Ketika Sebuah Berita Menjadi Cermin Diri

Ketika Sebuah Berita Menjadi Cermin Diri

Dari Polemik LGBT menuju Muhasabah tentang Syahwat, Zina, dan Jalan Taubat

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Ada kalanya sebuah berita tidak berhenti sebagai informasi. Ia berubah menjadi cermin yang memantulkan keadaan hati kita sendiri. Polemik mengenai LGBT yang kembali mencuat beberapa waktu terakhir adalah salah satunya.

Sebuah video pesta di sebuah tempat hiburan malam di Karawang menyebar cepat di linimasa. Di waktu yang hampir bersamaan, sebuah akun media sosial memanipulasi foto keluarga untuk mempromosikan gagasan tentang pengasuhan anak oleh pasangan sesama jenis. Dua peristiwa yang berbeda bentuk, namun oleh banyak pihak dibaca sebagai satu tanda yang sama: sesuatu yang dahulu disembunyikan, kini tampil terang-terangan.

Majelis Ulama Indonesia meresponsnya dengan tegas. Berlandaskan Fatwa Nomor 57 Tahun 2014, MUI menegaskan bahwa perilaku lesbian, gay, dan sodomi adalah keharaman yang termasuk kategori jarimah, sebuah pelanggaran yang berdampak pada tatanan sosial, bukan sekadar pilihan pribadi yang berdiri sendiri. Beberapa tokoh MUI bahkan mendorong agar Rancangan Undang-Undang Pidana LGBT dimasukkan ke dalam Program Legislasi Nasional, dengan alasan bahwa imbauan moral saja dipandang tidak lagi cukup untuk membendung normalisasi yang mereka khawatirkan.

Di sisi lain, sejumlah aktivis hak asasi manusia dan koalisi masyarakat sipil menyatakan keberatan. Bagi mereka, kriminalisasi berisiko melahirkan diskriminasi baru, membuka ruang penyalahgunaan hukum, dan bertentangan dengan prinsip kebebasan serta kesetaraan yang mereka yakini. Sebagian merujuk pada pandangan medis internasional yang tidak lagi menempatkan kecenderungan seksual sesama jenis sebagai gangguan kejiwaan. Dua pandangan ini berjalan berhadap-hadapan, dan perdebatan itu tampaknya akan terus bergulir seiring proses legislasi yang masih di tahap awal.

Di tengah perdebatan mengenai hukum, hak asasi, dan kebijakan negara, ada pertanyaan yang lebih mendasar yang sering luput dari perhatian. Mengapa berbagai bentuk perilaku seksual yang bertentangan dengan tuntunan syariat dapat muncul dan bahkan berkembang di tengah masyarakat? Islam tidak berhenti pada penilaian terhadap sebuah perbuatan, tetapi menelusuri akar yang melahirkannya, yaitu kondisi hati dan hawa nafsu manusia. Dalam perspektif tazkiyatun nafs, berbagai bentuk penyimpangan seksual dapat berakar pada hawa nafsu yang tidak ditundukkan kepada Allah, meskipun faktor-faktor lain seperti lingkungan, pengalaman hidup, dan kondisi psikologis juga dapat memengaruhi perilaku seseorang.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Wa lā taqrabūz-zinā innahū kāna fāḥisyatan wa sā'a sabīlā.

"Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."

(Al-Qur'an, Surah Al-Isra ayat 32)

Perhatikan pilihan katanya. Allah tidak berfirman "janganlah berzina", tetapi "janganlah mendekati zina". Dalam Tafsir al-Jalalain dijelaskan bahwa larangan ini menunjuk pada sebab-sebab yang mengantarkan kepada zina, bukan sekadar perbuatannya semata. Penekanan serupa dijumpai pula dalam Tafsir Ibnu Katsir, yang menerangkan bahwa zina disebut perbuatan keji dan jalan paling buruk karena ia membuka pintu bagi rangkaian kerusakan moral dan sosial yang lebih luas. Setiap langkah yang mendekatkan seseorang kepadanya, dari pandangan yang dibiarkan berlama-lama hingga fantasi yang dipelihara, telah masuk dalam wilayah peringatan itu sendiri.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bagaimana zina memiliki banyak wajah sebelum ia menjelma menjadi perbuatan fisik yang sempurna.

"Kutiba 'alā ibni Ādama naṣībuhu minaz-zinā... fazinā al-'aini an-naẓar."

"Telah ditetapkan bagi setiap anak Adam bagiannya dari zina... maka zina mata adalah memandang." (Hadis riwayat Muslim, derajat sahih)

Hadis ini menyingkap sesuatu yang jarang kita sadari: bahwa dosa besar hampir tidak pernah datang secara tiba-tiba. Ia bertumbuh, tahap demi tahap, dari sesuatu yang tampak kecil dan dianggap wajar.

Salah satu pintu yang paling banyak dibicarakan dalam konteks ini adalah pornografi. Sejumlah penelitian dalam bidang psikologi dan neurosains menunjukkan bahwa konsumsi pornografi yang berulang dapat memengaruhi cara otak memproses rangsangan seksual, membuat rangsangan yang biasa terasa tidak lagi cukup sehingga dorongan untuk mencari sesuatu yang lebih ekstrem semakin menguat. Dalam perspektif Islam, hal ini selaras dengan peringatan agar tidak mendekati zina, karena syahwat yang terus diberi makan cenderung menuntut rangsangan yang semakin besar jika tidak segera dihentikan. Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dalam karyanya Al-Jawab al-Kafi, mengajarkan bahwa pandangan adalah gerbang pertama hati: pandangan yang tidak ditahan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan keinginan, dan keinginan yang dipelihara pada akhirnya melahirkan tindakan. Di zaman digital, proses yang dahulu memerlukan waktu panjang itu kini bisa terjadi dalam hitungan menit karena stimulasi yang berulang dan mudah diakses.

