Ojo Dumeh: Sebab Hari-Hari Itu Dipergilirkan

Ojo Dumeh: Sebab Hari-Hari Itu Dipergilirkan

Pagi itu ia masih duduk sebagai seorang pejabat tinggi negara. Di hadapannya ada mikrofon, berkas-berkas, dan orang-orang yang mendengarkan penjelasannya. Di tengah rapat, sebuah kabar datang. Ia meninggalkan ruangan. Tidak lama kemudian, jabatan itu telah beralih kepada orang lain.

Begitulah dunia memperlihatkan wataknya. Kadang ia tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menunjukkan betapa dekat jarak antara “sedang menjabat” dan “pernah menjabat”, antara orang yang ditunggu kedatangannya dan orang yang kursinya telah ditempati penggantinya. Orang Jawa mempunyai pitutur sederhana untuk keadaan semacam ini: ojo dumeh. Jangan mentang-mentang.

Bukan berarti jangan menjadi kaya, pemimpin, orang berilmu, atau menikmati keberhasilan. Ojo dumeh adalah peringatan agar sesuatu yang sedang berada dalam genggaman tidak membuat kita lupa bahwa ia dapat berpindah. Jangan karena hari ini berkuasa lalu merasa akan selalu berkuasa, karena hari ini dibutuhkan lalu mengira tidak mungkin digantikan, atau karena hari ini berada di atas lalu memandang rendah mereka yang sedang berada di bawah.

Al-Qur'an mengingatkan:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Dan hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 140)

Ayat ini hadir dalam rangkaian pembicaraan tentang Uhud. Ada masa kaum Muslimin merasakan kemenangan, ada pula hari ketika mereka terluka. Karena itu, ayat tersebut bukan ayat khusus tentang pergantian jabatan. Namun di dalamnya terdapat pelajaran besar tentang kehidupan: Allah tidak menjadikan hari-hari manusia berhenti pada satu keadaan. Ibn Jarir ath-Thabari menjelaskan nudawiluha sebagai hari-hari yang Allah jadikan berputar dan berganti di antara manusia, sementara Ibn Katsir menerangkan adanya hikmah ketika kemenangan dan kekalahan tidak menetap pada satu pihak.

Kita sebenarnya mengetahui kenyataan itu. Semua pejabat tahu masa jabatannya akan selesai, orang kaya tahu hartanya dapat berkurang, dan setiap manusia tahu usia akan menua. Masalahnya, pengetahuan tidak selalu berhasil menembus hati. Sesuatu yang terlalu lama berada dalam genggaman perlahan terasa bukan lagi sebagai titipan, melainkan kepunyaan.

Di situlah dumeh tumbuh. Ia tidak selalu hadir sebagai kesombongan yang kasar. Kadang bentuknya sangat halus: sulit menerima koreksi dari orang yang kedudukannya lebih rendah, tersinggung ketika gelar tidak disebut, atau merasa sebuah pekerjaan tidak mungkin berjalan tanpa dirinya. Ada perbedaan besar antara diberi peran penting dan merasa diri paling penting.

Secara psikologis, manusia juga mudah melekatkan identitas dirinya pada peran yang terlalu lama dijalani. Semula ia hanya memegang jabatan, lama-kelamaan jabatan itu ikut menjawab pertanyaan tentang siapa dirinya. Karena itu, kehilangan kedudukan terkadang lebih menyakitkan daripada kehilangan fasilitas. Yang hilang bukan hanya meja, kendaraan, atau kewenangan, tetapi juga sapaan, penghormatan, perhatian, dan cara orang lain memperlakukannya. Ojo dumeh menjadi pengingat agar sesuatu yang kita miliki tidak perlahan berubah menjadi sesuatu yang mendefinisikan diri kita.

Allah berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki ketinggian di bumi dan tidak pula berbuat kerusakan. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)

Menariknya, yang disentuh ayat itu bahkan masih berada di wilayah kehendak: lā yurīdūna ‘uluwwan—mereka tidak menginginkan ketinggian di bumi. As-Sa‘di menjelaskan bahwa mereka tidak mempunyai keinginan untuk meninggikan diri di atas hamba-hamba Allah, menyombongkan diri terhadap manusia maupun terhadap kebenaran. Sebelum kesombongan terlihat pada ucapan dan perilaku, ia memang dapat lebih dahulu mempunyai rumah kecil di dalam hati: keinginan untuk berada di atas manusia.

