Mengapa Allah Tidak Berfirman "Qad Aflaha Man Shalla"?

Mengapa Allah Tidak Berfirman "Qad Aflaha Man Shalla"?

Rahasia Mengapa Tazkiyah Menjadi Tujuan Seluruh Ibadah

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Ada satu kalimat dalam Al-Qur'an yang, bila direnungkan dengan tenang, dapat mengguncang cara kita memandang seluruh ibadah yang kita kerjakan selama ini. Kalimat itu sederhana, hanya empat kata, namun di baliknya tersimpan isyarat besar tentang apa yang sesungguhnya Allah cari dari setiap sujud, setiap puasa, setiap zakat yang kita keluarkan.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

Qad aflaha man zakkāhā
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya." (QS. Asy-Syams: 9)

Bayangkan sejenak jika ayat itu berbunyi qad aflaha man shalla, "sungguh beruntung orang yang shalat." Tentu tidak ada yang merasa janggal. Bukankah shalat memang rukun Islam terbesar setelah dua kalimat syahadat, tiang yang menyangga seluruh bangunan agama?
Namun justru karena Allah tidak memilih redaksi itu, kita diajak merenungkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Susunan ayat-ayat Al-Qur'an, sebagaimana akan kita telusuri, memberi isyarat yang kuat bahwa keberuntungan di sisi Allah tidak dikaitkan dengan satu ritual tertentu, melainkan dengan buah yang hendak dihasilkan oleh seluruh ibadah, yaitu tazkiyatun nafs, penyucian jiwa.

Ada satu hal lagi yang patut direnungkan dari sisi bahasa. Ayat ini menggunakan bentuk fi'il madhi, kata kerja lampau, qad aflaha, "sungguh telah beruntung," bukan bentuk akan datang, padahal keberuntungan akhirat itu sendiri belum terjadi bagi siapa pun yang membaca ayat ini.
Para mufassir menjelaskan bahwa pemilihan bentuk lampau ini mengandung makna kepastian, seolah keberuntungan itu telah ditetapkan dan tinggal menanti perwujudannya, sebagaimana kebiasaan Al-Qur'an menggunakan bentuk lampau untuk hal yang pasti terjadi karena kuatnya janji Allah.
Satu huruf, satu bentuk kata, namun mengandung penegasan yang menenangkan hati.

Mari kita masuk lebih dalam ke dalam diksi ayat ini, sebab di sanalah letak isyaratnya. Kata aflaha berasal dari akar al-falah, sebuah kata yang maknanya jauh melampaui sekadar "berhasil."
Ia mengandung makna kemenangan yang sempurna, keselamatan yang menetap, dan kehidupan yang terus berkembang menuju kebaikan, di dunia maupun di akhirat. Karena itulah seruan azan mengajak kita dengan kalimat hayya 'alal falah, "bersegeralah menuju kemenangan."
Ini bukan kemenangan kecil. Ini kemenangan yang menentukan nasib kekal seorang hamba.

Sementara itu, kata zakkāhā berasal dari akar zaka, yang menyimpan dua makna sekaligus dalam satu kata: menyucikan dan menumbuhkan. Inilah keindahan bahasa Al-Qur'an yang sering terlewat oleh kita.
Tazkiyah bukan sekadar membersihkan dosa seperti menghapus kotoran dari permukaan.
Tazkiyah adalah proses membersihkan sekaligus menumbuhkan, sebagaimana tanah yang dibersihkan dari bebatuan agar benih dapat tumbuh subur di atasnya.
Para mufassir, di antaranya dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Jalalain ketika menafsirkan ayat ini, menjelaskan bahwa keberuntungan dikaitkan dengan penyucian jiwa, sementara kegagalan dikaitkan dengan mengotorinya melalui maksiat dan kekufuran.

Untuk memahami mengapa tazkiyah ditempatkan sedemikian tinggi, kita perlu mundur sedikit ke ayat sebelumnya dalam surat yang sama, sebab di sanalah fondasi seluruh pembahasan ini diletakkan:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Fa alhamahā fujūrahā wa taqwāhā
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya." (QS. Asy-Syams: 8)

Di sinilah alur besar surat ini mulai tersusun. Allah mengilhamkan kepada setiap jiwa dua jalan, jalan kefasikan dan jalan ketakwaan. Manusia kemudian diberi kebebasan memilih di antara keduanya. Dan pilihan yang membawa kepada keberuntungan, sebagaimana ayat berikutnya menegaskan, adalah pilihan untuk menyucikan jiwa itu.
Alurnya menjadi lengkap: Allah mengilhamkan dua jalan, manusia memilih, tazkiyah ditempuh, dan al-falah, keberuntungan, pun diraih.

