Merencanakan Tanpa Diperbudak Rencana
Merencanakan Tanpa Diperbudak Rencana
Tiga Fase Ikhtiar, Tawakal, dan Ridha dalam Kehidupan Seorang Mukmin
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
Islam tidak pernah mempertentangkan perencanaan dengan tawakal. Yang ditolak bukanlah rencana itu sendiri, melainkan hati yang diperbudak oleh rencana, seolah keberhasilan sepenuhnya berada di tangan sendiri dan kegagalan berarti dunia telah berakhir.
Untuk memahami keseimbangan ini, ada baiknya kita melihat kehidupan seorang mukmin dalam tiga fase yang sederhana: sebelum sebuah takdir terwujud, saat takdir itu nyata di hadapan kita, dan sesudah takdir itu berlalu. Ketiga fase ini menuntut adab yang berbeda terhadap Allah, terhadap ikhtiar, dan terhadap diri sendiri, namun semuanya bermuara pada satu tujuan yang sama.
Fase Pertama: Sebelum Takdir Terwujud
Pada fase ini, seorang mukmin diperintahkan untuk bersungguh-sungguh: meluruskan niat, bermusyawarah, menyusun rencana, dan menempuh sebab-sebab terbaik. Ketika Rasulullah ﷺ hendak berhijrah ke Madinah, beliau tidak sekadar berangkat mengandalkan keyakinan bahwa Allah akan menolong begitu saja. Beliau memilih rute, menyewa penunjuk jalan, menyiapkan tempat persembunyian di Gua Tsur, dan mengatur siapa yang akan menyampaikan kabar. Barulah setelah seluruh sebab ditempuh, hati beliau bersandar sepenuhnya kepada Allah.
"Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." (QS. Ali 'Imran [3]: 159)
Ayat ini menyusun urutan yang sangat rapi: bermusyawarah, mengambil keputusan, lalu bertawakal. Tawakal bukan pengganti perencanaan, melainkan penyempurnanya. Seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, apakah ia harus mengikat untanya lalu bertawakal, atau melepaskannya sambil bertawakal.
"Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah." (HR. Tirmidzi, hasan menurut Al-Albani)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin, pada pembahasan Kitab at-Tawakkul, menerangkan bahwa hakikat tawakal adalah memutus ketergantungan hati kepada selain Allah, sementara sebab-sebab tetap dijalankan sebagaimana sunnatullah yang berlaku.
Catatan Psikologi Modern: Goal Setting Theory dari Locke dan Latham menunjukkan bahwa tujuan yang jelas dan spesifik meningkatkan kesungguhan seseorang dibanding tujuan yang samar. Konsep WOOP dari Gabriele Oettingen, yang menekankan pentingnya mengenali hambatan sebelum melangkah, bergema dengan semangat "ikatlah untamu" di atas: rencana yang baik bukan yang mengabaikan risiko, melainkan yang memperhitungkannya sejak awal.
Fase Kedua: Saat Takdir Terwujud
Tidak ada ayat yang melukiskan pertemuan antara perencanaan dan penyerahan diri sejernih kisah Nabi Ya'qub 'alaihissalam ketika melepas putra-putranya ke Mesir. Beliau tidak diam saja mengandalkan takdir. Beliau menyusun strategi keamanan yang matang.
"Wahai anak-anakku, janganlah kalian masuk dari satu pintu gerbang, tetapi masuklah dari pintu-pintu yang berbeda. Namun aku tidak dapat menolak sedikit pun ketetapan Allah bagi kalian." (QS. Yusuf [12]: 67)
Kalimat ini barangkali adalah salah satu ayat paling indah tentang hubungan antara ikhtiar dan tawakal. Nabi Ya'qub tetap merencanakan langkah pengamanan sebaik mungkin, namun dalam waktu yang sama beliau menegaskan bahwa seluruh rencana itu tidak pernah menjamin hasil, karena penentu sejati hanyalah Allah. Ayat ini memperlihatkan bahwa strategi tidak pernah dibatalkan oleh iman kepada takdir, tetapi juga tidak pernah dijadikan jaminan atas hasil. Di sinilah letak fase kedua: ketika takdir sudah terjadi, hati diperintahkan untuk menerimanya tanpa protes, tanpa larut dalam kalimat "seandainya aku berbuat begini".
