Ketika Kita Tidak Lagi Dibutuhkan
Ketika Kita Tidak Lagi Dibutuhkan
Belajar melepaskan peran, menemukan ruang pengabdian baru, dan tetap beramal ketika nama kita tak lagi dicari
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
Matahari terbenam setiap sore bukan karena ia kalah oleh malam. Ia terbenam, lalu bulan mendapat giliran bersinar dan bintang-bintang memperoleh ruang untuk tampak.
Esok pagi matahari terbit kembali, bukan sebagai pemenang yang merebut panggung, melainkan sebagai bagian dari pergiliran yang telah ditetapkan sejak semula.
Kehidupan manusia mengikuti pola yang serupa, meskipun kita jarang menyadarinya ketika masih berada di titik terang.
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia...”
(QS. Ali 'Imran: 140)
Ayat ini hadir dalam rangkaian ayat tentang Perang Uhud. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang pergiliran: ada masa menang dan kalah, lapang dan sempit, berada di depan lalu memberi tempat kepada yang lain.
Masalahnya, manusia sering lebih mudah menerima pergantian hari daripada pergantian dirinya.
Terutama ketika dahulu ia pernah menjadi seseorang yang dianggap penting.
“Dulu Zaman Saya...”
Ada satu kalimat yang semakin akrab ketika usia dan pengalaman bertambah:
“Dulu zaman saya...”
Biasanya setelah itu ceritanya menjadi panjang.
Dulu begini. Dulu tidak seperti sekarang. Dulu orang-orang masih begini. Dulu kalau ada persoalan, saya yang dicari.
Orang Jawa bahkan akrab dengan jargon nostalgia yang dilekatkan pada era Presiden Soeharto:
“Piye, isih penak zamanku, toh?”
Tulisan ini tentu bukan hendak memperdebatkan apakah zaman dahulu memang lebih enak.
Yang menarik justru tabiat manusia di balik nostalgia itu.
Kadang yang sebenarnya kita rindukan bukan zamannya. Kita merindukan diri kita yang dahulu dianggap penting di zaman itu.
Dahulu telepon sering berdering. Ada yang meminta pendapat. Ada rapat yang terasa kurang lengkap sebelum kita datang. Ada persoalan yang menunggu keputusan. Ada orang yang meminta arahan.
Lalu waktu berjalan.
Orang-orang baru muncul. Anak-anak tumbuh. Murid menjadi matang. Kepengurusan berganti. Lingkungan berubah. Orang yang lebih muda mulai memikul tanggung jawab.
Rapat tetap berjalan meskipun kita tidak datang.
Masalah ternyata bisa diselesaikan tanpa pendapat kita.
Dan sesuatu yang dahulu mungkin sulit dibayangkan akhirnya benar-benar terjadi:
mereka bisa berjalan tanpa kita.
Kursi yang Tidak Pernah Menjadi Milik Kita
Seorang kepala sekolah yang puluhan tahun mengabdi akhirnya menjadi purnatugas.
Seorang mubaligh yang dahulu jadwal ceramahnya padat suatu hari mendapati teleponnya lebih sering diam.
Seorang ayah yang dahulu hampir setiap keputusan keluarga menunggu kata darinya sekarang melihat anak-anaknya mampu menentukan pilihan sendiri.
Seorang pemimpin akhirnya menyerahkan tanggung jawab kepada penerusnya.
Titiknya sama:
posisi yang dahulu terasa begitu melekat kepada diri kita ternyata sejak awal hanya dipinjamkan.
Kursi, mimbar, jabatan, meja rapat, bahkan pengaruh di tengah manusia tidak menjadi milik siapa pun secara permanen. Semuanya amanah untuk suatu masa.
Yang keliru bukan pernah duduk di sana.
Yang berbahaya adalah ketika kita menganggap kursi itu bagian dari diri kita, sehingga saat ia berpindah, kita merasa sebagian harga diri ikut hilang.
Sebab yang paling sulit dilepaskan terkadang bukan jabatan.
