الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ: Saat Orang Cerdas Mengadili Dirinya Sendiri
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ: Saat Orang Cerdas Mengadili Dirinya Sendiri
Muhasabah Bukan Sekadar Merenung — Ia Adalah Pengadilan yang Kita Gelar Sebelum Allah Menggelarnya
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
Gambar cover Muhasabah yang kita lakukan malam ini adalah rahmat Allah sebelum datangnya hisab yang sesungguhnyaAda sebuah pertanyaan yang sering kita lupakan di penghujung hari. Bukan pertanyaan tentang pekerjaan, bukan tentang berita, bukan tentang apa yang kita makan atau apa yang belum selesai kita kerjakan. Pertanyaan itu jauh lebih sunyi, jauh lebih dalam, dan jauh lebih menentukan.
Untuk apa hari ini kuhidupkan?
Nabi ﷺ pernah menetapkan standar kecerdasan yang tidak biasa. Bukan kecerdasan yang diukur dari banyaknya ilmu, tajamnya analisis, atau luasnya wawasan. Beliau bersabda:
Al-kayyisu man dāna nafsahu wa 'amila limā ba'dal-maut, wal-'ājizu man atba'a nafsahu hawāhā wa tamannā 'alallāhil-amānī.
"Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah tanpa amal."
— Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2459) dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi menilainya hasan gharīb, sedangkan Al-Albani menghasankannya.
Sabda ini bukan hanya tentang muhasabah. Ia adalah definisi ulang tentang apa artinya menjadi manusia yang cerdas di hadapan Allah.
Ketika Nabi ﷺ Memilih Kata Al-Kayyis
Menariknya, Nabi ﷺ memilih kata الكَيِّس — bukan al-'ālim (orang berilmu), bukan adz-dzakī (orang pintar), bukan pula al-faqīh (ahli fikih). Kata ini berasal dari akar k-y-s, yang dalam bahasa Arab merujuk pada kecerdasan yang bersifat praktis: kemampuan mempertimbangkan akibat suatu perbuatan, mengelola diri, dan membaca konsekuensi jangka panjang.
Pilihan diksi ini memberi kesan yang sangat kuat: kecerdasan dalam Islam tidak semata-mata berkaitan dengan luasnya pengetahuan, melainkan dengan kemampuan mengelola diri bersama ilmu yang dimiliki. Orang yang hafal seribu dalil tetapi tidak pernah menghisab dirinya — dalam ukuran Nabi ﷺ — belum sepenuhnya masuk kategori al-kayyis.
Kemudian Nabi ﷺ juga tidak memilih kata ḥāsaba nafsahu (ia menghitung dirinya), tetapi:
Kata dāna mengandung muatan yang jauh lebih berat dari sekadar menghitung. Ia bermakna: menghitung, mengadili, menundukkan, menguasai. Para ulama syarah hadis menjelaskan bahwa dāna nafsahu pada intinya berarti ḥāsaba nafsahu — menghisab dirinya. Dengan meminjam bahasa yang lebih hidup, seseorang seakan menjadi terdakwa, hakim, sekaligus saksi atas dirinya sendiri — sebelum Allah menetapkan keputusan-Nya. Inilah yang menjadi inti pemikiran Al-Harits Al-Muhasibi dalam Ar-Ri'āyah li Ḥuqūqillāh.
Bukan sekadar merenung. Bukan sekadar menyesal. Melainkan sebuah sidang sunyi yang kita gelar sendiri, setiap malam, sebelum ajal menggelar sidang yang tidak ada pembelaannya.
Saat Al-Qur'an Memanggil: Wal-Tanzhur Nafsun
Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Hasyr, sebuah ayat yang oleh hampir seluruh ulama tazkiyah dijadikan fondasi utama muhasabah:
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
— QS Al-Hasyr: 18. Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Jalalain.
Sebagian ulama tazkiyah, di antaranya Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Laṭā'if al-Ma'ārif, memberi perhatian khusus pada pilihan kata lighad (untuk esok) dalam ayat ini. Allah tidak berfirman lil-qiyāmah (untuk hari kiamat), tetapi lighad — untuk esok. Ini mengandung isyarat bahwa akhirat bukan sesuatu yang jauh. Ia sedekat esok hari. Kematian bisa datang malam ini, dan perjumpaan dengan Allah bisa terjadi lebih cepat dari yang kita bayangkan.
