Malam Terakhir Para Kekasih Allah

Malam Terakhir Para Kekasih Allah

Ketika Ilmu Berubah Menjadi Kesiapan Menghadap Allah

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Ada satu pertanyaan yang jarang berani kita ajukan kepada diri sendiri: seandainya malam ini adalah malam terakhir, dengan hati seperti apa kita akan menghadap Allah?

Pertanyaan ini bukan lahir dari ketakutan yang melumpuhkan, melainkan dari satu kesadaran yang ingin kita jadikan poros seluruh tulisan ini:

Malam terakhir seorang hamba sebenarnya tidak dimulai ketika ia terbaring di ranjang kematian. Ia dimulai jauh sebelumnya, ketika hatinya mulai belajar pulang kepada Allah.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (muslim)." (QS. Āli 'Imrān [3]: 102)

Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Jalalain, ayat ini berbicara tentang keadaan hati yang harus dijaga sepanjang hidup, bukan persiapan dadakan di penghujung usia. Mari kita telusuri jejak-jejak hati yang telah lama dijaga itu, dari beberapa hamba saleh yang perjalanannya sampai kepada kita.


Ketika Seorang Ulama Mendengar Panggilan

Imam Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah, yang dikenal sebagai Hujjatul Islam, menghabiskan hidupnya bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan besar tentang makrifatullah. Namun yang paling menggetarkan dari perjalanan beliau bukanlah karya-karya besar yang ditinggalkan, melainkan cara beliau menyambut kematian.

Pada pagi hari menjelang wafatnya, al-Ghazali berwudu, menunaikan salat, lalu meminta diambilkan kain kafan. Beliau mengambilnya, menciumnya, dan meletakkannya di atas kedua matanya seraya berkata:

سَمْعًا وَطَاعَةً لِلدُّخُولِ عَلَى الْمَلِكِ

Sam'an wa ṭā'atan lid-dukhūli 'alal-Malik.
"Aku mendengar dan aku taat untuk menghadap Sang Raja."

Setelah mengucapkan itu, beliau meluruskan kedua kakinya, menghadap kiblat, lalu wafat. Kisah ini merupakan riwayat biografis tentang wafat beliau, bukan hadis Nabi ﷺ.¹


Satu Kata di Ambang Kematian

Masih dari riwayat yang sama, ketika orang-orang di sekitar al-Ghazali meminta wasiat menjelang wafat beliau, jawaban yang keluar bukan nasihat panjang, melainkan satu kalimat pendek yang terus beliau ulang:

عَلَيْكَ بِالْإِخْلَاصِ

'Alaikal-ikhlāṣ.
"Hendaklah engkau berpegang teguh pada keikhlasan."

Seorang yang menulis Ihya' Ulumiddin, yang ilmunya dipelajari lintas generasi, di ujung hidupnya tidak mewariskan kebanggaan atas pencapaian, melainkan kegelisahan paling mendasar bagi setiap penuntut ilmu: apakah amal ini murni karena Allah? Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa ikhlas adalah ruh dari setiap amal, dan amal tanpa ruh hanyalah jasad yang tidak bernilai di sisi Allah.


Orang yang Dijamin Surga, Tetapi Masih Menangis

Untuk memahami dari mana ketenangan seperti al-Ghazali itu berasal, kita perlu mundur ke generasi terbaik. Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, salah seorang yang dijamin surga, dikenal memiliki kebiasaan yang mengejutkan: setiap kali berdiri di sisi kuburan, beliau menangis hingga janggutnya basah.

Ketika ditanya mengapa beliau menangis di kuburan, padahal ketika disebutkan surga dan neraka beliau tidak menangis seperti itu, Utsman menjawab bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:²

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

Innal-qabra awwalu manāzili al-ākhirah, fa in najā minhu famā ba'dahu aysaru minhu, wa in lam yanju minhu famā ba'dahu asyaddu minhu.
"Sesungguhnya kubur adalah persinggahan pertama dari negeri akhirat. Jika seseorang selamat darinya, tahapan setelahnya akan lebih mudah. Namun jika tidak selamat, tahapan setelahnya akan jauh lebih berat."

Seorang sahabat mulia yang telah dijamin surga pun tetap gentar membayangkan persinggahan pertama menuju akhirat. Ini menjadi peringatan bagi kita yang bahkan belum tahu bagaimana akhir hidup kita, agar tidak pernah merasa cukup dan aman dengan amal yang ada.


Tangis yang Terdengar dari Saf Terakhir

Fragmen lain datang dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu. Abdullah bin Syaddad menceritakan bahwa ia mendengar isak tangis tertahan Umar dari saf paling belakang, ketika beliau mengimami salat Subuh dan membaca sebuah ayat:³

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

Innamā asykū baṡṡī wa ḥuznī ilallāh.
"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku." (QS. Yūsuf [12]: 86)

Ini bukan kisah tentang detik-detik kematian, tetapi justru memperlihatkan keadaan hati seorang hamba saleh jauh-jauh hari sebelum ajal menjemput. Umar, seorang khalifah yang memikul beban umat yang besar, tetap menyisakan waktu di mana hatinya begitu lembut ketika bermunajat dalam salatnya, hingga getar suaranya terdengar sampai ke saf paling belakang.


