Sing Penting Slamet

Sing Penting Slamet

Kalau bersyukur karena kita selamat memang diajarkan, lalu mengapa satu “Alhamdulillah” membuat Sari as-Saqathi beristighfar tiga puluh tahun?

✒️ Tsaqif Rasyid Dai
🌐 persadani.org

Ada kabar kecelakaan besar. Sebelum tahu persis apa yang terjadi, kita buru-buru mencari nama para korban.

“Bukan keluarga kita, kan?”

Bukan. Dada yang semula tegang perlahan longgar. Alhamdulillah.

Di tempat lain, sebuah perusahaan mengumumkan pengurangan pegawai. Kabar menyebar, orang mulai mencari tahu siapa yang terkena. Ketika nama kita tidak ada dalam daftar itu, sekali lagi muncul rasa lega: Alhamdulillah.

Ada rasa ayem ketika ternyata musibah tidak mengenai kita atau orang-orang yang kita cintai. Secara psikologis, itu sangat manusiawi. Pikiran kita secara spontan menilai seberapa dekat sebuah ancaman terhadap diri sendiri. Ketika diketahui bahwa keluarga aman dan bahaya tidak sampai kepada kita, ketegangan pun menurun.

Persoalannya barangkali bukan pada munculnya rasa lega itu. Pertanyaannya justru datang sesudahnya: apa yang terjadi pada hati setelah kita tahu bahwa kita selamat?

Apakah musibah itu masih terasa sebagai musibah? Atau semuanya mendadak terasa lebih ringan hanya karena korbannya bukan kita?

Orang Jawa punya kalimat sederhana: sing penting slamet. Yang penting selamat. Ia bisa menjadi doa dan ungkapan syukur. Namun kalimat yang sama juga dapat membuka pertanyaan yang lebih dalam: selamat siapa?

Syukur yang Tetap Dididik

Al-Qur’an tidak mengajari manusia menjadi makhluk tanpa perasaan. Kita tetap sedih ketika kehilangan dan tetap bergembira ketika memperoleh nikmat. Tetapi keduanya dididik.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ۝ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak terlalu bersedih terhadap apa yang luput darimu dan tidak pula terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 22–23)

Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini, menukil perkataan ‘Ikrimah bahwa tidak seorang pun manusia kecuali akan mengalami gembira dan sedih. Yang perlu dilakukan adalah menjadikan kegembiraan sebagai syukur dan kesedihan sebagai kesabaran.

Jadi, yang dikoreksi bukan sekadar rasa senang. Islam tidak melarang manusia lega ketika Allah menyelamatkannya. Yang dijaga adalah keadaan hati agar kegembiraan tidak berubah menjadi lupa diri, merasa aman karena diri sendiri, atau membuat penderitaan orang lain kehilangan arti.

Bahkan ketika melihat seseorang tertimpa bala, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا

“Segala puji bagi Allah yang telah memberiku keselamatan dari apa yang Dia timpakan kepadamu dan melebihkanku atas banyak makhluk yang Dia ciptakan.” (HR. at-Tirmidzi)

Mensyukuri ‘afiyah bukan sesuatu yang harus dicurigai. Kita boleh merasa lega dan berkata, “Alhamdulillah, Allah menyelamatkan saya.” Keselamatan memang nikmat.

Lalu mengapa seorang lelaki berabad-abad lalu justru beristighfar selama tiga puluh tahun setelah mengucapkan satu kata yang sama: “Alhamdulillah”?

Satu Alhamdulillah di Pasar Baghdad

Lelaki itu adalah Sari as-Saqathi, salah seorang tokoh zuhud Baghdad dan guru sekaligus paman al-Junaid al-Baghdadi.

Suatu hari sebuah pasar terbakar. Sari mempunyai toko di sana. Ketika ia mencari tahu keadaannya, seseorang memberi kabar bahwa tokonya selamat.

Spontan Sari berkata, “Alhamdulillah.”

