Taubat Tidak Mengharuskan Kita Membenci Seluruh Masa Lalu
Taubat Tidak Mengharuskan Kita Membenci Seluruh Masa Lalu
Berdamai dengan sejarah hidup tanpa membenarkan kesalahan
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
Ada masa ketika seseorang melihat kembali perjalanan hidupnya dan merasa asing terhadap dirinya sendiri.
Dahulu ia begitu yakin dengan pilihan, lingkungan, bacaan, atau jalan perjuangannya. Bertahun-tahun ia berjalan di sana dengan sungguh-sungguh.
Kemudian ilmu bertambah, pengalaman meluas, dan beberapa hal yang dahulu tidak terlihat mulai tampak. Ada pandangan yang harus dikoreksi, sikap yang disesali, bahkan keputusan yang seandainya mungkin ingin ditarik kembali.
Lalu muncul pertanyaan:
“Kalau ternyata ada yang salah dalam jalan hidupku dahulu, apakah seluruh masa itu juga harus kubenci?”
Pertanyaan seperti ini tidak hanya muncul pada orang yang meninggalkan sebuah kelompok atau mengubah pandangan keagamaan.
Ia bisa hadir pada orang yang pernah tenggelam dalam maksiat, dahulu keras kepada keluarganya, berlebihan dalam beragama, terlalu fanatik terhadap seseorang atau kelompok, atau sekadar menatap dirinya sepuluh tahun lalu dan berkata:
“Mengapa dahulu aku seperti itu?”
Taubat mengharuskan kita jujur terhadap kesalahan.
Tetapi taubat tidak mengharuskan kita membenci seluruh sejarah hidup kita.
Allah Tidak Hanya Menghapus, tetapi Mengganti
Setelah menyebut dosa-dosa besar berupa syirik, pembunuhan, dan zina, Allah membuka pintu yang sangat luas dalam Surah Al-Furqan:
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka Allah akan mengganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Furqan: 70)
Perhatikan kata yang digunakan:
يُبَدِّلُ
Mengganti.
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menyebut dua arah penafsiran para ulama mengenai ayat ini. Di antaranya, orang yang dahulu berada dalam keburukan kemudian beralih kepada kebaikan: kekufuran berganti iman dan amal buruk berganti amal saleh. Ada pula penafsiran mengenai keburukan yang Allah ganti dengan kebaikan sebagai bagian dari keluasan karunia-Nya.
Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin membawa pembahasan taubat lebih dalam ke wilayah hati. Dosa yang benar-benar ditaubati dapat melahirkan penyesalan, kerendahan diri, rasa membutuhkan Allah, inabah, dan inkisar—kepatahan hati di hadapan-Nya.
Maka dosa tetaplah dosa.
Tetapi orang yang dahulu mengingat sebuah perbuatan dengan kebanggaan bisa mengingat peristiwa yang sama bertahun-tahun kemudian dengan istighfar dan ketundukan.
Peristiwanya tidak berubah. Yang berubah adalah hubungan hati dengannya.
Dosa Tetap Dosa
Berdamai dengan masa lalu bukan berarti membenarkannya.
Niat baik tidak otomatis menjadikan cara yang salah menjadi benar. Semangat tidak mengubah kezaliman menjadi keadilan. Ketulusan tidak menjadikan sesuatu yang haram berubah menjadi halal.
Jika ada hak manusia yang dilanggar, taubat menuntut penyelesaian semampunya. Jika pernah menzalimi, merusak, atau menyakiti, masa lalu tidak boleh ditutup hanya dengan kalimat, “Itu sudah berlalu.”
Tetapi kita juga perlu membedakan dua kalimat:
“Aku pernah melakukan kesalahan.”
dengan:
“Seluruh diriku dahulu adalah kesalahan.”
Yang pertama adalah muhasabah.
Yang kedua dapat berubah menjadi penghukuman terhadap seluruh sejarah hidup.
Hidup seperti sebuah rumah yang dibangun bertahun-tahun. Ada kamar yang ternyata salah konstruksi dan harus direnovasi, bahkan mungkin dibongkar.
Tetapi menemukan satu kamar yang salah tidak mengharuskan kita membakar seluruh rumah.
Sebab di rumah yang sama mungkin pernah tumbuh ilmu, persahabatan, pengorbanan, keluarga, pertolongan, dan banyak nikmat Allah.
Kita tidak perlu menjadi pembela masa lalu.
