Watake Kekeh: Antara Keteguhan dan Keangkuhan
Watake Kekeh: Antara Keteguhan dan Keangkuhan
Tentang keberanian untuk berubah, keteguhan mempertahankan kebenaran, dan keengganan mengakui kesalahan.
✒️ Tsaqif Rasyid Dai
Ada orang yang keras pendiriannya karena tidak ingin kehilangan kebenaran. Ada pula yang sama kerasnya karena tidak sanggup kehilangan muka. Keduanya mungkin sama-sama menolak untuk menyerah. Namun, yang satu sedang menjaga imannya, sementara yang lain barangkali hanya sedang melindungi harga dirinya.
Orang Jawa menyebutnya watake kekeh. Sebuah ungkapan yang tidak selalu bernada celaan. Dalam keadaan tertentu, watak semacam ini justru diperlukan. Tanpanya, seseorang mungkin terlalu mudah menyerah ketika menghadapi tekanan, terlalu cepat meninggalkan prinsip ketika kehilangan dukungan, atau terlalu gampang menukar keyakinan demi memperoleh penerimaan.
Tetapi watak yang sama juga bisa menjadi penjara. Seseorang begitu lama mempertahankan pendiriannya hingga tak lagi mampu membedakan antara kebenaran yang diyakininya dan kebanggaan karena telah memperjuangkannya.
Lalu, bagaimana jika suatu hari kebenaran justru datang dari arah yang selama ini kita tentang?
Ketika Keberanian Berarti Mengubah Arah
Umar bin Khattab bukanlah sosok yang dikenal lemah pendirian. Sebelum memeluk Islam, ia termasuk orang yang keras menentang dakwah Rasulullah ﷺ. Namun, ketika Allah membukakan hatinya, keberanian yang dahulu digunakan untuk menentang Islam kemudian menjadi kekuatan untuk membelanya.
Demikian pula Khalid bin Walid. Kecakapan militernya pernah menjadi bagian dari kekuatan yang dihadapi kaum muslimin. Setelah menerima Islam, kemampuan yang sama memperoleh arah pengabdian yang baru.
Keduanya memperlihatkan bahwa transformasi diri tidak selalu berarti membuang seluruh karakter yang telah terbentuk. Terkadang yang diperlukan justru menundukkan keberanian, ketegasan, dan kemampuan yang telah dimiliki kepada kebenaran.
Betapa banyak orang yang sebenarnya ingin berubah, tetapi tertahan oleh bayang-bayang masa lalunya sendiri. Ia merasa telah terlalu jauh melangkah untuk berbalik arah. Terlalu banyak orang yang pernah mendengar pendapatnya. Terlalu besar pengorbanan yang telah dikeluarkannya. Terlalu tinggi kedudukan yang mungkin harus ditinggalkannya.
Akhirnya, ia terus berjalan. Bukan karena tidak melihat kemungkinan bahwa dirinya keliru, melainkan karena tidak sanggup membayangkan bagaimana harus kembali.
Padahal, tidak ada kewajiban untuk terus mempertahankan kesalahan hanya karena kita pernah memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini mengingatkan bahwa perubahan keadaan suatu kaum berkaitan dengan apa yang terjadi dalam diri mereka. Perubahan yang kita harapkan tidak dapat dilepaskan dari kesediaan untuk memperbaiki keadaan batin dan perilaku sendiri.
Namun, perubahan arah tidak dengan sendirinya menyelesaikan seluruh pergulatan dalam diri seseorang. Watak yang kuat tetap memerlukan pengendalian dan bimbingan.
Khalid sendiri pernah melakukan tindakan terhadap Bani Jadzimah yang tidak dibenarkan Rasulullah ﷺ. Ketika mendengar kejadian tersebut, beliau menyatakan berlepas diri dari apa yang dilakukan Khalid, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari.
