Ketika AI Bisa Menjawab, Apa yang Masih Harus Dipelajari Manusia?

Ketika AI Bisa Menjawab, Apa yang Masih Harus Dipelajari Manusia?

Refleksi tentang Akal Imitasi, kecerdasan buatan, dan masa depan pendidikan manusia

✒️ Tsaqif Rasyid Dai
🌐 persadani.org

Tahun 2029 sebenarnya tidak terlalu jauh.

Dalam film Akal Imitasi, tahun itu menjadi latar sebuah dunia pendidikan yang telah hidup berdampingan dengan sistem kecerdasan buatan bernama PIKO. Teknologi masuk ke sekolah, membantu proses belajar, tetapi sekaligus menghadirkan pertanyaan tentang kesenjangan, karakter, dan apa yang sesungguhnya sedang kita sebut pendidikan.

Film itu belum perlu kita hakimi sebelum menontonnya. Tetapi pertanyaan yang dibawanya sudah berada di hadapan kita sekarang.

Hari ini seorang pelajar dapat meminta kecerdasan buatan merangkum buku yang belum selesai ia baca. Ia dapat meminta mesin menyusun esai, membuat presentasi, menerjemahkan teks, menjelaskan rumus, mencari kesalahan dalam kode komputer, bahkan membangun argumentasi tentang suatu persoalan.

Dalam hitungan detik, halaman kosong dapat berubah menjadi tulisan yang tampak rapi.

Maka sebuah pertanyaan menjadi semakin penting:

Jika mesin semakin mampu memberikan jawaban, apa yang sebenarnya masih harus dipelajari manusia?

Dari Kedaulatan Data Menuju Kedaulatan Akal

Dalam tulisan sebelumnya tentang Kedaulatan Data di Era AI, kita berbicara tentang sesuatu yang keluar dari diri manusia: data, informasi, jejak digital, dan ketergantungan terhadap sistem teknologi yang semakin besar.

Tetapi ada persoalan yang mungkin lebih dekat: bagaimana jika yang perlahan kita serahkan kepada mesin bukan hanya data kita, melainkan sebagian dari proses berpikir kita?

Kita menyerahkan tugas mengingat dan mencari. Kemudian mulai menyerahkan tugas merangkum, membandingkan, menganalisis, menulis, hingga mengambil kesimpulan.

Teknologi memang selalu mengambil alih sebagian pekerjaan manusia. Itu tidak otomatis buruk. Persoalannya adalah apakah manusia masih menjadi subjek yang menggunakan teknologi, atau perlahan hanya menjadi operator yang menerima hasil pemikiran mesin.

Setelah berbicara tentang kedaulatan data, barangkali sudah waktunya kita berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam:

kedaulatan akal.

Al-Qur'an Tidak Hanya Mengajak Manusia Mengetahui

Ada sesuatu yang menarik dalam Al-Qur'an. Manusia tidak hanya diperintahkan untuk mengetahui. Ia berkali-kali diajak melihat, mendengar, merenungkan, memahami, dan berpikir.

Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali 'Imran: 190)

Ayat berikutnya menggambarkan mereka bukan hanya sebagai manusia yang mengetahui banyak hal. Mereka mengingat Allah dan memikirkan penciptaan langit dan bumi.

Pengetahuan bergerak menjadi perenungan. Perenungan bergerak menjadi kesadaran. Dan kesadaran melahirkan sikap terhadap kehidupan.

Gambaran serupa muncul ketika Al-Qur'an berbicara tentang manusia yang mampu mendengarkan berbagai perkataan kemudian memilih yang terbaik:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS Az-Zumar: 18)

Di sinilah tantangan zaman AI menjadi menarik.

Kita mungkin memiliki akses terhadap lebih banyak informasi daripada generasi manusia mana pun sebelum kita. Tetapi memiliki banyak informasi tidak otomatis membuat seseorang menjadi ulul albab.

Mesin dapat membantu menemukan seribu jawaban. Manusia masih harus belajar menentukan mana yang benar, mana yang keliru, mana yang relevan, dan mana yang layak dijadikan dasar tindakan.

Ilmu Bukan Sekadar Produk Akhir

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki memperoleh kebaikan, Allah akan memahamkannya tentang agama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kata yang menarik di sini adalah yufaqqihhu: diberi pemahaman. Bukan sekadar memiliki informasi.

Dalam Shahih al-Bukhari juga dinukil ungkapan:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

“Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar.”

Al-Bukhari menyebutkannya secara mu'allaq dengan bentuk tegas dalam pembahasan tentang ilmu. Ungkapan ini juga diriwayatkan melalui sejumlah jalur dengan pembahasan tersendiri di kalangan ahli hadis.

