Jalan untuk Menangis: Mengapa Hati Modern Sulit Menangis karena Allah?
Jalan untuk Menangis: Mengapa Hati Modern Sulit Menangis karena Allah?
Jalan Pulang dari Kebisingan Dunia Menuju Khashyah, Muhasabah, dan Kelembutan Hati
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
Bismillahirrahmanirrahim. Kita hidup di zaman ketika manusia tidak kehilangan air mata. Kita masih menangis karena kehilangan, tersentuh oleh kisah, terharu oleh video, bahkan larut dalam drama yang hanya berlangsung beberapa menit di layar. Tetapi ada sebuah pertanyaan yang lebih sunyi: kapan terakhir kali air mata kita jatuh karena takut kepada Allah?
Kita sesungguhnya tidak perlu belajar bagaimana cara menangis. Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana menghidupkan kembali hati. Manusia modern barangkali tidak kekurangan air mata. Ia kekurangan ruang batin untuk merasakan Allah.
Ibnu Qayyim rahimahullah membedakan berbagai jenis tangisan: tangisan kasih sayang, tangisan takut dan pengagungan, tangisan cinta dan kerinduan, tangisan kegembiraan, tangisan kesedihan, hingga tangisan yang tidak lahir dari hati yang benar-benar tersentuh, sekadar mengikuti orang lain menangis tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya ditangisi. Ini membuka pintu penting bahwa air mata tidak selalu identik dengan kedalaman spiritual. Ukurannya bukan seberapa banyak air mata yang keluar, melainkan apa yang berubah setelah air mata itu mengering. Tangisan karena takut kepada Allah seharusnya melahirkan taubat, lalu meninggalkan dosa, lalu memperbaiki amal, lalu menjaga hati agar tetap hidup.
Manusia modern sesungguhnya tidak kehilangan kemampuan menangis. Justru sebaliknya. Kita hidup dalam budaya air mata: film membuat kita menangis, kisah viral membuat kita terharu, video pendek memancing emosi, konten motivasi menyentuh hati kita dalam hitungan detik. Namun tangisan itu sering berhenti pada emosi, tidak berlanjut menjadi transformasi. Allah Ta'ala menggambarkan tangisan yang berbeda dari sekadar keharuan sesaat itu:
"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah." (QS. Az-Zumar [39]: 23)
Gemetar, lalu tenang. Bukan sekadar tersentuh lalu lupa, tetapi bergerak menuju ketenangan yang berasal dari mengingat Allah. Persoalan hati kita hari ini barangkali bukan sesederhana "hati yang keras". Mungkin pada mulanya hati kita bukan sepenuhnya keras. Ia hanya terlalu penuh: penuh notifikasi, penuh berita, penuh komentar, penuh perbandingan, penuh kecemasan, penuh keinginan. Sehingga tidak ada lagi ruang hening untuk merasakan kehadiran Allah. Namun jika kepenuhan ini dibiarkan bertahun-tahun, kebisingan yang terus-menerus itulah yang perlahan mengubah hati yang penuh menjadi hati yang kehilangan kepekaan, lalu lalai, lalu benar-benar mengeras. Allah Ta'ala mengingatkan bahaya ini jauh sebelum zaman digital hadir:
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras." (QS. Al-Hadid [57]: 16)
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan ayat ini dengan sederhana: mereka menjadi condong kepada dunia dan berpaling dari peringatan Allah. Dahulu proses pengerasan hati semacam ini memerlukan rentang waktu yang panjang. Hari ini, kita menghadapi lingkungan yang memungkinkan kelalaian berlangsung jauh lebih sering, sebab dunia tidak lagi menunggu untuk kita dekati. Ia hadir melalui genggaman tangan, setiap detik, tanpa jeda. Namun masalah zaman kita bukan sekadar banyaknya informasi yang masuk. Masalahnya adalah hilangnya kemampuan memilih apa yang layak memenuhi hati. Teknologi itu sendiri netral, ia bisa menjadi sarana ilmu, dakwah, dzikir, dan silaturahmi. Yang menjadi persoalan adalah ketidakmampuan kita mengatur perhatian, sehingga apa saja yang lewat di layar diberi ruang di hati, sementara Allah justru sering tidak kebagian tempat.
