Ketika Takut Kekurangan Menguasai Hati: Menyingkap Waswas Kefakiran dan Jalan Menuju Tawakal

Ketika Takut Kekurangan Menguasai Hati: Menyingkap Waswas Kefakiran dan Jalan Menuju Tawakal

Seri Tazkiyatun Nufus: Rezeki dan Penyakit Hati

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Ada orang yang hafal di luar kepala bahwa Allah menjamin rezeki setiap makhluk. Ia bahkan mampu menjelaskannya panjang lebar kepada orang lain. Namun ketika saldo rekening menipis, pesanan sepi, pekerjaan belum kunjung datang, atau kebutuhan hidup terasa semakin berat, hatinya kembali disergap kecemasan yang sama, seolah ilmu itu tidak pernah singgah di dada.

Di sinilah kita perlu membedakan antara mengetahui dan meyakini. Pengetahuan cukup berhenti di kepala, sedangkan keyakinan yang hidup akan menuntun hati justru ketika keadaan sedang tidak sesuai harapan.

Namun kita juga perlu berhati-hati sejak awal. Tidak setiap kecemasan tentang rezeki berarti lemahnya iman. Seseorang yang kehilangan pekerjaan, memiliki tanggungan keluarga, terlilit utang, atau menghadapi kebutuhan medis yang mendesak memang dapat mengalami kekhawatiran yang wajar.

Yang perlu diwaspadai bukan semata-mata munculnya rasa takut itu, melainkan bagaimana hati meresponsnya. Sebab kekhawatiran yang wajar dapat dimanfaatkan oleh bisikan setan untuk berkembang menjadi ketakutan yang berlebihan; membuat seseorang berburuk sangka kepada Allah, meninggalkan tawakal, menahan kebaikan, atau bahkan menempuh jalan yang haram.

Maka tazkiyah bukan berarti seseorang tidak pernah merasa takut.

Tazkiyah adalah bagaimana rasa takut itu dikembalikan kepada Allah.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Asy-syaiṭānu yaʿidukumul-faqra wa yaʾmurukum bil-faḥsyāʾi, wallāhu yaʿidukum maghfiratam minhu wa faḍlā, wallāhu wāsiʿun ʿalīm.

"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruhmu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."

[ Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah [2]: 268; Tafsir al-Qur'an al-'Aẓīm, Imam Ibnu Katsir, pembahasan tafsir QS. Al-Baqarah ayat 268.]

Dalam pembahasan ayat ini, Ibnu Katsir menerangkan makna yaʿidukum al-faqr sebagai ancaman atau ketakutan yang ditanamkan setan kepada manusia tentang kefakiran. Ketakutan semacam itu dapat memengaruhi seseorang hingga menahan sedekah dan kebaikan, atau mendorongnya mencari harta dengan cara yang tidak dibenarkan.

Ayat ini seakan memperlihatkan dua arah yang saling berhadapan di dalam hati: janji setan berupa ketakutan akan kekurangan, dan janji Allah berupa ampunan serta karunia.

Maka persoalannya bukan hanya:

"Apakah saya sedang kekurangan?"

Tetapi juga:

"Ketika kekurangan itu datang, kepada janji siapa hati saya akan berpegang?"

Allah kemudian menegaskan siapa yang sesungguhnya menjadi sumber rezeki:

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Innallāha huwar-Razzāqu żul-quwwatil-matīn.

"Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh."

[Al-Qur'an, QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 58.]

Jika Allah adalah Ar-Razzāq, maka seorang mukmin bukan diperintahkan untuk berhenti berusaha. Ia tetap diperintahkan bekerja, mencari sebab, menempuh ikhtiar, dan mencari jalan yang halal.

Namun di balik seluruh sebab itu, hatinya tidak menggantungkan keselamatan kepada sebab.

Sebab boleh berada di tangan, tetapi Allah harus tetap berada di hati.

Di antara akar batin yang perlu diwaspadai ketika waswas kefakiran menguat adalah lemahnya yaqin dan tawakal kepada Allah. Dalam pembahasan tentang maqam yaqin, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menekankan pentingnya keyakinan yang tidak berhenti sebagai pengetahuan teoritis, tetapi berpengaruh nyata terhadap keadaan hati dan amal.

Seseorang mungkin mengetahui bahwa Allah adalah Ar-Razzāq. Namun ketika penghasilan menurun, ia tetap merasa bahwa masa depannya sepenuhnya bergantung pada saldo rekening, jumlah pelanggan, jabatan, atau kondisi pasar.

Di sinilah pengetahuan perlu ditumbuhkan menjadi keyakinan yang hidup.

