Tadabbur QS. Hūd Ayat 6: Ketika Batin Berhenti Dihantui Kecemasan Rezeki
Tadabbur QS. Hūd Ayat 6: Ketika Batin Berhenti Dihantui Kecemasan Rezeki
Menyelami Jaminan Allah atas Rezeki dalam Perspektif Tazkiyatun Nufus
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
Tidak sedikit manusia kehilangan tidur bukan karena tidak memiliki rezeki, tetapi karena takut kehabisan rezeki. Padahal jauh sebelum rasa takut itu lahir, Allah telah lebih dahulu menuliskan sebuah janji yang menenteramkan dalam Surah Hūd.
Wa mā min dābbatin fil-arḍi illā 'alallāhi rizquhā wa ya'lamu mustaqarrahā wa mustawda'ahā, kullun fī kitābin mubīn.
"Tidak ada satu pun makhluk yang melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua itu tertulis dalam Kitab yang nyata." (QS. Hūd: 6)
Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan keluasan ilmu dan rahmat Allah atas seluruh makhluk. Jaminan ini bukan karena makhluk memiliki hak menuntut. Ia murni karunia dari Allah Yang Maha Pemurah, yang mengetahui keadaan makhluk-Nya sejak sebelum lahir, ketika hidup, hingga setelah wafat, dan mencatatnya dalam ilmu yang sempurna.
Para ulama tazkiyah kemudian mengambil isyarat ruhani dari keluasan ilmu Allah pada ayat ini. Bila Allah mengetahui seluruh tempat keberadaan makhluk, terlebih lagi Dia mengetahui seluruh keadaan hati hamba-Nya. Dari sinilah lahir sebuah pelajaran yang jauh melampaui makna lahiriah ayat: hijab terbesar antara seorang hamba dengan Allah adalah ketika nurani menggantungkan harapan kepada sebab-sebab dunia, bukan kepada Musabbib al-Asbāb, Allah sendiri. Demikian yang diuraikan Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin. Ikhtiar yang halal tetap menjadi bagian dari ketaatan. Namun tempat bersandarnya hati hanya kepada Allah semata.
Di era media sosial, kegelisahan ini tumbuh berlipat ganda. Mata setiap hari disuguhi pencapaian orang lain, rumah orang lain, kendaraan orang lain. Perbandingan demi perbandingan itulah yang sering melahirkan kegundahan, padahal Allah telah mengingatkan sejak empat belas abad silam bahwa rezeki setiap makhluk berada dalam pemeliharaan-Nya. Mengapa manusia tetap gelisah padahal jaminan itu sudah begitu terang? Karena batin lebih mudah percaya kepada angka yang tampak di layar daripada kepada janji Allah yang tidak pernah diingkari.
Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah merumuskan hakikat tawakal dengan indah dalam kitab Madarij as-Salikin.
صِدْقُ اعْتِمَادِ الْقَلْبِ عَلَى اللَّهِṢidqu i'timādil-qalbi 'alallāh — "Benarnya sandaran hati kepada Allah."
Tidak sedikit orang yang dilapangkan hartanya, namun tetap menjalani hari-hari dalam kegelisahan. Sebaliknya, ada yang hidup dalam kesahajaan, tetapi jiwanya dipenuhi ketenteraman karena mengenal kepada siapa ia bersandar. Itulah buah keyakinan terhadap janji Allah dalam QS. Hūd: 6.
Lalu mengapa Allah menjamin rezeki, tetapi manusia tetap diperintahkan berusaha? Sebab rezeki memang telah dijamin, sebab-sebabnya tetap diperintahkan untuk ditempuh, dan tawakal hadir bukan untuk menggantikan ikhtiar, melainkan untuk menyempurnakannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan hal ini melalui perumpamaan seekor burung.
Law annakum tatawakkalūna 'alallāhi ḥaqqa tawakkulihī, larazaqakum kamā yarzuquṭ-ṭayr, taghdū khimāṣan wa tarūḥu biṭānan.
"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. At-Tirmidzi, no. 2344)
Burung tidak diberi makanan di sarangnya. Ia diberi kemampuan untuk mencarinya. Ia mengepakkan sayapnya sejak pagi sebagai bentuk ikhtiar, sementara batinnya tunduk sepenuhnya kepada ketetapan Allah.