Di antara pembahasan Ibnul Qayyim tentang penyakit jiwa terdapat gambaran tentang nafsu yang menikmati dominasi, meninggikan diri, kesombongan, dan kepemimpinan atas manusia secara batil. Di tempat lain, ketika membicarakan jalan yang menolong hati dalam perenungan, ia juga menyinggung qashr al-amal: memendekkan angan-angan. Dua hal ini bertemu dengan sangat dekat. Panjangnya angan-angan membuat sesuatu yang sementara terasa akan berlangsung lama. Hari ini memimpin lalu merasa akan terus memimpin. Hari ini didengar lalu mengira akan selalu didengar. Hari ini orang datang kepada kita lalu lupa bahwa kelak mereka mungkin datang kepada orang yang menggantikan kita.

Padahal boleh jadi kita hanya sedang mendapat giliran.

Pergiliran semacam itu ada di mana-mana. Seorang pemimpin meninggalkan jabatannya dan organisasi tetap berjalan. Seorang dai tidak lagi banyak diundang dan majelis tetap dipenuhi orang. Bahkan di rumah, dahulu seorang anak menggenggam tangan ayahnya ketika menyeberang jalan; bertahun-tahun kemudian, ayahlah yang menggenggam tangan anaknya agar tidak jatuh.

Kenyataan seperti ini mungkin tidak nyaman bagi ego, tetapi menenangkan bagi hati yang mengenal Allah. Kita mungkin diperlukan, tetapi kita tidak pernah tak tergantikan. Kita tidak diperintahkan menjadi manusia yang tanpanya dunia berhenti; kita hanya diperintahkan menunaikan amanah sebaik mungkin selama Allah masih memberikan kesempatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seseorang bertawaduk karena Allah melainkan Allah mengangkatnya.” (HR. Muslim, no. 2588)

Di sinilah terdapat paradoks yang indah. Manusia ingin naik dengan meninggikan dirinya, sedangkan Nabi mengajarkan bahwa jalan menuju ketinggian justru melalui tawaduk. Manusia takut kehilangan kedudukan, padahal kemuliaan yang sebenarnya tidak bergantung pada kursi tempat ia duduk.

Maka ojo dumeh tidak hanya pantas ditujukan kepada pejabat. Ia layak kita bisikkan kepada diri sendiri ketika usaha sedang berhasil, ketika anak-anak masih membutuhkan kita, ketika tulisan dibaca, ceramah didengar, nama dikenal, atau pendapat masih diminta. Bahkan dalam urusan agama, seseorang dapat tergelincir ketika mulai merasa dakwah membutuhkan dirinya.

Sunnah pergiliran mempunyai dua sisi yang sama-sama mendidik hati: ketika berada di atas, ia mengajarkan tawaduk; ketika berada di bawah, ia mengajarkan harapan. Jangan terlalu tinggi hati ketika diberi, tetapi jangan pula terlalu hancur ketika diambil.

Barangkali itulah kedalaman ojo dumeh. Jalankan amanah ketika masih diberikan, hormati mereka yang hari ini berada di bawah, dan ketika tiba waktunya meninggalkan kursi, panggung, pengaruh, atau peran yang pernah membuat kita merasa berarti, tinggalkanlah dengan hati yang lapang.

Sebab yang kita genggam sejak awal memang bukan milik kita.

Kita hanya sedang mendapat giliran.


Referensi:

  • Al-Qur'an, QS. Ali ‘Imran: 140 dan QS. Al-Qashash: 83.
  • Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Ali ‘Imran: 140.
  • Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tafsir QS. Ali ‘Imran: 140 dan QS. Al-Qashash: 83.
  • Abdurrahman as-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Qashash: 83.
  • Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Raudhatul Muhibbīn wa Nuzhatul Musytāqīn, pembahasan kecenderungan dan penyakit jiwa.
  • Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn, pembahasan qashr al-amal dan perenungan hati.
  • Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 2588, bab anjuran memaafkan dan tawaduk.

✒️ Tsaqif Rasyid Dai
🌐 persadani.org

Artikel Populer

Hati yang Hidup dan Hati yang Mati

10 Hari yang Menguji Kejujuran Hati

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...