Ketika Siwak Masuk ke Dalam Pasta Gigi
Ketika Siwak Masuk ke Dalam Pasta Gigi
Tentang menggosok gigi, sunnah Rasulullah ﷺ, dan kebiasaan kecil yang tetap harus diperjuangkan di setiap zaman
✒️ Tsaqif Rasyid Dai
Ada satu keadaan yang hanya terasa ketika kita duduk cukup dekat dengan seseorang.
Dalam sebuah majelis kecil, guru menerangkan ilmu, murid menyimak hampir tanpa jarak. Kata-kata yang baik berpindah dari satu orang kepada yang lain. Tetapi pada jarak sedekat itu, terkadang ada sesuatu yang ikut sampai bersama kata-kata: napas yang kurang nyaman.
Kita mungkin pernah merasakannya dari orang lain. Tetapi justru di situlah persoalannya: bau mulut orang lain mudah kita kenali, sementara bau mulut sendiri hampir selalu luput dari kita.
Bisa jadi, pada kesempatan lain, kitalah yang berada di posisi sebaliknya—berbicara dengan nyaman, sementara orang di hadapan kita diam-diam merasa kurang nyaman.
Barangkali karena itulah membersihkan mulut bukan perkara yang sepenuhnya pribadi. Ada orang lain yang ikut merasakan akibat ketika kita menjaganya, atau ketika kita mengabaikannya.
Menariknya, perhatian terhadap perkara yang tampak sepele ini begitu dekat dengan keseharian Rasulullah ﷺ.
Empat belas abad lalu, ketika bangun di tengah malam, beliau meraih siwak dan membersihkan mulutnya sebelum berdiri menghadap Allah.
Hari ini alatnya telah berubah. Sikat gigi semakin nyaman, pasta gigi semakin beragam, bahkan nama siwak kembali hadir pada kemasannya.
Tetapi selepas makan malam, kita masih bisa kalah oleh satu kalimat sederhana:
“Besok pagi saja.”
Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan:
“Apabila Nabi ﷺ bangun pada malam hari, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dari sepotong kayu sederhana itu, ada cerita yang ternyata jauh lebih panjang daripada urusan membersihkan gigi.
Dari Kebersihan Menuju Keridaan
Islam tidak menempatkan kebersihan semata-mata sebagai urusan penampilan.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Ayat ini hadir dalam pembicaraan tentang haid dan bersuci, bukan tentang siwak secara khusus. Namun penutupnya memberi cakrawala yang lebih luas tentang kedudukan thaharah.
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim mengaitkan kecintaan Allah dalam ayat tersebut dengan taubat dari dosa dan bersuci dari kotoran serta gangguan. Al-Qurthubi dalam Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an juga menempatkannya dalam pembahasan thaharah dan kecintaan Allah kepada orang-orang yang membersihkan diri.
Pada siwak, makna itu terasa sangat dekat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan keridaan Rabb.”
(HR. al-Nasa’i)
Dua perkara bertemu dalam satu kalimat: mulut yang bersih dan keridaan Allah.
Sesuatu yang begitu sehari-hari ternyata dapat mempunyai arah ruhani. Membersihkan mulut bukan hanya persoalan bagaimana kita berhadapan dengan manusia, tetapi dapat menjadi bagian dari cara seorang hamba mempersiapkan diri menghadap Tuhannya.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap hendak shalat.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Di sini terlihat dua hal sekaligus: perhatian Rasulullah ﷺ terhadap kebersihan dan kasih sayang beliau kepada umatnya. Ada sunnah yang sangat beliau tekankan, tetapi tidak ingin beliau jadikan beban.
Sunnah yang Dibawa Pulang
Ada satu riwayat pendek yang menarik justru karena tidak terjadi di masjid.
Syuraih bin Hani pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Apa yang pertama kali dilakukan Nabi ﷺ ketika memasuki rumahnya?”
Aisyah menjawab:
“Dengan bersiwak.”
(HR. Muslim)
Beliau sedang pulang.
Tidak ada kerumunan sahabat. Tidak ada majelis yang menyaksikan. Tidak ada siapa pun yang perlu dibuat terkesan.
Namun kebiasaan itu tetap hidup.
Barangkali di situlah salah satu wajah sunnah yang paling indah: ia tidak hanya dikenakan ketika seseorang berada di ruang publik. Ia dibawa pulang, masuk ke rumah, hadir dalam rutinitas yang hampir tidak diperhatikan orang lain.
Sebab kebiasaan baik yang paling jujur sering kali justru terlihat ketika pintu rumah telah tertutup.
Siwak Terakhir
Dan kebiasaan itu menemani Rasulullah ﷺ hingga penghujung kehidupan.
Ketika beliau sakit menjelang wafat, Aisyah radhiyallahu ‘anha berada di sisi beliau. Abdurrahman bin Abu Bakar masuk dengan membawa siwak.
Rasulullah ﷺ memandangnya.
Aisyah memahami isyarat itu. Ia mengambil siwak tersebut, melembutkannya, kemudian memberikannya kepada beliau.
Rasulullah ﷺ pun bersiwak.
Aisyah mengingat bahwa beliau bersiwak dengan baik.
Tak lama kemudian Rasulullah ﷺ mengangkat pandangannya dan mengucapkan:
“Bersama ar-Rafiq al-A‘la.”