Para ulama tazkiyah memperhatikan bahwa perintah takwa mengapit perintah muhasabah dalam ayat ini — disebut di awal, kemudian diulang setelah wal-tanzhur nafsun. Sebagian mereka menjelaskan bahwa takwa diperlukan sebelum evaluasi diri agar seseorang jujur terhadap kekurangannya, dan diperlukan setelah evaluasi agar hasil muhasabah benar-benar melahirkan perubahan. Muhasabah tanpa takwa hanya menghasilkan pengetahuan tentang diri. Takwa tanpa muhasabah sering berubah menjadi rasa aman yang palsu.
Empat Imam, Satu Muara
Khazanah Islam mewariskan kepada kita setidaknya empat bingkai besar dalam memahami muhasabah, masing-masing memancarkan cahayanya sendiri.
Al-Harits Al-Muhasibi — ulama yang bahkan julukannya berasal dari kata muhasabah — mengajarkan bahwa pengadilan diri yang sejati bukan berhenti pada dosa-dosa yang terlihat. Yang lebih berbahaya adalah penyakit hati yang tersembunyi: riya yang bersembunyi di balik keikhlasan, ujub yang menyusup ke dalam ketawadhu'an, ghurur yang menyelimuti amal-amal saleh kita. Dalam Ar-Ri'āyah li Ḥuqūqillāh, beliau membagi perjalanan muhasabah menjadi empat: musyāraṭah (membuat perjanjian dengan diri di awal hari), murāqabah (pengawasan diri saat beramal), muḥāsabah (evaluasi di malam hari), dan mu'āqabah (disiplin diri ketika lalai). Pertanyaan terdalam Al-Muhasibi bukan "apa yang sudah kulakukan?" melainkan: "untuk siapa aku melakukannya?"
Ibnu Rajab Al-Hanbali membawa muhasabah ke dalam kesadaran yang lebih eskatologis. Dalam Jāmi' al-'Ulūm wal-Ḥikam, beliau memperlihatkan bahwa muhasabah yang benar harus menghasilkan amal. Seseorang bisa sangat pandai mengkritik dirinya, tetapi jika tidak berubah, muhasabahnya belum sempurna. Beliau sering menggambarkan umur seperti modal dagang — setiap hari yang berlalu adalah modal yang berkurang, kesempatan yang menyusut, dan kematian yang semakin dekat. Pertanyaan Ibnu Rajab menambahkan dimensi yang berbeda: bukan hanya "apa yang sudah kulakukan?" tetapi "apa yang tersisa dari umurku?"
Ibnu Taimiyah meletakkan muhasabah dalam bingkai keadilan terhadap diri sendiri. Manusia, kata beliau, memiliki kecenderungan kuat untuk membela dirinya — mencari alasan, menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain. Padahal Allah berfirman:
"Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri."
— QS Al-Qiyamah: 14
Jauh di dalam nurani, manusia selalu mengetahui kebenaran tentang dirinya. Muhasabah menurut Ibnu Taimiyah adalah berhenti menjadi pengacara bagi diri sendiri, dan mulai menjadi saksi yang jujur atas diri sendiri.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madārij As-Sālikīn mengembangkan konsep ini menjadi yang paling sistematis. Beliau menyamakan jiwa seorang mukmin dengan pedagang yang cerdas — selalu menghitung modal, keuntungan, dan kerugian. Setiap malam seorang mukmin menimbang: kewajiban yang ditunaikan, dosa yang dilakukan, kesempatan yang disia-siakan, dan nikmat yang belum disyukuri. Beliau menegaskan bahwa kata dāna nafsahu dalam hadis mengandung tiga lapisan: menghitung (ḥāsabahā), mengadili (ḥākamaḥā), dan memaksa diri untuk taat (alzamahā biṭ-ṭā'ah). Maka muhasabah adalah: evaluasi → koreksi → perbaikan → disiplin. Bukan sekadar merasa bersalah lalu terlelap.
Senja yang Membuat Al-Hasan Menangis
Teori tentang muhasabah menjadi lebih hidup ketika kita melihat bagaimana para salaf mengamalkannya.
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri — salah satu tabi'in paling berpengaruh dalam khazanah zuhud Islam — kerap menangis ketika matahari hampir tenggelam. Ketika ditanya sebabnya, beliau menjawab dengan makna: "Satu hari dari umurku telah pergi, dan amalku tidak bertambah sebagaimana yang kuharapkan." Lalu beliau berkata:
"Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah pergi."
— Hilyat al-Auliyā'
Bagi kebanyakan kita, senja adalah penutup hari. Bagi Al-Hasan Al-Bashri, senja adalah berkurangnya modal hidup yang tidak akan pernah kembali.
