Saat Hati Tidak Lagi Mudah Tersentuh
Saat Hati Tidak Lagi Mudah Tersentuh
Ketika tawa semakin keras, tetapi hati semakin sunyi
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
Ada satu keluhan yang belakangan sering terdengar, meski jarang diucapkan secara terbuka: hati terasa keras, sulit menangis, berat diajak berdzikir, namun begitu ringan tertawa. Ayat dibaca, namun tidak lagi bergetar. Nasihat didengar, namun tidak lagi membekas. Padahal dahulu, sedikit teguran saja sudah cukup membuat air mata jatuh.
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan tentang gejala ini jauh sebelum kita mengenalnya. Dari Abu Hurairah, beliau bersabda:
Lā tuktsirūḍ-ḍaḥika, fa inna katsrataḍ-ḍaḥiki tumītul-qalb.
"Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati." (HR. Ibnu Majah, no. 4193; dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)
Sejak awal perlu dipahami: yang mematikan hati bukanlah tawa itu sendiri. Yang mematikan hati adalah ghaflah, kelalaian kepada Allah. Banyak tertawa hanyalah salah satu jalan yang dapat mengantarkan kepada kelalaian itu ketika ia kehilangan batas. Seluruh pembahasan artikel ini berangkat dari titik itu.
Hadis di atas bukan larangan untuk tersenyum atau berbahagia, sebab Rasulullah ﷺ sendiri dikenal sebagai pribadi yang paling banyak tersenyum. Aisyah radhiyallahu 'anha menggambarkan akhlak beliau dengan sederhana: kebanyakan tawa Rasulullah ﷺ adalah senyum, bukan gelak yang berlebihan. Yang diperingatkan Nabi ﷺ bukan tawa itu sendiri, melainkan kebiasaan tertawa berlebihan yang menyertakan kelalaian di dalamnya, hingga perlahan mengeraskan hati dan menghapus rasa takut serta harap kepada Allah. Rasulullah ﷺ bukanlah pribadi yang muram. Beliau murah senyum, ramah kepada siapa saja, bahkan bercanda dengan keluarga, anak-anak, dan para sahabatnya. Karena itu, Islam tidak mengajarkan wajah yang selalu tegang; yang justru menghidupkan hati adalah hadirnya dzikir, tafakur, dan kesadaran akan akhirat di tengah kegembiraan yang halal.
Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan "hati yang mati"? Bukan berhentinya denyut jasad, melainkan padamnya kepekaan ruhani. Tandanya cukup dikenali: tidak tersentuh saat mendengar Al-Qur'an, ringan melakukan maksiat namun berat menunaikan ibadah, tidak lagi menyesal setelah berbuat dosa, dan lebih menikmati hiburan daripada mengingat Allah. Allah Ta'ala sendiri menegur keadaan seperti ini dalam firman-Nya:
Alam ya'ni lilladzīna āmanū an takhsya'a qulūbuhum lidzikrillāh.
"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah?" (QS. Al-Hadid: 16)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini dipahami sebagai teguran lembut agar hati kaum mukmin tidak mengeras karena panjangnya angan-angan dan terlalu sibuknya jiwa dengan dunia. Dan Allah sendiri mengingatkan hakikat dunia ini dalam ayat berikutnya:
I'lamū annamal-ḥayātud-dunyā la'ibun wa lahwun.
"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau…" (QS. Al-Hadid: 20)
Islam sama sekali tidak memusuhi hiburan yang halal. Yang dicela adalah berlebihan, hingga seluruh waktu habis untuk tertawa, bermain, bermedia sosial, atau bercanda tanpa batas. Bahkan dalam riwayat sahih, Rasulullah ﷺ pernah menegur kelalaian semacam ini dengan cara yang sangat dalam. Dari Abu Hurairah, beliau bersabda:
Law ta'lamūna mā a'lamu laḍaḥiktum qalīlan wa labakaitum katsīrā.
"Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." (HR. Bukhari, no. 6486; Muslim, no. 2359)
Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini bukanlah larangan mutlak untuk tertawa, melainkan dorongan agar hati tidak larut dalam kelalaian. Semakin hadir hakikat akhirat, hisab, dan azab dalam hati seseorang, semakin ia cenderung menangis daripada tertawa berlebihan. Beliau juga menegaskan bahwa seorang mukmin tidak sepatutnya tenggelam dalam kenikmatan dunia hingga lupa bahwa, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam riwayat Muslim, dunia ini ibarat penjara bagi orang beriman.
