Dadaha dan Pelajaran Tazkiyatun Nafs: Mengapa Perubahan Ideologi Belum Cukup?

Dadaha dan Pelajaran Tazkiyatun Nafs: Mengapa Perubahan Ideologi Belum Cukup?

Ledakan emosi sesaat mengingatkan kita bahwa perubahan pemikiran belum tentu perubahan jiwa

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Sebuah cekcok kecil antar-pedagang di Dadaha, Tasikmalaya, berubah menjadi peristiwa yang mengejutkan banyak pihak. Bukan karena ada jaringan yang bergerak, bukan pula karena ada niat teror yang direncanakan. Tanpa bermaksud memastikan kondisi batin pelaku, sebab hanya Allah yang mengetahui isi hati seorang hamba, peristiwa ini tetap memberi ruang bagi kita untuk merefleksikan satu hal penting, yaitu betapa rapuhnya hati manusia ketika harga dirinya merasa terluka.

Banyak yang mengira bahwa perubahan keyakinan sudah cukup untuk menjamin perubahan perilaku. Padahal antara ilmu dan amal, antara akidah dan akhlak, ada satu ruang yang sering terlewat, yaitu jiwa itu sendiri. Seseorang bisa saja sudah benar pemikirannya, namun nafsnya belum tentu ikut berubah. Di sinilah letak pentingnya tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, sebagai fondasi yang tidak boleh diabaikan dalam perjalanan hijrah siapa pun.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang keberuntungan yang bergantung pada penyucian jiwa.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya."

Al-Qur'an, Surah Asy-Syams (91): 9-10

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa keberuntungan seorang hamba bergantung pada sejauh mana ia membersihkan jiwanya melalui ketaatan dan menjauhi akhlak tercela. Ayat ini menegaskan bahwa penyucian jiwa bukan perkara sampingan dalam agama, melainkan syarat utama keberuntungan seseorang, baik di dunia maupun di akhirat.

Peristiwa seperti di Dadaha dapat dibaca sebagai pengingat bahwa salah satu faktor yang patut diwaspadai dalam perjalanan hijrah siapa pun adalah belum tuntasnya proses tazkiyatun nafs. Rasa kehilangan status, kebutuhan untuk tetap dianggap penting, dan amarah yang meledak ketika direndahkan adalah gejala yang oleh para ulama tazkiyatun nafs disebut sebagai penyakit hati yang belum diobati sepenuhnya. Sejalan dengan penjelasan Al-Muhasibi dalam Ar-Ri'ayah li Huquqillah tentang khawathir, lintasan-lintasan hati, dapat dipahami bahwa tindakan besar biasanya diawali oleh lintasan yang tidak diperiksa dengan muhasabah, hingga tumbuh menjadi keinginan, kemudian tekad, dan akhirnya perbuatan. Maka ketika seseorang merasa dihina, pertanyaan pertama yang layak diajukan pada diri sendiri bukan tentang pihak yang menghina, melainkan tentang apa yang sedang dibela oleh nafsnya sendiri.

Islam tidak pernah mengajarkan mematikan amarah, karena amarah adalah bagian dari fitrah manusia. Yang diajarkan adalah mendidiknya agar tidak keluar dari keseimbangan. Dalam Ihya' Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan secara sistematis bahwa ghadhab pada asalnya adalah kekuatan yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk menolak bahaya, namun bila keluar dari kendali akal dan syariat, ia berubah menjadi sumber kezaliman. Dari pembahasan beliau tentang hubb al-jah, cinta kedudukan, dapat dipahami bahwa amarah yang meledak ketika seseorang merasa direndahkan sering kali bersumber dari kedudukan yang terluka, bukan semata-mata dari agama yang dibela.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang hakikat kekuatan yang sesungguhnya.

"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."

