Seduluran Sak Lawase: Ketika Jalan Kita Tak Lagi Sama

Seduluran Sak Lawase: Ketika Jalan Kita Tak Lagi Sama

Tentang persaudaraan yang diuji bukan oleh perselisihan, melainkan oleh perbedaan jalan

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Ada dua orang yang pernah membangun sesuatu bersama.

Bertahun-tahun mereka duduk di meja yang sama, menghadapi kesulitan yang sama, dan memperjuangkan sesuatu yang mereka yakini bersama.

Waktu kemudian membawa keduanya melewati pengalaman dan pergulatan yang berbeda. Salah satunya sampai pada sejumlah pandangan baru setelah perjalanan panjang membaca, bertemu banyak orang, dan mengevaluasi ulang sebagian keyakinan yang dahulu dianggap selesai. Yang lain tetap meyakini bahwa jalan yang selama ini ditempuhnya masih layak dipertahankan.

Mereka tidak harus bertengkar atau saling mencaci. Hanya saja, percakapan semakin sedikit. Pertemuan semakin jarang. Jarak perlahan tumbuh.

Sampai suatu hari, ketika perjalanan panjang itu diceritakan kembali, nama salah seorang dari mereka tidak lagi disebut.

Seolah-olah ia tidak pernah ada.

Kisah seperti ini tidak hanya terjadi pada dua orang. Ia berulang dalam banyak persahabatan, organisasi, majelis, bahkan persaudaraan yang pernah tumbuh dari cita-cita yang sama. Barangkali bukan mereka berdua yang sedang dibicarakan di sini, melainkan kita semua, pada suatu masa dalam hidup kita.

Di Jawa kita mengenal ungkapan:

Seduluran sak lawase.

Bersaudara selamanya.

Barangkali persaudaraan justru tidak benar-benar diuji ketika dua orang masih mempunyai pandangan yang sama.

Ia diuji ketika jalan mulai berbeda.


Ketika Perubahan Menguji Hati

Manusia berubah. Pengalaman, bacaan, perjumpaan, dan perjalanan hidup dapat mengubah cara seseorang memahami dunia. Tetapi perubahan tidak otomatis berarti kebenaran, sebagaimana bertahan pada pandangan lama tidak otomatis berarti keteguhan.

Karena itu, keduanya sama-sama membutuhkan muhasabah.

Orang yang berubah perlu bertanya:

Apakah aku berubah karena semakin memahami kebenaran, atau karena ingin dianggap lebih terbuka? Apakah bertambahnya pengetahuan membuatku semakin rendah hati, atau justru merasa lebih tercerahkan daripada sahabat-sahabat lamaku?

Sementara orang yang bertahan juga perlu bertanya:

Apakah aku benar-benar sedang menjaga prinsip, atau takut memeriksa kembali sesuatu yang telah lama menjadi identitasku? Mengapa perubahan sahabatku terasa seperti pengkhianatan terhadap diriku?

Dalam Ar-Ri'ayah li Huquqillah, al-Harits al-Muhasibi memberi perhatian besar pada pemeriksaan niat, riya, dan tipu daya hawa nafsu. Tradisi muhasabah semacam ini mengajari kita satu keberanian penting: sebelum terlalu jauh mencurigai motif orang lain, periksalah lebih dahulu motif yang bekerja di dalam diri sendiri.

Bisa jadi pandangan kita memang semakin luas. Tetapi jangan sampai luasnya pengetahuan justru membuat dada semakin sempit terhadap manusia.


Berlaku Adil kepada Ingatan

Imam Abu Hamid al-Ghazali menulis dalam Ihya' Ulumuddin:

الأُلفَةُ ثَمَرَةُ حُسنِ الخُلُقِ، وَالتَّفَرُّقُ ثَمَرَةُ سُوءِ الخُلُقِ

"Keharmonisan adalah buah dari akhlak yang baik, sedangkan perpecahan adalah buah dari akhlak yang buruk."

Selama seseorang sepakat dengan kita, mudah memanggilnya saudara. Ujiannya datang ketika suatu hari ia berkata, "Dalam perkara ini, saya tidak lagi sependapat denganmu."

Kita boleh berbeda dengan pemikirannya tanpa harus membenci orangnya. Yang sering terjadi justru sebaliknya: karena satu perbedaan hari ini, seluruh masa lalu ikut dinilai ulang. Kebaikannya mengecil, kesalahannya membesar, namanya perlahan hilang dari cerita.

Padahal Allah mengingatkan:

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

"Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8)

Ada bentuk keadilan yang jarang kita bicarakan: berlaku adil kepada ingatan.

Hari ini mungkin kita tidak lagi cocok bekerja bersama. Pemikiran kita mungkin telah berjarak jauh. Tetapi dahulu ia pernah datang ketika orang lain pergi, ikut memikul sesuatu yang terlalu berat jika dikerjakan sendirian. Perbedaan hari ini tidak dapat menghapus fakta kemarin.

Hati yang bersih mampu berkata: "Hari ini kami berbeda. Tetapi saya tidak akan mengingkari kebaikannya."


Aku Mencintaimu karena Allah

Ada ungkapan indah yang diajarkan Rasulullah ﷺ dalam persaudaraan. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, seorang sahabat berkata kepada saudaranya:

إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ

"Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah."