Kisah yang tidak kalah menggetarkan datang dari Muhammad bin Sirin. Ketika suatu musibah ekonomi menimpanya, beliau berkata: "Aku mengetahui sebab musibah ini." Lalu beliau mengingat sebuah dosa yang dilakukannya sekitar empat puluh tahun sebelumnya. Perlu dicatat dengan jelas: Muhammad bin Sirin tidak sedang menetapkan hukum umum bahwa setiap musibah pasti akibat dosa tertentu — ini bukan kaidah aqidah Ahlus Sunnah. Yang beliau tunjukkan adalah tajamnya muhasabah terhadap diri sendiri. Ketika tertimpa kesulitan, beliau lebih dahulu memeriksa batinnya sendiri daripada menyalahkan keadaan. Itulah yang menjadikan kisah ini diwariskan para ulama dalam kitab-kitab tazkiyah.
Dan Imam Ahmad bin Hanbal, ketika sakit menjelang wafatnya, sering mengucapkan dalam kegelisahan: "Belum... belum..." Setan datang dan berkata, "Engkau telah selamat dariku." Beliau menjawab: "Belum. Belum sampai aku benar-benar meninggal." Kisah ini diriwayatkan dalam Manāqib Al-Imām Aḥmad, Ṭabaqāt al-Ḥanābilah, dan Siyar A'lām an-Nubalā'. Muhasabah beliau bukan hanya terhadap masa lalu — tetapi terhadap akhir perjalanan. Beliau tidak merasa aman sampai benar-benar bertemu Allah. Ini adalah cermin bagi kita: bukan kesombongan spiritual, tetapi kehati-hatian ruhani yang paling dalam.
Yang Paling Berbahaya: Amal yang Merusak Amal
Ibn Atha'illah As-Sakandari, dalam Al-Hikam-nya, menyentuh dimensi muhasabah yang sering luput dari perhatian kita. Beliau mengingatkan bahwa seseorang bisa terjebak dalam bangga karena ibadah, bangga karena zuhud, bahkan bangga karena muhasabahnya sendiri. Beliau menulis:
"Boleh jadi suatu maksiat yang melahirkan kehinaan dan rasa butuh kepada Allah lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan kesombongan."
— Al-Hikam, Ibn Atha'illah As-Sakandari
Ini bukan pembenaran untuk bermaksiat. Ini adalah peringatan bahwa amal bisa menjadi racun ketika ia melahirkan ujub. Dan muhasabah yang sejati harus menghancurkan ego, bukan memperhalusnya.
Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā' 'Ulūmid-Dīn menyebut lima penyakit hati yang paling sering luput dari radar muhasabah seseorang: riya' (ingin dipuji manusia), ujub (bangga terhadap diri sendiri), hasad (iri terhadap nikmat orang lain), takabbur (merasa lebih baik), dan hubbud dunya (cinta dunia yang berlebihan). Yang membuat kelima penyakit ini berbahaya adalah sifatnya yang halus dan berkamuflase. Riya bisa menyerupai semangat dakwah. Ujub bisa tampak seperti syukur. Takabbur bisa berkedok kepercayaan diri. Maka muhasabah yang dangkal tidak akan pernah menjangkau lapisan-lapisan ini.
Allah sendiri menggambarkan orang-orang saleh dengan cara yang mengejutkan:
"Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan, sementara hati mereka diliputi rasa takut."
— QS Al-Mu'minun: 60
Aisyah radhiyallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat ini: apakah yang dimaksud adalah mereka yang berzina, mencuri, dan minum khamar sambil takut kepada Allah? Beliau ﷺ menjawab:
"Bukan begitu, wahai putri As-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang salat, puasa, dan bersedekah — namun mereka takut amal-amal itu tidak diterima dari mereka."
— Sunan At-Tirmidzi, dinilai hasan shahih.
Inilah potret orang-orang yang paling tekun bermuhasabah. Mereka telah beramal — mereka telah memberi — tetapi hati mereka masih takut. Bukan takut karena putus asa, melainkan takut karena mereka mengenal keagungan Allah dan menyadari keterbatasan diri. Inilah muhasabah yang lahir dari cinta dan pengagungan, bukan dari keputusasaan.
Potret Al-'Ājiz: Kita yang Mungkin
Hadis Nabi ﷺ tidak hanya menggambarkan al-kayyis. Ia juga menggambarkan lawannya: الْعَاجِزُ — orang yang lemah. Bukan lemah fisik, tetapi lemah jiwa.
Al-'ājiz adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, lalu berangan-angan kepada Allah. Ia tidak beramal, tetapi berharap selamat. Ia tidak menghisab diri, tetapi bermimpi tentang surga. Kontrasnya tajam sekali: al-kayyis mengevaluasi dan beramal, al-'ājiz berangan-angan dan menunda.
