Sing Penting Anteng: Benarkah Rumah Kita Baik-Baik Saja?

Sing Penting Anteng: Benarkah Rumah Kita Baik-Baik Saja?

Tentang rasa aman, ego yang ingin menang, keterikatan yang memudar, dan keluarga yang belajar memilih apa yang lebih dekat kepada ridha Allah

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai


 

Ada rumah yang mudah dikenali sedang tidak baik-baik saja. Suara meninggi, ayah dan ibu saling mendiamkan, sementara anak belajar membaca suasana sebelum berani meminta sesuatu.

Tetapi ada pula rumah yang tampaknya tenang.

Anak pulang sekolah, makan, lalu berjam-jam bersama gawainya. Selama tugas selesai dan tidak mengganggu, keadaan terasa aman.

Sing penting anteng.

Ibu mempunyai komunitas, arisan, pertemanan, atau kegiatan sosial yang membuatnya bersemangat. Ayah pun demikian. Setelah penat bekerja, ada kawan kantor, hobi, kopi, perjalanan, atau sesekali healing.

Tidak ada yang dengan sendirinya salah pada semua itu.

Masalahnya mungkin baru terasa ketika setiap orang mempunyai tempat untuk merasa hidup, tetapi perlahan kehilangan kegembiraan ketika berada bersama keluarganya sendiri.

Mereka masih makan di meja yang sama. Percakapan masih ada, tetapi semakin fungsional: sudah makan, besok masuk jam berapa, uang sekolah sudah dibayar, PR sudah selesai.

Yang perlahan hilang justru percakapan yang tidak mempunyai tujuan selain ingin dekat: cerita tentang kejadian lucu hari itu, saling menggoda, kisah lama yang diceritakan kembali, atau anak yang bercerita panjang tentang sesuatu yang bagi orang dewasa tampak sepele.

Rumah itu tidak gaduh.

Tetapi apakah benar-benar hangat?

Rasa Aman Tidak Sekadar Tidak Bertengkar

Dalam tulisan sebelumnya kita pernah berbicara tentang seorang ayah yang juga membutuhkan rasa aman. Setelah seharian menghadapi pekerjaan, tanggung jawab, dan berbagai tuntutan di luar, rumah semestinya menjadi salah satu tempat ia dapat menurunkan kewaspadaannya.

Namun rasa aman tidak berhenti pada ayah. Ibu membutuhkannya, dan anak bahkan tumbuh di dalamnya.

Al-Qur'an menggambarkan salah satu tujuan hubungan suami-istri:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini berbicara tentang hubungan suami-istri, bukan secara langsung tentang parenting. Karena itu kita tidak perlu memaksanya menjadi ayat tentang pendidikan anak. Tetapi susunannya menarik untuk direnungkan. Allah tidak hanya menyebut sakinah, melainkan juga mawaddah dan rahmah: ketenteraman, kasih, dan rahmat.

Dalam tafsir Ath-Thabari, mawaddah pada ayat ini dijelaskan sebagai kasih yang membuat manusia saling mencintai dan terhubung, sedangkan rahmah menghadirkan belas kasih yang membuat satu pihak berlemah lembut kepada pihak lainnya.

Maka ketenangan keluarga tidak cukup dimaknai sebagai tidak adanya pertengkaran.

Ada rumah yang jarang gaduh karena penghuninya mampu menyelesaikan perbedaan dengan baik. Tetapi mungkin ada pula yang jarang gaduh karena semakin sedikit hal yang sungguh-sungguh mereka bicarakan.

Secara fisik mereka pulang ke alamat yang sama, sementara secara batin jalan pulang di antara mereka perlahan ditumbuhi semak.

Ketika Satu Kekurangan Menutupi Seluruh Kebaikan

Kehangatan rumah juga dapat hilang melalui jalan sebaliknya: ego hadir terlalu kuat.

Satu kesalahan pasangan seolah menghapus puluhan kebaikannya. Satu kegagalan anak berubah menjadi identitas: pemalas, nakal, tidak bisa diatur. Perbedaan pendapat berubah menjadi pertandingan tentang siapa yang harus menang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu perangainya, ia dapat meridhai perangainya yang lain.” (HR. Muslim, no. 1469)

Kata yafrak dalam hadis tersebut bermakna membenci. Para pensyarah menjelaskan bahwa seseorang tidak semestinya tenggelam dalam kebencian menyeluruh kepada pasangannya karena satu perangai yang tidak disukai, sementara masih ada sifat lain yang baik dan patut dihargai.

