“Nanti”: Kata Pendek yang Diam-Diam Menghabiskan Umur

 

“Nanti”: Kata Pendek yang Diam-Diam Menghabiskan Umur

Dari “mengko disik” menuju taswīf: tentang kebaikan yang kita setujui, tetapi terus kita tunda

✒️ Tsaqif Rasyid Dai

Orang Jawa akrab dengan ungkapan, “Sabar yo, mengko disik.” Tenang dulu, nanti saja. Tidak ada yang salah dengan mengko. Ada perkara yang memang lebih baik ditunda: jawaban ketika marah, keputusan ketika pikiran keruh, atau tindakan yang masih memerlukan pertimbangan. Tidak semua ketergesaan adalah kebaikan, sebagaimana tidak semua penundaan merupakan kelalaian. Namun, mengko juga dapat menjadi tempat yang sangat nyaman untuk menyimpan sesuatu yang sebenarnya sudah kita tahu harus dilakukan.

Mengko sowan, mengko njaluk ngapura, mengko ngaji maneh, mengko nek wis longgar. Nanti mengunjungi orang tua, nanti meminta maaf, nanti mengaji lagi, nanti kalau sudah longgar. Kita tidak menolak semua kebaikan itu. Kita menyetujuinya, bahkan mungkin sungguh-sungguh berniat melakukannya. Hanya saja, bukan hari ini. Di sinilah kata nanti perlahan berubah dari sekadar keterangan waktu menjadi cara halus manusia berdamai dengan kelalaiannya.

Dalam khazanah tazkiyatun nafs dikenal istilah at-taswīf, yaitu menangguhkan sesuatu ke waktu yang akan datang.

التَّسْوِيف

Dalam konteks pembinaan jiwa, persoalannya menjadi serius ketika yang terus dipindahkan ke masa depan adalah taubat, kewajiban, perbaikan diri, atau kebaikan yang sebenarnya sudah mampu dilakukan. Taswīf menjadi berbahaya justru karena ia tidak selalu berbentuk penolakan. Orang yang menolak kebaikan berkata, “Saya tidak mau,” sedangkan orang yang menundanya dapat berkata, “Saya mau, tetapi nanti.” Kalimat kedua terdengar lebih baik dan bahkan dapat menenteramkan hati, sebab kita masih dapat memandang diri sebagai orang yang mempunyai niat baik. Padahal niat itu bisa terus tersimpan sebagai niat sampai kesempatan untuk mewujudkannya hilang.

Ketika Niat Baik Tidak Pernah Menjadi Amal

Al-Qur'an memperlihatkan dengan sangat kuat apa yang terjadi ketika manusia akhirnya berhadapan dengan batas kesempatan. Allah menggambarkan orang yang telah didatangi kematian:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا

“Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat mengerjakan amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak.”

QS al-Mu'minun [23]: 99–100

Ayat ini tentu bukan ayat tentang manajemen waktu atau teori prokrastinasi. Konteksnya jauh lebih serius: penyesalan manusia setelah kematian datang dan keinginannya kembali ke dunia agar dapat mengerjakan amal saleh. Justru karena konteks itulah ayat ini mempunyai daya renung yang kuat ketika berbicara tentang taswīf. Ada sesuatu yang dahulu tersedia untuk dilakukan, tetapi ditinggalkan—fīmā taraktu. Ketika masa beramal telah berakhir, sesuatu yang sebelumnya terasa murah bernama waktu mendadak menjadi perkara yang sangat berharga.

Menariknya, yang diminta ketika itu bukan tambahan rumah, kendaraan, jabatan, atau harta, melainkan kesempatan untuk kembali beramal. Masa depan yang dahulu seolah terbentang panjang ternyata mempunyai ujung, sementara kata nanti yang berkali-kali digunakan untuk menampung kebaikan tidak pernah menjamin bahwa kebaikan tersebut akhirnya benar-benar menjadi amal.

