Memaafkan Tanpa Harus Kembali
Memaafkan Tanpa Harus Kembali
Ketika hati telah berdamai, meski hubungan tak lagi seperti dulu
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
Tidak semua yang pernah dekat akan tetap dekat.
Ada persahabatan yang bertahan sampai usia senja. Ada yang berubah karena jarak dan kesibukan. Ada pula hubungan yang tumbuh begitu dalam—bermula dari organisasi, majelis, pekerjaan, atau perjuangan bersama—hingga akhirnya terasa seperti keluarga sendiri.
Bertahun-tahun duduk di meja yang sama, menghadapi kesulitan yang sama, membangun sesuatu dari nol. Keluarga saling mengenal. Orang yang dahulu hanya disebut teman, perlahan menjadi sedulur.
Tetapi perjalanan manusia tidak selalu bergerak ke arah yang sama.
Pengalaman berubah. Bacaan bertambah. Lingkungan berganti. Seseorang sampai pada cara pandang baru, sementara yang lain tetap meyakini jalan yang selama ini ditempuh masih layak dipertahankan.
Tidak selalu ada pertengkaran.
Kadang hanya jarak yang perlahan tumbuh.
Lalu suatu hari kita berkata:
"Aku sudah memaafkan."
Tetapi benarkah hati telah selesai?
Sebab memaafkan dengan lisan terkadang hanya membutuhkan beberapa detik.
Membersihkan hati dapat membutuhkan perjalanan yang jauh lebih panjang.
Ketika Perbedaan Terasa Seperti Pengkhianatan
Psikologi sosial membantu menjelaskan mengapa perubahan pandangan dalam hubungan yang sangat dekat dapat terasa begitu menyakitkan.
Identitas seseorang dapat terjalin kuat dengan kelompok dan orang-orang yang berjalan bersamanya. Karena itu, ketika hubungan yang bermula dari organisasi telah berkembang menjadi kekeluargaan, perubahan seorang sahabat terkadang tidak terasa sekadar sebagai perbedaan pendapat.
Yang terasa justru:
"Dia meninggalkan kita."
Atau bahkan:
"Apakah semua yang dahulu kita perjuangkan bersama sekarang dianggap salah?"
Orang yang berubah pun mempunyai ujiannya sendiri.
Jangan sampai setelah menemukan cara pandang baru, ia membaca seluruh masa lalunya sebagai fase yang harus ditinggalkan dan menjadikan sahabat-sahabat lama sekadar simbol dari masa lalu itu.
Padahal mereka adalah manusia yang pernah hadir, menolong, menemani, dan ikut membentuk perjalanan kita.
Zaman kita juga mempunyai paradoksnya sendiri.
Kita semakin akrab dengan istilah healing, move on, boundaries, dan cut off. Sebagian konsep itu berguna untuk mengenali hubungan yang tidak sehat. Tetapi bahasa yang sehat pun dapat dipinjam oleh ego.
Kadang "aku sedang menjaga batas" memang berarti membangun batas yang sehat.
Kadang ia hanya nama yang lebih indah untuk keengganan memaafkan.
Dan jika bertahun-tahun kemudian kita masih merasa puas mendengar kegagalannya, mungkin kita belum benar-benar move on.
Kita hanya memindahkan dendam ke tempat yang lebih rapi.
Tidakkah Engkau Ingin Allah Mengampunimu?
Islam tidak meminta manusia berpura-pura tidak terluka.
Salah satu gambaran paling kuat tentang memaafkan justru lahir dari luka yang sangat dalam.
Mistah bin Utsatsah adalah kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Abu Bakar biasa memberikan nafkah kepadanya karena hubungan kekerabatan dan kefakirannya.
Kemudian terjadi Hadits al-Ifk.
Aisyah radhiyallahu 'anha, putri Abu Bakar sekaligus istri Rasulullah ﷺ, menjadi sasaran fitnah keji. Mistah termasuk orang yang ikut membicarakan berita dusta tersebut.
Bayangkan posisi Abu Bakar.