Ketika Al-Qur'an Mengalahkan Suara

Ketika Rasulullah ﷺ dalam sakit menjelang wafat memerintahkan agar Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu menjadi imam salat, Aisyah radhiyallahu 'anha mengingatkan bahwa ayahnya adalah orang yang sangat lembut hatinya (rajulun asīf), dan apabila berdiri menggantikan Nabi ﷺ, tangisnya akan membuat bacaannya sulit didengar oleh makmum. Namun Rasulullah ﷺ tetap memerintahkan Abu Bakar untuk maju.⁴

Abu Bakar tidak kehilangan kedudukannya sebagai sahabat utama Nabi ﷺ ketika tangis membuat bacaannya sulit terdengar. Justru kelembutan itulah yang memperlihatkan bahwa kedekatan kepada wahyu tidak selalu melahirkan banyak kata; terkadang ia melahirkan air mata.


Malam Terakhir Manusia Paling Mulia

Jika seluruh kisah di atas adalah cahaya yang memantul, inilah sumber cahayanya. Rasulullah ﷺ menghabiskan hari-hari terakhirnya dengan perhatian yang sangat besar terhadap umat dan perkara-perkara yang beliau wasiatkan kepada mereka.

Di tengah sakit yang kian berat, beliau berulang kali mengucapkan wasiat yang sama, hingga suara di dada beliau mulai tersengal dan lisannya nyaris tak sanggup lagi mengeluarkan kalimat itu:⁵

الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ، الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Aṣ-ṣalāh wa mā malakat aimānukum, aṣ-ṣalāh wa mā malakat aimānukum.
"Jagalah salat dan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kalian! Jagalah salat dan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kalian!"

Di saat rasa sakit sedemikian berat, yang beliau khawatirkan bukan dirinya, melainkan salat umatnya dan hak-hak orang lemah yang mungkin terzalimi.

Aisyah radhiyallahu 'anha, yang mendampingi saat-saat itu, menceritakan bahwa ada siwak di tangan Abdurrahman bin Abu Bakar, dan Rasulullah ﷺ memandangnya. Aisyah memahami isyarat itu, mengambil siwak tersebut, mengunyahnya sebentar untuk melembutkannya, lalu menyerahkannya kepada Rasulullah ﷺ, yang kemudian bersiwak dengan sisa tenaga yang ada. Aisyah juga menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ wafat di antara dada dan dagunya, bersandar kepadanya di saat-saat terakhir.⁶


Ar-Rafiq al-A'la

Yang paling menggetarkan dari seluruh riwayat tentang wafatnya Rasulullah ﷺ adalah kalimat yang beliau ucapkan menjelang ajal. Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda ketika masih sehat, bahwa tidaklah seorang nabi wafat kecuali diperlihatkan dahulu tempatnya di surga, kemudian ia diberi pilihan. Ketika ajal benar-benar mendekat, dengan kepala beliau di pangkuan Aisyah, beliau sempat pingsan sesaat. Lalu beliau sadar, mengangkat pandangannya ke langit-langit, dan berucap:⁷

اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى

Allāhummar-Rafīqal-A'lā.
"Ya Allah, (aku memilih) Ar-Rafiq al-A'la (kekasih yang tertinggi di sisi Allah)."

Aisyah berkata dalam hatinya, "Kalau begitu, beliau tidak memilih kami," dan ia pun menyadari bahwa inilah hadis yang dahulu sering disampaikan Rasulullah ﷺ kepadanya. Itulah di antara ucapan terakhir yang diriwayatkan dari beliau ﷺ. Riwayat ini memperlihatkan tingginya kerinduan Rasulullah ﷺ kepada apa yang telah Allah siapkan di sisi-Nya, sekaligus menunjukkan bahwa beliau memilih ar-Rafiq al-A'la ketika diberi pilihan. Sebagian ulama mengaitkan makna "ar-Rafiq al-A'la" dengan firman Allah dalam Surah An-Nisa tentang kedudukan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh sebagai sebaik-baik teman di sisi Allah.


Apa yang Sebenarnya Mereka Takuti?

Dari seluruh fragmen ini, ada satu benang merah yang tidak boleh terlewat. Yang mereka takuti bukanlah kematian itu sendiri sebagai peristiwa biologis, melainkan su'ul khatimah, hak-hak manusia yang belum tertunaikan, dan kekhawatiran menghadap Allah dalam keadaan belum siap.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij as-Salikin, pada pembahasannya tentang khauf dan raja', menjelaskan bahwa rasa takut orang-orang saleh kepada Allah justru sejalan dengan kedekatan mereka kepada-Nya. Semakin dekat seorang hamba dengan Allah, semakin ia menyadari betapa besar hak Allah yang mungkin belum ia tunaikan. Rasa takut semacam ini bukan yang melumpuhkan, melainkan yang mendorong amal semakin bertambah dan muhasabah semakin sering dilakukan.