Bukan berarti seorang mukmin tidak boleh memperhitungkan risiko. Ia tetap harus membuat perencanaan, menghitung kebutuhan, dan memperbaiki ikhtiar. Namun semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa sebab bukanlah pencipta hasil.

Allah-lah yang memberi rezeki melalui sebab-sebab yang Dia kehendaki.

Akar lain adalah ghaflah, yaitu kelalaian hati dari mengingat Allah.

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Alā bidzikrillāhi taṭma'innul-qulūb.

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

[ Al-Qur'an, QS. Ar-Ra'd [13]: 28; Tafsir Jalalain, tafsir QS. Ar-Ra'd ayat 28.]

Hati yang jauh dari dzikrullah lebih mudah kehilangan ketenangan dan lebih rentan dikuasai lintasan-lintasan yang melemahkan. Dzikir bukan jaminan bahwa rasa takut tidak akan pernah datang. Namun dzikir membantu seorang hamba mengembalikan arah hatinya ketika rasa takut itu datang.

Karena itu, dzikir bukan sekadar usaha untuk menghilangkan kecemasan.

Dzikir adalah usaha untuk mengembalikan hati kepada siapa ia harus bersandar.

Akar yang tidak kalah halus adalah kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

Di zaman media sosial, seseorang dapat melihat rumah orang lain, kendaraan orang lain, bisnis orang lain, perjalanan orang lain, dan pencapaian orang lain hanya dalam hitungan menit. Tanpa disadari, semua yang terlihat itu kemudian dijadikan ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.

"Aku tertinggal."

"Rezekiku sedikit."

"Orang lain jauh lebih berhasil."

Padahal yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan orang lain. Kita melihat hasilnya, tetapi tidak melihat seluruh perjuangannya. Kita melihat kenikmatannya, tetapi tidak melihat ujian yang mungkin tersembunyi di baliknya.

Allah telah mengingatkan:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Wa lā tamuddanna ʿainaika ilā mā mattaʿnā bihi azwājam minhum zahratal-ḥayātid-dunyā linaftinahum fīh, wa rizqu rabbika khairuw wa abqā.

"Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."

[ Al-Qur'an, QS. Thāhā [20]: 131; Tafsir Jalalain, tafsir QS. Thāhā ayat 131.]

Perbandingan semacam ini dapat melahirkan rasa kurang yang tidak selalu berangkat dari kenyataan, tetapi dari cara pandang yang terus-menerus membandingkan kehidupan sendiri dengan tampilan kehidupan orang lain.

Padahal rezeki yang Allah tetapkan bagi seseorang tidak pernah ditentukan oleh apa yang tampak di layar orang lain.

Setiap orang memiliki perjalanan, ujian, waktu, dan takdir rezekinya masing-masing.

Maka salah satu bentuk tazkiyah pada zaman ini adalah belajar menundukkan pandangan, bukan hanya dari yang haram, tetapi juga dari segala sesuatu yang membuat hati terus-menerus merasa kurang terhadap karunia Allah.

Ketika Kecemasan Datang, Apa yang Harus Dilakukan?

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Allāhumma innī aʿūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wa aʿūdzu bika minal-ʿajzi wal-kasal, wa aʿūdzu bika minal-jubni wal-bukhl, wa aʿūdzu bika min ghalabatid-daini wa qahrir-rijāl.

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia."

[Shahih al-Bukhari, Kitab ad-Da'awat, hadis tentang doa berlindung dari al-hamm, al-hazan, al-'ajz, al-kasal, al-jubn, al-bukhl, ghalabat ad-dayn, dan qahr ar-rijal.]

Perhatikan bagaimana doa ini tidak hanya meminta perlindungan dari al-hamm, kegelisahan, tetapi juga dari ghalabat ad-dayn, lilitan utang.

Ini mengajarkan kepada kita bahwa Islam tidak menganggap persoalan ekonomi sebagai sesuatu yang remeh. Utang dapat menjadi beban yang berat bagi jiwa. Tekanan ekonomi dapat memengaruhi pikiran dan ketenangan seseorang.

Karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya berkata, "Bertawakallah."

Ia juga perlu membantu saudaranya menemukan jalan keluar.

Doa harus berjalan bersama ikhtiar.

Tawakal harus berjalan bersama usaha.

Dan keyakinan kepada Allah harus berjalan bersama pengambilan sebab yang benar.

Ada pula doa yang masyhur dinukil dalam kitab-kitab doa:

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Allāhummakfinī bi ḥalālika ʿan ḥarāmik, wa aghninī bi faḍlika ʿamman siwāk.

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu."

Doa ini sangat masyhur di kalangan kaum Muslimin dan dinukil dalam sejumlah kitab. Namun, status periwayatannya dibahas oleh para ulama hadis. Karena itu, doa ini baik diamalkan sebagai doa yang kandungannya benar, tetapi tidak perlu disandarkan secara tegas kepada Nabi ﷺ sebagai hadits shahih tanpa penjelasan mengenai status riwayatnya.