Maknanya membawa kita kepada sesuatu yang sering terlupakan dalam zaman serba cepat:

Dalam pendidikan, proses bukan gangguan yang harus segera dilewati untuk memperoleh hasil. Proses itu sendiri adalah bagian dari hasil.

Seorang anak membaca teks yang sulit lalu mencoba memahaminya. Ia dapat salah, mencoba lagi, menyusun argumentasi, menerima bantahan, kemudian memeriksa kembali pemikirannya.

Dari luar, semua itu terlihat lambat. Tetapi justru di sanalah sesuatu sedang terjadi: akalnya sedang dibentuk.

Jika seluruh kesulitan dihilangkan sebelum ia sempat menghadapinya, kita mungkin memperoleh hasil lebih cepat. Tetapi belum tentu memperoleh manusia yang lebih matang.

AI Ibarat Pedang?

Kita sering mengatakan teknologi hanyalah alat. Seperti pedang: di tangan orang baik ia dapat digunakan untuk melindungi, di tangan orang jahat ia dapat digunakan untuk melukai.

Analogi itu ada benarnya. Namun kecerdasan buatan mempunyai karakter yang sedikit berbeda.

Pedang memperbesar kemampuan tangan. Kendaraan memperbesar kemampuan berpindah tempat. Kalkulator mempercepat perhitungan. Mesin pencari memperluas kemampuan menemukan informasi.

Sementara AI mulai masuk ke wilayah yang sangat dekat dengan identitas manusia sendiri: menulis, menalar, menghubungkan informasi, merumuskan gagasan, dan menghasilkan jawaban.

Karena itu, AI bukan sekadar pedang di tangan manusia. Ia adalah alat yang sudah masuk sangat dekat ke ruang tempat manusia berpikir.

Justru karena itulah kita tidak perlu membencinya. Kita perlu belajar menguasainya.

Pertanyaan pentingnya bukan lagi, “Apakah AI baik atau buruk?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Siapa yang masih memegang kendali atas proses berpikir?

Dari Siapa Kita Mengambil Ilmu?

Lebih dari seribu tahun lalu, Muhammad ibn Sirin, seorang ulama besar dari generasi tabi'in, mengatakan:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Perkataan tersebut dinukil Imam Muslim dalam pendahuluan Shahih Muslim.

Ibn Sirin tentu tidak sedang berbicara tentang kecerdasan buatan. Ia sedang berbicara tentang otoritas ilmu dan kehati-hatian dalam menerima riwayat. Tetapi semangat intelektualnya terasa semakin penting hari ini.

Dahulu seseorang perlu bertanya:

“Dari siapa aku mengambil ilmu ini?”

Hari ini kita perlu menambahkan pertanyaan:

“Dari mana mesin yang menjawab pertanyaanku mendapatkan informasi ini?”

AI dapat menyampaikan jawaban dengan bahasa yang tenang, runtut, dan sangat meyakinkan. Tetapi bahasa yang meyakinkan bukan jaminan kebenaran.

Mesin dapat salah mengutip sumber, kehilangan konteks, menggabungkan informasi yang berbeda, bahkan menghasilkan keterangan yang sebenarnya tidak pernah ada.

Hadirnya AI karena itu tidak membuat tradisi tabayyun menjadi usang. Justru kemampuan memverifikasi semakin penting ketika kemampuan menghasilkan informasi semakin mudah.

Ketika Kita Menitipkan Pikiran kepada Mesin

Psikologi kognitif mengenal istilah cognitive offloading: penggunaan alat di luar diri untuk mengurangi sebagian beban kerja kognitif.

Fenomena ini bukan hal baru. Kita menggunakan catatan agar tidak harus mengingat semuanya, kalender untuk menyimpan jadwal, kalkulator untuk menghitung, GPS untuk menemukan jalan, dan mesin pencari untuk menemukan informasi.

Semua itu dapat membuat manusia bekerja lebih efektif. Persoalannya adalah apa yang kita serahkan dan kapan kita menyerahkannya.

Seorang insinyur yang memahami matematika lalu menggunakan kalkulator untuk mempercepat perhitungan sedang memanfaatkan alat. Tetapi seorang anak yang sedang belajar perkalian dan selalu memakai kalkulator sebelum mencoba dapat kehilangan sebagian proses yang justru sedang ingin dibentuk.

Riset tentang AI dan pembelajaran mulai menunjukkan pentingnya pembedaan serupa. AI dapat menjadi penyangga proses berpikir ketika digunakan untuk membantu, menguji, dan mengembangkan pemikiran pengguna. Sebaliknya, ketergantungan yang membuat seseorang menerima keluaran AI tanpa keterlibatan kritis dapat berubah menjadi pengalihan kerja kognitif.