Lalu mengapa bukan shalat yang dijadikan ukuran? Salah satu cara memahaminya: shalat adalah wasilah, sarana, sedangkan tazkiyah adalah ghayah, tujuan akhir. Bayangkan seseorang yang sakit lalu meminum obat. Yang dipuji bukanlah "orang yang meminum obat," melainkan "orang yang sembuh." Demikian pula shalat. Ia adalah obat yang Allah resepkan untuk hati yang sakit, dan yang dicari bukan sekadar gerakan meminumnya, melainkan kesembuhan yang dihasilkannya.

Pemahaman ini diperkuat oleh firman Allah dalam surat lain:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

Wa aqimiṣ-ṣalāh, innaṣ-ṣalāta tanhā 'anil-faḥsyā'i wal-munkar
"Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar." (QS. Al-'Ankabut: 45)

Ayat ini tidak menyebut shalat sebagai tujuan akhir, melainkan menjelaskan apa yang dihasilkannya: pencegahan dari kekejian dan kemungkaran. Shalat, dengan demikian, berperan sebagai mesin tazkiyah. Bila seseorang rajin shalat namun tetap tenggelam dalam dosa, maka yang perlu dikoreksi bukan jumlah shalatnya, melainkan kualitas kehadiran hatinya di dalam shalat itu.

Keterkaitan ini semakin terang dalam surat Al-A'la:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ ۝ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ

Qad aflaha man tazakkā, wa dzakara sma rabbihī fa shallā
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, dan ia mengingat nama Tuhannya lalu ia shalat." (QS. Al-A'la: 14-15)

Perhatikan urutannya. Tazkiyah disebut lebih dahulu, kemudian dzikir, lalu shalat. Para mufassir klasik memiliki beberapa sudut pandang dalam memahami konteks ayat ini, sebagian mengaitkannya secara khusus dengan zakat fitrah dan shalat Id, sebagian lain memaknai tazakkā secara umum sebagai keimanan dan penyucian diri.
Namun salah satu isyarat yang dapat ditangkap dari susunan ayat ini, di samping ragam penafsiran tersebut, adalah bahwa tazkiyah, dzikir, dan shalat memiliki hubungan yang sangat erat dalam perjalanan spiritual seorang mukmin: jiwa yang tersucikan akan mengingat Allah, dan dari dzikir itulah lahir shalat yang hidup.

Jika ketiga ayat ini kita satukan, terbentang sebuah pola yang sangat indah. Surat Asy-Syams menetapkan standar keberuntungan, yaitu penyucian jiwa. Surat Al-A'la menunjukkan bahwa dzikir dan shalat adalah jalan menuju tazkiyah itu. Dan surat Al-'Ankabut menjelaskan buah dari tazkiyah tersebut, yakni tercegahnya seorang hamba dari kekejian dan kemungkaran. Semua ibadah, pada akhirnya, bermuara pada satu titik: penyucian hati.

Kebenaran ini juga ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya yang masyhur:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Alā wa inna fil-jasadi muḍghah, idzā ṣalaḥat ṣalaḥal-jasadu kulluhu, wa idzā fasadat fasadal-jasadu kulluhu, alā wa hiya al-qalb
"Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari, HR. Muslim)

Rasulullah ﷺ juga pernah menggambarkan shalat dengan perumpamaan yang sangat menyentuh, ketika beliau bertanya kepada para sahabat, bagaimana jika di depan rumah seseorang ada sungai yang ia gunakan untuk mandi lima kali sehari, apakah masih ada kotoran yang tersisa pada tubuhnya? Para sahabat menjawab tidak. Maka beliau bersabda bahwa demikianlah shalat lima waktu, Allah menghapus dosa-dosa dengannya (HR. Bukhari, HR. Muslim).
Nabi tidak menggambarkan shalat sebagai ritual yang berdiri sendiri, melainkan sebagai proses pembersihan yang berulang, sejalan dengan makna tazkiyah itu sendiri. Dalam hadis lain yang tidak kalah agung, beliau bersabda bahwa Allah tidak melihat rupa dan tubuh manusia, tetapi melihat hati dan amal mereka (HR. Muslim).