Jasa dan keberanian yang besar tidak membuat seseorang terbebas dari kemungkinan melakukan kesalahan. Bahkan setelah menemukan jalan yang benar, manusia masih harus terus belajar menundukkan dirinya kepada kebenaran itu.
Mengoreksi satu bagian dari perjalanan hidup tidak berarti harus mengutuk seluruh masa lalu. Tetapi menghargai masa lalu juga tidak mengharuskan kita mempertahankan setiap kekeliruan yang pernah terjadi di dalamnya.
Ketika Keberanian Justru Berarti Bertahan
Namun, tidak semua perubahan membawa manusia kepada kebenaran. Ada kalanya seseorang justru harus bertahan ketika seluruh keadaan mendesaknya untuk meninggalkan keyakinannya.
Di tengah kerasnya penindasan kaum musyrikin Makkah, keluarga Yasir menghadapi penyiksaan karena mempertahankan keimanan. Sumayyah binti Khayyath dikenang dalam literatur sirah sebagai syahidah pertama dalam sejarah Islam. Ia tidak meninggalkan keimanannya sekalipun harus menghadapi penderitaan hingga akhir hayatnya.
Bilal bin Rabah mengalami penderitaan serupa. Di bawah penyiksaan, seruan Ahad, Ahad menjadi gambaran keteguhannya mempertahankan tauhid. Abu Bakar ash-Shiddiq kemudian membebaskannya dari perbudakan.
Kelak, Umar bin Khattab mengenang kemuliaan keduanya dengan mengatakan bahwa Abu Bakar adalah pemimpin mereka yang telah memerdekakan seorang yang juga mereka muliakan, yakni Bilal.
Mereka tidak sedang mempertahankan gengsi, kedudukan, ataupun pengaruh. Mereka mempertahankan keimanan, sekalipun harus menghadapi penderitaan yang tidak ringan.
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati.’”
(QS. Fussilat: 30)
Ketika Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi meminta nasihat tentang Islam yang tidak perlu lagi ia tanyakan kepada orang lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ
“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istiqamahlah.”
(HR. Muslim, Kitab Al-Iman)
Betapa singkat nasihat tersebut, tetapi betapa panjang perjalanan yang dituntutnya. Beriman adalah permulaan. Istiqamah merupakan perjuangan untuk menjaga keimanan itu sepanjang hayat.
Di sinilah kita menemukan perbedaan mendasar antara keteguhan dan keras kepala. Istiqamah mengharuskan seseorang bertahan di atas kebenaran. Sementara keras kepala terkadang justru membuat seseorang bertahan di atas kesalahan.
Ibrahim: Ketika Seorang Diri Bernilai Satu Umat
Keteladanan Nabi Ibrahim membawa perenungan ini lebih jauh. Ia menghadapi masyarakat yang mempertahankan penyembahan berhala. Bahkan, ayahnya sendiri berada di antara orang-orang yang menolak dakwah tauhid.
Ibrahim tidak menjadikan banyaknya orang yang menentang sebagai alasan untuk meninggalkan kebenaran yang diwahyukan kepadanya.
Allah mengabadikan keteladanannya:
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan, patuh kepada Allah, hanif, dan bukan termasuk orang-orang musyrik.”
(QS. An-Nahl: 120)
Dalam menafsirkan kata ummah pada ayat tersebut, Ibnu Katsir menukil penjelasan Mujahid:
كَانَ إِبْرَاهِيمُ أُمَّةً، أَيْ مُؤْمِنًا وَحْدَهُ، وَالنَّاسُ كُلُّهُمْ إِذْ ذَاكَ كُفَّارٌ
“Ibrahim adalah satu umat, yakni seorang mukmin yang sendirian, sementara manusia seluruhnya ketika itu berada dalam kekufuran.”
(Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Nahl: 120)
Betapa besar pelajaran yang tersimpan dalam penafsiran tersebut. Seseorang tidak kehilangan nilai kebenarannya hanya karena sedikitnya orang yang berdiri bersamanya.