Hadis ini berbicara tentang hubungan suami-istri. Namun di dalamnya terdapat pendidikan batin yang sangat berharga: belajar berlaku adil ketika emosi sedang membuat satu kekurangan memenuhi seluruh bidang penglihatan kita.

Dalam tulisan Mutatharrif di Dalam Diri, kita pernah menengok kecenderungan manusia berdiri terlalu jauh pada satu sisi hingga keluasan pandangannya menyempit. Dalam bentuk yang lebih sunyi, kecenderungan semacam itu dapat ikut duduk di meja makan kita.

Ayah merasa pandangannya harus menjadi keputusan. Ibu merasa pengorbanannya membuat keinginannya lebih pantas didahulukan. Anak merasa karena semua temannya mendapatkan sesuatu, ia juga harus mendapatkannya.

Ego tidak selalu berkata, “Aku paling benar.” Kadang ia hanya berkata, “Kalau menurutku ini baik, mengapa kalian tidak mengikuti?”

Padahal boleh jadi yang kita inginkan memang baik, tetapi bukan satu-satunya kebaikan yang perlu dipertimbangkan.

Tidak Semua yang Baik Harus Dituruti

Anak menginginkan gawai yang lebih bagus. Tidak selalu buruk. Ibu ingin aktif dalam komunitas yang bermanfaat. Ayah membutuhkan waktu bersama teman setelah bekerja. Semuanya dapat memiliki nilai kebaikan.

Pertanyaannya bukan selalu, “Apakah ini boleh?”

Kadang pertanyaannya:

“Apakah ini yang lebih baik untuk kita sekarang?”

Sesuatu dapat baik tetapi waktunya belum tepat. Sebuah keinginan dapat diberikan, tetapi tidak harus sebanyak yang diminta. Ada yang perlu ditunda karena kebutuhan lain lebih utama. Bahkan sebuah keuntungan kadang layak dilepaskan demi menjaga nilai yang lebih besar.

Di sinilah keluarga menjadi sekolah pertama tentang skala prioritas.

Anak belajar bahwa ingin tidak selalu berarti butuh; mampu membeli tidak selalu berarti harus membeli; boleh tidak selalu berarti lebih utama; dan menguntungkan tidak selalu sama dengan lebih baik.

Allah berfirman:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Konteks langsung ayat ini adalah kewajiban berperang, bukan persoalan keluarga. Karena itu ayat tersebut tidak perlu dipaksakan menjadi dalil parenting. Namun di dalamnya terdapat pendidikan batin yang lebih luas: kesukaan dan ketidaksukaan manusia bukan ukuran final tentang kebaikan.

Kita membutuhkan petunjuk Allah karena pandangan kita terbatas.

Maka kasih sayang kepada anak kadang berbunyi, “Iya.” Pada kesempatan lain, “Belum sekarang,” atau “Boleh, tetapi secukupnya.” Bahkan terkadang ia harus berani mengatakan, “Tidak.”

Bukan agar orang tua memenangkan kekuasaan atas anak, tetapi agar anak perlahan memahami bahwa dirinya bukan pusat seluruh keputusan keluarga.

Prinsip yang sama berlaku bagi ayah dan ibu.

Setiap orang layak didengar, tetapi tidak setiap keinginan harus dituruti.

Sebuah Fragmen dari Rumah Nabi

Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ ketika berada di rumah. Ia menjawab:

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ

Beliau berada dalam pelayanan keluarganya—membantu mereka—kemudian ketika waktu shalat tiba, beliau bangkit menuju shalat. (HR. Bukhari, no. 6039)

Fragmen itu sederhana.

Rasulullah ﷺ memikul urusan umat yang besar, tetapi ketika berada di rumah beliau tetap hadir dalam kehidupan keluarganya. Lalu datang waktu shalat, dan beliau berangkat.

Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan ungkapan fi mihnati ahlihi dengan makna berada dalam pelayanan atau membantu keluarganya. Gambaran sederhana ini juga mengingatkan kita pada kerendahan hati Nabi: kebesaran beliau tidak membuat urusan keluarga menjadi terlalu kecil untuk disentuh.

Hadis ini tentu bukan formula pembagian waktu keluarga. Ia menceritakan kerendahan hati Nabi ﷺ dalam kehidupan rumah dan kesigapan beliau memenuhi panggilan shalat. Namun ada sesuatu yang indah untuk direnungkan: keluarga memperoleh kehadiran beliau, tetapi keluarga tidak menggantikan kedudukan Allah.