"Jika sesuatu menimpamu, jangan berkata 'seandainya aku berbuat begini', tetapi katakanlah, 'ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi'." (HR. Muslim)
Ibnu Rajab Al-Hanbali, dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, membedakan dengan sangat halus antara ucapan "seandainya" yang tercela, yaitu yang menunjukkan penolakan terhadap takdir Allah, dengan sikap mengevaluasi kesalahan untuk belajar ke depan, yang justru dianjurkan. Perbedaan ini penting agar penerimaan tidak disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa evaluasi.
Catatan Psikologi Modern: Pendekatan Acceptance and Commitment Therapy menekankan bahwa kesehatan mental yang matang bukan terletak pada kekakuan rencana, melainkan pada kesiapan menerima kenyataan yang sudah terjadi tanpa terus-menerus bertanya "bagaimana jika". Ini dikenal sebagai psychological acceptance, sesuatu yang secara struktur menyerupai ridha, meski landasannya berbeda.
Fase Ketiga: Sesudah Takdir Berlalu
Setelah hasil terjadi, sikap seorang mukmin terbagi menjadi dua jalan, tergantung sebab kegagalan itu sendiri. Jika kegagalan itu bersumber dari kelalaian diri sendiri, jalannya adalah muhasabah. Jika kegagalan itu datang dari hal yang berada di luar kendali, jalannya adalah sabar dan ridha.
"Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan apa saja keburukan yang menimpamu berasal dari dirimu sendiri." (QS. An-Nisa' [4]: 79)
Dari keseluruhan pembahasan Al-Muhasibi tentang muhasabah dapat dipahami bahwa kegagalan sering menjadi kesempatan untuk melihat penyakit hati yang sebelumnya tersembunyi, seperti ujub, kelalaian, atau ketergantungan hati kepada usaha sendiri. Muhasabah dalam pandangan beliau bukan untuk menghukum diri tanpa batas, melainkan untuk kembali kepada Allah dengan kefakiran dan ketawadhuan yang tulus.
Catatan Psikologi Modern: Ini menyerupai apa yang oleh Carol Dweck disebut growth mindset, yaitu bergeser dari pertanyaan "mengapa aku gagal" menuju "apa yang bisa kupelajari". Konsep self-compassion dari Kristin Neff turut mengingatkan agar evaluasi diri tidak berubah menjadi hukuman diri yang berlebihan.
Adapun bila kegagalan datang dari hal di luar kendali, seperti musibah atau bencana, Al-Qur'an mengarahkan hati kepada ketenangan yang berbeda.
"Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." (QS. At-Taghabun [64]: 11)
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa tidak sedikit musibah justru menjadi sebab tumbuhnya keikhlasan, kehinaan diri di hadapan Allah, dan kedekatan kepada-Nya. Dari perspektif ini, tidak semua kegagalan merupakan keburukan, sebagaimana tidak semua keberhasilan adalah kebaikan yang murni.
"Boleh jadi Allah memberimu sesuatu, padahal itu hakikatnya menahanmu; dan boleh jadi Allah menahan darimu sesuatu, padahal itu hakikatnya sedang memberi." (Al-Hikam, Ibnu 'Atha'illah As-Sakandari)
Ibnu 'Atha'illah As-Sakandari juga mengingatkan bahaya condong berlebihan kepada salah satu sisi, baik terlalu bergantung pada sebab maupun terlalu meninggalkannya.
"Keinginanmu meninggalkan sebab-sebab, padahal Allah menempatkanmu pada dunia sebab, termasuk syahwat yang tersembunyi. Sebaliknya, keinginanmu mengejar sebab-sebab, padahal Allah menempatkanmu pada kehidupan yang terlepas darinya, adalah kemunduran dari cita-cita yang luhur." (Al-Hikam, Ibnu 'Atha'illah As-Sakandari)
Catatan Psikologi Modern: Psychological flexibility mengajarkan bahwa kematangan bukan terletak pada kekakuan rencana, melainkan pada kesiapan menyesuaikan langkah ketika keadaan berubah, tanpa menganggap perubahan itu sebagai kegagalan diri. Psikologi juga mengenali bahaya perencanaan berlebihan, seperti analysis paralysis dan intolerance of uncertainty, yang justru membuat seseorang semakin cemas karena berusaha mengendalikan hal-hal yang sejak awal tidak dapat diprediksi manusia.
