Siapakah yang Mau Meminjamkan kepada Allah?

Siapakah yang Mau Meminjamkan kepada Allah?

Tadabbur QS. Al-Baqarah Ayat 245 tentang Qardhan Hasan

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Ada satu pertanyaan dalam Al-Qur'an yang begitu lembut, namun menembus relung hati paling dalam. Allah tidak memerintahkan hamba-Nya untuk berinfak dengan kalimat perintah. Allah justru bertanya, seolah mengetuk pintu jiwa satu per satu. Mengapa Allah memilih bertanya, padahal Dia adalah Pemilik seluruh langit dan bumi? Mengapa Dia menggunakan bahasa "pinjaman", seolah-olah membutuhkan sesuatu dari hamba-Nya? Di situlah letak keindahan sekaligus kedalaman ayat ini.

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakannya dengan lipat ganda yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki), dan kepada-Nya kamu dikembalikan." (QS. Al-Baqarah: 245)

Mengapa Allah, Yang Mahakaya dan tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya, memilih kata "meminjam"? Para mufasir menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah bentuk penghormatan Allah kepada hamba-Nya. Seolah Allah berkata: apa yang engkau keluarkan di jalan-Ku tidak akan hilang, Aku sendiri yang akan mengembalikannya dengan keuntungan yang jauh lebih besar. Diksi ini menenangkan hati orang beriman agar tidak takut miskin ketika bersedekah, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Jalalain pada ayat ini.

Ada satu hal lagi yang mudah terlewat dari mata pembaca awam. Allah tidak sekadar berfirman "man yuqridhullāh", siapa yang meminjamkan kepada Allah. Allah menyisipkan kata "żā" di tengahnya, menjadi "man żallażī yuqriḍullāh". Para ahli balaghah menjelaskan bahwa sisipan ini bukan sekadar penguat tata bahasa, melainkan membawa nuansa tantangan yang lembut sekaligus ajakan yang memuliakan, seolah Allah berkata: "Siapakah gerangan orang mulia yang bersedia..." Satu huruf tambahan, namun mengandung kedalaman makna yang begitu besar.

Namun tidak semua pemberian layak disebut qardhan hasanan, pinjaman yang baik. Ada syarat yang menyertainya: ikhlas karena Allah, berasal dari harta yang halal, diberikan dengan hati yang lapang, tanpa riya' atau mengungkit-ungkit, dan diarahkan pada jalan yang diridhai-Nya. Yang dinilai bukan besarnya nominal, melainkan kualitas hati saat memberi.

Al-Harits al-Muhasibi, dalam Ar-Ri'ayah li Huquqillah, menekankan bahwa diterimanya suatu amal sangat bergantung pada kebersihan hati dan penjagaan niat. Boleh jadi seseorang mengeluarkan banyak harta, namun belum tentu itu menjadi qardhan hasanan di sisi Allah, sebab beliau menaruh perhatian besar pada muraqabah, merasa senantiasa diawasi Allah, dan muhasabah, mengintrospeksi diri, agar amal tidak rusak oleh riya' maupun ujub.

Jika Al-Muhasibi menyoroti kualitas hati saat memberi, maka Abdullah bin Al-Mubarak mengajak kita melihat hubungan antara infak dan zuhud. Dinisbatkan kepada beliau, seorang ulama sekaligus saudagar yang dermawan, sebuah ungkapan yang masyhur dalam literatur zuhud: bahwa zuhud adalah ketika seseorang lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Ketika Allah menyebut "meminjamkan kepada-Nya", orang yang zuhud akan menyadari bahwa harta di tangan belum tentu tetap menjadi miliknya, tetapi jika diinfakkan karena Allah, ia menjadi simpanan yang pasti.

Dari titik zuhud ini, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah melangkah lebih jauh. Dalam Madarij as-Salikin, pada pembahasan beliau tentang ikhlas, tawakal, dan maqam zuhud, dijelaskan bahwa infak sejatinya adalah perniagaan dengan Allah: semakin kuat keyakinan seorang hamba, semakin ringan ia mengorbankan sesuatu yang dicintainya demi memperoleh apa yang dicintai Allah. Dari uraian ini dapat dipahami bahwa seluruh harta hanyalah amanah. Karena itu, ketika seorang mukmin menginfakkan sebagian hartanya, ia tidak sedang kehilangan kepemilikan mutlak, melainkan mengembalikan amanah kepada Pemiliknya dengan harapan memperoleh balasan yang lebih baik.