Orang yang difitnah adalah putrinya.
Dan salah seorang yang ikut membicarakan fitnah itu adalah kerabat yang selama ini ia bantu.
Setelah Allah menurunkan ayat-ayat yang membebaskan Aisyah dari tuduhan tersebut, Abu Bakar berkata:
وَاللَّهِ لَا أُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحٍ شَيْئًا أَبَدًا بَعْدَ الَّذِي قَالَ لِعَائِشَةَ مَا قَالَ
"Demi Allah, aku tidak akan memberikan nafkah kepada Mistah lagi setelah apa yang ia katakan tentang Aisyah."
Lalu Allah menurunkan firman-Nya:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
"Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?" (QS. An-Nur: 22)
Abu Bakar menjawab:
بَلَى وَاللَّهِ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي
"Tentu. Demi Allah, sungguh aku ingin Allah mengampuniku."
Kemudian beliau kembali memberikan nafkah yang biasa diberikan kepada Mistah dan berjanji tidak akan menghentikannya lagi.
(HR. al-Bukhari no. 4750; juga diriwayatkan Muslim dalam Hadits al-Ifk)
Perhatikan bagaimana Al-Qur'an mengubah arah pandang.
Semula persoalannya:
"Bagaimana mungkin aku terus berbuat baik kepada seseorang yang telah menyakiti keluargaku?"
Al-Qur'an mengubahnya menjadi:
"Tidakkah engkau ingin Allah mengampunimu?"
Kesalahan Mistah tidak berubah menjadi benar.
Luka Abu Bakar tidak dianggap remeh.
Tetapi pusat persoalannya berpindah.
Bukan lagi hanya tentang apa yang dilakukan Mistah kepada Abu Bakar, melainkan tentang apa yang diharapkan Abu Bakar dari Allah.
Memaafkan akhirnya tidak lagi hanya menjadi persoalan antara aku dan dia.
Ada pihak ketiga yang jauh lebih menentukan:
Allah.
Memaafkan Tidak Selalu Berarti Kembali
Kisah Abu Bakar juga mengajari kita agar berhati-hati menggunakan kalimat "memaafkan tanpa harus kembali."
Abu Bakar justru kembali berbuat baik kepada Mistah.
Maka kalimat itu jangan dijadikan pembenaran untuk menutup pintu yang sebenarnya masih mungkin diperbaiki.
Ada hubungan yang setelah saling memaafkan dapat dipulihkan. Ada persahabatan yang setelah bertahun-tahun berjarak dapat kembali hangat.
Itu karunia.
Tetapi tidak setiap keadaan sama.
Ada pula hubungan yang tidak dapat kembali kepada bentuk sebelumnya. Kepercayaan membutuhkan waktu. Keadaan telah berubah. Jalan kehidupan telah berbeda. Atau kedekatan seperti dahulu tidak lagi membawa maslahat.
Memaafkan adalah urusan kebersihan hati. Kepercayaan adalah urusan amanah dan pertimbangan.
Memaafkan tidak berarti kehilangan kebijaksanaan.
Kita dapat berkata:
"Aku tidak membencimu. Aku tidak berharap keburukan menimpamu. Aku berharap Allah menjagamu. Tetapi mungkin kita memang tidak lagi dapat berjalan sedekat dahulu."
Tidak semua jarak adalah kebencian.
Tetapi jangan pula menjadikan jarak sebagai tempat persembunyian dendam.
Apakah Hati Benar-Benar Telah Selesai?
Tradisi muhasabah yang dikembangkan para ulama seperti al-Harits al-Muhasibi memberi perhatian besar kepada niat, hawa nafsu, dan gerak batin yang sering tidak terlihat oleh orang lain.
Karena itu, setelah berkata "Aku sudah memaafkannya," masih ada pertanyaan yang lebih jujur:
Mengapa keberhasilannya masih membuat dadaku sesak?
Jika aku benar-benar telah memaafkan, mengapa aku masih senang ketika mendengar ia gagal?
