Ketika Hati Tak Lagi Membutuhkan Penonton

Ketika Hati Tak Lagi Membutuhkan Penonton

Membaca Kisah Mohamed Salah dari Perspektif Tazkiyatun Nafs: Tentang Tajrīd at-Tauḥīd dan Kemerdekaan Hati

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Bayangkan menjadi seorang Muslim yang setiap pekan berdiri di hadapan puluhan ribu penonton, di negeri yang budaya sepak bolanya identik dengan bir, pesta, dan ejekan tribun. Dalam situasi seperti itu, banyak orang mungkin memilih menyimpan identitas agamanya rapat-rapat. Mohamed Salah justru melakukan kebalikannya. Ia tetap shalat, tetap berpuasa, dan tetap bersujud setelah mencetak gol. Pertanyaannya bukan mengapa ia berani, tetapi mengapa ia tampak tidak merasa perlu menjadi orang lain.

Banyak yang membaca kisah ini sebagai kemenangan toleransi, atau keberhasilan melawan Islamofobia. Semua itu benar pada tempatnya. Namun para ulama tazkiyatun nafs mengajak kita melihat persoalan yang lebih dalam: kepada siapa sebenarnya hati seseorang bergantung. Mereka menyebut keadaan ketika hati telah bersih dari ketergantungan kepada selain Allah sebagai tajrīd at-tauḥīd—memurnikan tauhid hingga hati tidak lagi bergantung kepada selain Allah dalam rasa takut, harap, cinta, dan pencarian kemuliaan. Fondasi konsep ini terangkum dalam firman Allah:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

"Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam." (QS. Al-An'am: 162)

Al-Harits al-Muhasibi, dalam Ar-Ri'ayah li Huquqillah, mengingatkan bahwa penyakit terbesar seorang hamba bukanlah tekanan dari luar, melainkan kecenderungan hati yang selalu mencari kedudukan di sisi manusia. Hati yang belum bersih akan selalu bertanya, "Bagaimana agar mereka menerima saya?" Ketika hati mulai menggantungkan nilainya kepada manusia, lahirlah rasa takut kehilangan penerimaan itu. Di sinilah penyakit ini berubah bentuk menjadi apa yang oleh para ulama disebut khauf min an-nas—takut kepada penilaian manusia sehingga mengalahkan tuntutan untuk menaati Allah.

Penyakit ini tidak hanya muncul di stadion sepak bola. Ia muncul ketika seorang pegawai enggan meminta izin shalat karena takut dinilai tidak profesional. Ia muncul ketika seorang muslimah melepas jilbabnya demi diterima di lingkungan kerja. Rasulullah ﷺ mewanti-wanti umatnya dari penyakit yang sering tidak disadari ini:

"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya'."

(HR. Ahmad, dari Mahmud bin Labid)

Allah memuji generasi yang berhasil melampaui rasa takut semacam ini: "mereka takut kepada-Nya dan tidak takut kepada seorang pun selain Allah" (QS. Al-Ahzab: 39). Imam al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumiddin, menjelaskan bahwa hati manusia senantiasa diuji oleh dua kecintaan yang berebut tempat: cinta kepada Allah dan hubb al-jah, cinta kepada kedudukan di sisi manusia. Selama hubb al-jah masih mendominasi, seseorang akan terus berganti wajah sesuai lingkungan yang dihadapinya—saleh di depan orang saleh, penjilat di depan yang berpengaruh, sampai ia sendiri lupa wajah aslinya yang mana.

Di titik inilah kita dapat membaca kembali sikap Mohamed Salah. Yang terlihat, dari apa yang diketahui publik, adalah konsistensi seorang Muslim yang tidak menyembunyikan syiar agamanya, baik di depan kamera maupun jauh dari sorotan—bukan kecenderungan menjadikan ibadah sebagai strategi pencitraan.

Obat dari penyakit hubb al-jah ini, menurut para ulama, adalah menghidupkan muraqabah—kesadaran terus-menerus bahwa Allah senantiasa mengawasi. Inilah puncak ihsan yang dijelaskan Rasulullah ﷺ ketika ditanya Jibril 'alaihissalam:

"Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu."

(HR. Muslim, dari Umar bin Khattab—Hadis Jibril)

Seseorang yang menghidupkan muraqabah tidak lagi membutuhkan mata manusia untuk merasa diawasi, karena ia telah memiliki pengawas yang jauh lebih dekat dan lebih layak ditakuti. Ia tidak perlu menyembunyikan ibadahnya demi diterima, dan tidak perlu memamerkannya demi dipuji.

Ibn Rajab al-Hanbali, dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam, menjelaskan bahwa hakikat ikhlas adalah ketika hati tidak lagi sibuk mengawasi pandangan manusia. Selama seseorang masih menghitung-hitung bagaimana komentar orang terhadap amalnya, sebagian hatinya masih terikat kepada makhluk. Allah menegaskan hal ini sebagai inti seluruh pengabdian: "mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya" (QS. Al-Bayyinah: 5). Rasulullah ﷺ pun menegaskan bahwa yang dinilai Allah bukan tampilan lahiriah, melainkan isi hati:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian."

(HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah membawa kita pada satu kaidah yang menjadi inti seluruh pembahasan ini. Dalam pembahasannya tentang ta'alluq al-qalb billah—bagaimana hati semestinya bergantung hanya kepada Allah—dalam Madarij as-Salikin, beliau menulis kaidah yang masyhur:

الْقَلْبُ لَا يَصْلُحُ إِلَّا بِاللَّهِ

"Hati tidak akan pernah baik kecuali bersama Allah."

