Sorak Gol, Sunyi di Saf Subuh

Sorak Gol, Sunyi di Saf Subuh

Bukan Tentang Sepak Bola, tetapi Tentang Siapa yang Menjadi Pusat Cinta

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Di berbagai belahan dunia, malam berubah menjadi pesta. Mata enggan terpejam karena satu pertandingan yang telah dinanti empat tahun lamanya. Sorak sorai memenuhi ruang keluarga, grup WhatsApp ramai oleh prediksi skor, dan lini masa media sosial dipenuhi euforia gol demi gol.

Namun di saat yang sama, ada saf Subuh yang perlahan kehilangan jamaahnya, satu demi satu, tanpa ada yang benar-benar menyadarinya sebagai kehilangan.

Kita hafal jadwal kick-off, tetapi lupa jadwal perjumpaan dengan Rabb kita. Maka pantas kita bertanya pada diri sendiri: sebenarnya yang sedang kalah itu siapa? Tim favorit kita, atau hati kita sendiri?

Barangkali inilah persoalan sesungguhnya yang dihadapi manusia modern. Bukan kekurangan waktu, sebab dalam sehari kita masih sempat menonton, membalas pesan, dan menikmati hiburan berjam-jam lamanya. Yang sebenarnya terjadi adalah kekeliruan menempatkan cinta, sebuah pergeseran kecil yang jarang disadari hingga ia menumpuk menjadi jarak yang jauh dari Allah.

Piala Dunia sesungguhnya hanya salah satu wajah dari persoalan itu. Hari ini bisa jadi sepak bola, esok bisa jadi serial yang episodenya menagih untuk terus ditonton, atau tren di media sosial yang tak berkesudahan. Bentuknya berganti, tetapi yang dipertaruhkan tetap sama: ke mana hati ini sesungguhnya berlabuh.

Sepak bola dan hiburan digital pada dasarnya perkara yang mubah, selama tidak mengandung hal yang diharamkan. Persoalannya bukan pada objek hiburan itu, melainkan ketika ia mulai menggeser posisi ibadah dalam skala prioritas hati.

Ketika suatu hiburan berulang kali membuat kita mengorbankan ibadah, mungkin bukan lagi hiburan itu yang bermasalah. Mungkin hati kita sedang memberi tahu bahwa ada sesuatu yang mulai bergeser dalam urutan cinta, dan itulah yang layak kita periksa lebih dahulu, bukan untuk menghakimi diri, melainkan untuk mengenalnya.

Allah mengingatkan kecenderungan manusia ini dalam firman-Nya:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۝ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Bal tu'tsirūnal-ḥayātad-dunyā. Wal-ākhiratu khairun wa abqā.

Artinya: "Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."

Ayat ini bukan melarang kita menikmati dunia. Ia hanya mengingatkan agar dunia tidak mengambil alih singgasana hati yang seharusnya milik Allah semata.


Yang Diperebutkan Bukan Waktu Kita, Tetapi Hati Kita

Media dan industri hiburan dirancang untuk menahan mata kita selama mungkin. Namun Allah tidak bersaing dengan cara yang sama. Allah tidak memperebutkan jam-jam kita. Allah memanggil hati kita.

Panggilan azan bukan sekadar penanda waktu shalat. Ia adalah undangan bagi hati untuk kembali kepada pemiliknya yang sejati, di tengah begitu banyak pihak yang berlomba mengisi ruang paling dalam dalam diri kita.

Pernahkah kita merasa lebih takut ketinggalan kick-off daripada ketinggalan takbir pertama? Jika jawabannya jujur, di situlah kita mulai menemukan siapa yang sesungguhnya paling banyak menempati hati kita hari ini.


Mengapa Hati Lebih Mudah Memilih Layar daripada Sajadah

Ilmu jiwa modern punya penjelasannya sendiri, dan penjelasan itu justru membantu kita memahami betapa halusnya jebakan yang sedang kita hadapi.

Otak manusia melepaskan dopamin bukan hanya saat hadiah itu datang, tetapi justru saat menanti dan menduga-duga apakah hadiah itu akan datang. Sebuah pertandingan yang penuh ketidakpastian, atau episode yang sengaja berhenti di titik menegangkan, membuat otak terus terpaku menanti kelanjutannya.

Betapa menariknya, Allah menciptakan otak yang mampu merasakan kegembiraan seperti ini. Yang menjadi persoalan bukanlah kegembiraan itu sendiri, melainkan ketika ia tidak lagi mengenal arah, ketika ia hanya diarahkan kepada layar dan lupa bahwa kerinduan yang sama semestinya bisa dituju kepada sujud panjang di sepertiga malam terakhir.

Kebiasaan yang diulang-ulang lambat laun menjadi pola otomatis yang sulit dihentikan, bahkan ketika akal sehat sudah menyadari akibatnya. Ditambah lagi, kurang tidur akibat begadang melemahkan bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, sehingga kemampuan seseorang untuk bangun tepat waktu pun ikut menurun, bukan semata karena kemauan yang lemah, tetapi karena kondisi biologis yang memang sedang tidak berpihak padanya.