Yang lebih sulit adalah melepaskan perasaan dibutuhkan.
Siapa Sebenarnya yang Membutuhkan Siapa?
Al-Qur'an memberikan pengingat yang sangat tegas kepada manusia tentang kedudukannya di hadapan Allah.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia! Kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah, Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.”
(QS. Fathir: 15)
Kemudian Allah melanjutkan:
إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ
“Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru.”
(QS. Fathir: 16)
Ayat berikutnya menutup rangkaian itu:
وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ
“Dan yang demikian itu tidaklah sulit bagi Allah.”
(QS. Fathir: 17)
Dalam Tafsir al-Munir, Wahbah az-Zuhaili menghubungkan rangkaian ayat tersebut dengan kefakiran manusia dan kemahakayaan Allah. Manusia sepenuhnya bergantung kepada-Nya, sedangkan Allah sama sekali tidak membutuhkan manusia. Jika Dia menghendaki, Dia mampu melenyapkan suatu kaum dan menghadirkan ciptaan atau generasi yang lain.
Pesannya menohok perasaan bahwa diri kita tidak tergantikan.
Kita terkadang merasa lembaga membutuhkan kita. Dakwah membutuhkan kita. Masjid membutuhkan kita. Masyarakat membutuhkan kita. Seolah jika kita tidak ada, semuanya akan berhenti.
Padahal agama Allah tidak bergantung kepada satu nama. Kebaikan tidak bergantung kepada satu tokoh. Dan rencana Allah tidak berhenti hanya karena seseorang tidak lagi berada di dalamnya.
Sebelum mempertanyakan apakah manusia masih membutuhkan kita, Al-Qur'an membalik pertanyaannya:
Siapa sebenarnya yang membutuhkan siapa?
Jawabannya tegas:
أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ
Kitalah yang membutuhkan Allah.
Kita bukan pemilik kebaikan yang pernah kita kerjakan. Kita hanya pernah diberi kesempatan untuk mengambil bagian di dalamnya.
Ketika Sebuah Perkumpulan Selesai
Ada orang yang bertahun-tahun hidup bersama sebuah organisasi atau perkumpulan.
Di sana ada kawan, kegiatan, pembagian tugas, cita-cita, kenangan, bahkan sebagian identitas dirinya.
Lalu suatu hari perkumpulan itu bubar atau perjalanannya memang harus selesai.
Yang berakhir ternyata bukan hanya kegiatan. Seseorang bisa kehilangan ruang tempat dirinya selama ini merasa berguna.
Muncullah pertanyaan yang sangat manusiawi:
“Setelah ini, saya menjadi siapa?”
Sebuah perkumpulan bisa selesai dalam waktu singkat. Tetapi identitas yang terbentuk selama bertahun-tahun tidak otomatis ikut selesai pada hari yang sama.
Namun kehidupan terkadang memperlihatkan kejutan.
Pada orang-orang yang mampu beranjak dari masa lalu, berakhirnya lingkaran lama tidak selalu membuat dunia menjadi lebih sempit. Sebagian justru menemukan kehidupan sosial yang jauh lebih luas.
Ada yang mulai hadir di tengah tetangga. Ada yang dipercaya mengurus masjid. Ada yang bergerak dalam pendidikan dan kegiatan sosial. Ada yang mengembangkan usaha dan membuka manfaat bagi orang lain. Bahkan ada yang kemudian menjadi sosok yang dituakan di lingkungannya.
Orang yang dahulu mungkin banyak menghabiskan energi di ruang internal akhirnya menyadari bahwa beberapa rumah dari pintunya sendiri ternyata ada begitu banyak pekerjaan yang menunggu.
Tetangga yang perlu diperhatikan. Anak muda yang membutuhkan pendampingan. Masjid yang perlu diurus. Anak-anak yang perlu dididik. Orang yang kesulitan dan membutuhkan pertolongan.
Yang selesai ternyata hanyalah sebuah perkumpulan, bukan kesempatan untuk menjadi manusia yang bermanfaat.
