Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Sama, Terbang ke Arah yang Serupa Ketika hati berhenti
Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Sama, Terbang ke Arah yang Serupa
Ketika hati berhenti membedakan mana yang berat dan mana yang ringan, dan mulai melihat semuanya sebagai jalan pulang
Oleh: Abdullah Madura
Ada satu kegelisahan yang mungkin pernah singgah di hati kita masing-masing, meski jarang diucapkan. Kegelisahan itu berbunyi begini: mengapa rasanya lebih mudah mengeluh saat susah, dan lebih mudah lupa saat senang? Dua keadaan yang seharusnya melahirkan dua respons yang mulia, sabar dan syukur, justru sering kita balik. Kita bersabar dengan setengah hati saat lapang, dan kita menuntut penjelasan dari Allah saat sempit. Barangkali di situlah letak penyakit zaman ini, sebuah dunia yang mengajarkan bahwa kebahagiaan harus datang instan, dan penderitaan harus segera dijelaskan sebabnya.
Rasulullah ﷺ, jauh sebelum istilah instant gratification lahir, sudah menyampaikan sebuah kalimat yang jika direnungkan pelan-pelan, mampu membongkar seluruh kegelisahan itu.
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki siapa pun kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapat kegembiraan, ia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar, maka itu pun kebaikan baginya." (HR. Muslim)
Bacalah hadits ini sekali lagi, pelan-pelan. Rasulullah ﷺ tidak sedang memberi motivasi ringan agar hidup terasa lebih enteng. Beliau sedang meruntuhkan cara pandang kita yang membelah dunia menjadi dua kotak kaku, baik dan buruk, untung dan rugi, senang dan susah. Bagi seorang mukmin, kotak itu lenyap. Yang tersisa hanyalah dua pintu menuju kebaikan yang sama: sabar dan syukur.
Al-Qur'an beberapa kali menyandingkan sabar dan syukur dalam satu rangkaian sifat yang dipuji Allah. Pengulangan ini menunjukkan betapa eratnya hubungan keduanya dalam kehidupan seorang mukmin, seolah satu tidak pernah benar-benar sempurna tanpa yang lain.
"Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang benar-benar sabar dan benar-benar bersyukur." (QS. Asy-Syura: 33, juga diulang maknanya dalam QS. Saba: 19 dan QS. Luqman: 31)
Ibnu Katsir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan shabbar syakur dalam ayat ini adalah hamba yang mampu mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah dalam seluruh keadaan hidupnya, baik ketika diuji maupun ketika diberi nikmat (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, penafsiran QS. Asy-Syura: 33). Dengan tafsir ini, ayat tersebut bukan sekadar memuji dua sifat, melainkan menunjuk pada satu kualitas hati yang sama: kepekaan untuk selalu belajar dari keadaan apa pun yang Allah datangkan.
Perhatikan pula pilihan katanya. Allah tidak berkata shabir, orang yang sabar biasa. Allah memilih shabbar, bentuk mubalaghah, sabar yang terus-menerus dan berulang kali. Begitu pula bukan syakir, tetapi syakur, syukur yang senantiasa diperbarui. Seolah Allah sedang berkata, hamba-Ku yang paling Kucintai bukanlah yang sabar sesekali dan bersyukur sesekali, melainkan yang menjadikan keduanya kebiasaan hati yang tidak pernah putus.
Dua ayat lain melengkapi janji ini dengan lebih hangat lagi.
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)
"Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal: 46)
Dan tidak berhenti di situ. Allah bahkan memberi jaminan yang jarang Dia berikan untuk amal lainnya, jaminan bahwa pahala sabar tidak akan pernah dihitung dengan takaran biasa.
"Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)
Sementara untuk syukur, Allah menyampaikannya dalam perintah yang sederhana namun dalam maknanya.
"Bersyukurlah kepada Allah." (QS. Luqman: 12)
Betapa indahnya. Syukur dijanjikan tambahan, sabar dijanjikan kebersamaan dengan Allah dan pahala tanpa batas. Dua janji yang sama-sama besar, untuk dua sikap yang ternyata satu akar.
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, sahabat yang dikenal dalamnya pemahamannya terhadap Al-Qur'an, pernah merangkum seluruh perkara iman hanya dalam satu kalimat pendek.
"Iman itu terbagi dua: sebagian sabar, dan sebagian syukur."
Kalimat ini sederhana, namun jika direnungkan, ia menjadi peta yang memetakan seluruh perjalanan hidup seorang mukmin. Setiap detik kehidupan kita sesungguhnya hanya berputar di antara dua keadaan ini. Ada masa lapang yang menuntut syukur, ada masa sempit yang menuntut sabar, dan tidak ada keadaan ketiga di luar keduanya.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam pembahasannya tentang sabar dan syukur menjelaskan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak pernah lepas dari dua keadaan: menerima nikmat yang menuntut syukur, dan menghadapi ujian yang menuntut sabar (Ibnu Qayyim, Madarij as-Salikin, pembahasan tentang sabar dan syukur). Keduanya, dalam pandangan beliau, ibarat dua sayap yang bersama-sama mengangkat seorang hamba menuju Allah, bukan satu sayap yang bisa dipakai sendirian. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menambahkan bahwa Allah menamai diri-Nya Asy-Syakur, Yang Maha Mensyukuri hamba-hamba-Nya yang taat, sementara sifat hilm dan kesabaran-Nya terhadap kesalahan makhluk banyak disebut dalam nash-nash yang lain (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, kitab pembahasan tentang syukur dan sabar). Betapa mulianya kedudukan dua sikap ini, hingga salah satunya menjadi bagian dari nama-nama Allah yang indah, dan yang lain terpancar dari sifat-sifat-Nya yang penuh kasih.