Merencanakan Masa Depan dan Merasa Memilikinya

Pembicaraan tentang taswīf berdekatan dengan apa yang dalam literatur tazkiyah disebut thūl al-amal, panjang angan-angan.

طُولُ الْأَمَلِ

Istilah ini perlu dipahami secara proporsional agar tidak berubah menjadi sikap anti-perencanaan. Islam tidak mencela seseorang karena menyiapkan pendidikan anak, membangun usaha, menabung, merancang program dakwah, atau menanam sesuatu yang manfaatnya baru dipetik bertahun-tahun kemudian. Orientasi kepada masa depan tidak dengan sendirinya merupakan panjang angan-angan yang tercela.

Persoalannya muncul ketika manusia tidak lagi sekadar merencanakan masa depan, tetapi secara batin mulai memperlakukan masa depan seolah-olah pasti menjadi miliknya. Ia tidak hanya mempunyai rencana untuk esok hari, tetapi diam-diam merasa mempunyai jaminan bahwa esok akan datang dalam keadaan dirinya masih sehat, mampu, dan mempunyai kemauan yang sama. Pada titik itulah rencana masa depan dapat berubah menjadi alasan untuk menangguhkan amal hari ini.

Nasihat Rasulullah ﷺ kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma memberikan perspektif yang sangat dalam:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”

HR al-Bukhari no. 6416

Abdullah bin Umar kemudian memberikan nasihat yang menjadi penjelasan praktis tentang bagaimana seorang mukmin memperlakukan kesempatan hidup:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika engkau berada pada sore hari, jangan menunggu pagi. Jika engkau berada pada pagi hari, jangan menunggu sore. Ambillah dari kesehatanmu untuk masa sakitmu, dan dari kehidupanmu untuk kematianmu.”

Dalam Fath al-Bārī, Ibn Hajar menempatkan hadis ini dalam pembahasan tentang pendeknya angan-angan dan kesiapan menghadapi berakhirnya kesempatan. Maknanya bukan bahwa seorang mukmin tidak boleh mempunyai rencana, melainkan bahwa amal tidak selayaknya digantungkan kepada waktu yang belum tentu dijumpainya.

Seorang musafir tetap merencanakan perjalanan, menghitung bekal, dan menentukan tempat yang akan dituju. Namun ia sadar bahwa tempat persinggahan bukan rumah abadi. Demikian pula seorang mukmin dapat merencanakan kehidupan bertahun-tahun ke depan tanpa merasa bahwa seluruh tahun itu telah menjadi miliknya.

Mengapa Kita Menunda Sesuatu yang Kita Anggap Baik?

Pada titik ini psikologi modern dapat diajak berdialog, bukan untuk membuktikan ayat atau hadis, melainkan untuk membantu memahami sebagian mekanisme perilaku manusia. Prokrastinasi ternyata tidak selalu terjadi karena seseorang tidak mengetahui apa yang harus dilakukan atau semata-mata karena buruk mengatur waktu. Literatur psikologi memandangnya sebagai fenomena yang lebih kompleks dan berkaitan antara lain dengan regulasi diri.

Salah satu penjelasan yang banyak dibicarakan dikembangkan oleh Fuschia Sirois dan Timothy Pychyl. Mereka menunjukkan bahwa prokrastinasi dapat berkaitan dengan regulasi suasana hati jangka pendek: seseorang menghindari tugas karena tugas tersebut menimbulkan emosi yang tidak menyenangkan, sementara penundaan memberikan kelegaan sesaat. Masalah yang dihindari tentu tidak hilang; ia hanya dipindahkan kepada diri kita sendiri pada masa depan.