Boleh jadi, ketika kita tidak lagi dibutuhkan di satu tempat, Allah sedang membukakan mata kita kepada ladang kebaikan yang selama ini terlewat.
Ketika Penyakit Lama Berganti Baju
Tetapi justru di sinilah ujian berikutnya dimulai.
Seseorang telah berhasil meninggalkan lingkaran lamanya. Ia menemukan kehidupan baru. Masyarakat mulai mempercayainya. Ia menjadi pengurus masjid, ketua lingkungan, pengusaha yang dihormati, atau sosok yang sering dimintai pendapat.
Semua itu bisa menjadi nikmat.
Tetapi hati harus kembali diperiksa.
Jangan sampai dahulu kita membutuhkan sebuah struktur untuk merasa penting, lalu sekarang membutuhkan status sebagai tokoh masyarakat untuk memperoleh perasaan yang sama.
Bajunya berganti. Penyakitnya bisa tetap sama.
Dahulu kecewa ketika tidak dilibatkan dalam urusan organisasi. Sekarang tersinggung ketika masyarakat mengambil keputusan tanpa meminta pendapat kita.
Dahulu bangga dengan kedudukan di dalam sebuah struktur. Sekarang bangga karena menjadi orang yang dituakan.
Para ulama menyebut salah satu penyakit hati ini sebagai hubbul jah: kecintaan kepada kedudukan, pengaruh, dan tempat di hati manusia.
Ia sangat halus.
Seseorang tidak harus menjadi penguasa untuk mengalaminya. Kadang cukup dengan keinginan agar pendapatnya selalu didengar.
Kita senang ketika dicari. Tersinggung ketika dilewati. Kecewa ketika orang yang lebih muda justru menjadi tempat bertanya.
Bahkan terkadang muncul bisikan yang lebih buruk: berharap sebuah urusan mengalami kesulitan agar akhirnya orang berkata:
“Coba dulu Pak Fulan masih mengurus. Pasti tidak begini.”
Astaghfirullah.
Pada titik itu kita perlu bertanya dengan jujur:
Apakah yang kita inginkan benar-benar keberhasilan sebuah kebaikan, atau keberhasilan itu harus terjadi melalui tangan kita?
Generasi Penerus: Amanah, Bukan Ancaman
Ada kekeliruan halus lainnya: memandang generasi penerus sebagai ancaman terhadap eksistensi diri, bukan sebagai amanah yang harus dipersiapkan.
Orang yang memandang penerus sebagai ancaman akan sibuk mempertahankan relevansi dirinya. Ilmu tidak diwariskan seluruhnya. Regenerasi ditunda. Orang-orang muda selalu dianggap belum siap.
Dan ketika mereka melakukan kesalahan, diam-diam ada kepuasan:
“Nah, kan. Saya sudah bilang.”
Orang yang melihat generasi berikutnya sebagai amanah akan mengambil jalan sebaliknya.
Ia mewariskan ilmu sebaik mungkin, memberikan kesempatan, membiarkan mereka belajar dari kesalahan, dan mendoakan keberhasilan mereka.
Bahkan ia bergembira ketika orang-orang yang dahulu dididiknya ternyata mampu melampaui dirinya.
Seorang guru seharusnya bahagia ketika muridnya mampu berjalan sendiri. Seorang ayah bersyukur ketika anaknya matang dalam mengambil keputusan. Seorang pemimpin patut bergembira ketika urusan tetap berjalan baik setelah dirinya pergi.
Bukankah salah satu keberhasilan mendidik justru ketika orang yang dahulu bergantung kepada kita akhirnya mampu berjalan tanpa kita?
Belajar Duduk Tidak di Depan
Barangkali salah satu latihan ikhlas yang paling berat bukan ketika kita diminta maju.
Tetapi ketika kita mampu mundur dengan tenang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkatnya.”
(HR. Muslim)
Manusia sering mengira derajat naik ketika dirinya naik panggung. Rasulullah ﷺ justru mengajarkan bahwa ada ketinggian yang diperoleh dengan merendahkan diri.