Para ulama salaf pun mewariskan kegelisahan yang sama, meski sebagian dinukil sebagai atsar yang masyhur dalam kitab-kitab zuhud dan bukan riwayat yang selalu tegas sanadnya. Diriwayatkan bahwa Hasan al-Bashri rahimahullah pernah mengungkapkan makna serupa, bahwa banyak tertawa dapat mematikan hati, dan seorang mukmin sejati senantiasa menggabungkan rasa takut dan harap, sementara orang yang lalai hanya dipenuhi angan-angan panjang. Dinukil pula dari Sufyan Ats-Tsauri pesan agar seseorang mengurangi kekagumannya kepada orang yang terlalu banyak tertawa, karena hal itu sering menjadi tanda melemahnya kewibawaan iman.
Ibnu Atha'illah dalam Al-Hikam menempatkan persoalan ini dalam bingkai yang lebih dalam: bukan pada seberapa banyak seseorang tertawa, melainkan ke mana hatinya menghadap saat tertawa itu terjadi. Beliau mengingatkan agar perhatian kepada sebab-sebab duniawi tidak sampai memutuskan hati dari Allah, Sang Penyebab segala sesuatu. Hiburan, candaan, dan tawa adalah bagian dari sebab-sebab itu. Ketika hati tenggelam di dalamnya hingga lupa kepada Allah, di situlah kehidupan ruhaninya mulai memudar. Ibnu Atha'illah juga mengingatkan agar dzikir tidak ditinggalkan hanya karena belum merasakan kehadiran hati bersama Allah, sebab lalai dari dzikir jauh lebih berbahaya daripada lalai ketika sedang berdzikir.
Al-Harits al-Muhasibi memandang persoalan ini melalui muhasabah dan murāqabah, sebab baginya yang paling berbahaya bukanlah tawa itu sendiri, melainkan ghaflah yang menjadi akar dari setiap maksiat. Beliau mengajarkan agar setiap mukmin bertanya kepada dirinya di penghujung hari: apakah tawaku hari ini mendekatkanku kepada Allah, ataukah justru membuatku lupa kepada-Nya?
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menulis dengan perumpamaan yang menyentuh. Dalam Al-Fawa'id, beliau menyebutkan bahwa di dalam hati ada kegersangan yang tidak dapat dipulihkan kecuali dengan kembali kepada Allah, dan ada kesunyian yang tidak dapat dihilangkan kecuali dengan merasa dekat kepada-Nya. Dalam Al-Wabil ash-Shayyib, beliau mengumpamakan dzikir bagi hati seperti air bagi ikan: jika hati terus-menerus diberi hiburan namun miskin dzikir, ia menjadi seperti ikan yang terpisah dari air, tampak masih bergerak, namun sesungguhnya sedang menuju kematian pelan-pelan.
Kegelisahan yang sama terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Manusia modern barangkali tertawa lebih sering dibanding generasi mana pun sebelumnya. Setiap kali layar ponsel dibuka, algoritma telah menyiapkan video lucu, meme, prank, konten receh, hingga podcast komedi yang dirancang agar perhatian kita terus tertahan di sana. Namun anehnya, di tengah gelombang hiburan yang tiada henti ini, semakin banyak orang mengaku mudah cemas, sulit khusyuk, kehilangan makna hidup, dan merasa hampa. Seolah kita tertawa semakin keras, namun hati semakin sunyi.
Islam tidak memusuhi humor. Rasulullah ﷺ sendiri pernah bercanda, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Tirmidzi bahwa beliau bercanda namun tidak mengatakan kecuali yang benar. Maka persoalannya terletak pada isi, kadar, dan dampak hiburan terhadap hati, bukan pada formatnya. Ada pula industri yang memang hidup dari membuat manusia terus-menerus tertawa, hingga hati nyaris tidak pernah diberi kesempatan untuk diam. Yang justru menghidupkan hati adalah memberi ruang bagi tafakur, dzikir, tilawah, kesunyian, dan munajat di sela-sela kesibukan itu.
Secara fiqih, tertawa keras tidaklah otomatis haram. Namun para ulama, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, mencatat bahwa kebiasaan Nabi ﷺ adalah banyak tersenyum dan jarang terbahak-bahak, dan apabila beliau tertawa, tidak sampai berlebihan hingga menghilangkan wibawa. Tertawa keras menjadi kurang pantas ketika berubah menjadi kebiasaan yang mendominasi hidup, terjadi di tempat yang menuntut kekhusyukan, mengandung dusta atau ghibah, atau membuat hati lalai dari mengingat Allah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin turut mengingatkan bahwa terlalu banyak bergurau dapat mengeraskan hati dan menghilangkan rasa malu, sekalipun bercanda pada asalnya adalah perkara yang dibolehkan selama jujur dan tidak menyakiti.