Penjelasan tersebut terasa dekat dengan banyak pengalaman sehari-hari. Meminta maaf, misalnya, bukan sekadar mengucapkan beberapa kata karena ia mungkin menuntut ego untuk turun. Mengakui kesalahan dapat mengganggu citra baik yang kita bangun tentang diri sendiri. Memulai kembali suatu kebaikan setelah lama meninggalkannya dapat mempertemukan seseorang dengan rasa bersalah, sedangkan meninggalkan kebiasaan buruk berarti berpisah dari kenyamanan yang sudah dikenal. Dalam keadaan seperti itu, penundaan menawarkan kompromi yang terasa aman: ketidaknyamanan tidak perlu dihadapi sekarang, tetapi niat baik tetap dapat dipertahankan. Kita tidak mengatakan bahwa kita menolak berubah; kita hanya memindahkan perubahan itu ke suatu waktu bernama nanti.

Kajian tentang temporal discounting memberikan sudut pandang lain. Secara sederhana, manusia dapat memberikan bobot lebih besar kepada kenyamanan atau ganjaran yang segera dirasakan daripada manfaat yang letaknya jauh di masa depan. Sebuah studi lapangan pada 2024 menemukan hubungan antara kecenderungan mendiskonto ganjaran masa depan dengan salah satu ukuran perilaku prokrastinasi dalam pengerjaan tugas jangka panjang. Namun hubungan itu tidak muncul secara seragam pada semua ukuran prokrastinasi, sehingga temuan tersebut lebih tepat dipahami sebagai petunjuk mengenai salah satu mekanisme yang mungkin berperan, bukan teori tunggal yang menjelaskan setiap perilaku menunda.

Di sinilah batas epistemiknya perlu dijaga. Tidak perlu mengatakan bahwa Al-Qur'an atau hadis telah “menemukan temporal discounting” berabad-abad sebelum psikologi modern. Hadis Ibn Umar berbicara dalam kerangka iman, kefanaan dunia, amal, dan kesiapan menghadapi kematian; psikologi mempelajari perilaku manusia melalui konstruk dan metode empiris. Keduanya dapat bertemu pada fenomena manusia yang sama tanpa harus dipaksakan menjadi penjelasan yang identik. Psikologi membantu menerangkan sebagian mekanisme mengapa manusia menunda, sedangkan tazkiyatun nafs mengajukan pertanyaan moral-spiritual: apa yang terjadi ketika kebiasaan menunda itu memasuki hubungan seorang hamba dengan kewajiban, dosa, taubat, dan umur yang dipercayakan Allah kepadanya?

Ketika Taswīf Menjadi Persoalan Hati

Karena itu, taswīf dan procrastination mempunyai wilayah yang beririsan tetapi tidak identik. Procrastination merupakan konstruk yang diteliti dalam psikologi, sedangkan taswīf dalam pembahasan tazkiyah dapat membawa dimensi moral dan spiritual. Seseorang bahkan mungkin sangat disiplin dalam urusan dunia tetapi menjadi penunda dalam urusan jiwanya: pekerjaan selesai sebelum tenggat, agenda tertata, rapat tidak pernah terlambat, dan target tahunan tercapai, sementara permintaan maaf bertahun-tahun tertahan, utang yang sebenarnya mampu dibayar dibiarkan, hubungan dengan orang tua menunggu waktu senggang, atau sebuah dosa setiap tahun direncanakan untuk ditinggalkan tetapi selalu memperoleh perpanjangan waktu.

Pada titik itu persoalannya bukan lagi sekadar produktivitas, melainkan muhasabah. Dosa yang terus ditunda untuk ditinggalkan dapat kehilangan daya kejutnya. Rasa bersalah yang semula kuat dapat melemah ketika sesuatu terus diulang, lalu kebiasaan menyediakan ruang bagi berbagai pembenaran. Karena itu kesempatan tidak hanya hilang ketika manusia meninggal; kesempatan dapat berubah ketika kesehatan, kemampuan, keadaan, bahkan kesiapan hati tidak lagi sama.