Di bumi Nusantara, kita memiliki teladan yang begitu dekat dan begitu menyentuh. Buya Hamka menulis mahakaryanya, Tafsir Al-Azhar, bukan di ruang kerja yang tenang, melainkan dari balik jeruji penjara pada masa yang getir dalam sejarah bangsa ini. Penjelasan yang beliau tuliskan tentang sabar dan syukur bukan lahir dari teori di atas kertas, melainkan dari pengalaman seorang ulama yang sedang menjalani ujian panjang, sunyi, dan jauh dari kebebasan. Ketika menafsirkan ayat, "Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat" (QS. Al-Baqarah: 153), Buya Hamka menulis bahwa sabar adalah benteng, dan dengan shalat jiwa senantiasa dekat kepada Allah, sehingga hati menjadi jernih dan jiwa menjadi besar. Beliau juga menjelaskan bahwa syukur menjadikan suasana hati lebih bahagia, sementara mengingkari nikmat justru mendatangkan kekurangan, ketakutan, dan kecemasan (Hamka, Tafsir Al-Azhar, penafsiran QS. Al-Baqarah: 153 dan QS. Ibrahim: 7). Bayangkan, seorang ulama dipenjara oleh negerinya sendiri, namun dari balik penjara itu justru lahir cahaya yang menerangi jutaan hati umat hingga hari ini. Itulah wajah nyata dari paradoks yang kita bicarakan, bukan menunggu keadaan membaik untuk bersyukur, melainkan menemukan syukur di tengah sabar itu sendiri.
Ada sebuah riwayat yang begitu menggetarkan tentang seorang wanita yang menderita penyakit ayan. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu pernah menunjuk seorang wanita kepada muridnya, Atha', dan berkata bahwa wanita itu adalah penghuni surga. Wanita tersebut pernah mengadu kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia sering kehilangan kesadaran hingga auratnya tersingkap, lalu memohon agar Nabi mendoakannya. Rasulullah ﷺ memberinya dua pilihan, bersabar dan baginya surga, atau beliau mendoakan kesembuhan. Wanita itu menjawab dengan tenang, "Aku bersabar," tetapi ia tetap meminta agar Nabi mendoakan supaya auratnya tidak tersingkap (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa sabar tidak menafikan ikhtiar. Seorang mukmin boleh mengharap kesembuhan dan tetap berusaha menjaga kehormatan dirinya, tanpa kehilangan keridhaan terhadap takdir Allah.
Sabar dan syukur, jika direnungkan lebih dalam, sesungguhnya bukan dua keadaan yang terpisah, melainkan dua keadaan yang sering saling menumbuhkan. Sering kali, orang yang bersabar mulai menyadari nikmat-nikmat lain yang masih Allah karuniakan, sehingga kesabarannya perlahan melahirkan rasa syukur. Sebaliknya, syukur membantu seseorang untuk bersabar, dengan menahan diri dari kerakusan dan rasa yang tidak pernah puas. Tanpa sabar, syukur akan mudah berubah menjadi pamer. Tanpa syukur, sabar akan mudah berubah menjadi keluh kesah yang berkepanjangan. Keduanya saling menjaga, seperti dua sisi mata uang yang tidak pernah bisa dipisahkan satu dari yang lain.
Kegelisahan zaman ini, dengan segala tekanannya yang datang begitu cepat lewat layar dan notifikasi, sesungguhnya adalah panggilan bagi hati untuk kembali pada dua sayap ini. Bukan mencari ketenangan yang instan, sebab ketenangan sejati tidak pernah datang secara instan. Ketenangan lahir dari hati yang telah berdamai dengan dua keadaan hidup, lapang dan sempit, dengan cara yang sama, yaitu kembali kepada Allah. Seperti burung yang tidak mungkin terbang dengan satu sayap, seorang hamba tidak akan pernah sampai kepada ketenangan sejati jika hanya mengandalkan syukur di saat senang tanpa belajar sabar di saat susah, atau sebaliknya.
Namun barangkali, sabar dan syukur sendiri bukanlah tujuan akhir dari perjalanan ini. Keduanya perlahan mengantarkan seorang hamba menuju satu maqam yang lebih tinggi, yaitu ridha, menerima seluruh ketentuan Allah dengan hati yang tenteram, tanpa lagi mempersoalkan mengapa dan bagaimana. Sabar yang terus dipupuk dan syukur yang terus disegarkan, pada akhirnya akan bermuara pada satu titik yang sama: hati yang berhenti melawan takdir, dan mulai berjalan bersamanya dengan penuh cinta.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu merangkul dua sayap ini sekaligus, sabar yang mengakar dalam setiap ujian, dan syukur yang mekar dalam setiap nikmat, hingga pada akhirnya kita sampai kepada ridha yang menenangkan. Allahumma inna nas'aluka syukra ni'matika wa husna 'ibadatik. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kesyukuran atas nikmat-Mu dan kebaikan dalam beribadah kepada-Mu.
Referensi
- HR. Muslim, hadits tentang keajaiban urusan seorang mukmin
- QS. Asy-Syura: 33; QS. Saba: 19; QS. Luqman: 31
- Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim (penafsiran QS. Asy-Syura: 33)
- QS. Ibrahim: 7
- QS. Al-Anfal: 46
- QS. Az-Zumar: 10
- QS. Luqman: 12
- QS. Al-Baqarah: 153
- Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin (pembahasan tentang sabar dan syukur)
- Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin (kitab pembahasan tentang syukur dan sabar)
- Hamka, Tafsir Al-Azhar (penafsiran QS. Al-Baqarah: 153 dan QS. Ibrahim: 7)
- HR. Bukhari dan Muslim, riwayat wanita penghuni surga yang menderita ayan