Muttafaq 'alaih — Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab; Shahih Muslim, Kitab al-Birr wash-Shilah

Hadis ini meluruskan pemahaman banyak orang tentang kekuatan sejati. Kekuatan bukan diukur dari kemampuan menaklukkan orang lain, melainkan dari kemampuan menaklukkan diri sendiri pada saat yang paling sulit, yaitu ketika amarah sedang memuncak. Inilah medan jihad yang jauh lebih berat daripada peperangan fisik, karena musuhnya ada di dalam dada sendiri.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa hati manusia senantiasa berada dalam tarikan antara kebaikan dan hawa nafsu, dan bahwa seseorang bisa saja telah meninggalkan suatu kesalahan namun bekas-bekas tabiat lamanya masih dapat muncul kembali ketika ia terjepit atau terpojok. Sejalan dengan penjelasan beliau tentang mujahadah dan tazkiyatun nafs, perjalanan taubat sering kali memperlihatkan bahwa seorang hamba diuji kembali pada titik-titik kelemahannya agar taubatnya semakin matang. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kadang Allah tidak menguji seseorang dengan ideologi lamanya, tetapi dengan ego lamanya. Ibnu Qayyim juga membedakan dua jenis amarah, yaitu amarah karena Allah dan amarah karena ego, dan menjelaskan bahwa sebagian besar amarah manusia sesungguhnya lahir dari yang kedua.

Ibnu Atha'illah dalam Al-Hikam al-'Atha'iyyah mengingatkan bahwa akar dari banyak luka batin adalah ego yang haus pengakuan. Beliau mengajarkan sebuah hikmah yang menjadi obat bagi penyakit ini.

ادْفِنْ وُجُودَكَ فِي أَرْضِ الْخُمُولِ فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نِتَاجُهُ

"Kuburkanlah keberadaanmu di tanah ketidaktenaran, sebab sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam tidak akan sempurna buahnya."

Ibnu Atha'illah as-Sakandari, Al-Hikam al-'Atha'iyyah

Selama kebutuhan untuk diakui masih besar dalam hati seseorang, penghinaan sekecil apa pun akan terasa seperti ancaman yang mengguncang seluruh keberadaannya. Sebaliknya, ketika seorang hamba belajar rela tidak selalu dianggap penting, hatinya menjadi lebih tenang, karena harga dirinya tidak lagi digantungkan pada pandangan manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan hal ini dalam Al-Qur'an.

وَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

"Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Allah lebih mengetahui siapa yang bertakwa."

Al-Qur'an, Surah An-Najm (53): 32

Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa manusia dilarang memuji dan menyucikan dirinya sendiri, karena hanya Allah yang mengetahui hakikat ketakwaan seorang hamba. Inilah pendidikan tauhid terhadap ego, bahwa nilai seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh pengakuan manusia, melainkan oleh ketakwaan yang tersembunyi di dalam hati.

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa penyimpangan manusia dapat bersumber dari syubhat, yaitu kesalahan dalam memahami kebenaran, maupun syahwat, yaitu dorongan hawa nafsu terhadap kekuasaan, kemenangan, harga diri, dan dominasi. Karena itu, perubahan keyakinan saja belum tentu menyelesaikan persoalan apabila dorongan hawa nafsu yang melatarbelakangi perilaku belum ikut ditundukkan. Seseorang bisa saja telah meninggalkan suatu ideologi, namun syahwat terhadap kedudukan dan pengakuan belum tentu ikut hilang, sehingga yang berubah hanyalah sasarannya, sementara struktur jiwanya tetap sama. Karena itu, ukuran kebenaran sejati bukan terletak pada kelompok mana seseorang berpihak, melainkan pada sejauh mana ia mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah dengan keikhlasan, bukan dorongan hawa nafsu.

Sa'id Hawwa dalam Tarbiyatuna ar-Ruhiyyah mengingatkan bahwa pembinaan yang hanya menyentuh pengetahuan dan organisasi, tanpa disertai tarbiyah ruhiyah, akan menghasilkan orang-orang yang cerdas dan disiplin namun mudah marah, mudah merasa paling benar, dan rapuh ketika menghadapi konflik. Beliau menegaskan bahwa penyakit yang paling berbahaya bukanlah kurangnya ilmu, melainkan ujub, riya, cinta kedudukan, dan amarah yang tidak terkendali.

Semangat tazkiyatun nafs ini juga sejalan dengan maqashid syariah, khususnya hifzh an-nafs, penjagaan jiwa. Sebab pengendalian amarah dan hawa nafsu membantu mencegah tindakan yang dapat membahayakan jiwa, baik jiwa diri sendiri maupun jiwa orang lain, sekaligus menjaga keamanan masyarakat dan kepercayaan publik sebagai maslahat bersama.