Maknanya sendiri sangat indah: seorang hamba memohon kepada Allah agar diberikan kecukupan melalui jalan yang halal, sehingga ia tidak terdorong mencari jalan yang haram dan tidak menggantungkan hatinya kepada selain Allah.

Muhasabah: Apakah Ini Masalah Nyata atau Bayangan yang Belum Terjadi?

Muhasabah menjadi jalan penting berikutnya.

Setiap kali kecemasan rezeki muncul, seorang hamba dapat bertanya kepada dirinya:

Apakah ini masalah nyata yang harus diselesaikan dengan ikhtiar?

Ataukah ini bayangan tentang sesuatu yang belum tentu terjadi?

Jika masalahnya nyata, hadapilah dengan ikhtiar.

Jika ia berupa waswas yang berlebihan, hadapilah dengan dzikir, doa, dan tawakal.

Jika keduanya bercampur, tempuhlah keduanya sekaligus: perbaiki sebab di dunia dan rawat hati di hadapan Allah.

Dalam tradisi tazkiyah yang dikembangkan oleh Al-Harits al-Muhasibi, perhatian terhadap keadaan batin dan pemeriksaan terhadap gerak hati merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang hamba. Seorang mukmin tidak hanya bertanya, "Apa yang terjadi di luar diriku?", tetapi juga bertanya, "Apa yang sedang terjadi di dalam hatiku?"

Apakah aku sedang takut karena menghadapi masalah nyata?

Apakah aku sedang membayangkan kemungkinan terburuk yang belum tentu terjadi?

Apakah aku mulai berburuk sangka kepada Allah?

Apakah rasa takut ini membuatku meninggalkan kebaikan?

Ataukah justru mendorongku untuk memperbaiki ikhtiar dan semakin dekat kepada-Nya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membantu seorang hamba mengenali akar kegelisahannya.

Qana'ah: Berhenti Menyiksa Diri atas Apa yang Belum Dimiliki

Qana'ah bukan berarti berhenti berusaha.

Qana'ah juga bukan berarti menjadikan kemiskinan sebagai cita-cita.

Qana'ah adalah kemampuan hati untuk menerima ketetapan Allah dengan lapang setelah seseorang menempuh ikhtiar yang mampu ia lakukan.

Seseorang tetap bekerja.

Tetap berdagang.

Tetap mencari pekerjaan.

Tetap memperbaiki keterampilan.

Tetap menyusun perencanaan.

Namun ia tidak menjadikan apa yang belum dimilikinya sebagai alasan untuk membenci takdir Allah.

Qana'ah bukan mematikan ikhtiar. Qana'ah mematikan kerakusan hati.

Inilah keseimbangan yang perlu dijaga.

Tangan tetap bekerja mencari rezeki.

Akal tetap berpikir mencari solusi.

Namun hati tetap bersandar kepada Allah.

Tawakal Tidak Berarti Meninggalkan Sebab

Ikhtiar batin perlu disertai ikhtiar nyata.

Ketika kesulitan rezeki benar-benar terjadi, seorang Muslim dapat menempuh langkah-langkah konkret:

  1. Menghitung ulang kebutuhan pokok dan memisahkannya dari sekadar keinginan.
  2. Menata kembali pengeluaran dan menghindari pemborosan.
  3. Menempuh pekerjaan atau usaha yang halal secara sungguh-sungguh.
  4. Meningkatkan keterampilan dan memperluas ikhtiar mencari penghasilan.
  5. Menghindari utang konsumtif yang tidak mendesak.
  6. Bermusyawarah dengan orang yang amanah dan terpercaya ketika persoalan keuangan mulai berat.
  7. Mencari bantuan yang tepat ketika masalah sudah berada di luar kemampuan sendiri.

Dan bila kecemasan telah mengganggu tidur, makan, pekerjaan, hubungan sosial, atau ibadah secara berat dan berkepanjangan, mencari bantuan kepada tenaga profesional juga merupakan bagian dari ikhtiar. Sebagaimana seseorang mencari tabib ketika sakit badannya tidak kunjung reda, demikian pula gangguan berat pada kondisi mental tidak perlu dihadapi seorang diri.

Semua itu tidak bertentangan dengan tawakal.

Sebab tawakal bukan meninggalkan sebab.

Tawakal adalah menggunakan sebab dengan sebaik-baiknya, sementara hati tidak menyandarkan hasil akhirnya kecuali kepada Allah.

Ketika Bisikan Itu Datang Lagi

Waswas kefakiran boleh jadi akan datang berulang kali.