Menyusun Hidup sebagai Manhaj, Bukan Sekadar Rencana
Jika keempat tokoh sebelumnya berbicara tentang bagaimana hati bersikap terhadap rencana dan takdir, Sa'id Hawwa mengajak kita melihat perencanaan sebagai satu kesatuan hidup yang utuh. Sa'id Hawwa mengingatkan bahwa seorang mukmin tidak boleh hidup tanpa manhaj. Ia boleh memiliki target ibadah, ilmu, keluarga, pekerjaan, bahkan dakwah. Namun semua target itu hanyalah cabang. Tujuan akhirnya tetap satu: ridha Allah. Karena itu ketika strategi berubah akibat takdir, yang berubah hanyalah jalannya, bukan tujuan hidupnya.
Dengan demikian, seorang mukmin tidak hidup dari target ke target, tetapi dari penghambaan menuju penghambaan. Target boleh berubah, strategi boleh berubah, bahkan pekerjaan boleh berubah. Namun orientasi hidup tetap satu: mencari ridha Allah.
Namun perencanaan yang baik bukan sekadar memiliki banyak target. Yusuf al-Qaradawi mengingatkan pentingnya fiqh al-awlawiyyat, yaitu kemampuan membedakan mana yang paling utama untuk didahulukan. Tidak semua cita-cita harus dikerjakan sekaligus. Sebagaimana syariat mengenal prioritas dalam amal, kehidupan pun memerlukan prioritas dalam perencanaan. Tanpa itu, seseorang justru sibuk pada hal-hal yang baik tetapi melalaikan yang lebih penting.
Menyatukan Tiga Fase dalam Satu Kerangka
Bila seluruh pembahasan ini dirangkai, tampaklah sebuah alur yang sederhana namun kokoh:
SEBELUM TAKDIR
Niat
↓
Musyawarah
↓
Perencanaan
↓
Ikhtiar
↓
Tawakal
════════════════════
TAKDIR TERWUJUD
Terima
↓
Jangan "Seandainya"
↓
Ridha
════════════════════
SESUDAH TAKDIR
Jika karena diri
↓
Muhasabah
↓
Taubat
↓
Perbaikan
Jika di luar kendali
↓
Sabar
↓
Ridha
↓
Husnuzan
════════════════════
Istiqamah
↓
Menyusun Ikhtiar Baru
Seorang mukmin boleh menyusun rencana lima atau sepuluh tahun ke depan. Akalnya membuat rencana, anggota badannya bekerja, namun hatinya bersandar hanya kepada Allah. Jika Allah mengubah jalannya, ia tidak akan hancur, karena sejak awal hatinya tidak pernah digantungkan kepada skenario yang ia susun sendiri, melainkan kepada Zat yang menggenggam seluruh takdir.
Pada akhirnya, bukan rencana yang menyelamatkan manusia, dan bukan pula meninggalkan rencana yang mendekatkannya kepada Allah. Yang menyelamatkan adalah hati yang berikhtiar dengan sungguh-sungguh, bertawakal dengan tulus, lalu ridha terhadap apa pun yang Allah pilihkan.
Semoga Allah memampukan kita untuk merencanakan dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan disiplin dan ihsan, lalu menyerahkan seluruh hasilnya kepada Allah dengan hati yang lapang. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Referensi
- QS. Yusuf [12]: 67, Tafsir Ibnu Katsir.
- QS. Ali 'Imran [3]: 159, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Jalalain.
- QS. An-Nisa' [4]: 79, Tafsir Ibnu Katsir.
- QS. At-Taghabun [64]: 11, Tafsir Jalalain dan Tafsir Ibnu Katsir.
- Sahih Muslim, hadis tentang larangan ucapan "seandainya" saat musibah terjadi.
- Jami' at-Tirmidzi, hadis mengikat unta, hasan menurut Al-Albani.
- Al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, Kitab at-Tawakkul.
- Ibnu Rajab Al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, syarah hadis "iḥriṣ 'alā mā yanfa'uka".
- Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin, pembahasan tawakal dan ridha.
- Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Al-Fawa'id.
- Ibnu 'Atha'illah As-Sakandari, Al-Hikam al-'Atha'iyyah.
- Yusuf al-Qaradawi, Fiqh al-Awlawiyyat.
- Sa'id Hawwa, Tarbiyatuna ar-Ruhiyyah.