Namun, kita perlu berhati-hati ketika menjadikan Ibrahim sebagai cermin bagi diri sendiri.
Betapa mudahnya seseorang merasa sedang meneladani Ibrahim hanya karena pendapatnya ditolak banyak orang. Ia menganggap setiap penentangan sebagai bukti bahwa dirinya sedang membela kebenaran, padahal boleh jadi orang-orang sedang berusaha mengingatkannya dari sebuah kekeliruan.
Ibrahim berdiri di atas wahyu. Sementara kita masih harus terus memeriksa pemahaman, membersihkan niat, dan membuka diri terhadap nasihat.
Jangan sampai kita mengagumi keberanian Ibrahim untuk berdiri sendirian, tetapi melupakan ketundukannya yang sepenuhnya kepada Allah.
Ketika Harga Diri Menyamar sebagai Prinsip
Ada perbedaan yang terkadang sangat tipis antara mempertahankan prinsip dan mempertahankan harga diri.
Seseorang mungkin mengatakan bahwa dirinya sedang menjaga prinsip, padahal yang sesungguhnya dipertahankan adalah pendapat yang telanjur diumumkan. Ia khawatir kehilangan wibawa apabila harus mengakui kesalahan. Nasihat dianggap sebagai serangan, koreksi dipandang sebagai penghinaan, dan perbedaan pendapat diterima sebagai ancaman terhadap kedudukannya.
Apalagi ketika pendirian itu telah menjadi bagian dari identitas dan sejarah perjuangannya. Ia pernah merintis, berkorban, dan bertahan ketika orang lain memilih pergi. Perlahan, semua itu menjadi alasan untuk merasa bahwa pendapatnya harus selalu didengar, bahkan ketika keadaan telah berubah dan kekeliruan mulai terlihat.
Betapa pun besarnya pengorbanan kita, ia tidak pernah menjadi jaminan bahwa setiap pendirian kita benar.
Allah memperingatkan:
وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ
“Apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah,’ bangkitlah kesombongannya yang membawanya kepada dosa.”
(QS. Al-Baqarah: 206)
Betapa mengkhawatirkan ketika nasihat yang seharusnya membuka pintu perbaikan justru dianggap sebagai ancaman terhadap kehormatan. Seseorang mungkin masih bersedia mendengarkan banyak orang, tetapi hanya menerima perkataan yang membenarkan pendiriannya sendiri.
Sebaliknya, Allah memuji orang-orang yang bersedia mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik di antaranya:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
“Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.”
(QS. Az-Zumar: 18)
Kedua ayat tersebut menghadapkan kita pada pertanyaan yang tidak selalu mudah dijawab: ketika seseorang mengoreksi pendapat kita, apakah yang pertama kali kita cari adalah kebenaran dalam nasihatnya, atau justru alasan untuk mempertahankan diri?
Keberanian Mengalahkan Diri Sendiri
Rasulullah ﷺ memberikan ukuran kekuatan yang berbeda dari ukuran yang biasa digunakan manusia.
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah yang menang bergulat, melainkan yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini membawa persoalan watake kekeh ke wilayah yang lebih dalam. Kekuatan bukan hanya kemampuan menghadapi tekanan dari luar, tetapi juga kemampuan mengendalikan dorongan dari dalam diri.
Tidak sedikit orang sanggup menghadapi pertentangan yang keras, tetapi kesulitan menerima satu kalimat nasihat dari orang yang dianggapnya lebih rendah. Ia mungkin sanggup mematahkan seluruh argumen lawannya, tetapi tak sanggup mengucapkan dua kata yang paling berat bagi harga dirinya: aku keliru.
Semakin tinggi seseorang ditempatkan, semakin sedikit barangkali orang yang berani mengatakan bahwa ia sedang keliru. Dan ketika koreksi mulai jarang terdengar, ia dapat dengan mudah mengira bahwa tidak ada lagi sesuatu yang perlu diperbaiki.