Hati tidak pernah benar-benar kosong. Ia selalu diisi oleh sesuatu. Jika tidak diisi dengan dzikir, ia akan mudah dipenuhi kelalaian. Jika tidak dipenuhi dengan tafakur, ia akan mudah dikuasai distraksi. Jika tidak diarahkan kepada Allah, ia akan ditarik oleh dunia dari satu keinginan menuju keinginan berikutnya, tanpa pernah benar-benar berhenti. Karena itu, tazkiyatun nafs bukan sekadar perkara mengosongkan hati, melainkan mengosongkannya dari kebisingan untuk kemudian mengisinya kembali dengan sesuatu yang lebih tinggi: ma'rifatullah, mahabbah, khauf, raja', dan dzikrullah. Al-Ghazali rahimahullah dalam Ihya' 'Ulum al-Din menjelaskan bahwa penyakit hati berkaitan dengan dominasi syahwat, kecenderungan berlebihan kepada dunia, dan kelalaian yang dibiarkan tanpa mujahadah, hingga ruang batin yang seharusnya diperuntukkan bagi Allah justru direbut oleh hal-hal yang lebih rendah. Ilmu tazkiyah klasik ini menemukan bentuk barunya di zaman kita: bukan lagi harta dan tahta semata yang merebut ruang itu, melainkan juga arus informasi yang tak henti, yang diam-diam menggantikan posisi dzikir dan tafakur dalam hati manusia.
Dari sinilah muncul persoalan berikutnya, yaitu tentang ilmu itu sendiri. Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama." (QS. Fathir [35]: 28)
Abdul A'la at-Taimi, seorang tabi'in, meninggalkan sebuah atsar mengenai ayat yang berkaitan dengan ini: barangsiapa dianugerahi ilmu namun ilmunya tidak membuatnya menangis kepada Allah, maka ia mendapatkan ilmu yang belum memberi buah sebagaimana mestinya. Ini bukan kritik terhadap banyaknya ilmu, sebab tradisi Islam justru sangat menghargai ilmu yang luas. Yang dikritik adalah ilmu yang berhenti sebagai koleksi pengetahuan, tanpa amal, tanpa muraqabah, dan tanpa perubahan akhlak. Ilmu semacam ini bisa menjadikan seseorang sekadar kolektor pengetahuan, bukan pemilik khashyah. Kita bisa mendengar kajian setiap hari, menyimpan ribuan video ceramah, mengoleksi kitab digital tanpa batas, namun pertanyaannya tetap sama: apakah semua itu membuat kita lebih takut berbuat dosa, ataukah hanya menambah pengetahuan tentang dosa tanpa menyentuh rasa takut itu sendiri? Tidak semua persoalan hati adalah persoalan informasi.
Allah melanjutkan sifat orang-orang berilmu yang sesungguhnya dalam surat Al-Isra':
"Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud... dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." (QS. Al-Isra' [17]: 107–109)
Perhatikan gambaran yang diberikan ayat ini: ilmu yang benar membawa seseorang kepada sujud, tangisan, dan bertambahnya kekhusyukan. Ilmu yang benar bermuara pada ketundukan, bukan sekadar penambahan koleksi pengetahuan di kepala.
Persoalan berikutnya menyentuh sesuatu yang barangkali paling dekat dengan pengalaman kita sehari-hari, yaitu tentang kematian. Kita menghadiri pemakaman, menangis, mengunggah foto kenangan, lalu beberapa jam kemudian kembali menggulir layar seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan kematian kini hadir berlapis-lapis di hadapan mata kita: video kecelakaan, berita duka, tragedi yang tersaji dalam hitungan detik. Kita mengalami keterpaparan pada kematian yang begitu sering, namun belum tentu itu berarti kita benar-benar mengingat mati. Sering melihat kematian ternyata tidak otomatis membuat kematian hadir di dalam hati. Kematian menjadi konten yang lewat, bukan cermin yang membuat kita berhenti sejenak. Padahal tazkiyah mengajarkan sesuatu yang berbeda: melihat kematian orang lain sebagai pesan pribadi. Hari ini dia, besok siapa? Kita sering menangisi orang yang telah pergi, tetapi jarang menangisi diri yang masih tinggal, padahal setiap hari yang berlalu sebenarnya adalah satu langkah menuju tempat yang sama.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang perkara ini:
"Perbanyaklah mengingat penghancur kesenangan, yaitu kematian." (HR. An-Nasa'i, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Karena itu pula Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang pada mulanya melarang ziarah kubur, kemudian mengizinkannya kembali kepada para sahabat, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits yang masyhur:
"Dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, akan tetapi sekarang berziarahlah, karena sesungguhnya hati menjadi lembut, dan mata mengeluarkan air mata, dan ia adalah peringatan terhadap hari kiamat." (HR. Al-Hakim, dinilai shahih menurut syarat Muslim)
Persoalan yang tidak kalah mendalam adalah tentang kesibukan yang mengelilingi hidup kita. Kita selalu merasa sibuk, tetapi mungkin bukan karena pekerjaan. Kita sibuk menghindari keheningan. Sebab dalam keheningan, kita bertemu dengan diri sendiri, dan dalam pertemuan itu kita mulai melihat dosa, melihat kekosongan, melihat betapa jauhnya kita dari Allah. Maka manusia modern sering memilih kebisingan, karena hening memaksa kita bercermin. Namun jalan keluarnya bukan sekadar mengurangi waktu bermain gawai. Tradisi tazkiyah tidak pernah sesederhana "kurangi ponsel". Ia mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: menciptakan ruang batin untuk berjumpa dengan Allah, melalui khalwah, tafakur, muraqabah, muhasabah, hingga qiyamul lail. Ini bukan sekadar detoks digital, melainkan reorientasi spiritual.