Maka ada saatnya kita belajar datang ke sebuah acara tanpa harus duduk di depan.
Mengikuti pembicaraan tanpa merasa wajib memberikan komentar.
Melihat orang yang lebih muda memimpin tanpa sibuk menunjukkan bahwa kita lebih berpengalaman.
Memberikan ilmu tanpa menuntut orang mengetahui dari siapa ilmu itu berasal.
Membantu tanpa menunggu nama disebut.
Dan mungkin yang paling berat:
bergembira ketika orang yang menggantikan kita ternyata lebih berhasil daripada kita.
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya...”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Ikhlas mengembalikan semuanya kepada pertanyaan sederhana:
Untuk siapa dahulu kita bekerja?
Kalau untuk Allah, mengapa kita gelisah ketika manusia tidak lagi mengingatnya?
Dan ketika panggung semakin kecil, pintu amal tidak ikut menyempit.
Masih ada keluarga yang bisa dibahagiakan, ilmu yang bisa diwariskan, orang yang bisa dibantu, sedekah yang tidak perlu diketahui siapa pun, serta doa yang bahkan tidak membutuhkan nama kita disebut.
Kita bisa mendoakan orang-orang yang sekarang meneruskan pekerjaan yang dahulu pernah kita kerjakan.
Kita bisa meminta kepada Allah agar mereka berhasil lebih baik daripada kita.
Bahkan kita bisa mendoakan orang yang menggantikan posisi kita.
Mungkin di situlah hati mulai benar-benar merdeka:
ketika keberhasilan sebuah kebaikan tetap membuat kita bahagia, meskipun nama kita sama sekali tidak berada di dalamnya.
Ketika Nama Kita Tak Lagi Disebut
Akan datang suatu masa ketika generasi setelah kita mempunyai cerita mereka sendiri.
Mereka mempunyai tokoh, cara kerja, dan tantangan mereka sendiri.
Nama kita semakin jarang disebut.
Tidak apa-apa.
Memang demikian pergiliran kehidupan.
Kita dahulu datang ketika orang-orang sebelum kita perlahan meninggalkan panggung. Kelak orang lain akan datang ketika kita pun perlahan meninggalkannya.
Maka ketika suatu hari melihat sebuah kebaikan berjalan tanpa kita, jangan buru-buru bersedih.
Barangkali kita cukup berdiri agak jauh, melihatnya dengan tenang, lalu berkata dalam hati:
“Ya Allah, dahulu Engkau memberiku kesempatan mengambil bagian di dalamnya. Jika sekarang giliranku telah selesai, jangan biarkan hatiku menuntut agar manusia terus mengingatku. Terimalah apa yang pernah kukerjakan, ampuni segala kekuranganku, dan berkahilah mereka yang kini meneruskannya.”
Sebab pada akhirnya pertanyaannya bukanlah apakah manusia masih membutuhkan kita.
Al-Qur'an telah mengingatkan kenyataan yang jauh lebih mendasar:
أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ
Kitalah yang membutuhkan Allah.
Kita bukan orang yang dibutuhkan Allah untuk menjaga agama-Nya. Kitalah yang membutuhkan Allah agar diberi kesempatan mengambil bagian dalam kebaikan.
Dan barangkali salah satu tanda kita mulai belajar ikhlas adalah ketika kita tetap mencintai sebuah kebaikan—
bahkan setelah kebaikan itu tidak lagi membutuhkan nama kita.
✒️ Tsaqif Rasyid Dai
🌐 persadani.org
Referensi
- Al-Qur'an, QS. Ali 'Imran: 140.
- Al-Qur'an, QS. Fathir: 15–17.
- Al-Qur'an, QS. Al-Bayyinah: 5.
- Wahbah az-Zuhaili, At-Tafsir al-Munir fi al-'Aqidah wa asy-Syari'ah wa al-Manhaj, tafsir QS. Fathir: 15–17.
- Shahih Muslim, hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tentang tawadhu': “wa ma tawadha'a ahadun lillahi illa rafa'ahullah.”