Ketaatan kepada Allah justru menata cara seseorang hadir bagi keluarganya.

Sing Penting Anteng?

Maka ungkapan sederhana tadi perlu ditanyakan kembali.

Sing penting anteng.

Anteng yang bagaimana?

Memberikan gawai agar anak diam mungkin membuat pekerjaan kita selesai. Membiarkan setiap penghuni rumah menikmati dunianya masing-masing mungkin mengurangi gesekan. Menuruti keinginan anak mungkin menghentikan rengekannya.

Tetapi keluarga bukan proyek untuk membuat semua orang tidak saling mengganggu.

Ada manusia yang sedang dibentuk di sana.

Anak sedang belajar bagaimana memperlakukan keinginan, menerima batas, berbeda pendapat tanpa kehilangan kasih sayang, dan menempatkan sesuatu yang disukai ketika berhadapan dengan sesuatu yang lebih utama.

Orang tuanya pun sebenarnya sedang belajar hal yang sama.

Karena itu rumah yang sehat tidak berarti semua penghuninya harus selalu bersama. Ayah tetap boleh mempunyai teman dan kegemaran. Ibu boleh mempunyai komunitas dan ruang sosial. Anak membutuhkan permainan, pertemanan, dan dunianya sendiri.

Yang perlu diperiksa adalah proporsi dan arah keterikatannya.

Ketika sesuatu yang lucu terjadi hari ini, kepada siapa kita ingin menceritakannya? Ketika hati sedang berat, ke mana kita ingin pulang?

Jika duduk bersama keluarga terasa seperti kewajiban, sedangkan bersama dunia di luar kita kembali hidup, mungkin ada jalan di antara hati-hati penghuni rumah yang perlu dibersihkan kembali.

Tidak harus dengan sesuatu yang besar. Bisa dimulai dengan meletakkan telepon ketika anak bercerita, bertanya kepada pasangan karena sungguh ingin mengetahui perasaannya, makan tanpa layar, menghidupkan kembali senda gurau, atau meminta maaf tanpa sibuk menjelaskan pembenaran.

Rumah tidak harus sempurna untuk melakukan semua itu. Ia hanya membutuhkan orang-orang yang masih bersedia pulang.

Apa yang Lebih Dekat kepada Ridha-Nya?

Barangkali rumah yang baik bukan rumah tempat semua orang mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Ia adalah rumah tempat ayah belajar mengurangi sebagian keinginannya, ibu bersedia menunda sebagian kesenangannya, dan anak perlahan memahami bahwa tidak semua yang diinginkannya harus dimiliki.

Bukan karena keinginan itu selalu buruk.

Tetapi karena di dalam rumah ini ada sesuatu yang sedang mereka pelajari bersama: memilih yang lebih utama ketika beberapa hal sama-sama terlihat baik.

Maka ukuran terakhirnya bukan, “Apakah aku senang?” Bukan pula, “Apakah aku mendapatkan keuntungan?”

Ada pertanyaan yang lebih sunyi, tetapi semestinya selalu mempunyai tempat di meja makan keluarga Muslim:

“Kalau Allah melihat pilihan keluarga kita hari ini, manakah yang lebih dekat kepada ridha-Nya?”

Mungkin dari situlah jalan pulang itu dimulai kembali.

✒️ Tsaqif Rasyid Dai
🌐 persadani.org


Referensi

  • Al-Qur'an, QS. Ar-Rum: 21.
  • Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah: 216.
  • Ath-Thabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an, tafsir QS. Ar-Rum: 21.
  • Ath-Thabari dan Ibnu Katsir, tafsir QS. Al-Baqarah: 216. Konteks langsung ayat adalah kewajiban berperang; penggunaan dalam tulisan ini terbatas pada refleksi mengenai keterbatasan penilaian manusia terhadap sesuatu yang disukai atau tidak disukai.
  • Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 1469, hadis Abu Hurairah tentang tidak membenci pasangan secara menyeluruh karena satu perangai yang tidak disukai.
  • Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, Bab Kaifa Yakun ar-Rajul fi Ahlihi, no. 6039, riwayat Aisyah tentang Rasulullah ﷺ yang membantu keluarganya dan berangkat ketika tiba waktu shalat.
  • Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari, syarah hadis kana fi mihnati ahlihi.

Artikel Populer

Hati yang Hidup dan Hati yang Mati

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ: Saat Orang Cerdas Mengadili Dirinya Sendiri

10 Hari yang Menguji Kejujuran Hati

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...