AI setelah berpikir dapat memperluas kemampuan. AI sebelum berpikir dapat memotong kesempatan belajar.

Ketika Ilmu al-Ghazali Dirampas

Ada sebuah kisah terkenal dalam literatur biografi Imam Abu Hamid al-Ghazali. Kisah ini bukan hadis; ia dinukil sebagai riwayat biografis tentang masa mudanya.

Ketika belajar di Jurjan, al-Ghazali mencatat pelajaran-pelajaran yang diperolehnya. Dalam perjalanan kembali menuju Tus, rombongannya dicegat para perampok. Barang-barang mereka dirampas, termasuk tas yang berisi catatan ilmu al-Ghazali.

Ia mengejar mereka dan memohon agar catatan itu dikembalikan. Baginya, di sanalah hasil perjalanan panjangnya mencari ilmu.

Menurut riwayat tersebut, kepala perampok justru menyindirnya: bagaimana seseorang mengaku memiliki ilmu jika ketika beberapa lembar catatan dirampas, ilmunya ikut hilang?

Catatan itu akhirnya dikembalikan. Tetapi sindiran tersebut membekas. Riwayat biografis menggambarkan al-Ghazali kemudian berusaha benar-benar menguasai apa yang sebelumnya tersimpan dalam catatannya.

Lebih dari sembilan abad kemudian, bentuk tas itu telah berubah.

Hari ini ia mungkin bernama cloud storage, mesin pencari, catatan digital, atau riwayat percakapan dengan kecerdasan buatan.

Maka pertanyaan sang perampok seakan hidup kembali dalam bentuk baru:

Jika seluruh perangkat itu dimatikan hari ini, apa yang masih tinggal di dalam diri kita?

Tentu bukan berarti manusia harus menghafalkan semua yang dapat disimpan komputer. Tetapi sesuatu harus tetap tinggal: pemahaman, kemampuan menimbang, cara berpikir, kebijaksanaan, dan karakter.

Sekolah Bukan Pabrik Jawaban

Di sinilah pendidikan karakter menjadi jauh lebih penting daripada sekadar perdebatan boleh atau tidak boleh menggunakan AI di sekolah.

Sekolah tidak pernah hanya menjadi tempat seorang anak memperoleh jawaban.

Di sana anak belajar menerima kesalahan, bekerja bersama orang lain, menahan keinginan untuk mencontek, menerima kritik, serta memahami bahwa hasil tidak selalu datang secepat yang diinginkan.

Semua itu tidak dapat diringkas menjadi sebuah prompt.

AI dapat menjelaskan definisi kejujuran dengan sangat baik. Tetapi AI tidak dapat menjadi jujur menggantikan seorang anak.

AI dapat membuat esai yang indah tentang kesabaran. Tetapi seorang anak tetap harus menghadapi kesulitan sendiri untuk belajar bersabar.

AI dapat menjelaskan arti tanggung jawab. Tetapi tanggung jawab baru menjadi karakter ketika manusia bersedia menanggung konsekuensi dari pilihannya.

Pendidikan pada akhirnya bukan hanya memindahkan pengetahuan dari luar kepala menuju dalam kepala.

Pendidikan adalah pembentukan manusia.

Do and Don't: Menggunakan AI Tanpa Menyerahkan Akal

Karena itu, jawaban terhadap perkembangan AI bukan larangan total. Generasi mendatang hampir pasti akan hidup bersama AI sebagaimana generasi hari ini hidup bersama internet.

Yang diperlukan adalah disiplin penggunaan.

Salah satu pola sederhana dapat dirumuskan:

Pikir → Coba → Tanya AI → Kritik → Verifikasi → Perbaiki.

Bukan:

Tanya AI → Salin → Kumpulkan.

Gunakan AI untuk menjelaskan konsep yang sulit, menunjukkan kelemahan argumentasi, mencari perspektif berbeda, membuat simulasi, atau membuka jalur pencarian yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Tetapi jangan menjadikannya sumber kebenaran tunggal, pengganti membaca sumber, atau mesin yang mengerjakan sesuatu untuk kemudian kita akui sebagai kemampuan sendiri.

Terutama, jangan membiasakan diri bertanya kepada mesin sebelum mencoba bertanya kepada akal sendiri.

Gunakan AI untuk memperbesar kemampuan berpikir, bukan untuk membebaskan diri dari kewajiban berpikir.

Ada Sesuatu yang Tidak Boleh Di-Outsource

Semakin canggih teknologi, semakin banyak pekerjaan yang dapat kita delegasikan.