Mungkin yang telah selesai baru pertengkarannya.
Belum hatinya.
Al-Qur'an mengajarkan doa:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
"Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman." (QS. Al-Hasyr: 10)
Kita meminta ampun untuk diri sendiri.
Meminta ampun untuk saudara kita.
Lalu meminta sesuatu yang letaknya sangat tersembunyi:
agar Allah tidak membiarkan ghill tinggal di dalam hati.
Dan barangkali salah satu latihan terbaik untuk membersihkannya adalah mendoakan orang yang pernah melukai kita tanpa ia mengetahuinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ
"Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang dikabulkan."
Ketika ia mendoakan kebaikan bagi saudaranya, malaikat berkata:
آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
"Amin, dan untukmu juga seperti itu." (HR. Muslim no. 2733)
Doakan dia.
Tidak perlu memberitahunya.
Tidak perlu ada yang mengetahui.
Cukup kita dan Allah.
Awalnya mungkin berat.
Tetapi suatu hari kita mungkin menyadari bahwa ketika mampu meminta Allah memberikan kebaikan kepadanya, sesuatu yang selama ini mengikat dada perlahan mulai terlepas.
Bukan berarti hubungan harus kembali.
Yang kembali adalah ketenangan hati.
Tidak Harus Seperti Dulu
Ada orang yang Allah kembalikan kepada kita setelah sebuah luka.
Ada pula yang tidak.
Tidak semua pintu yang pernah tertutup harus dibuka kembali. Tidak semua jarak harus dipaksa menjadi kedekatan. Tetapi jangan pula menutup pintu yang sebenarnya masih mungkin diperbaiki hanya karena ego enggan mengetuknya kembali.
Jika sebuah hubungan memang tidak dapat kembali seperti dahulu, biarkan ia menjadi kenangan yang kita perlakukan dengan adil.
Akui kebaikannya.
Maafkan kesalahannya sejauh yang kita mampu.
Ambil pelajarannya.
Dan serahkan apa yang tidak mampu kita selesaikan kepada Allah.
Mungkin kita tidak lagi duduk semeja.
Tidak lagi berada dalam organisasi yang sama.
Tidak lagi memandang banyak persoalan dengan cara yang sama.
Tidak lagi saling mengetahui kabar setiap hari.
Tidak mengapa.
Sebab berdamai tidak selalu berarti kembali.
Kadang berdamai berarti mampu melihat masa lalu tanpa keinginan membalas.
Mampu mendengar namanya tanpa dada terbakar.
Mampu mengetahui keberhasilannya tanpa berharap ia jatuh.
Dan pada suatu malam, mampu menyebut namanya dalam doa tanpa ia pernah mengetahuinya.
Jika itu telah terjadi, mungkin hubungan kita memang tidak kembali seperti dulu.
Tetapi hati kita telah pulang.
Sebab pada akhirnya pertanyaannya bukan sekadar:
"Apakah dia pantas mendapatkan maafku?"
Ada pertanyaan yang jauh lebih dekat dengan keselamatan diri:
أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
"Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?"
Sebelum perjalanan hidup ini benar-benar selesai, semoga kita tidak membawa kebencian kepada seorang saudara ketika menghadap Allah.
Wallahu a'lam.
✒️ Tsaqif Rasyid Dai
🌐 persadani.org
Rujukan
- Al-Qur'an, QS. An-Nur: 11–22, khususnya ayat 22.
- Al-Qur'an, QS. Al-Hasyr: 10.
- Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Hadits al-Ifk, no. 4750.
- Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Hadits al-Ifk, no. 2770.
- Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 2733, tentang doa seorang Muslim bagi saudaranya secara diam-diam.
- Al-Harits al-Muhasibi, Ar-Ri'ayah li Huquqillah, pembahasan muhasabah, niat, dan gerak batin.
- Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, Kitab Adab al-Ulfah wa al-Ukhuwwah.
- Swann, W. B. dkk. (2012), When Group Membership Gets Personal: A Theory of Identity Fusion, Psychological Review, 119(3), 441–456.