Jalan Tazkiyatun Nafs

Para ulama tazkiyatun nafs mengajarkan sebuah tahapan yang saling menyempurnakan. Muhasabah membantu seseorang mengenali penyakit hatinya. Muraqabah menumbuhkan kesadaran bahwa dirinya senantiasa diawasi Allah. Mujahadah adalah kesungguhan melawan hawa nafsu secara terus-menerus. Istiqamah menjaga agar perjuangan itu tidak berhenti di tengah jalan. Namun pada akhirnya, yang menyempurnakan semua tahapan ini bukanlah usaha manusia semata, melainkan taufik dari Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berjanji bagi siapa yang bersungguh-sungguh menempuh jalan ini.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

"Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."

Al-Qur'an, Surah Al-'Ankabut (29): 69

Mujahadah bukan sekadar niat, melainkan latihan yang perlu dijalani secara konkret dan bertahap. Beberapa langkah praktis yang dapat dibiasakan antara lain melakukan muhasabah harian sebelum tidur untuk meninjau kembali gerak hati sepanjang hari, mengenali secara jujur pemicu-pemicu amarah pribadi agar tidak terkejut ketika pemicu itu muncul, memperbanyak dzikir dan istighfar ketika emosi mulai naik sebagai jeda antara stimulus dan reaksi, mencari sahabat yang berani menegur dengan tulus tanpa menghakimi, serta membiasakan diri menerima penghinaan-penghinaan kecil tanpa membalas sebagai latihan bertahap menuju kelapangan hati yang lebih besar.

Tazkiyatun nafs pada akhirnya melahirkan tawadhu'. Orang yang tawadhu' tidak merasa hina ketika tidak dipuji dan tidak merasa runtuh ketika diremehkan, sebab ia mengetahui bahwa kemuliaan sejati bukan berada pada pandangan manusia, melainkan pada penilaian Allah. Karena itu, semakin bersih hati seseorang, semakin sedikit ia membutuhkan pengakuan manusia untuk merasa berarti.

Perubahan pemikiran memang bisa terjadi dalam hitungan bulan, namun nafs yang terbiasa membela harga diri memerlukan mujahadah bertahun-tahun untuk benar-benar tunduk. Rehabilitasi yang sejati, sebagaimana hijrah yang sejati bagi siapa pun, bukan hanya membangun cara pandang baru, melainkan membersihkan hati dari kesombongan, cinta kedudukan, dan amarah yang tidak terkendali.

Perjalanan seorang mukmin sesungguhnya adalah perjalanan memindahkan nafs dari nafs al-ammarah menuju nafs al-muthmainnah, jiwa yang tenang. Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan puncak perjalanan itu dengan sangat indah.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai."

Al-Qur'an, Surah Al-Fajr (89): 27-28

Perubahan pemikiran adalah awal perjalanan, sedangkan ketenangan jiwa adalah buah dari tazkiyatun nafs yang terus-menerus.

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

"Ya Allah, berilah jiwaku ketakwaannya dan sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya, Engkaulah pelindung dan pemiliknya."

HR. Muslim, no. 2722

Referensi

  1. Al-Qur'an, Surah Asy-Syams (91): 9-10, Tafsir Ibnu Katsir
  2. Al-Qur'an, Surah An-Najm (53): 32, Tafsir Jalalain
  3. Al-Qur'an, Surah Al-'Ankabut (29): 69
  4. Al-Qur'an, Surah Al-Fajr (89): 27-28
  5. Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab; Shahih Muslim, Kitab al-Birr wash-Shilah (Muttafaq 'alaih)
  6. Shahih Muslim, no. 2722
  7. Al-Muhasibi, Ar-Ri'ayah li Huquqillah (pembahasan tentang khawathir dan muhasabah)
  8. Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin (Kitab Riyadhah an-Nafs dan Tahdzib al-Akhlaq)
  9. Ibnu Atha'illah as-Sakandari, Al-Hikam al-'Atha'iyyah
  10. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin (pembahasan tentang mujahadah dan tazkiyatun nafs)
  11. Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatawa (pembahasan tentang syubhat dan syahwat)
  12. Sa'id Hawwa, Tarbiyatuna ar-Ruhiyyah

Artikel Populer

Growth Mindset dalam Perspektif Islam: Belajar dari Carol Dweck, Imam Al-Ghazali, dan Ibnu Qayyim

Mengapa Indonesia Memakai Pancasila, Bukan Piagam Madinah?

Framework Kepemimpinan Muslim (seri 7)

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...