Lalu saudaranya menjawab:

أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ

"Semoga Allah, yang karena-Nya engkau mencintaiku, juga mencintaimu." (HR. Abu Dawud, no. 5125, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

Kalimat itu mudah diucapkan ketika kita sedang dekat. Tetapi waktu akan mengujinya.

Jika dahulu kita mencintainya karena Allah, apakah perbedaan pandangan hari ini harus mengubah cinta menjadi kebencian? Dalam pembahasannya tentang mahabbah, Ibn al-Qayyim berulang kali mengarahkan cinta seorang hamba agar berporos kepada Allah. Dari sini kita dapat memahami bahwa cinta karena Allah tidak semestinya berdiri hanya di atas kepentingan, kesamaan pendapat, atau kedekatan lahiriah.

Persaudaraan karena Allah tidak berarti kita harus selalu berada dalam organisasi, kelompok, atau pandangan yang sama. Kadang jalan memang harus berpisah. Tetapi hati tidak harus ikut bermusuhan.


Doa yang Tak Pernah Diketahuinya

Ada satu bentuk persaudaraan yang bahkan tidak membutuhkan pertemuan. Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لَأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

"Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang dikabulkan. Di sisi kepalanya ada malaikat yang ditugaskan; setiap kali ia mendoakan kebaikan bagi saudaranya, malaikat itu berkata: 'Amin, dan untukmu juga seperti itu.'" (HR. Muslim, no. 2733, dari Abu Darda')

Barangkali kita sudah jarang bertemu dengannya. Percakapan tidak lagi seperti dahulu. Jalan telah berbeda dan sebagian luka mungkin belum sepenuhnya sembuh.

Tetapi ketika malam sunyi, namanya masih dapat disebut dalam doa.

Ia tidak mengetahuinya. Tidak ada orang yang melihatnya.

Dan justru karena itulah doa itu menjadi salah satu bentuk persaudaraan yang paling jujur.

Al-Qur'an mengajarkan:

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman." (QS. Al-Hasyr: 10)

Mungkin kita tidak mampu menyamakan kembali jalan. Tetapi kita masih dapat meminta kepada Allah agar perbedaan itu tidak berubah menjadi ghill di dalam hati.


Seduluran Sak Lawase

Tidak semua saudara harus berjalan bersama sampai akhir. Ada yang menemani satu musim kehidupan. Ada yang berjalan puluhan tahun. Ada pula yang akhirnya mengambil persimpangan berbeda.

Namun ada sesuatu yang lebih panjang daripada perjalanan dunia. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa kelak orang-orang beriman akan meminta kepada Allah agar saudara-saudara mereka yang dahulu beribadah bersama namun terjerumus dalam dosa, dikeluarkan dari neraka:

رَبَّنَا إِخْوَانُنَا كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَنَا وَيَصُومُونَ مَعَنَا وَيَعْمَلُونَ مَعَنَا فَأَدْخَلْتَهُمُ النَّارَ

"Ya Tuhan kami, saudara-saudara kami dahulu salat bersama kami, berpuasa bersama kami, dan beramal bersama kami, tetapi Engkau memasukkan mereka ke neraka." (HR. Bukhari no. 7439 dan Muslim no. 183, dari Abu Sa'id Al-Khudri)

Hadis ini memperlihatkan pemandangan yang menggetarkan: setelah selamat, orang-orang beriman masih mengingat saudara mereka yang dahulu salat, berpuasa, dan beramal bersama. Persaudaraan yang pernah tumbuh dalam iman tidak begitu saja hilang dari ingatan bahkan ketika perjalanan dunia telah selesai.

Maka seduluran sak lawase barangkali tidak berarti kita harus selalu duduk di meja yang sama atau mempertahankan pandangan yang sama sampai tua. Maknanya bisa jauh lebih dalam.

Dahulu kita pernah berjalan menuju Allah bersama. Hari ini mungkin jalan kita berbeda. Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita berhenti berharap agar kelak bertemu kembali di tempat yang sama di sisi-Nya.

Sebab mungkin ukuran persaudaraan bukanlah apakah kita selalu berjalan berdampingan di dunia. Melainkan apakah ketika jalan telah berbeda, kita masih mampu menyebut namanya dalam doa.

Seduluran sak lawase.

Bukan karena jalan kita akan selalu sama.

Tetapi karena kita masih berharap: semoga akhirnya sama-sama sampai kepada-Nya.

Wallahu a'lam.


Referensi

  1. QS. Al-Ma'idah: 8
  2. QS. Al-Hasyr: 10
  3. HR. Abu Dawud, no. 5125 (dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani); diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan An-Nasa'i
  4. HR. Muslim, no. 2733, dari Abu Darda'
  5. HR. Bukhari, no. 7439 dan Muslim, no. 183, dari Abu Sa'id Al-Khudri
  6. Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, kitab Adab al-Ulfah wa al-Ukhuwwah
  7. Al-Harits al-Muhasibi, Ar-Ri'ayah li Huquqillah
  8. Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Madarij al-Salikin

Artikel Populer

Setelah Tak Lagi Menjadi Musuh

Hati yang Hidup dan Hati yang Mati

10 Hari yang Menguji Kejujuran Hati

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...