Di sinilah letak kesalahan besar jika kita membaca berita hari ini hanya sebagai kisah tentang "mereka". Islam mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: pada pintu manakah nafsuku sedang diuji? Ada yang diuji dengan kecenderungan atau dorongan seksual yang bertentangan dengan tuntunan syariat. Ada yang diuji dengan pornografi yang disembunyikan rapat dari keluarga. Ada yang diuji dengan perselingkuhan hati sebelum perselingkuhan perbuatan. Ada yang diuji dengan kecanduan yang tidak pernah diakui kepada siapa pun. Bentuk ujian setiap orang tidak sama. Ada yang diuji dengan harta, ada yang diuji dengan amarah, ada yang diuji dengan syahwat. Tidak ada seorang pun yang bebas dari ujian; yang membedakan hanyalah bagaimana ia merespons ujian itu di hadapan Allah. Yang dipuji atau dicela di hadapan-Nya bukanlah dorongan yang muncul begitu saja dalam hati, melainkan bagaimana seseorang menyikapinya: memilih taat, atau mengikuti hawa nafsu. Ujian bukanlah dosa. Yang menjadi dosa adalah ketika seseorang memilih memelihara dan mewujudkannya dalam perbuatan yang dilarang Allah.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ﴿٤٠﴾ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ ﴿٤١﴾

Wa ammā man khāfa maqāma rabbihī wa nahan-nafsa 'anil hawā, fa innal-jannata hiyal-ma'wā.

"Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat kembalinya." (Al-Qur'an, Surah An-Nazi'at ayat 40–41)

Ayat ini tidak berbicara kepada satu golongan. Ia berbicara kepada setiap manusia yang memiliki nafsu, yang berarti berbicara kepada kita semua tanpa kecuali. Kemuliaan seorang mukmin tidak diukur dari tidak adanya bisikan syahwat dalam dirinya, karena bisikan itu adalah bagian dari ujian kemanusiaan. Kemuliaan itu diukur dari keberaniannya menahan diri ketika bisikan itu datang.

Mungkin ada pembaca yang diam-diam sedang berjuang melawan kecanduan pornografi. Mungkin ada yang menangis setiap selesai berbuat dosa, lalu mengulanginya lagi esok hari. Mungkin ada yang menyimpan kecenderungan yang tidak pernah ia pilih sendiri, namun tetap ingin hidup dalam ketaatan kepada Allah. Untuk semuanya, Islam tidak mengajarkan keputusasaan. Selama seseorang masih memilih untuk tidak menuruti hawa nafsunya dan terus mengetuk pintu taubat, rahmat Allah tetap terbuka baginya.

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

Qul yā 'ibādiyalladzīna asrafū 'alā anfusihim lā taqnaṭū mir raḥmatillāh.

"Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (Al-Qur'an, Surah Az-Zumar ayat 53)

Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama pintu tobat masih diketuk dengan sungguh-sungguh, baik itu dosa zina, kecanduan pornografi, maupun bentuk syahwat lain yang tersembunyi di balik dinding hati kita masing-masing.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Kullu banī Ādama khaṭṭā'un, wa khairul khaṭṭā'īnat-tawwābūn.

"Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang banyak bertaubat." (Derajat: Hasan. Riwayat Sunan at-Tirmidzi)

Mungkin berita hari ini sesungguhnya bukan sedang berbicara tentang mereka. Mungkin Allah sedang menggunakannya untuk bertanya kepada kita. Berita mungkin akan segera tenggelam oleh berita berikutnya. Namun pertanyaan yang ditinggalkannya seharusnya tetap tinggal di dalam hati kita. Sudahkah mata ini dijaga? Apakah gawai ini bersih dari pornografi? Apakah hati ini sedang memelihara syahwat yang suatu hari bisa menyeret kita kepada dosa yang lebih besar?

Ya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, jauhkanlah kami dari pintu-pintu yang mendekatkan kepada murka-Mu, dan bukakanlah bagi kami serta bagi siapa pun yang tersesat, jalan kembali menuju rahmat-Mu yang tidak pernah habis. Amin.



Referensi

  1. Al-Qur'an, Surah Al-Isra ayat 32.
  2. Al-Qur'an, Surah An-Nazi'at ayat 40–41.
  3. Al-Qur'an, Surah Az-Zumar ayat 53.
  4. Hadis riwayat Muslim tentang zina mata (Sahih Muslim, derajat sahih).
  5. Hadis riwayat Sunan at-Tirmidzi tentang taubat (derajat hasan).
  6. Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Al-Jawab al-Kafi liman Sa'ala 'an ad-Dawa' asy-Syafi.
  7. Tafsir al-Jalalain, penjelasan Surah Al-Isra ayat 32.
  8. Tafsir Ibnu Katsir, penjelasan Surah Al-Isra ayat 32.
  9. Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 57 Tahun 2014 tentang Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan.

Artikel Populer

Mengapa Allah Tidak Berfirman "Qad Aflaha Man Shalla"?

Menjaga Hati Sebelum Menjaga Negeri

Keluarga sebagai Ruang Tazkiyah

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...