Jika Ibnu Qayyim berbicara tentang keyakinan, Imam Al-Ghazali menunjukkan sisi lain dari koin yang sama: penyucian hati. Dalam Ihya' 'Ulumiddin, beliau membedakan antara tangan yang memiliki harta dan hati yang dimiliki harta. Yang kedua inilah penyakit yang sesungguhnya. Zakat dan sedekah, menurut beliau, bukan sekadar membantu fakir miskin, tetapi mengobati hati orang yang berkecukupan dari keterikatan berlebihan kepada dunia.

Ayat ini juga tidak menyebut angka pasti berapa kali lipat balasan yang dijanjikan. Allah memilih ungkapan terbuka, aḍ'āfan kaṡīrah, lipat ganda yang banyak, yang memberi kesan bahwa balasan-Nya tidak dibatasi oleh hitungan manusia.

Di sinilah kita berhadapan dengan sebuah paradoks yang sangat kental dalam ayat ini. Logika dunia mengajarkan bahwa memberi berarti berkurang, dan menyimpan berarti aman. Namun logika wahyu justru membalik cara pandang itu: memberi karena Allah tidak membuat seseorang berkurang, melainkan bertambah, baik melalui keberkahan, pengganti yang tak disangka, maupun pahala yang kekal di akhirat. Yang tampak lepas dari tangan justru sedang disimpan dengan jaminan yang jauh lebih besar di sisi-Nya.

Paradoks ini pernah terwujud nyata dalam sejarah. Ketika Rasulullah ﷺ menyerukan persiapan menghadapi Perang Tabuk, kondisi kaum muslim sangat sulit sehingga pasukan itu disebut jaisy al-'usrah, pasukan dalam kesulitan. Musim panas terik, musim paceklik, dan jarak Madinah–Tabuk yang jauh membuat banyak orang enggan ikut serta. Namun di tengah kesulitan itu, Utsman bin 'Affan menyumbangkan ratusan unta lengkap perbekalannya, hingga Rasulullah ﷺ bersabda bahwa apa pun yang dilakukan Utsman setelah hari itu tidak akan membahayakannya lagi (HR. Tirmidzi, no. 3701, dinilai hasan). Abu Bakar Ash-Shiddiq bahkan menyerahkan hampir seluruh hartanya; ketika ditanya apa yang beliau tinggalkan untuk keluarganya, beliau hanya menjawab, "Allah dan Rasul-Nya" (HR. Abu Dawud, no. 1678). Secara hitungan dunia, keduanya kehilangan harta dalam jumlah besar. Namun secara hitungan akhirat, justru pada momen itulah kemuliaan mereka diabadikan sepanjang sejarah Islam. Barangkali Abu Bakar tidak pernah merasa sedang kehilangan. Yang beliau rasakan hanyalah sedang memenuhi panggilan Allah.

Kemudian ayat ditutup dengan kalimat yang sangat menenangkan:

وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ
"Allah menyempitkan dan melapangkan rezeki."

Yang membuat seseorang kaya bukan banyaknya uang yang disimpan, melainkan keberkahan yang Allah karuniakan. Kadang harta bertambah secara angka tetapi hidup terasa sempit. Kadang harta sedikit namun penuh keberkahan, kesehatan, ketenangan, dan kecukupan hati.

Rasulullah ﷺ menguatkan makna ini dalam sabdanya:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
"Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim, no. 2588, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — sahih)

Hadis ini seolah menjadi penjelasan langsung terhadap janji Allah dalam QS. Al-Baqarah: 245. Apa yang dijanjikan dalam Al-Qur'an ditegaskan kembali oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya. Imam An-Nawawi dalam syarahnya menjelaskan bahwa maksud hadis ini ada tiga: Allah mengganti harta yang dikeluarkan dengan rezeki lain yang tidak disangka, Allah memberikan keberkahan sehingga harta yang tersisa lebih bermanfaat, dan yang tampak berkurang secara angka justru bertambah nilainya di sisi Allah sebagai pahala.