Di sinilah keberanian yang sesungguhnya kembali diuji. Bukan lagi keberanian menghadapi orang yang berbeda pendapat, melainkan keberanian menghadapi kemungkinan bahwa diri kita sendirilah yang perlu berubah.
Watake Kekeh, tetapi kepada Apa?
Pada akhirnya, mungkin bukan watak keras yang paling sulit kita ubah, melainkan perasaan bahwa selama ini kita telah berada di pihak yang benar.
Kita pernah merintis, berkorban, dan mempertahankan sesuatu ketika orang lain memilih pergi. Kita telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk sebuah keyakinan, sebuah perjuangan, atau sebuah pendirian. Perlahan, semuanya menjadi bagian dari diri kita. Hingga suatu hari, ketika seseorang datang membawa koreksi, kita merasa bukan lagi pendapat yang sedang dipersoalkan, melainkan seluruh perjalanan hidup kita.
Padahal, mengakui satu kekeliruan tidak berarti mengingkari seluruh pengorbanan. Sebagaimana mempertahankan satu kebenaran tidak mengharuskan kita membenarkan setiap keputusan yang pernah diambil atas namanya.
Barangkali ujian terberat bukan ketika kita harus menghadapi orang-orang yang menentang pendirian kita, melainkan ketika kebenaran datang dari seseorang yang selama ini tidak pernah kita perhitungkan. Terlebih jika untuk menerimanya, kita harus mengakui bahwa sesuatu yang dahulu diperjuangkan dengan sepenuh hati ternyata menyimpan kekeliruan.
Umar dan Khalid memperlihatkan keberanian untuk mengubah arah. Sumayyah dan Bilal mengajarkan keteguhan untuk tidak menyerah. Ibrahim menjadi teladan ketika kebenaran harus dipertahankan sekalipun dalam kesendirian.
Sementara kita, dengan segala keterbatasan dan kepentingan yang menyertai perjalanan hidup, masih harus terus belajar membedakan antara prinsip yang patut dijaga dan harga diri yang diam-diam menuntut pembelaan.
Sebab, tidak semua yang bertahan sedang menjaga kebenaran. Tidak semua yang berubah sedang meninggalkannya.
Dan mungkin, selama ini yang paling sulit kita lepaskan bukanlah pendirian yang keliru, melainkan kebanggaan karena pernah memperjuangkannya.
Referensi dan Rujukan
- Al-Qur'an: QS. Ar-Ra'd: 11; Fussilat: 30; An-Nahl: 120; Al-Baqarah: 206; dan Az-Zumar: 18.
- Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari, Kitab Fadha'il Ash-Shahabah (keutamaan Bilal dan pembebasannya oleh Abu Bakar), Kitab Al-Maghazi (peristiwa Bani Jadzimah), serta Kitab Al-Adab (pengendalian amarah).
- Shahih Muslim, Imam Muslim, Kitab Al-Iman (istiqamah) dan Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah (pengendalian amarah).
- As-Sirah An-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, Juz I, pembahasan penyiksaan kaum muslimin pada masa awal dakwah di Makkah serta kisah keislaman Umar bin Khattab.
- Al-Mustadrak 'ala Ash-Shahihain, Imam Al-Hakim An-Naisaburi, Juz III, riwayat mengenai keluarga Yasir.
- Ath-Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa'd, Juz III dan VIII, biografi Bilal bin Rabah dan Sumayyah binti Khayyath.
- Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Ibnu Katsir, tafsir QS. An-Nahl: 120, penjelasan Mujahid mengenai Nabi Ibrahim sebagai ummah.
- Jami' Al-Bayan 'an Ta'wil Ay Al-Qur'an, Imam Ath-Thabari, tafsir QS. An-Nahl: 120.
✒️ Tsaqif Rasyid Dai
🌐 persadani.org