Malam Terakhir Kita

Sekarang giliran kita bertanya kepada diri sendiri. Jika malam ini adalah malam terakhir, apa yang masih ingin kita selesaikan dengan Allah? Permintaan maaf yang belum terucap, hak orang lain yang belum ditunaikan, salat yang masih ditunda-tunda, atau hati yang masih dipenuhi iri dan dengki kepada saudara sendiri?

Keindahan malam terakhir bukan ditentukan oleh kalimat terakhir yang terucap di ambang kematian, melainkan oleh seluruh malam-malam sebelumnya yang telah dijalani dengan kesungguhan mendekat kepada-Nya. Mari jadikan hari ini bukan sekadar hari yang berlalu, tetapi malam yang kita persiapkan seandainya ia adalah malam terakhir. Perbanyak istighfar atas kelalaian yang mungkin tidak kita sadari, tunaikan hak-hak yang tertunda, dan mohonlah kepada Allah keteguhan hati:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī 'alā dīnik.
"Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."⁸

Semoga Allah menjadikan setiap malam kita sebagai persiapan yang sungguh-sungguh untuk menghadap-Nya.

Jangan menunggu malam terakhir untuk mulai pulang.


Catatan Sumber

Tulisan ini menggunakan tiga jenis bahan riwayat: hadis Nabi ﷺ, atsar sahabat, dan hikayat biografis ulama. Ketiganya tidak diperlakukan dengan tingkat otoritas yang sama. Hadis diberi penilaian sesuai sumber dan status yang digunakan, sedangkan hikayat biografis disebut sebagai hikayat dan tidak diposisikan sebagai hadis.

  1. Riwayat wafat Imam al-Ghazali dinukil oleh Ibnu al-Jauzi dalam Ats-Tsabat 'Indal Mamat, melalui Ahmad bin Muhammad al-Ghazali. Status: hikayat biografis, bukan hadis marfu'.
  2. Tangisan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu: HR. Ibnu Majah No. 4267 dan at-Tirmidzi No. 2308, dari Hani' maula Utsman. Status: hasan gharib.
  3. Tangisan Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu: diriwayatkan dari Abdullah bin Syaddad. Imam al-Bukhari menyebutkannya secara mu'allaq dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adzan, sementara jalur bersambungnya terdapat dalam sumber-sumber atsar seperti Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dan Tafsir ath-Thabari. Status: shahih.
  4. Kelembutan hati Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu: HR. al-Bukhari No. 713 (Kitab al-Adzan) dan HR. Muslim No. 418 (Kitab ash-Shalah), dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Status: shahih (muttafaq 'alaih).
  5. Wasiat "Ash-shalah wa mā malakat aimānukum": Musnad Ahmad No. 12169 (dari Anas bin Malik) dan Sunan Ibnu Majah No. 2697 (dari Ummu Salamah), dua jalur yang saling menguatkan. Status: shahih li-ghairihi.
  6. Kisah siwak dan wafat Rasulullah ﷺ: HR. al-Bukhari, dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Status: shahih.
  7. Ucapan "Allahummar-Rafiqal-A'la": HR. al-Bukhari No. 6509, Kitab ar-Riqaq, bab "Man Ahabba Liqa'allah Ahabballahu Liqa'ah", dari Aisyah radhiyallahu 'anha melalui az-Zuhri, dari Sa'id bin al-Musayyab dan Urwah bin az-Zubair. Status: shahih.
  8. Doa "Yā Muqallibal-qulūb": HR. at-Tirmidzi No. 2140, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Status: hasan.

Referensi

  1. Al-Qur'an al-Karim, QS. Āli 'Imrān [3]: 102 dan QS. Yūsuf [12]: 86, beserta penjelasan dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Jalalain.
  2. Ibnu al-Jauzi, Ats-Tsabat 'Indal Mamat.
  3. Shahih al-Bukhari, No. 713 & 6509.
  4. Shahih Muslim, No. 418.
  5. Musnad Ahmad, No. 12169.
  6. Sunan Ibnu Majah, No. 2697 & 4267.
  7. Sunan at-Tirmidzi, No. 2308 & 2140.
  8. Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari.
  9. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin (pembahasan tentang khauf, raja', dan ikhlas).
  10. Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin (pembahasan tentang muraqabah dan muhasabah an-nafs).

Artikel Populer

Hati yang Hidup dan Hati yang Mati

Investasi Emas Digital: Menelaah Qabdh sebagai Inti Persoalan Fikih

Ketika Ilmu Tinggi Tidak Membuat Hati Tinggi

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...