Ibnu Qayyim menyebut ini sebagai ghurūr — tertipu oleh angan-angan. Dan ini, kata beliau, lebih berbahaya daripada dosa yang disadari. Orang yang sadar berdosa biasanya bertaubat. Orang yang tertipu oleh angan-angan sering merasa sudah selamat, padahal ia sedang dalam bahaya paling besar.
Dalam sebagian literatur zuhud disebutkan ungkapan yang terasa sangat akrab dengan kondisi kita: "Aku mendapati manusia takut miskin, padahal mereka tidak takut dosa. Mereka menghitung dirham mereka setiap hari, tetapi tidak menghitung amal mereka." Kalimat ini seolah menjadi tafsir praktis dari ayat Al-Hasyr: kita sangat tekun dalam muhasabah finansial — neraca, untung-rugi, penghematan — tetapi lalai dalam muhasabah ruhani yang jauh lebih menentukan.
Muhasabah sebagai Jalan Tazkiyah
Allah berfirman:
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya."
— QS Asy-Syams: 9–10. Tafsir Ibnu Katsir.
Kata zakkāhā — menyucikannya — tidak terjadi sekali dan selesai. Ia adalah proses yang terus-menerus, sebab jiwa terus-menerus terpapar oleh angin dunia yang berdebu: kesibukan, kenikmatan, pujian, kekecewaan, amarah, kelalaian. Muhasabah adalah alat untuk memelihara kebersihan itu — seperti seseorang yang setiap hari menyapu rumahnya, bukan karena rumah itu kotor berat, tetapi karena debu selalu datang kembali.
Dan Allah juga berfirman tentang jalan keluarnya dari jeratan hawa nafsu:
"Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya."
— QS An-Nazi'at: 40–41
Ayat ini memperlihatkan bahwa muhasabah bukan hanya tentang mengenali hawa nafsu — ia tentang menahannya. Mengenal musuh belum berarti menang. Menahan adalah kemenangan itu sendiri.
Sebuah Malam, Sebuah Sidang
Umar bin Khattab pernah berkata — dan kalimat ini dihidupkan kembali oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Muḥāsabat an-Nafs:
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang."
— Atsar Umar bin Khattab, dalam Muḥāsabat an-Nafs (Ibnu Abi Ad-Dunya)
Ini bukan seruan yang menyeramkan. Ini adalah karunia. Kita masih punya waktu. Sidang akhirat belum digelar. Lembaran amal masih terbuka. Taubat masih diterima. Malam ini — malam ini juga — kita masih bisa menggelar sidang itu sendiri, dengan jujur, dengan sunyi, dengan hanya Allah sebagai saksi.
Jika para pedagang menghitung keuntungan mereka setiap malam, maka seorang mukmin lebih layak menghitung nasib akhiratnya sebelum tidur.
Tanyakan kepada diri sebelum memejamkan mata:
Apakah hari ini aku lebih mencari ridha Allah atau ridha manusia? Amal apa yang paling kubanggakan hari ini — dan jika tidak ada seorang pun yang melihatnya, apakah aku tetap melakukannya? Dosa apa yang belum kutaubati malam ini? Jika hari ini adalah hari terakhirku, bekal apa yang telah kusiapkan untuk menghadap Allah?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyiksa diri. Ia adalah cermin — agar kita tidak datang kepada Allah dalam keadaan terkejut dengan wajah kita sendiri.
Muhasabah Bukan Membenci Diri
Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan sebelum kita menutup tulisan ini. Muhasabah bukan alat untuk menyiksa diri. Ia bukan timbangan yang dimaksudkan untuk membuat kita tenggelam dalam perasaan tidak layak. Para ulama tazkiyah yang paling ketat sekalipun — Al-Muhasibi, Al-Ghazali, Ibnu Qayyim — tidak pernah menjadikan muhasabah sebagai pintu menuju keputusasaan.
Justru sebaliknya: muhasabah yang benar selalu bermuara pada kembali kepada Allah. Kita menghisab diri bukan untuk menemukan betapa rusaknya kita, melainkan untuk menemukan pintu taubat yang Allah jaga selalu terbuka. Allah Ta'ala berfirman:
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
— QS Az-Zumar: 53
Ayat ini bukan penghibur bagi orang yang malas bermuhasabah. Ia adalah jangkar harapan bagi orang yang telah jujur melihat dirinya dan merasa beratnya dosa-dosa itu. Muhasabah yang benar tidak berakhir dengan putus asa — ia berakhir dengan taubat yang sungguh-sungguh, dan taubat yang sungguh-sungguh berakhir dengan rahmat Allah yang tidak pernah kecewa kepada hamba-Nya yang kembali.