Kita dapat menyerahkan perhitungan kepada komputer, transkripsi kepada mesin, meminta AI merangkum seratus halaman, bahkan memintanya menunjukkan kelemahan argumentasi kita.

Tetapi ada sesuatu yang tidak dapat kita delegasikan:

tanggung jawab.

Al-Qur'an memberikan prinsip yang sangat dalam:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS Al-Isra': 36)

Ayat ini turun jauh sebelum manusia mengenal komputer. Tetapi prinsip tanggung jawab yang dikandungnya tidak kehilangan relevansi.

AI dapat memberikan sepuluh pilihan. Manusialah yang memilih.

AI dapat menghasilkan sebuah argumentasi. Manusialah yang memutuskan apakah akan menggunakannya.

AI dapat menyarankan sebuah tindakan. Manusialah yang harus menimbang akibat moralnya.

Mesin tidak memikul tanggung jawab moral kita.

Ketika Akal Jangan Sampai Menjadi Imitasi

Mungkin di situlah judul Akal Imitasi mengundang sebuah refleksi yang lebih jauh.

Kita sering membayangkan masa depan dengan kecemasan: bagaimana jika mesin semakin menyerupai manusia? Bagaimana jika AI semakin pandai berbicara, menulis, menggambar, menganalisis, bahkan meniru cara manusia bernalar?

Tetapi ada kemungkinan lain yang lebih sunyi.

Manusia dapat semakin terbiasa menerima hasil pemikiran mesin tanpa menjalani proses berpikirnya sendiri.

Kita tidak perlu terlalu takut ketika mesin mulai mampu meniru sebagian cara manusia berpikir. Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai manusia berhenti belajar berpikir karena sudah memiliki mesin.

Masa depan pendidikan karena itu tidak cukup dijawab dengan satu pilihan sederhana: memakai AI atau melarang AI.

Tantangannya adalah mendidik sebuah generasi yang mampu menggunakan alat yang sangat cerdas tanpa kehilangan kedaulatan atas akalnya sendiri.

Generasi yang tidak hanya pandai mendapatkan jawaban, tetapi mampu mengajukan pertanyaan. Yang tidak hanya mengetahui apa yang dikatakan mesin, tetapi bertanya dari mana informasi itu berasal. Yang tidak hanya dapat menghasilkan tulisan yang indah, tetapi mempunyai sesuatu yang sungguh-sungguh ingin dikatakan.

Dan yang lebih penting, generasi yang memahami bahwa tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan.

Kita tidak perlu mendidik manusia agar mampu mengalahkan AI dalam menjawab setiap pertanyaan.

Kita perlu mendidik manusia yang tahu pertanyaan apa yang patut diajukan, jawaban mana yang layak dipercaya, nilai apa yang harus dipertahankan, dan untuk apa kecerdasan digunakan.

Sebab mesin mungkin akan semakin pintar.

Tetapi menjadi manusia tetap merupakan pelajaran yang harus dijalani oleh manusia sendiri.


Referensi

  1. Al-Qur'an, QS Ali 'Imran: 190–191; QS Az-Zumar: 18; QS Al-Isra': 36.
  2. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-'Ilm; hadis tentang keutamaan pemahaman agama dan penyebutan “innama al-'ilmu bi al-ta'allum”.
  3. Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, Muqaddimah; atsar Muhammad ibn Sirin: “Inna hadza al-'ilma din, fanzhuru 'amman ta'khudzuna dinakum.”
  4. Al-Subki, Taj al-Din, Thabaqat al-Syafi'iyyah al-Kubra, bagian biografi Abu Hamid al-Ghazali; riwayat perjalanan dari Jurjan dan peristiwa catatan ilmunya dirampas.
  5. Zhu, Q. et al. (2026), “Not All Cognitive Offloading Is Equal: Distinguishing Dependent and Autonomous Offloading to Generative AI,” Frontiers in Psychology.
  6. “Cognitive Offloading in Student–AI Collaboration: A Longitudinal Analysis of Prompting Strategies” (2026), Computers in Human Behavior Reports, Vol. 22, 101130.
  7. “Generative AI and Cognitive Load in Education: A Systematic Review of WoS/SSCI-Indexed Studies through the Lens of Cognitive Load Theory” (2026), Frontiers in Psychology.

Catatan: Kisah al-Ghazali dan perampok dalam tulisan ini ditempatkan sebagai riwayat biografis yang dinukil dalam literatur tentang kehidupannya, bukan sebagai hadis atau dalil syar'i.

Artikel Populer

Setelah Tak Lagi Menjadi Musuh

Hati yang Hidup dan Hati yang Mati

Teror yang Tak Terdengar di Dalam Diri

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...