Kemudian beliau wafat.
(HR. al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, kisah sakit dan wafat Rasulullah ﷺ)
Tidak banyak yang perlu ditambahkan pada adegan itu.
Siwak yang hadir dalam keseharian beliau, ketika masuk rumah, ketika bangun malam, dan menjelang ibadah, muncul sekali lagi ketika perjalanan kehidupan sampai di ujungnya. Peristiwa ini menjadi salah satu fragmen yang begitu menyentuh dari malam-malam terakhir Rasulullah ﷺ.
Bukan kayunya yang membuat kisah itu menggetarkan.
Yang menyentuh adalah sebuah kebiasaan yang dijaga begitu lama hingga menua bersama pemiliknya.
Ketika Siwak Bertemu Zaman Modern
Berabad-abad kemudian, manusia menciptakan sikat gigi, pasta gigi, dan berbagai cara yang semakin baik untuk merawat kesehatan mulut.
Ilmu kedokteran modern pun meneliti siwak dan manfaatnya bagi kesehatan mulut. Sejumlah penelitian dan telaah sistematis terhadap Salvadora persica menunjukkan potensinya dalam membantu mengendalikan plak dan menjaga kesehatan gusi.
Temuan itu tidak perlu dibesar-besarkan menjadi “sains akhirnya membuktikan sunnah”. Sunnah Rasulullah ﷺ tidak menunggu laboratorium modern untuk memperoleh nilainya. Penelitian tersebut cukup dilihat sebagai pertemuan menarik antara kebiasaan yang telah berlangsung berabad-abad dengan pengetahuan kesehatan yang terus berkembang.
Kita pun tidak perlu mempertentangkan siwak dengan sikat gigi.
Yang lebih menarik justru manusia yang memegangnya.
Nama siwak tetap mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat Muslim. Ia bahkan kembali hadir pada kemasan pasta gigi modern.
Tetapi malam harinya, pasta gigi itu tetap berada di kamar mandi.
Sementara pemiliknya sudah berada di tempat tidur.
Di sinilah persoalan berpindah dari apa yang kita miliki kepada apa yang benar-benar kita lakukan.
Musuh Itu Bernama “Nanti”
Persoalan semacam ini tentu tidak hanya terjadi pada sikat gigi.
Kita hidup pada zaman ketika banyak kebaikan semakin mudah dijangkau. Al-Qur’an dapat dibuka dalam hitungan detik. Kitab-kitab tersimpan dalam satu perangkat. Waktu shalat diingatkan secara otomatis.
Sarana semakin dekat.
Namun sarana tidak dapat menempuh jarak terakhir antara mengetahui dan melakukan.
Sering kali jarak itu hanya dipisahkan oleh satu kata:
“Nanti.”
Nanti membaca. Nanti beristighfar. Nanti menggosok gigi sebelum tidur.
Lalu kita mulai memahami mengapa kebiasaan kecil yang terus dijaga mempunyai kedudukan tersendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus dilakukan, meskipun sedikit.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Istiqamah memang tidak selalu hadir dalam sesuatu yang besar.
Kadang ia berupa kebiasaan yang tidak dilihat siapa-siapa, dilakukan berulang-ulang, sampai akhirnya terasa ada yang kurang ketika ditinggalkan.
Dan mungkin itulah pelajaran paling sunyi dari sepotong siwak Rasulullah ﷺ.
Kita tidak pernah tahu kebiasaan apa yang sedang kita lakukan ketika hari terakhir itu datang.
Beliau meninggalkan gambaran yang indah: siwak menemani ketika pulang ke rumah, ketika bangun dalam sunyi malam, ketika hendak menghadap Allah—dan hadir sekali lagi di penghujung kehidupan.
Hari ini kita mungkin tidak memegang siwak. Kita menggunakan sikat gigi, dengan pasta yang barangkali justru bertuliskan mengandung siwak.
Tidak mengapa.
Zaman berubah. Alat berubah.
Tetapi malam nanti, selepas makan dan sebelum tidur, persoalannya kembali sangat sederhana.
Sikat gigi sudah ada di kamar mandi.
Tinggal kita mau bangkit, atau kembali berkata: “Besok pagi saja.”
Rujukan Ringkas
- Al-Qur’an al-Karim — QS. Al-Baqarah: 222.
- Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir — tafsir QS. Al-Baqarah: 222.
- Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, Imam al-Qurthubi — tafsir QS. Al-Baqarah: 222 dan pembahasan thaharah.
- Shahih al-Bukhari, Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari — pembahasan siwak dan qiyam al-lail; kontinuitas amal; Kitab al-Maghazi, kisah sakit dan wafat Rasulullah ﷺ.
- Shahih Muslim, Imam Muslim bin al-Hajjaj — Kitab al-Thaharah, pembahasan siwak; riwayat Aisyah tentang kebiasaan Rasulullah ﷺ ketika memasuki rumah.
- Sunan al-Nasa’i, Imam Ahmad bin Syu‘aib al-Nasa’i — Kitab al-Thaharah, pembahasan siwak.
- Journal of Ethnopharmacology — telaah sistematis dan meta-analisis mengenai Salvadora persica (siwak) dan kesehatan mulut/periodontal.
