidikan tentang tubuh dan seksualitas. Anak yang tidak mendapatkan pendidikan tentang tubuhnya dari rumah akan tetap mendapatkan informasi tentang tubuh dan seksualitas dari tempat lain. Pertanyaannya bukan apakah mereka akan belajar, tetapi dari siapa mereka belajar. Parenting Islam tidak mengajarkan kita untuk menghindari pembicaraan tentang pubertas, ketertarikan, aurat, batas pergaulan, dan kehormatan diri. Justru orang tua harus menjadi sumber pertama yang aman, benar, dan bermartabat, sebelum internet atau pergaulan yang keliru mengambil alih peran itu.
Dari sinilah beberapa langkah sederhana bisa menjadi pijakan bagi orang tua yang ingin merawat hati anak sebelum sibuk mengawasi tubuhnya:
- Hadir sebelum menghakimi. Bangun rumah sebagai tempat anak bisa bercerita tanpa takut langsung dihukum.
- Bicara tentang tubuh dan kehormatan diri sebelum dunia luar yang mengajarkannya. Pendidikan ini bisa dimulai dari adab menjaga aurat, batas interaksi, rasa malu, dan tanggung jawab.
- Ajarkan alasan di balik aturan. Jangan berhenti pada kata "haram". Jelaskan apa yang ingin dijaga Allah, dan bagaimana larangan itu sesungguhnya bentuk kasih sayang-Nya.
- Awasi dunia digital tanpa memutus komunikasi. Gawai perlu diawasi, tetapi pengawasan harus berjalan bersama kepercayaan, dialog, dan literasi digital.
- Jadilah tempat pulang sebelum menjadi hakim. Jika anak melakukan kesalahan, ketegasan tetap perlu, namun ketegasan itu harus membuka jalan taubat dan perbaikan, bukan mendorong anak mencari perlindungan di tempat yang salah.
Tragedi yang menimpa anak-anak bukan semata persoalan anak. Ia adalah cermin bagi kita semua, cermin bagi keluarga, cermin bagi lingkungan, dan cermin bagi cara kita membangun generasi. Mungkin pertanyaan terbesar dalam parenting bukanlah "apakah anak kita sudah tahu mana yang benar", melainkan: ketika ia berada sendirian, jauh dari pengawasan kita, apakah nilai-nilai yang kita tanamkan telah hidup di dalam hatinya?
Di situlah keberhasilan parenting sesungguhnya diuji. Bukan ketika anak takut kepada orang tuanya, tetapi ketika ia tetap memilih kebaikan meskipun tidak ada seorang pun yang melihat, karena di dalam dirinya telah tumbuh kesadaran bahwa Allah selalu melihat. Rumah, pada akhirnya, harus kembali menjadi madrasah pertama bagi penyucian jiwa anak, bukan sekadar tempat mereka makan dan tidur.
Semoga Allah ﷻ menjadikan anak-anak kita sebagai penyejuk mata dan penghimpun kebaikan bagi keluarga dan umat:
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)
Referensi
- Al-Qur'an al-Karim, QS. At-Tahrim: 6; QS. Luqman: 13; QS. Al-Furqan: 74.
- HR. Bukhari dan Muslim, hadits tentang fitrah anak.
- HR. Bukhari dan Muslim, hadits tentang kepemimpinan dan tanggung jawab (kullukum ra'in).
- Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin (pembahasan tentang tarbiyah dan tahdzib al-akhlak).
- Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud (pembahasan tentang tarbiyatul aulad).
- detikBali, "Ironi Hari Anak Nasional: 525 Anak di Dompu NTB Menikah Dini," 23 Juli 2026.