Hari ini seseorang mungkin tergerak untuk meminta maaf, tetapi setelah dibiarkan berlalu egonya dapat menemukan berbagai alasan mengapa justru orang lain yang bersalah. Hari ini sebuah nasihat mengetuk hati, tetapi tidak ada jaminan bahwa hati akan selalu merespons dengan kelembutan yang sama. Maka ketika Al-Qur'an berbicara tentang ampunan, bahasa yang digunakan bukan bahasa ketenangan palsu untuk menunggu tanpa batas:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa.”

QS Ali ‘Imran [3]: 133

Ayat ini tidak perlu ditarik menjadi teori umum tentang efisiensi waktu. Konteksnya sudah cukup kuat: ketika yang sedang dibicarakan adalah ampunan Allah dan jalan menuju surga, seorang mukmin diperintahkan untuk bersegera. Taubat dengan demikian bukan hadiah bagi seseorang yang telah berhasil menjadi baik, tetapi jalan untuk kembali dan memperbaiki diri. Menunggu menjadi sempurna sebelum bertaubat justru membalik urutannya, karena manusia menunggu hasil sebelum bersedia memasuki proses yang mengantarkannya kepada perubahan.

Tidak Semua “Mengko” Adalah Taswīf

Meski demikian, tazkiyatun nafs juga menuntut keadilan terhadap diri sendiri. Tidak setiap penundaan patut dicurigai sebagai taswīf. Ada pembicaraan yang memang lebih baik dilakukan setelah kemarahan mereda, keputusan yang membutuhkan musyawarah dan istikharah, amal yang memerlukan ilmu sebelum dilakukan, serta tubuh yang mempunyai hak untuk beristirahat. Kondisi psikologis tertentu juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang memulai atau menyelesaikan pekerjaan. Karena itu tidak tepat mengubah setiap kesulitan bertindak menjadi vonis bahwa iman seseorang lemah.

Muhasabah yang lebih jujur justru dapat dimulai dari pertanyaan sederhana: apakah saya sedang menunggu karena memang belum waktunya, atau karena kata “nanti” membebaskan saya dari sesuatu yang tidak nyaman hari ini? Jawaban atas pertanyaan itu terkadang tidak diketahui orang lain. Seseorang mungkin dapat menyusun alasan yang sangat masuk akal di hadapan manusia, tetapi dirinya sendiri mengetahui apakah ia sedang menunggu waktu yang tepat atau sekadar menghindari langkah yang sebenarnya sudah mampu ditempuh.

Dari “Nanti” Menuju Amal

Melawan taswīf tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Bahkan keinginan melakukan perubahan secara dramatis terkadang hanya melahirkan bentuk baru dari angan-angan: seseorang sibuk membayangkan versi sempurna dirinya pada masa depan, tetapi tidak melakukan langkah sederhana pada hari ini. Ajaran Nabi ﷺ memberikan ukuran yang lebih tenang. Beliau bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.”

Muttafaq ‘alaih

Karena itu, setelah menyadari adanya kebaikan yang terlalu lama disimpan dalam kata nanti, kita tidak harus membuat puluhan resolusi sekaligus. Barangkali yang dibutuhkan hanyalah memindahkan satu kebaikan dari wilayah niat menuju amal: membuka kembali beberapa halaman Al-Qur'an, menghubungi seseorang yang perlu dimintai maaf, menyelesaikan hak yang tertunda, mendatangi orang tua selagi kesempatan masih ada, atau menutup satu jalan yang selama ini membawa kepada dosa. Langkah itu mungkin tampak kecil, tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki rencana sebesar apa pun yang terus ditunda: ia sudah menjadi amal.