Para ulama tazkiyatun nafs menangkap benang merah yang sama. Ibnu Taimiyah, dalam Majmu' al-Fatawa jilid 10 pada pembahasan definisi ibadah, menjelaskan bahwa ibadah adalah nama yang mencakup seluruh ucapan dan perbuatan, baik yang lahir maupun yang tersembunyi di dalam hati, yang dicintai dan diridhai Allah. Definisi ini menegaskan bahwa shalat tanpa hati yang hidup belum mencapai hakikat ibadah yang sesungguhnya.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dalam pembahasannya tentang penyakit dan penyembuhan hati, menambahkan satu lapis pemahaman: amal-amal lahiriah seperti shalat, puasa, dan dzikir hanyalah obat, sedangkan kesembuhan hati adalah tujuannya.
Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam Lata'if al-Ma'arif pada pembahasan tanda diterimanya amal di penghujung Ramadhan, menambahkan satu ukuran praktis: tanda diterimanya suatu ibadah adalah berlanjutnya ketaatan setelah musim ibadah itu selesai, bukan seberapa ramai ia dirayakan.
Dan Abdullah bin al-Mubarak, dalam Kitab az-Zuhd, merekam bagaimana generasi salaf justru lebih mengkhawatirkan apakah amal mereka diterima, ikhlas, dan bersih dari riya, daripada menghitung berapa banyak amal yang telah mereka kerjakan.
Empat pandangan ini, meski datang dari masa dan latar yang berbeda, mengarah pada satu titik yang sama: ibadah dinilai dari bekasnya pada hati, bukan dari jumlahnya.

Pemahaman ini ternyata juga selaras dengan apa yang dipelajari ilmu jiwa modern tentang perubahan manusia. Dalam kajian tentang perubahan perilaku dikenal istilah identity-based habit, gagasan bahwa kebiasaan yang bertahan lama lahir dari perubahan identitas seseorang, bukan sebaliknya; seseorang tidak berubah karena mengulang suatu tindakan, melainkan karena tindakan itu mengubah siapa dirinya.
Menariknya, Al-Qur'an sejak empat belas abad silam tidak berhenti pada perilaku, melainkan menargetkan pembentukan jiwa itu sendiri.
Inilah barangkali jawaban atas pertanyaan yang sering menggelayuti banyak orang yang taat beribadah: mengapa sudah bertahun-tahun shalat, namun masih mudah marah, masih sulit memaafkan, masih lekat dengan kebiasaan lama begitu Ramadhan usai?
Ada orang yang sudah puluhan tahun shalat berjamaah di masjid, namun lisannya masih gemar menyakiti orang lain. Ada pula yang setiap Ramadhan rajin tarawih, namun begitu Syawal tiba ia kembali sepenuhnya kepada kebiasaan lama.
Persoalannya bukan pada kurangnya ibadah. Persoalannya adalah ibadah itu belum menembus hati.

Hasan al-Bashri rahimahullah, salah satu tabi'in yang paling dalam pemahamannya tentang keadaan hati, pernah berkata dengan kalimat yang hingga kini terus diulang para penceramah dan terus menampar kelalaian kita:

"Bukanlah iman itu sekadar angan-angan, dan bukan pula sekadar hiasan. Tetapi iman adalah apa yang menetap di dalam hati dan dibenarkan oleh amal perbuatan." (Atsar Hasan al-Bashri)

Kalimat ini seakan menjadi cermin bagi setiap kita yang merasa sudah cukup beribadah, namun belum benar-benar bertanya apakah hati telah berubah karenanya.

Apakah ini berarti shalat tidak penting? Tentu tidak. Justru karena shalat begitu penting sebagai sarana penyucian jiwa, Allah mewajibkannya lima kali sehari, bukan sekali seumur hidup. Kalau obat tidak penting, ia tidak akan diresepkan seberat itu.
Yang ingin ditunjukkan ayat ini bukan bahwa shalat boleh diabaikan, melainkan bahwa shalat tidak boleh berhenti pada gerakan luarnya saja. Semakin serius seseorang menjaga shalatnya, semestinya semakin nyata pula perubahan akhlaknya.
Bila itu belum terjadi, bukan shalatnya yang perlu ditinggalkan, melainkan kehadiran hati di dalamnya yang perlu diperbaiki.