Tidak ada yang ganjil. Ia tidak menertawakan orang lain, tidak bergembira karena toko mereka terbakar, dan tidak mengucapkan sesuatu yang buruk. Ia hanya memuji Allah karena hartanya selamat.

Tetapi setelah itu Sari berpikir. Pasar terbakar. Banyak orang kehilangan dagangan, modal, bahkan mungkin sumber penghidupan. Sementara sesaat tadi hatinya merasa begitu lega karena miliknya sendiri selamat.

Dalam riwayat biografinya disebutkan bahwa Sari kemudian beristighfar selama tiga puluh tahun atas keadaan itu. Riwayat lain menjelaskan kegelisahannya: ia menyesal karena sesaat menghendaki kebaikan bagi dirinya yang tidak didapatkan orang lain yang tertimpa musibah.

Tentu bukan kata Alhamdulillah yang berubah menjadi dosa. Sari sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit: ia tidak hanya mengaudit ucapan, tetapi juga gerakan hati di balik ucapan itu.

Ego mudah dikenali ketika ia berkata, “Aku lebih hebat,” “Aku lebih berjasa,” atau “Aku lebih pantas.” Tetapi ego tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hanya berbisik: “Untung bukan aku.”

Ada kecelakaan, untung bukan keluarga kita. Ada rumah roboh, untung bukan rumah kita. Ada orang kehilangan pekerjaan, untung nama kita tidak ikut disebut. Kita tidak berharap mereka celaka dan tidak pula bergembira melihat penderitaan mereka. Namun setelah tahu diri sendiri aman, perhatian kita perlahan ikut padam.

Musibahnya belum selesai. Yang selesai hanyalah kekhawatiran kita terhadap diri sendiri.

Barangkali inilah yang membuat fragmen kehidupan Sari terasa begitu dekat meski jaraknya lebih dari seribu tahun. Yang ia takutkan bukan rasa syukur, melainkan kemungkinan bahwa syukurnya masih berputar mengelilingi satu pusat: aku.

Ketika Satu Tubuh Ikut Merasakan

Rasulullah ﷺ memberi gambaran yang berbeda tentang hubungan seorang mukmin dengan mukmin lainnya:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling berempati adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh mengeluh sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak tidur dan demam.” (HR. Muslim)

Satu bagian tubuh tidak mengatakan, “Yang sakit bukan saya.” Rasa sakit pada satu bagian membuat bagian lain ikut bereaksi. Begitu pula empati. Ia memang bisa dimulai dari rasa iba dan doa, tetapi pada keadaan tertentu tidak harus berhenti di sana.

Ketika orang lain tertimpa musibah, kita bukan hanya berdoa agar Allah menjaga diri kita dari bala serupa. Kita juga memohon agar Allah memberi kekuatan, kesabaran, pengganti, dan jalan keluar bagi mereka yang sedang mengalaminya.

Dan ketika musibah menjadi besar, doa sering meminta kelanjutan. Ada yang dapat membantu dengan pikiran, tenaga, keahlian, jaringan, akses, atau harta. Banjir yang merendam ribuan rumah, gempa yang menghancurkan permukiman, atau bencana yang membuat orang kehilangan penghidupan membutuhkan lebih dari sekadar rasa kasihan.

Syukur karena kita selamat tidak perlu dikurangi. Justru keselamatan itu dapat membuat kita lebih leluasa membantu mereka yang sedang tertimpa.

Alhamdulillah dan Astaghfirullah

Namun kisah Sari juga jangan membuat kita selalu mencurigai kebahagiaan sendiri. Mendapat rezeki lalu takut bergembira, selamat dari musibah lalu merasa bersalah, atau terus mengingat dosa sampai seluruh nikmat Allah menghilang dari pandangan bukanlah keseimbangan yang sehat.

