Becik Ketitik, Olo Ketoro
Becik Ketitik, Olo Ketoro
Ketika kebaikan dilupakan dan kesalahan terus dikenang
✒️ Tsaqif Rasyid Dai ๐ persadani.org
Ada orang yang bertahun-tahun menerima kebaikan dari seseorang. Ia pernah ditolong ketika kesulitan, didampingi ketika menghadapi persoalan, bahkan menikmati hasil dari pengorbanan yang tidak sedikit. Namun, karena satu perbuatan yang dianggap tercela, seluruh penilaiannya berubah. Kebaikan yang dahulu begitu berarti seolah tidak pernah terjadi.
Ada pula seseorang yang setiap bulan menyisihkan sebagian rezekinya untuk memberikan santunan uang dan beras kepada keluarga yang membutuhkan. Semula bantuan itu diterima dengan penuh rasa syukur. Namun, setelah berlangsung bertahun-tahun, pemberian yang semula merupakan kemurahan hati perlahan dianggap sebagai kewajiban. Ketika suatu bulan bantuan belum datang, penerimanya menagih seolah sedang menagih utang.
Dua peristiwa yang berbeda, tetapi memperlihatkan persoalan batin yang serupa: manusia dapat begitu terbiasa dengan kebaikan hingga tidak lagi mengenalinya sebagai kebaikan.
Orang Jawa mengenal ungkapan becik ketitik, olo ketoro. Kebaikan pada akhirnya akan terlihat, demikian pula keburukan. Namun, kehidupan tidak selalu memperlihatkan keadilan sebagaimana yang kita harapkan. Ada pengorbanan yang tidak pernah diakui, ada kesalahan yang terus dikenang, dan ada keburukan yang tetap tersembunyi hingga pelakunya meninggalkan dunia.
Al-Qur'an membawa kita melampaui keterbatasan penilaian manusia.
Ketika Kekecewaan Menghapus Kebaikan
Rasulullah ๏ทบ pernah mengingatkan tentang sikap mengingkari kebaikan yang telah diterima. Beliau menggambarkan seseorang yang mendapatkan kebaikan sepanjang masa, tetapi ketika melihat satu hal yang tidak disukainya, ia berkata:
ู َุง ุฑَุฃَْูุชُ ู َِْูู ุฎَْูุฑًุง َูุทُّ
"Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikan darimu." (HR. Al-Bukhari, no. 29)
Hadis tersebut secara khusus berbicara tentang sikap sebagian istri terhadap kebaikan suaminya. Namun, perilaku yang digambarkannya dapat menjadi bahan muhasabah bagi siapa pun.
Bukankah sikap serupa terkadang muncul dalam persahabatan, keluarga, pekerjaan, bahkan di antara orang-orang yang pernah berjalan bersama memperjuangkan suatu tujuan?
Ketika hubungan memburuk, kita bukan hanya mengingat kesalahan seseorang. Terkadang kita mulai menafsirkan ulang seluruh kebaikannya. Pertolongan yang dahulu kita syukuri dianggap memiliki maksud tersembunyi. Pengorbanan yang pernah kita saksikan dipandang sebagai cara mencari pengaruh.
Padahal, Allah mengingatkan:
ََููุง َูุฌْุฑِู ََُّููู ْ ุดََูุขُู َْููู ٍ ุนََٰูู ุฃََّูุง ุชَุนْุฏُِููุง ۚ ุงุนْุฏُِููุง َُูู ุฃَْูุฑَุจُ ِููุชََّْٰููู
"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8)
Keadilan tidak hanya diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang kita cintai. Justru ketika rasa hormat berubah menjadi kekecewaan, kemampuan untuk tetap mengakui kebaikan seseorang menemukan ujian yang sesungguhnya.
Tentu, mengingat kebaikan seseorang tidak berarti membenarkan kesalahannya, terlebih jika kesalahan itu menyangkut kezaliman atau hak orang lain. Kita boleh menegur, mengambil jarak, bahkan meminta pertanggungjawaban.
Tetapi kita tidak perlu menghapus seluruh kebaikannya untuk mengakui bahwa ia telah berbuat salah.
Ketika Pemberian Berubah Menjadi Hak
Ada ujian lain yang lebih halus: ketika seseorang terlalu lama menerima kebaikan.
Pada mulanya, setiap bantuan terasa sebagai anugerah. Namun, setelah pemberian datang secara rutin, rasa terima kasih dapat perlahan memudar. Apa yang semula dianggap sebagai kemurahan hati berubah menjadi sesuatu yang diharapkan, kemudian diperlakukan sebagai kewajiban yang harus terus dipenuhi.
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
َูุง َูุดُْูุฑُ ุงََّููู ู َْู َูุง َูุดُْูุฑُ ุงَّููุงุณَ
"Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia." (HR. Abu Dawud, no. 4811)
Syukur kepada manusia tidak berhenti pada ucapan terima kasih. Ia juga tercermin dalam kesediaan mengingat kebaikan, menjaga kehormatan orang yang pernah membantu, dan memahami bahwa pemberi pun memiliki kebutuhan serta keterbatasan.
Tentu, menanyakan santunan yang belum datang tidak dengan sendirinya menunjukkan hilangnya rasa syukur. Boleh jadi sebuah keluarga benar-benar menggantungkan kebutuhan sehari-harinya pada bantuan tersebut. Apalagi jika sebelumnya telah ada janji pemberian secara tetap.
Persoalannya muncul ketika rasa membutuhkan berubah menjadi perasaan berhak, tanpa lagi mempertimbangkan keadaan orang yang memberi.
Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati. Jangan sampai nasihat tentang bersyukur hanya dibebankan kepada penerima, sementara pemberi merasa bebas menuntut penghormatan atas seluruh bantuannya.
Ketika Pemberi Merasa Berjasa
Al-Qur'an menghadirkan keteladanan orang-orang yang memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan, meskipun mereka sendiri menyukainya. Mereka melakukannya dengan satu tujuan:
ุฅَِّูู َุง ُูุทْุนِู ُُูู ْ َِููุฌِْู ุงَِّููู َูุง ُูุฑِูุฏُ ู ُِููู ْ ุฌَุฒَุงุกً ََููุง ุดُُููุฑًุง
"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula terima kasih darimu." (QS. Al-Insan: 9)
Ayat ini menyentuh bagian terdalam dari keikhlasan. Kita mungkin mampu memberikan sebagian harta tanpa mengharapkan pengembalian. Tetapi belum tentu kita mampu menerima kenyataan bahwa orang yang pernah kita bantu tidak lagi menghargai pemberian kita.
Di sinilah Al-Ghazali, dalam Ihya' 'Ulumiddin, Kitab Asrar az-Zakah, membahas penyakit al-mann, yakni mengungkit pemberian. Akar penyakit tersebut terletak pada perasaan bahwa dirinya telah berjasa kepada orang lain. Padahal, penerima sedekah justru membuka kesempatan bagi pemberi untuk menunaikan ibadah dan membersihkan dirinya dari kekikiran.
Ibnu Qayyim dalam Madarij as-Salikin memperdalam persoalan ini melalui konsep musyahadatul minnah, yakni menyaksikan karunia Allah dalam setiap ketaatan. Kemampuan untuk beramal bukan semata-mata prestasi diri, melainkan karunia Allah yang patut disyukuri.
Betapa mudahnya kita merasa berjasa kepada orang lain, sementara rezeki, kesehatan, kesempatan, bahkan kemampuan untuk menggerakkan tangan memberi, semuanya berasal dari Allah.
Maka, ketika pemberian tidak lagi dihargai, yang perlu diperiksa bukan hanya sikap orang yang menerima, melainkan juga keadaan hati kita sendiri.
Apakah kekecewaan itu muncul karena kita mengharapkan kebaikan bagi penerima, atau karena kita merasa kehilangan penghormatan yang selama ini dinikmati?
Tentu, keikhlasan tidak berarti seseorang harus terus memberi tanpa mempertimbangkan kemampuannya. Ia boleh mengurangi atau menghentikan bantuan sukarela ketika keadaan menuntutnya, dengan tetap menjaga adab dan memperhatikan ketergantungan penerima.
Namun, jangan sampai pemberian berubah menjadi alat untuk menuntut kepatuhan, atau penghentiannya menjadi cara menghukum orang yang dianggap kurang berterima kasih.
Al-Qur'an telah mengingatkan agar sedekah tidak dirusak dengan mengungkit pemberian dan menyakiti penerimanya (QS. Al-Baqarah: 264).
Di sinilah dua akhlak bertemu: pemberi tidak menagih terima kasih, sementara penerima tidak melupakan kebaikan.
Sebelum Semuanya Diperlihatkan
Barangkali selama ini ungkapan becik ketitik, olo ketoro lebih sering kita gunakan ketika merasa diperlakukan tidak adil. Kita berharap suatu hari kebenaran tentang diri kita diketahui, sementara kesalahan orang yang mengecewakan kita akhirnya tersingkap.
Namun, Al-Qur'an mengingatkan tentang perhitungan yang jauh lebih sempurna daripada penilaian manusia.
َูู َู َูุนْู َْู ู ِุซَْูุงَู ุฐَุฑَّุฉٍ ุฎَْูุฑًุง َูุฑَُู َูู َู َูุนْู َْู ู ِุซَْูุงَู ุฐَุฑَّุฉٍ ุดَุฑًّุง َูุฑَُู
"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya." (QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Ayat ini bukan sekadar penghiburan bagi orang yang kebaikannya dilupakan. Ia juga merupakan peringatan bagi kita yang mungkin pernah mengingkari kebaikan orang lain, menyakiti penerima pemberian, atau berlaku tidak adil karena dikuasai kekecewaan.
Dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Ibnu Katsir mengemukakan riwayat tentang orang yang meremehkan sedekah kecil dan orang yang menganggap enteng dosa-dosa ringan ketika menjelaskan kedua ayat tersebut. Tidak ada amal yang patut diremehkan, baik kebaikan maupun keburukan.
Maka, sebelum berharap seluruh kebaikan kita diperlihatkan, barangkali kita perlu bertanya apakah kita sendiri telah berlaku adil terhadap kebaikan orang lain.
Sebelum menghitung berapa banyak yang telah kita berikan, sudahkah kita mensyukuri apa yang selama ini kita terima?
Dan sebelum menunggu keburukan orang lain tersingkap, sudahkah kita memeriksa kesalahan yang masih tersembunyi dalam diri sendiri?
Becik ketitik, olo ketoro.
Tidak semua kebaikan akan dikenang manusia. Tidak semua keburukan akan terbongkar di dunia. Tetapi tak satu pun luput dari pengetahuan Allah, yang juga membuka pintu taubat dan ampunan bagi hamba-Nya.
Sebab, yang paling mengkhawatirkan bukanlah ketika manusia melupakan kebaikan kita, melainkan ketika kita begitu sibuk menghitung kebaikan sendiri hingga lupa memperbaiki keburukan yang kelak harus kita pertanggungjawabkan.