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah mengucapkan sebuah nasihat yang sangat menyentuh dan selaras dengan seluruh pembahasan ini:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

Ḥāsibū anfusakum qabla an tuḥāsabū
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab." (Atsar, diriwayatkan dalam Kitab az-Zuhd dan Hilyatul Auliya)

Perhatikan, Umar tidak mengajak untuk memperbanyak shalat. Beliau mengajak kepada muhasabah, mengoreksi keadaan jiwa sebelum menghitung banyaknya amal. Sebab amal tanpa evaluasi diri dapat berubah menjadi rutinitas kosong, sementara muhasabah yang jujur akan melahirkan tazkiyatun nafs yang sesungguhnya.

Kita hidup di zaman yang gemar menghitung banyak hal: langkah kaki, kalori yang terbakar, jumlah pengikut media sosial, dan capaian streak ibadah harian di aplikasi. Namun Al-Qur'an, sejak empat belas abad lalu, mengajak kita menghitung sesuatu yang jauh lebih sunyi dan jarang diperiksa: apakah hati kita berubah?
Bila kita renungkan lebih jauh, keindahan ayat ini juga tampak pada pasangannya. Ayat berikutnya berbunyi:

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Wa qad khāba man dassāhā
"Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 10)

Kata dassāhā berasal dari akar yang bermakna menutupi, mengubur, dan menghinakan. Pasangan kata zakkāhā dan dassāhā ini membentuk keseimbangan makna yang sangat luas, mencakup seluruh ranah kehidupan jiwa, tidak terbatas pada satu ibadah tertentu, melainkan meliputi shalat, puasa, zakat, haji, akhlak, dan interaksi sosial sekaligus.

Lalu, bagaimana memulai tazkiyah secara nyata? Ada beberapa langkah sederhana yang dapat ditapaki siapa saja, bukan sebagai daftar tugas baru, melainkan sebagai cara baru memandang ibadah yang sudah ada.
Mulailah dengan menghadirkan tadabbur dalam setiap bacaan shalat, bukan sekadar melafalkannya. Sisihkan waktu muhasabah setiap malam, menimbang apa yang berubah dari hari itu.
Perbanyak istighfar sebagai pengakuan jujur atas kelemahan diri. Jaga lisan, sebab lisan sering menjadi cermin paling jujur dari keadaan hati.
Dan yang tidak kalah penting, perbaiki niat sebelum dan di tengah setiap amal, sebab niat yang lurus adalah pintu pertama menuju jiwa yang bersih.

Doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ berikut ini merangkum keseimbangan antara ikhtiar manusia dan pertolongan Allah dalam proses tazkiyah:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

Allāhumma āti nafsī taqwāhā, wa zakkihā anta khayru man zakkāhā, anta waliyyuhā wa mawlāhā
"Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwaku ketakwaannya, sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah pelindung dan pemiliknya." (HR. Muslim)

Doa ini mengajarkan keseimbangan yang sangat penting. Di satu sisi, kita diperintahkan untuk berikhtiar menyucikan jiwa melalui shalat, dzikir, puasa, dan muhasabah. Namun di sisi lain, kita menyadari bahwa yang benar-benar menyucikan hati hanyalah Allah. Manusia berusaha, dan Allah yang memberi taufik serta menyempurnakan penyucian itu.
Tidak ada pertentangan antara ikhtiar manusia dan firman Allah dalam ayat lain bahwa Dialah yang menyucikan siapa saja yang Dia kehendaki. Keduanya berjalan berdampingan.