Menariknya, budaya memberi ini tumbuh subur di negeri kita sendiri. Berdasarkan World Giving Index, Indonesia berulang kali menempati peringkat pertama dunia dalam hal partisipasi masyarakat untuk berdonasi, menjadi relawan, dan menolong orang yang tidak dikenal. Namun angka ini sekadar mengukur seberapa banyak orang yang bertindak dermawan, bukan seberapa murni niat di balik setiap pemberian. Al-Qur'an mengingatkan bahwa ukuran di sisi Allah bukan hanya tingginya angka partisipasi memberi, tetapi kualitas qardhan hasanan, infak yang lahir dari keikhlasan, harta yang halal, dan niat mencari ridha-Nya. Maka pertanyaan yang perlu terus kita ajukan pada diri sendiri bukan hanya "sudahkah aku bersedekah?", melainkan "apakah pemberianku benar-benar qardhan hasanan, ataukah baru sebatas kebiasaan sosial?" Pertanyaan ini menjadi semakin relevan di era media sosial, ketika sedekah kadang lebih mudah viral daripada tersembunyi, dan menjaga ikhlas justru menjadi perjuangan tersendiri di tengah godaan untuk dilihat dan dipuji.

Barangkali selama ini kita mengira bahwa ketika bersedekah, kita sedang membantu orang lain. Padahal boleh jadi Allah sedang menyelamatkan hati kita sendiri dari penyakit yang tidak kita sadari. Tangan yang memberi sesungguhnya sedang lebih banyak menerima daripada tangan yang menerima.

Setiap kali kita bersedekah, sesungguhnya kita sedang menjawab pertanyaan Allah dalam ayat ini. Kita sedang "meminjamkan" kepada Dzat Yang tidak pernah mengingkari janji-Nya. Kita sedang membersihkan hati dari cinta dunia, dan membangun masa depan di akhirat. Allah tidak pernah menyebut sedekah sebagai kehilangan, tetapi sebagai pinjaman yang pasti dikembalikan dengan keuntungan berlipat.

Pada akhirnya, yang sampai kepada Allah bukan angka yang kita keluarkan, melainkan hati yang kita bawa. Harta hanya berpindah dari satu tangan ke tangan lain, tetapi keikhlasanlah yang mengangkatnya hingga diterima di sisi-Nya. Karena itu, setiap kali kita berinfak, jangan bertanya, "Berapa yang hilang?" Bertanyalah, "Apa yang sedang Allah simpan untukku?"

Allahumma j'alnaa minal mutasaddiqiin al-mukhlisiin, wa baariklana fii ma razaqtanaa. Aamiin ya Rabbal 'alamiin.


Referensi

  1. QS. Al-Baqarah: 245
  2. Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. Al-Baqarah: 245
  3. Tafsir Al-Jalalain, tafsir QS. Al-Baqarah: 245
  4. Shahih Muslim, no. 2588
  5. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi, syarah hadis no. 2588
  6. Ar-Ri'ayah li Huquqillah, Al-Harits al-Muhasibi
  7. Kitab az-Zuhd wa ar-Raqa'iq, dinisbatkan kepada Abdullah bin Al-Mubarak
  8. Madarij as-Salikin, Ibnul Qayyim, pembahasan tentang ikhlas, tawakal, dan maqam zuhud
  9. Ihya' 'Ulumiddin, Imam Al-Ghazali, Kitab Asrar az-Zakah
  10. Jami' at-Tirmidzi, no. 3701 (hasan); Sunan Abi Dawud, no. 1678
  11. Charities Aid Foundation (CAF), World Giving Index 2024

Artikel Populer

Framework Kepemimpinan Muslim (seri 7)

Mengapa Indonesia Memakai Pancasila, Bukan Piagam Madinah?

Brain Rot: Fenomena Neurologis yang Mengancam Generasi Muslim — Dan Cara Mengatasinya

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...