Menariknya, salah satu istighfar terbesar yang diajarkan Rasulullah ﷺ justru menggabungkan dua pengakuan:

أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي

“Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui dosaku.” (HR. al-Bukhari, dalam hadis Sayyidul Istighfar)

Nikmat diakui dan dosa pun diakui. Yang satu tidak menghapus yang lain.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam al-Wabil al-Shayyib menjelaskan perjalanan seorang hamba kepada Allah dengan menyaksikan karunia-Nya sekaligus melihat kekurangan dirinya. Menyaksikan karunia melahirkan cinta, pujian, dan syukur. Melihat kekurangan diri melahirkan kerendahan, kebutuhan kepada Allah, taubat, dan istighfar.

Jangan sampai dosa yang kita ingat membuat seluruh nikmat Allah seperti tidak pernah ada. Tetapi jangan pula nikmat yang kita terima membuat kita berhenti memeriksa hati.

Kita membutuhkan keduanya: Alhamdulillah dan Astaghfirullah.

Setelah Kita Selamat

Maka ketika mendengar sebuah kecelakaan dan ternyata keluarga kita aman, katakanlah: Alhamdulillah. Ketika musibah lewat dari rumah kita, ketika pekerjaan masih bertahan, anak-anak terlindungi, kesehatan dijaga, atau sesuatu yang kita takutkan dijauhkan Allah, syukurilah.

Tetapi mungkin pertanyaan Sari as-Saqathi baru datang setelah kata itu selesai diucapkan.

Setelah berkata, “Alhamdulillah, rumah saya tidak kebanjiran,” masih adakah ruang dalam hati bagi mereka yang malam itu berada di pengungsian?

Setelah mengatakan, “Alhamdulillah, bukan keluarga saya yang mengalami kecelakaan,” masihkah kita tergerak mendoakan keluarga yang sedang menunggu di depan ruang operasi?

Di situlah syukur dapat tumbuh lebih luas: dari rasa lega menjadi empati, dari empati menjadi doa, dan dari doa menjadi tindakan.

Mungkin Sari as-Saqathi tidak sedang mengajarkan kita agar takut mengucapkan Alhamdulillah. Ia hanya menunjukkan betapa dalam seseorang dapat memeriksa dirinya: bahkan setelah mengucapkan sesuatu yang baik, ia masih bertanya apa yang sebenarnya bergerak di dalam hatinya.

Sebab ego tidak selalu berkata, “Aku lebih baik daripada mereka.” Kadang ia cukup berbisik, “Untung bukan aku.”

Maka persoalannya bukan pada keinginan untuk selamat. Kita semua memohon keselamatan bagi diri dan keluarga, lalu bersyukur ketika Allah memberikannya.

Persoalannya adalah ketika rasa syukur itu berhenti pada diri sendiri.

Seorang mukmin boleh berkata, “Alhamdulillah, Allah menyelamatkanku.” Tetapi iman mengajarinya untuk tidak berhenti di sana. Ketika saudaranya masih berada dalam kesulitan, ia juga bertanya:

“Apa yang dapat kulakukan untuk meringankan musibahnya?”

Barangkali di situlah sing penting slamet memperoleh kedewasaannya.

Bukan hanya:

“Yang penting aku selamat.”

Tetapi:

“Alhamdulillah aku selamat. Semoga keselamatan itu membuatku lebih mampu menolong yang sedang tertimpa.”


Rujukan:
Al-Qur’an, QS. Al-Hadid: 22–23.
Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. Al-Hadid: 22–23.
Al-Tirmidzi, al-Jami‘, Kitab al-Da‘awat, bab doa ketika melihat orang yang tertimpa bala.
Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Birr wa al-Shilah wa al-Adab.
Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Da‘awat, hadis Sayyidul Istighfar.
Al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, biografi Sari as-Saqathi.
Al-Dzahabi, Siyar A‘lam al-Nubala’, biografi Sari as-Saqathi.
Ibn Qayyim al-Jauziyyah, al-Wabil al-Shayyib min al-Kalim al-Thayyib.

Artikel Populer

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ: Saat Orang Cerdas Mengadili Dirinya Sendiri

Watake Kekeh: Antara Keteguhan dan Keangkuhan

Brain Rot: Fenomena Neurologis yang Mengancam Generasi Muslim — Dan Cara Mengatasinya

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...