Hasan al-Bashri rahimahullah pernah didatangi seorang laki-laki yang mengadukan kerasnya hati. Beliau menjawab, "Dekatkanlah ia untuk berdzikir kepada Allah." Beliau juga berkata bahwa majelis dzikir memberi kehidupan pada ilmu dan menghadirkan khusyuk di hati; berdzikir kepada Allah menghidupkan hati yang mati, sebagaimana bumi yang mati dihidupkan kembali dengan hujan. Dalam tradisi tazkiyah yang dijelaskan para ulama, khauf yang benar kepada Allah bukanlah sekadar emosi yang lewat, melainkan rasa takut yang melahirkan amal nyata: menjauhi maksiat, menunaikan kewajiban, dan memperbaiki hubungan dengan Allah secara berkelanjutan. Khauf yang berhenti sebagai perasaan sesaat, tanpa berbuah amal, belum menjadi khauf yang sempurna.
Sampai di sini, penting untuk menjaga agar pembahasan ini tidak jatuh pada romantisasi tangisan itu sendiri. Memaksa diri untuk menangis bukanlah tujuan akhir, melainkan usaha untuk melembutkan hati dan melawan hawa nafsu. Yang seharusnya dikejar bukan tangisan itu sendiri, melainkan taubat, ilmu yang menyentuh qalbu, tadabbur Al-Qur'an, dzikir, muhasabah, khusyuk, muraqabah, dan kejujuran di hadapan Allah. Jika hati telah hidup, air mata mungkin datang dengan sendirinya, seperti hujan yang tidak bisa diperintah turun begitu saja. Tugas kita bukan memeras air mata, melainkan menyiapkan bumi hati ini agar mampu menerimanya.
Aisyah radhiyallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang ayat:
"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut." (QS. Al-Mu'minun [23]: 60)
Aisyah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang mereka yang disebutkan dalam ayat ini, yang beramal namun hatinya tetap dipenuhi rasa takut: apakah mereka orang-orang yang berbuat dosa besar? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan bahwa bukan demikian. Mereka justru adalah orang-orang yang berpuasa, bersedekah, dan menunaikan shalat, namun hati mereka tetap takut jika amal itu tidak diterima di sisi Allah (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah; hasan). Inilah potret hati yang hidup: rajin dalam amal, namun tidak pernah merasa aman dari kekurangan diri sendiri, sebab rasa wajal atas diterima atau tidaknya amal itulah yang menjaga keikhlasan tetap hidup.
Di sinilah perlu dibedakan antara khauf dan khashyah, meski keduanya sering dipakai bergantian. Dalam penggunaan istilah para ulama, khauf adalah rasa takut yang lebih umum, sedangkan khashyah memiliki nuansa yang lebih khusus: rasa takut yang lahir dari pengenalan dan pengagungan terhadap yang ditakuti. Karena itu Allah Ta'ala menyandingkan khashyah dengan ilmu dalam QS. Fathir ayat 28: sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama, yakni mereka yang benar-benar mengenal-Nya. Semakin seseorang mengenal Allah dan kebesaran-Nya, semakin dalam pula khashyah yang tumbuh dalam dirinya, bukan ketakutan yang melumpuhkan, melainkan rasa takut yang melahirkan ketundukan. Maka khashyah tidak berhenti pada takut neraka. Ia adalah tangisan orang yang begitu mengenal kebesaran Allah sehingga merasa kecil di hadapan-Nya; begitu mengenal limpahan nikmat-Nya sehingga malu atas kelalaiannya sendiri; begitu mencintai-Nya sehingga takut kehilangan kedekatan dengan-Nya. Dari sinilah tersusun sebuah alur: ilmu melahirkan ma'rifah, ma'rifah melahirkan pengagungan, pengagungan melahirkan khashyah, khashyah melahirkan khusyuk, dan khusyuk pada akhirnya melahirkan amal.