Siapa yang mencoba mengisi kekosongan hatinya dengan pujian manusia atau pengakuan publik, sesungguhnya sedang mengisi lubang yang tak akan pernah penuh oleh benda-benda itu. Hanya makrifat kepada Allah yang membuat hati benar-benar merasa cukup. Inilah yang oleh para ulama disebut al-uns billah—rasa akrab dan tenteram bersama Allah, yang membuat penerimaan atau penolakan manusia tidak lagi menjadi ukuran kebahagiaan: "hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28).

Ibn 'Athaillah as-Sakandari, dalam Al-Hikam, menuliskan hikmah yang menusuk tepat pada akar penyakit ini:

ادْفِنْ وُجُودَكَ فِي أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نِتَاجُهُ

"Kuburlah keberadaanmu di tanah ketidaktenaran, karena apa yang tumbuh tanpa ditanam terlebih dahulu tidak akan sempurna buahnya."

Hikmah ini mengingatkan bahwa amal yang berakar pada keinginan untuk dikenal manusia tidak akan menghasilkan buah yang sempurna—sebagaimana benih yang tumbuh di permukaan tanah tanpa akar yang tertanam dalam. Ikhlas justru lahir dari kerelaan untuk tidak dikenal, dari kesediaan hati bekerja tanpa perlu disaksikan.

Mungkin inilah pelajaran paling besar dari perjalanan Mohamed Salah. Bukan terutama karena ia berhasil mengurangi prasangka terhadap Islam, atau karena sejumlah penelitian menunjukkan menurunnya kebencian terhadap Muslim di sekitarnya. Semua itu hanyalah buah. Akar persoalannya jauh lebih dalam: ia tampak tidak sibuk mengejar penerimaan manusia. Dalam banyak keadaan, Allah menjadikan keikhlasan seorang hamba sebagai sebab hadirnya penerimaan di hati manusia apabila hal itu baik baginya—sebagaimana dijelaskan Rasulullah ﷺ:

"Barang siapa mencari ridha Allah dengan risiko kemarahan manusia, Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia pun ridha kepadanya. Dan barang siapa mencari ridha manusia dengan risiko kemurkaan Allah, Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia pun murka kepadanya."

HR. At-Tirmidzi (no. 2414) dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Sebagian ulama berbeda pendapat mengenai rincian sanadnya, namun maknanya diteguhkan oleh banyak nash Al-Qur'an dan hadis-hadis sahih tentang mendahulukan ridha Allah di atas ridha manusia.

Hadis ini bukan sekadar janji tentang popularitas—sebab tidak setiap hamba yang ikhlas otomatis dicintai manusia; ada para nabi yang tetap dimusuhi, ada Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah yang dipenjara karena teguh pada kebenaran. Yang dijanjikan Allah bukan selalu popularitas, melainkan kaidah pendidikan jiwa: ketika orientasi hati berpindah dari makhluk menuju Allah, Allah sendiri yang mengatur kedudukan hamba itu, baik di hati manusia maupun semata di sisi-Nya, jika hal itu baik baginya.

Mungkin inilah makna terdalam dari tajrīd at-tauḥīd. Bukan ketika manusia berhenti melihat kita, tetapi ketika hati berhenti membutuhkan mereka untuk merasa bernilai. Seseorang baru benar-benar merdeka ketika ia tidak lagi merasa harus meninggalkan prinsip agar diterima, dan tidak lagi menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran keselamatan dirinya. Sebab tazkiyatun nafs pada akhirnya bukan sekadar memperbanyak ibadah. Ia adalah proses memerdekakan hati dari segala sesuatu selain Allah.

Yang dilihat manusia hanyalah dahi yang menyentuh rumput. Tetapi yang sebenarnya sedang terjadi, wallahu a'lam, adalah hati yang telah lama berhenti mencari tempat di mata manusia, karena hatinya telah menemukan ketenteramannya bersama Allah.

Pada akhirnya, dakwah paling kuat bukanlah pidato yang menggetarkan telinga manusia, melainkan hati yang telah selesai dari kebutuhan untuk dipuji manusia.

Allahumma ij'al a'malana kullaha khalishatan li wajhikal karim, wa thahhir qulubana min hubbil jah wa khaufin naas, waj'alna minal ladzina wajadul uns bika duna khalqik.


Referensi

  1. Al-Qur'an: QS. Al-An'am: 162; QS. Al-Ahzab: 39; QS. Al-Bayyinah: 5; QS. Ar-Ra'd: 28.
  2. HR. Ahmad, dari Mahmud bin Labid, tentang syirik kecil (riya').
  3. HR. Muslim, dari Umar bin Khattab, Hadis Jibril tentang ihsan.
  4. HR. Muslim, dari Abu Hurairah, tentang Allah melihat hati dan amal.
  5. HR. At-Tirmidzi (no. 2414) dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, tentang mencari ridha Allah di tengah kemarahan manusia.
  6. Al-Harits al-Muhasibi, Ar-Ri'ayah li Huquqillah.
  7. Imam al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin.
  8. Ibn Rajab al-Hanbali, Jami'ul 'Ulum wal Hikam.
  9. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin (pembahasan ta'alluq al-qalb billah).
  10. Ibn 'Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam.

Artikel Populer

Framework Kepemimpinan Muslim (seri 7)

Brain Rot: Fenomena Neurologis yang Mengancam Generasi Muslim — Dan Cara Mengatasinya

Allah Sering Menguji Manusia Melalui Ikatan yang Paling Dicintainya

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...