Tetapi kita juga tidak harus menjadi pembencinya.
Cukuplah menjadi saksi yang jujur atasnya.
Nikmat Bashirah: Ketika Allah Membuat Kita Melihat
Ada satu nikmat yang sering terlupakan ketika seseorang menilai masa lalunya:
nikmat bashirah.
Kemampuan melihat bahwa sesuatu dalam perjalanan kita dahulu ternyata keliru adalah nikmat.
Tidak semua orang segera melihat kesalahannya. Tidak semua orang yang telah melihat mempunyai keberanian untuk mengakuinya. Dan tidak semua orang yang telah mengakui diberi kekuatan untuk berubah.
Karena itu, ketika hati terus bertanya:
“Mengapa dahulu aku tidak melihat?”
sesekali pertanyaan itu perlu dibalik:
“Tidakkah engkau bersyukur karena hari ini Allah membuatmu melihat?”
Allah berfirman:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
“Katakanlah, inilah jalanku. Aku menyeru kepada Allah di atas bashirah, aku dan orang-orang yang mengikutiku.”
(QS. Yusuf: 108)
Namun bashirah jangan berubah menjadi nama baru bagi kesombongan.
Jangan sampai setelah mengoreksi masa lalu seseorang merasa bahwa sekarang ia telah melihat semuanya, sementara orang lain dianggap tidak melihat apa-apa.
Justru pengalaman pernah merasa sangat yakin kemudian mengetahui adanya kekeliruan semestinya melahirkan tawadhu'.
Ia mengingatkan kita:
“Dahulu aku juga pernah begitu yakin.”
Maka bashirah pertama-tama membuat seseorang lebih mampu melihat kekurangan dirinya sebelum sibuk menunjuk kekurangan manusia lain.
Bashirah adalah taufik. Hidayah adalah nikmat.
Bahkan kemampuan kita hari ini untuk menyesali kesalahan kemarin merupakan bagian dari karunia Allah.
Jangan Hanya Membuka Catatan Dosa
Ada orang yang dapat mengingat dengan sangat rinci satu kesalahannya dua puluh tahun lalu.
Tetapi dari dua puluh tahun kehidupan yang sama, ia hampir lupa berapa banyak nikmat Allah yang menyertainya.
Allah mengingatkan:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. An-Nahl: 18)
Berapa kali Allah menjaga kita dari sesuatu yang bahkan tidak kita ketahui?
Berapa aib yang Dia tutupi?
Berapa pintu rezeki yang dibuka?
Berapa orang baik yang dikirim dalam perjalanan hidup kita?
Berapa kali Allah memberi waktu untuk memperbaiki sesuatu yang salah?
Dan berapa besar nikmat ketika akhirnya Allah memberikan bashirah untuk melihat sesuatu yang dahulu tidak kita lihat?
Barangkali salah satu kekeliruan kita dalam memandang masa lalu adalah menghitung dosa dengan sangat teliti, tetapi menghitung nikmat Allah dengan sangat kasar.
Dua Pengakuan dalam Sayyidul Istighfar
Nabi ﷺ mengajarkan keseimbangan yang sangat indah dalam Sayyidul Istighfar.
Di dalamnya terdapat dua pengakuan yang berdampingan:
أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي
“Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui dosaku.”
(HR. al-Bukhari)
Nikmat-Mu.
Dan:
Dosaku.
Keduanya dilihat.
Inilah keseimbangan yang mudah hilang ketika seseorang tenggelam dalam penyesalan terhadap masa lalu.
Nikmat tidak membuat kita lupa dosa.
Dosa juga tidak boleh membuat kita buta terhadap nikmat.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa menyaksikan karunia Allah melahirkan cinta, pujian, dan syukur. Sedangkan melihat kekurangan diri dan amal melahirkan kehinaan diri di hadapan Allah, inkisar, rasa membutuhkan-Nya, dan taubat.
Beliau menggambarkan perjalanan seorang hamba menuju Allah sebagai perjalanan di antara muthala'at al-minnah—memandang karunia Allah—dan melihat kekurangan diri serta amal.
Di sinilah tazkiyatun nafs menemukan keseimbangannya.
Istighfar berjalan bersama syukur.
Inkisar berjalan bersama raja'.
Muhasabah berjalan bersama kesadaran akan rahmat Allah.