Bahkan psikologi modern, meski dari sudut pandang yang berbeda, sampai pada kegelisahan yang serupa. Tertawa yang wajar memang dapat menurunkan stres dan mempererat hubungan sosial. Namun sejumlah kajian psikologi menjelaskan bahwa hiburan dapat berubah menjadi escapism atau emotional avoidance, yaitu kecenderungan menggunakan hiburan untuk menghindari emosi yang belum terselesaikan. Dalam bahasa psikologi fenomena ini dikenal sebagai emotional avoidance, sedangkan dalam tradisi tazkiyah Islam terdapat konsep ghaflah, yaitu kelalaian hati dari mengingat Allah. Keduanya bukan konsep yang identik, sebab berasal dari tradisi ilmu yang berbeda, tetapi memiliki titik temu pada kecenderungan menghindari kedalaman batin. Seseorang bisa tampak sering tertawa, namun tetap menyimpan kehampaan batin, kecemasan, atau kesepian, karena tawa yang ia miliki hanyalah pengalih perhatian, bukan penyembuh.
Barangkali persoalan terbesar zaman ini bukanlah kurangnya hiburan, melainkan terlampau banyaknya hiburan hingga hati tidak lagi sempat mendengar suaranya sendiri. Kita hafal suara para pelawak, namun lupa suara hati ketika membaca Al-Qur'an. Kita menunggu episode podcast berikutnya, namun menunda beberapa menit untuk bermunajat. Barangkali kita pernah menghabiskan satu jam menonton video lucu tanpa terasa, tetapi lima menit membaca Al-Qur'an terasa begitu panjang. Bukan karena Al-Qur'an kehilangan cahayanya, melainkan karena hati kita telah terlalu lama dibiasakan mencari rangsangan yang serba cepat.
Maka mari kembalikan pertanyaan ini kepada diri sendiri di penghujung hari: apakah hari ini hati kita lebih hidup karena mengingat Allah, ataukah justru semakin mati karena terlalu lama tenggelam dalam kelalaian? Jika jawabannya membuat gelisah, hati yang mulai mengeras itu sesungguhnya masih bisa dihidupkan kembali, bukan dengan menjauhi kegembiraan, melainkan dengan langkah-langkah kecil yang dirawat setiap hari. Luangkan waktu sunyi setiap hari. Batasi hiburan yang berlebihan. Bacalah Al-Qur'an dengan tadabbur. Jagalah dzikir pagi dan petang. Tutuplah hari dengan muhasabah sebelum tidur. Lima langkah sederhana ini, jika dirawat dengan istiqamah, perlahan akan mengembalikan kepekaan yang selama ini hilang.
Sebagaimana ditulis Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, hati tidak mati karena kekurangan hiburan, tetapi karena jauh dari Allah, dan sebanyak apa pun hiburan yang dikonsumsi, ia tidak pernah mampu mengisi kekosongan itu.
Karena itu, solusi kekosongan hati bukanlah mencari hiburan yang lebih banyak, melainkan kedekatan yang lebih dalam kepada Allah.
Tersenyum tetaplah sunnah. Bergembira tetaplah fitrah. Namun hati harus tetap dipenuhi dzikir, tilawah, dan tafakur, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
Alā bidzikrillāhi taṭma'innul-qulūb.
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Karena pada akhirnya, hati tidak hidup oleh banyaknya tawa, tetapi oleh banyaknya mengingat Allah.
Ya Allah, hidupkanlah hati kami dengan mengingat-Mu. Lembutkanlah hati kami dengan Al-Qur'an. Jadikanlah kami termasuk hamba-Mu yang mudah tersentuh oleh ayat-ayat-Mu, yang menangis karena takut kepada-Mu, dan yang senyumnya tidak pernah membuatnya lupa kepada-Mu. Āmīn.
Referensi
Al-Qur'an
- QS. Al-Hadid: 16, 20 — ditafsirkan dengan merujuk Tafsir Ibnu Katsir
- QS. Ar-Ra'd: 28
Hadis
- HR. Ibnu Majah, no. 4193 (hasan menurut Syaikh Al-Albani, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah)
- Shahih al-Bukhari, no. 6486
- Shahih Muslim, no. 2359, 2956
- HR. Tirmidzi (hadis: "Aku bercanda tetapi tidak mengatakan kecuali yang benar")
Syarah Hadis
- Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim
- Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari
Kitab Hadis dan Adab
- Imam al-Bukhari, Al-Adab al-Mufrad
Kitab Sirah dan Syamail
- Imam at-Tirmidzi, Asy-Syamā'il al-Muḥammadiyyah
Kitab Tazkiyah
- Ibnu Atha'illah as-Sakandari, Al-Hikam
- Al-Harits al-Muhasibi, Ar-Ri'ayah li Huquqillah
- Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Al-Fawa'id; Al-Wabil ash-Shayyib; Madarij as-Salikin
Kitab Akhlak
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin
Rujukan Psikologi Populer
- Viktor E. Frankl, Man's Search for Meaning