Ada satu teladan lain yang lebih dekat dengan pergulatan manusia: kisah Maryam 'alaihassalam. Ketika beliau kepayahan menjelang kelahiran Nabi Isa 'alaihissalam, seorang diri, jauh dari pertolongan manusia, Allah tidak menurunkan rezeki begitu saja ke pangkuannya. Allah justru memerintahkan, "Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu" (QS. Maryam: 25). Padahal Allah Mahakuasa menjatuhkan buah kurma tanpa perlu Maryam menggoyangnya. Namun di situlah pelajarannya: jaminan Allah tetap berjalan seiring dengan ikhtiar hamba-Nya, sekecil apa pun ikhtiar itu.
Frasa wa ya'lamu mustaqarrahā wa mustawda'ahā menyimpan makna yang menyentuh. Tidak ada satu pun rahasia yang tersembunyi dari ilmu-Nya: kesendirian yang tak terlihat, tangisan yang tak terdengar, bahkan doa yang belum sempat terucap. Kesadaran inilah yang melahirkan muraqabah, perasaan senantiasa diawasi Allah, sehingga seorang hamba malu bermaksiat walau tidak ada satu pun manusia yang melihatnya.
Penutup ayat, kullun fī kitābin mubīn, menumbuhkan ridha terhadap ketetapan Allah dan qana'ah terhadap apa yang belum digenggam. Ibnu 'Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan agar diri tidak terlalu disibukkan oleh pengaturan yang penuh kecemasan, sebab Allah telah mengatur segala sesuatu jauh lebih baik daripada perhitungan seorang hamba.
Menariknya, Allah tidak pernah menjanjikan bahwa hidup setiap hamba akan selalu lapang. Yang Allah jamin adalah rezekinya. Kelapangan hidup adalah ujian, sebagaimana kesempitan hidup juga ujian. Karena itu ukuran kecukupan dalam Islam bukan seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa besar keberkahan yang Allah limpahkan pada apa yang dimiliki.
Para ulama tazkiyah mengungkapkan secara edukatif bahwa karunia Allah tidak hanya berbentuk materi. Ada pula rezeki berupa ilmu, iman, ketenteraman, dan ma'rifat kepada Allah — sebuah cara memahami keluasan makna nikmat, bukan klasifikasi baku yang berdiri sendiri di atas satu nash tertentu.
Tema ini bukan berdiri sendiri. Ia benang merah yang terus diulang dalam Al-Qur'an. Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh" (QS. Adz-Dzāriyāt: 58). Pada ayat lain, Allah menegaskan, "Betapa banyak makhluk yang bergerak yang tidak mampu membawa rezekinya, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan juga kepadamu" (QS. Al-'Ankabūt: 60). Dan bagi siapa yang bertakwa, Allah menjanjikan, "Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya" (QS. Ath-Thalāq: 2–3). Allah menjamin rezeki. Allah mengetahui seluruh keadaan. Allah mencatat segala ketetapan. Dan Allah mencukupi siapa pun yang bersandar kepada-Nya.
Selama seorang hamba masih mengira bahwa manusia atau pekerjaannyalah sumber karunianya, ia akan mudah takut, kecewa, dan gelisah. Namun ketika sunnatullah dalam QS. Hūd ayat 6 benar-benar hidup di dalam sanubari, di sanalah seorang mukmin mulai merasakan kemerdekaan batin, ketika rasa takut kepada dunia digantikan oleh keyakinan kepada Ar-Razzāq.
Boleh jadi yang paling papa bukanlah orang yang sedikit hartanya, melainkan orang yang kehilangan rasa aman terhadap jaminan Allah. Dan boleh jadi yang paling kaya bukanlah yang paling banyak memiliki, melainkan yang paling tenteram karena yakin bahwa Ar-Razzāq tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Ya Allah, jadikanlah tempat bersandar kami hanya kepada-Mu, sebagaimana firman-Mu: "Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya." (QS. Ath-Thalāq: 3) Aamiin.
Referensi
- Al-Qur'an: QS. Hūd [11]: 6; QS. Maryam [19]: 25; QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 58; QS. Al-'Ankabūt [29]: 60; QS. Ath-Thalāq [65]: 2–3.
- Tafsir Al-Jalalain, Imam Jalaluddin Al-Mahalli & Imam As-Suyuthi, tafsir QS. Hūd ayat 6.
- Tafsir Al-Munir fi al-'Aqidah wa al-Syari'ah wa al-Manhaj, Syekh Wahbah az-Zuhaili, pembahasan Surah Hūd ayat 6.
- Ihya' Ulumuddin, Imam Abu Hamid Al-Ghazali, Kitab At-Tawakkul.
- Madarij as-Salikin, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, pembahasan maqam at-Tawakkul.
- Al-Hikam, Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari, hikmah tentang tadbir dan tawakal.
- Sunan At-Tirmidzi, no. 2344 (hadis tawakal, perumpamaan burung).