Bukan Dosa yang Mendidik, tetapi Taubat
Pengalaman salah memang dapat meninggalkan pelajaran. Tetapi kita perlu menjaga cara mengatakannya.
Bukan dosanya yang mendidik, tetapi taubat yang benar dapat membuat seseorang mengambil pelajaran bahkan dari dosanya.
Orang yang pernah berlebihan dapat menjadi lebih peka terhadap bahaya ghuluw.
Orang yang pernah fanatik dapat lebih berhati-hati terhadap ta'ashshub.
Orang yang pernah sangat mudah menghakimi manusia dapat menjadi lebih lembut setelah menyadari betapa panjang proses dirinya sendiri untuk berubah.
Dahulu sebuah ingatan mungkin menguatkan ego.
Kini ia mematahkan kesombongan.
Dahulu ia menjadi kebanggaan.
Kini ia melahirkan istighfar.
Dahulu seseorang bertanya mengapa orang lain tidak segera memahami apa yang ia pahami.
Kini ia berkata:
“Aku pun dahulu membutuhkan waktu.”
Taubat tidak mengubah sejarah bahwa kita pernah salah. Taubat mengubah apa yang dilakukan sejarah itu terhadap jiwa kita.
Penyesalan Tidak Boleh Menjadi Keputusasaan
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Allah tidak mengatakan bahwa mereka tidak bersalah.
Mereka disebut telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri.
Tetapi setelah kesalahan itu disebut, Allah berfirman:
لَا تَقْنَطُوا
Jangan berputus asa.
Penyesalan adalah bagian dari taubat.
Tetapi penyesalan yang sehat membawa seorang hamba kembali kepada Allah, bukan menjadikannya terus berdiri di depan pintu masa lalu sambil menghukum dirinya sendiri.
Karena itu, salah satu pertanyaan penting ketika mengenang masa lalu bukan hanya:
“Seberapa besar kesalahanku dahulu?”
Tetapi juga:
“Berapa besar rahmat Allah yang membuatku tidak terus berada di sana?”
Kita Tidak Perlu Kembali ke Sana
Berdamai dengan masa lalu tidak berarti ingin kembali kepadanya.
Kita dapat mengakui bahwa dahulu pernah ada ketulusan tanpa mengatakan bahwa semua yang dilakukan dahulu benar.
Kita dapat menghargai kebaikan orang-orang yang pernah berjalan bersama kita tanpa harus kembali menyetujui seluruh jalan mereka.
Kita dapat menyesali dosa tanpa mengubah seluruh biografi menjadi cerita tentang kegelapan.
Yang salah kita taubati.
Hak manusia yang pernah kita langgar kita selesaikan semampunya.
Yang baik kita syukuri.
Yang pahit kita ambil pelajarannya.
Lalu kita berjalan lagi.
Sebab Sayyidul Istighfar mengajari kita memandang dua hal sekaligus:
أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي
Nikmat-Mu kepadaku, dan dosaku.
Mungkin di situlah seorang hamba akhirnya mampu memandang sejarah hidupnya dengan lebih jernih.
Tidak membenarkan kesalahan.
Tidak pula tenggelam dalam kebencian terhadap masa lalu.
Taubat meminta kita jujur terhadap dosa, bukan berdusta tentang sejarah.
Dan ketika Allah telah memberikan nikmat bashirah, ia tidak lagi hanya bertanya mengapa dahulu tidak melihat.
Ia bersyukur karena Allah akhirnya membuatnya melihat.
Lalu ia berkata:
“Aku tidak ingin kembali menjadi diriku yang dahulu. Tetapi aku bersyukur kepada Allah yang tidak meninggalkanku di sana.”
Wallahu a'lam.
Referensi
1. Al-Qur'an: QS. Al-Furqan: 68–71; QS. Yusuf: 108; QS. An-Nahl: 18; QS. Az-Zumar: 53.
2. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab ad-Da'awat, hadis Sayyidul Istighfar dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu.
3. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Al-Furqan: 70, khususnya pembahasan makna yubaddilullahu sayyi'atihim hasanat.
4. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in, pembahasan tentang taubat, karunia Allah, kekurangan diri, inkisar, dan perjalanan hati menuju Allah.
5. Al-Harawi, Manazil as-Sa'irin, pembahasan manzilah al-muhasabah, sebagai salah satu pokok yang kemudian dijelaskan dan dikembangkan Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin.
✒️ Tsaqif Rasyid Dai
🌐 persadani.org