Shalat adalah obat. Puasa adalah terapi. Zakat adalah pembersih. Dzikir adalah nutrisi bagi jiwa. Namun seluruh resep itu memiliki satu tujuan yang sama: jiwa yang sembuh. Allah tidak sedang mencari banyaknya gerakan ibadahmu.
Allah sedang melihat siapa yang pulang membawa hati yang lebih bersih. Yang Dia hitung bukan hanya berapa kali engkau bersujud, tetapi siapa yang bangkit dari sujud itu dengan jiwa yang berbeda.
Barangkali setelah merenungkan semua ini, pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri bukan lagi sekadar "sudah berapa lama aku shalat?" Melainkan, "sudah sejauh mana shalatku menyucikan hatiku?"
Sebab Allah tidak mengukur keberuntungan dari banyaknya gerakan, melainkan dari bersihnya jiwa yang kembali menghadap-Nya.

Sebab di hadapan Allah kelak, mungkin yang paling menentukan bukanlah banyaknya sujud yang pernah kita lakukan, melainkan siapa diri kita setelah semua sujud itu.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwa kami ketakwaannya, dan sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Jadikanlah setiap sujud kami, setiap puasa kami, dan setiap amal kami sebagai jalan yang sungguh-sungguh mengantarkan kami kepada jiwa yang bersih dan ridha-Mu yang abadi. Āmīn.


Tanya Jawab Seputar Tazkiyatun Nafs

Apakah tazkiyah hanya bisa dicapai melalui shalat?

Tidak. Shalat adalah salah satu sarana utama, namun Al-Qur'an dan sunnah menunjukkan bahwa puasa, zakat, dzikir, tilawah, taubat, dan muhasabah juga merupakan jalan-jalan menuju penyucian jiwa.

Mengapa ada orang yang sudah lama beribadah tetapi masih mudah marah?

Karena ibadahnya baru sampai pada tahap gerakan lahir, belum menembus kesadaran dan keterlibatan hati. Tazkiyah membutuhkan penghayatan, bukan hanya pengulangan.

Apa tanda bahwa hati mulai bersih?

Di antara tandanya adalah semakin mudah meninggalkan maksiat, semakin rendah hati, semakin mudah memaafkan, semakin takut berbuat zalim, dan semakin istiqamah setelah musim ibadah usai.

Bagaimana membedakan tazkiyah dengan sekadar rutinitas ibadah?

Rutinitas berhenti pada pengulangan gerakan tanpa membekas pada akhlak. Tazkiyah ditandai dengan perubahan karakter yang nyata dan menetap, bukan hanya selama musim ibadah berlangsung.

Mengapa QS. Al-A'la menyebut tazkiyah sebelum shalat?

Susunan ini mengisyaratkan bahwa jiwa yang tersucikan akan melahirkan dzikir, dan dari dzikir itu lahir shalat yang hidup. Shalat hadir sebagai buah dari tazkiyah, bukan pengganti prosesnya.


Referensi

  1. QS. Asy-Syams: 7-10
  2. QS. Al-'Ankabut: 45
  3. QS. Al-A'la: 14-15
  4. QS. An-Nisa: 49
  5. Sahih al-Bukhari; Sahih Muslim, hadis tentang hati sebagai pusat kebaikan dan kerusakan amal
  6. Sahih Muslim, hadis perumpamaan shalat lima waktu dan sungai
  7. Sahih Muslim, hadis Allah melihat hati dan amal, bukan rupa
  8. Sahih Muslim, doa Nabi ﷺ "Allahumma āti nafsī taqwāhā"
  9. Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. Asy-Syams ayat 9-10 dan QS. Al-A'la ayat 14-15
  10. Tafsir Jalalain, tafsir QS. Asy-Syams ayat 9-10
  11. Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatawa, jilid 10, Kitab al-'Ibadah, pembahasan definisi dan hakikat ibadah
  12. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, pembahasan tazkiyatun nafs dan penyakit hati dalam karya-karya beliau
  13. Ibnu Rajab al-Hanbali, Lata'if al-Ma'arif, pembahasan tanda diterimanya amal di penghujung Ramadhan
  14. Abdullah bin al-Mubarak, Kitab az-Zuhd
  15. Atsar Umar bin Khattab, diriwayatkan dalam Kitab az-Zuhd dan Hilyatul Auliya
  16. Atsar Hasan al-Bashri tentang hakikat iman, diriwayatkan dalam berbagai kitab zuhud dan akhlak

Artikel Populer

APBN 2026 Dirancang Pro-UMKM

Mengapa Al-Qur'an Memilih Kata Falāḥ, Bukan Najāḥ atau Fawz?

Keluarga sebagai Ruang Tazkiyah

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...