Lalu bagaimana jalan pulangnya? Bukan tujuh langkah instan agar air mata keluar, melainkan beberapa pintu yang selama ini kita tutup sendiri. Kurangi kebisingan yang tidak perlu, bukan sekadar berhenti sejenak dari gawai, tetapi benar-benar memilah apa yang layak diberi ruang di hati. Kembalikan Al-Qur'an dari sekadar suara latar menjadi ayat-ayat yang benar-benar kita dengarkan dengan hati. Bacalah perlahan, tadabburi, dan berhentilah pada satu ayat yang mengguncang meski hanya satu ayat dalam sehari. Hadirkan kematian sebagai cermin, bukan sekadar berita yang lewat, dengan menziarahi kubur dan merenungi bahwa gilirannya suatu saat akan tiba. Sisakan waktu untuk hening, lewat tahajud, dzikir, dan muhasabah sebelum tidur. Periksa dosa-dosa yang selama ini membuat hati tumpul, sebab tidak semua persoalan hati adalah persoalan informasi. Perbanyak amal yang tersembunyi, yang hanya diketahui Allah. Dan yang terpenting, jangan mengejar air mata. Kejarlah kejujuran di hadapan Allah, karena dari kejujuran itulah kelak air mata akan tumbuh dengan sendirinya.
Pada akhirnya, takut kepada Allah justru membawa ketenangan. Ia bukan ketakutan patologis, bukan pula kecemasan tanpa jalan keluar. Dalam tradisi tazkiyah, khauf selalu berjalan bersama raja'. Takut mencegah kita dari dosa. Harap mencegah kita dari keputusasaan. Cinta membuat kita ingin mendekat. Tangisan yang sehat bukan tangisan yang melumpuhkan manusia, melainkan tangisan yang membuat manusia menjadi lebih lembut, lebih jujur, lebih rendah hati, lebih cepat bertaubat, lebih ringan memaafkan, dan lebih siap pulang kepada Allah.
"Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, hingga susu dapat kembali ke ambingnya." (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Al-Hakim; dinilai hasan-shahih oleh At-Tirmidzi)
Jalan untuk menangis bukanlah jalan mencari air mata. Ia adalah jalan membersihkan hati dari kebisingan, mengisinya kembali dengan ma'rifatullah, lalu membiarkan khashyah, cinta, malu, dan raja' menemukan jalannya sendiri menuju mata.
Semoga Allah menghidupkan hati kita yang mati, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang tandus dengan hujan. Barangkali, ketika hati telah kembali mengenal siapa Rabb-nya, air mata tidak lagi perlu dicari. Ia akan menemukan jalannya sendiri. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Referensi
- Al-Qur'an: QS. Az-Zumar [39]: 23; QS. Al-Hadid [57]: 16; QS. Fathir [35]: 28; QS. Al-Isra' [17]: 107–109; QS. Al-Mu'minun [23]: 60.
- Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma'ad fi Hady Khair al-'Ibad, pembahasan tentang tangisan (al-buka') dan ragam sebab-sebab tangisan.
- Al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, pembahasan tentang penyakit hati, syahwat, kelalaian, dan mujahadah.
- Ad-Darimi, Sunan ad-Darimi, atsar Abdul A'la at-Taimi tentang ilmu yang tidak membuahkan tangisan dan khashyah.
- At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, riwayat tentang mengingat kematian, tangisan karena takut kepada Allah, serta hadits Aisyah radhiyallahu 'anha tentang orang-orang yang beramal dengan hati yang wajilah.
- An-Nasa'i, Sunan an-Nasa'i, riwayat tentang mengingat kematian dan tangisan karena takut kepada Allah.
- Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, riwayat tentang mengingat kematian dan hadits Aisyah radhiyallahu 'anha tentang amal yang disertai rasa takut tidak diterima.
- Al-Hakim, Al-Mustadrak 'ala ash-Shahihain, riwayat tentang ziarah kubur yang melembutkan hati dan menyebabkan mata menangis.