Psikologi membantu kita memahami bagaimana manusia mengambil keputusan. Namun ia berhenti pada mekanisme perilaku. Islam melangkah lebih jauh: bukan hanya bagaimana manusia memilih, tetapi mengapa hati memilih sesuatu untuk dicintai.


Kerangka Tazkiyatun Nafs: Mengenali dan Merawat Hati

Tazkiyatun nafs mengajarkan beberapa tahapan yang saling menopang dalam merawat hati agar tidak dikuasai oleh hal yang lebih rendah dari kedudukannya.

Muraqabah adalah kesadaran terus-menerus bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak hati, hingga seseorang berhenti sejenak sebelum larut dalam sebuah tayangan, lalu bertanya, apakah ini akan menjauhkan atau mendekatkan dirinya kepada Allah.

Muhasabah adalah introspeksi setelahnya, meninjau kembali bagaimana waktu dan perhatian telah digunakan sepanjang hari, agar kebiasaan buruk tidak terus berulang tanpa pernah disadari.

Mujahadah adalah perjuangan aktif melawan dorongan hawa nafsu, seperti menahan diri untuk berhenti menonton demi menunaikan hak Allah yang lebih utama, meski hati masih ingin melanjutkan.

Jika ketiganya diabaikan, seseorang berisiko jatuh pada ghaflah, kelalaian hati yang membuatnya lupa akan tujuan penciptaannya. Sebaliknya, hati yang terus dirawat akan berangsur mendekati qalbun salim, hati yang selamat, yang menempatkan Allah sebagai satu-satunya yang paling dicintai dan dituju.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din menggambarkan hati sebagai medan yang senantiasa ditarik antara kecenderungan kepada kebaikan dan kecenderungan kepada hawa nafsu, dan apa yang paling sering diberi ruang oleh seseoranglah yang pada akhirnya akan menguasai hatinya.

Rasulullah ﷺ memberi peringatan yang menghujam tentang hakikat kenikmatan dan kesulitan ini:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

Huffatil-jannatu bil-makārih wa huffatin-nāru bisy-syahawāt.

Artinya: "Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (oleh hawa nafsu), sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat." (HR. Muslim)

Bangun Subuh memang terasa berat bagi jiwa yang belum terlatih. Tetapi justru di titik berat itulah letak pendidikan jiwa yang sesungguhnya, sebab surga tidak pernah dijanjikan lewat jalan yang selalu nyaman.

Mungkin sejatinya masalah kita bukan sepak bola, bukan pula tontonan apa pun yang sedang digandrungi. Yang sedang diuji adalah satu hal sederhana: siapa yang paling kita tunggu, kick-off atau azan? Sebab apa yang paling membuat jantung kita berdebar menantikannya, di situlah sering kali letak cinta kita yang sesungguhnya berada.

Barangkali Allah tidak sedang menguji kita dengan sepak bola. Allah sedang memperlihatkan isi hati kita lewat sepak bola, sebagai cermin yang jujur meski kadang menyakitkan untuk dipandang.

Masalah terbesar bukan ketika hati kalah oleh kantuk. Masalah terbesar adalah ketika hati tidak lagi merasa kehilangan Subuh.

Karena hati yang masih menangis ketika kehilangan Subuh masih memiliki harapan untuk sembuh. Yang paling kita takutkan bukanlah dosa, melainkan ketika dosa tidak lagi membuat kita berduka.


Munajat Penutup

Ya Allah, jangan biarkan hati kami lebih berdebar menunggu dunia daripada menunggu panggilan-Mu.


Referensi

  1. Al-Qur'an, Surah Al-A'la ayat 16-17.
  2. Sahih Muslim, hadis tentang surga dikelilingi hal yang tidak disukai hawa nafsu.
  3. Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya' Ulum al-Din, kitab tentang penyucian hati (Kitab Syarh 'Aja'ib al-Qalb).
  4. Al-Ghazali, Abu Hamid. Bidayat al-Hidayah, pembahasan tentang muraqabah dan muhasabah harian.
  5. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Madarij as-Salikin, pembahasan tentang mujahadah dan perjalanan hati menuju qalbun salim.
  6. Kahneman, Daniel. Thinking, Fast and Slow, pembahasan tentang bias kognitif dan pengambilan keputusan.
  7. Duhigg, Charles. The Power of Habit, pembahasan tentang lingkaran kebiasaan (habit loop).
  8. Clear, James. Atomic Habits, pembahasan tentang pembentukan dan pemutusan kebiasaan.

Artikel Populer

Mengapa Allah Tidak Berfirman "Qad Aflaha Man Shalla"?

Ketika China Melahirkan Jutaan Talenta AI, Apa Konsekuensinya bagi Indonesia?

Perpres 111/2025: Ketika "Penyebaran Budaya LGBTQ" Dicantumkan dalam Analisis Ancaman Nonmiliter Negara

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...