Hari ini kita merasa tenang.

Besok pesanan sepi.

Lusa ada tagihan.

Bulan depan kebutuhan bertambah.

Lalu hati kembali gelisah.

Demikianlah manusia.

Karena itu, kemenangan seorang mukmin bukanlah ketika ia tidak pernah lagi merasa takut.

Kemenangan itu adalah ketika setiap kali rasa takut datang, ia tahu ke mana harus kembali.

QS. Al-Baqarah ayat 268 mengajarkan bahwa setan menakut-nakuti manusia dengan kefakiran, sementara Allah menjanjikan ampunan dan karunia.

Setan menakut-nakuti kita dengan apa yang belum terjadi.

Sedangkan Allah mengajarkan kita untuk percaya kepada-Nya dalam menghadapi apa yang sedang terjadi.

Maka ketika batin mulai dihantui kecemasan tentang rezeki, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri.

Berhentilah sejenak.

Tarik napas.

Lihat masalah dengan jernih.

Tanyakan:

Apa yang benar-benar terjadi?

Apa yang harus aku ikhtiarkan?

Apa yang hanya berupa ketakutan yang belum tentu terjadi?

Lalu kembalikan hati kepada Allah.

Jika ada sebab yang harus diperbaiki, perbaikilah.

Jika ada utang yang harus diselesaikan, susunlah jalan keluarnya.

Jika ada pekerjaan yang harus dicari, carilah.

Jika ada keterampilan yang harus ditingkatkan, pelajarilah.

Jika ada pengeluaran yang harus dikurangi, kurangi.

Namun di tengah semua itu, jangan biarkan hati lupa kepada siapa rezeki itu pada akhirnya bersumber.

Sebab boleh berada di tangan.

Ikhtiar boleh memenuhi hari-hari kita.

Namun Allah harus tetap menjadi tempat hati bersandar.

Ya Allah, jauhkan hati kami dari waswas yang menakut-nakuti kami dengan kefakiran. Penuhilah dada kami dengan yaqin kepada karunia dan ampunan-Mu.

Lindungilah kami dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia, sebagaimana Rasul-Mu mengajarkan.

Karuniakanlah kepada kami rezeki yang halal, luas, baik, dan penuh keberkahan.

Ajarkan kami untuk bersungguh-sungguh dalam ikhtiar tanpa menggantungkan hati kepada ikhtiar itu sendiri.

Ajarkan kami untuk bertawakal tanpa meninggalkan sebab.

Cukupkanlah kami dengan yang halal dari yang haram, dan cukupkanlah hati kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak bergantung kepada selain-Mu.

Ya Allah, jadikan tangan kami sibuk mencari rezeki-Mu, tetapi jadikan hati kami hanya bersandar kepada-Mu.

Āmīn.

Referensi

  1. Al-Qur'an: QS. Al-Baqarah [2]: 268.
  2. Al-Qur'an: QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 58.
  3. Al-Qur'an: QS. Ar-Ra'd [13]: 28.
  4. Al-Qur'an: QS. Thāhā [20]: 131.
  5. Tafsir al-Qur'an al-'Aẓīm, Imam Isma'il bin Umar Ibnu Katsir, pembahasan tafsir QS. Al-Baqarah ayat 268.
  6. Tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, tafsir QS. Ar-Ra'd ayat 28 dan QS. Thāhā ayat 131.
  7. Shahih al-Bukhari, Kitab ad-Da'awat, hadis tentang doa berlindung dari al-hamm, al-hazan, al-'ajz, al-kasal, al-jubn, al-bukhl, ghalabat ad-dayn, dan qahr ar-rijal. Derajat: Shahih.
  8. Madarij as-Salikin, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, pembahasan tentang maqam al-yaqin dan tawakal.
  9. Jami' al-'Ulum wal-Hikam, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, pembahasan mengenai qana'ah, ridha, dan keadaan hati.
  10. Karya-karya Al-Harits al-Muhasibi dalam tradisi tazkiyatun nafs, khususnya pembahasan tentang muhasabah dan pemeriksaan keadaan batin.
  11. Doa Allahummakfini bihalalika 'an haramika... merupakan doa yang masyhur dinukil dalam sejumlah kitab; status periwayatannya dibahas oleh para ulama hadis sehingga tidak disandarkan secara tegas sebagai hadits shahih dalam artikel ini.

Artikel Populer

Mengapa Indonesia Memakai Pancasila, Bukan Piagam Madinah?

Mendidik Anak yang Keras Kepala: Perspektif Islam tentang Komunikasi Penuh Hikmah

Integrasi Teologis-Sipil: Meretas Sinergi Islam, Kebangsaan, dan Fondasi Sipil Modern

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...