Di sinilah hadis Ibn Umar kembali menemukan kedalamannya. Nasihat untuk tidak menunggu pagi ketika berada pada sore hari bukan ajakan menjalani hidup tanpa rencana, melainkan pendidikan jiwa agar tidak merasa mempunyai kekuasaan atas kesempatan yang belum datang. Kita boleh membuat rencana sepuluh atau dua puluh tahun, menanam pohon yang buahnya baru dinikmati generasi berikutnya, mempersiapkan pendidikan anak dan membangun lembaga untuk masa depan. Namun ketika yang berada di hadapan kita adalah taubat yang telah disadari, kewajiban yang sudah mampu ditunaikan, kesalahan yang sudah waktunya diperbaiki, atau kebaikan yang pintunya sedang terbuka, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi, “Kapan saya akan melakukannya?”, melainkan, “Apa sebenarnya yang sedang saya tunggu?”

Ketika “Mengko” Menjadi “Wingi Kudune”

Ada ironi tentang waktu: selama kesempatan masih tersedia, ia terasa murah. Kita merasa masih dapat berkunjung lain hari, meminta maaf pekan depan, memperbaiki kebiasaan bulan depan, atau memulai kembali sesuatu ketika kesibukan telah berkurang. Masa depan tampak seperti gudang luas tempat semua kebaikan yang tidak sempat dikerjakan hari ini dapat disimpan.

Namun keadaan dapat berubah tanpa meminta persetujuan kita. Orang yang hendak dikunjungi mungkin telah pergi, kesehatan yang hendak digunakan untuk beramal telah berkurang, hubungan yang hendak diperbaiki terlanjur terlalu jauh, atau kesempatan yang dianggap dapat diulang ternyata hanya datang sekali. Pada saat itulah mengko dapat berubah menjadi ungkapan Jawa lain yang nadanya sama sekali berbeda: “Wingi kudune...”—kemarin seharusnya.

Barangkali itulah salah satu bentuk penyesalan yang paling manusiawi. Kita bukan menyesali sesuatu yang sama sekali tidak pernah terpikirkan, tetapi sesuatu yang dahulu sudah diketahui, sudah diniatkan, bahkan berkali-kali ingin dilakukan, hanya saja selalu dipindahkan ke hari berikutnya.

Maka tazkiyatun nafs tidak mengajari kita membenci masa depan. Ia mengajari kita menempatkannya secara benar. Masa depan layak direncanakan, tetapi tidak layak diperlakukan seolah-olah telah berada dalam genggaman. Seorang mukmin tetap menanam, bekerja, membangun, dan mempunyai cita-cita panjang, sambil menyadari bahwa kesempatan untuk taat yang sedang berada di hadapannya merupakan sesuatu yang nyata, sedangkan hari esok masih berada dalam ilmu Allah.

Pada akhirnya mungkin kita tidak membutuhkan banyak pertanyaan untuk menutup renungan ini. Cukup satu yang dibawa pulang dan dijawab dengan jujur: kebaikan apa yang sebenarnya sudah lama saya tahu harus dilakukan, tetapi terus saya beri nama “nanti”?

Sebab tidak semua mengko akan memperoleh kesempatan menjadi saiki. Jangan sampai umur habis sementara kebaikan terus tersimpan di sebuah waktu yang tidak pernah benar-benar kita miliki, hingga kata yang dahulu berbunyi “nanti” akhirnya hanya dapat diucapkan sebagai “seandainya dulu.”

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

✒️ Tsaqif Rasyid Dai
🌐 persadani.org


Rujukan

Al-Qur'an, QS al-Mu'minun [23]: 99–100 dan QS Ali ‘Imran [3]: 133.

Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Riqāq, hadis no. 6416.

Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, syarah hadis Kun fī al-dunyā ka-annaka gharīban aw ‘ābira sabīl.

‘Abd al-Rahman ibn Nasir al-Sa‘di, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān.

Fuschia M. Sirois & Timothy A. Pychyl, kajian mengenai procrastination, regulasi emosi jangka pendek, dan hubungan dengan future self.

Kajian psikologi kontemporer mengenai procrastination, self-regulation, dan temporal discounting.

Artikel Populer

Hati yang Hidup dan Hati yang Mati

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ: Saat Orang Cerdas Mengadili Dirinya Sendiri

10 Hari yang Menguji Kejujuran Hati

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...