Menutup Hari dengan Mata yang Terbuka
Inti muhasabah, dalam kacamata para ulama tazkiyatun nufus, bukan tentang seberapa besar dosa yang kita temukan. Ia tentang seberapa jujur kita kepada diri sendiri di hadapan Allah. Al-Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa tanda keimanan sejati adalah seseorang yang mudah menemukan kesalahan dirinya sendiri — bukan kesalahan orang lain.
Dan justru di sanalah paradoks yang indah dari muhasabah: semakin seseorang mengenal dirinya dengan jujur, semakin ia dekat dengan taubat. Semakin ia dekat dengan taubat, semakin ia jauh dari ujub. Dan semakin ia jauh dari ujub, semakin hatinya layak untuk dipenuhi oleh cahaya Allah.
Hari ini kita masih menghisab diri kita sendiri. Kelak akan datang hari ketika diri kita yang akan dihisab, dan tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki catatan amal. Muhasabah yang kita lakukan malam ini adalah rahmat Allah sebelum datangnya hisab yang sesungguhnya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk al-kayyisīn — orang-orang yang cerdas dengan kecerdasan yang sesungguhnya: yang mengadili diri sebelum diadili, yang menimbang amal sebelum ditimbang, yang menyiapkan bekal sebelum perjalanan itu tidak bisa lagi ditunda.
اللَّهُمَّ حَاسِبْنَا حِسَابًا يَسِيرًا
Yā Allah, hisablah kami dengan hisab yang mudah.
Lafaz ini berkaitan dengan sabda Nabi ﷺ: "Man nūqisyal-ḥisābu 'udzdiba" — "Barang siapa yang diperiksa (hisabnya secara ketat) maka ia akan disiksa." Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa hisab yang mudah adalah ketika Allah hanya memperlihatkan amal seseorang tanpa memperkarakannya.
Referensi
- Al-Qur'an, Surat Al-Hasyr ayat 18. Tafsir Ibnu Katsir; Tafsir Jalalain.
- Al-Qur'an, Surat Al-Qiyamah ayat 14–15. Tafsir Ibnu Katsir.
- Al-Qur'an, Surat Asy-Syams ayat 9–10. Tafsir Ibnu Katsir.
- Al-Qur'an, Surat An-Nazi'at ayat 40–41. Tafsir Jalalain.
- Al-Qur'an, Surat Al-Mu'minun ayat 60.
- Al-Qur'an, Surat Az-Zumar ayat 53.
- Sunan At-Tirmidzi, no. 2459. Hadis Al-kayyisu man dāna nafsahu. Hasan menurut Al-Mundziri dan Al-Albani; diriwayatkan pula oleh Sunan Ibnu Majah.
- Sunan At-Tirmidzi. Hadis Aisyah tentang tafsir QS Al-Mu'minun:60 (yushallūna wa yashūmūna wa yatashaddaq…). Dinilai hasan shahih.
- Al-Harits Al-Muhasibi. Ar-Ri'āyah li Ḥuqūqillāh.
- Al-Harits Al-Muhasibi. Risālah al-Mustarshidīn.
- Abu Hamid Al-Ghazali. Iḥyā' 'Ulūmid-Dīn, Kitab Muhasabah wa Muraqabah.
- Ibnu Rajab Al-Hanbali. Jāmi' al-'Ulūm wal-Ḥikam, syarah hadis Al-kayyis.
- Ibnu Rajab Al-Hanbali. Laṭā'if al-Ma'ārif.
- Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Madārij As-Sālikīn, Manzilah Al-Muhasabah.
- Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Ighāthah al-Lahfān.
- Ibn Atha'illah As-Sakandari. Al-Ḥikam.
- Ibnu Abi Ad-Dunya. Muḥāsabat an-Nafs. Atsar Umar bin Khattab.
- Abu Nu'aim Al-Asfahani. Ḥilyat al-Auliyā'. Biografi Al-Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Sirin.
- Adz-Dzahabi. Siyar A'lām an-Nubalā'. Biografi Imam Ahmad bin Hanbal.
- Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Hadis Aisyah: man nūqisyal-ḥisābu 'udzdiba — dasar doa hisab yang mudah.
- Ibnu Abi Ya'la. Ṭabaqāt al-Ḥanābilah. Kisah Imam Ahmad menjelang wafat.
- Ibnu Al-Jauzi. Manāqib Al-Imām Aḥmad.