Keblondrok!

Keblondrok!

Ketika yang Gratis Ternyata Tidak Murah

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

 


“Ustaz, alhamdulillah, saya punya ayam tujuh puluh ekor. Kalau berkenan, silakan diambil semuanya. Sekalian kayu-kayu kandangnya.”

Siapa yang tidak senang? Tujuh puluh ekor ayam, gratis, dengan kandang sekalian. Tinggal diangkut, dipelihara, lalu dinikmati hasilnya.

“Alhamdulillah. Jazakumullah khairan.”

Tawaran diterima tanpa banyak pertimbangan.

Persoalan baru terasa ketika ayam-ayam itu benar-benar hendak dipindahkan. Kandang lama harus dibongkar, perlu tukang. Kayunya harus diangkut, perlu kendaraan. Sesampainya di pondok, kandang harus dibangun lagi, perlu tukang lagi. Belum pakan, kebersihan, dan perawatan sehari-hari.

Ketika semuanya dijumlahkan, muncul kesadaran yang agak terlambat. Ayamnya memang gratis. Tetapi menghadirkan ayam gratis itu ternyata tidak gratis.

Keblondrok!

Bukan karena pemberinya menipu, dan bukan karena ayamnya bermasalah. Justru pemberinya telah berbuat baik. Yang keblondrok adalah penerimanya: terlalu cepat melihat nilai pemberian, terlambat menghitung ongkos memilikinya.

Dan ongkos itu tidak hanya berupa uang. Ada tenaga, waktu, dan perhatian yang tersedot ke sana. Semuanya terbatas, dan setiap yang tersedot ke satu tempat berarti berkurang di tempat lain.

Di sinilah letak persoalannya, dan ia lebih dalam daripada soal kandang. Bukan apakah ayam itu bermanfaat. Tentu bermanfaat. Pertanyaannya: apakah manfaat itu sebanding dengan sumber daya yang dikorbankan, sementara mungkin ada kebutuhan lain yang lebih utama?

Dan kalau mau jujur, kita sering memutuskan “ya” bukan karena sudah menghitung, melainkan karena sungkan. Takut mengecewakan orang yang hendak berbuat baik, jadi kita mengiyakan dulu, bertanya bagaimana caranya belakangan. Rasa tidak enak hati sering menang atas kejernihan pertimbangan.

Ada ironi kecil di sini. Ketika mengeluarkan uang, kita menghitung dengan teliti, membandingkan harga, menawar. Tetapi ketika menerima sesuatu cuma-cuma, kehati-hatian itu mendadak hilang. Padahal keduanya sama-sama bisa menimbulkan biaya.

Di belakang sebuah truk, tertulis kalimat sederhana:

“Ojo mati-matian memperjuangkan sing ora iso digowo mati.”

Kalimat ini perlu dibaca hati-hati. Ia tidak menyuruh kita meninggalkan dunia. Beternak, berdagang, dan bekerja bisa menjadi amal bila diniatkan dan ditempatkan dengan benar. Yang disentil adalah mati-matiannya: ketika umur, tenaga, dan pikiran habis untuk mempertahankan sesuatu yang tidak ikut kita bawa pulang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Ada tiga yang mengikuti jenazah: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua kembali, satu tinggal bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.” (HR. al-Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 2960)

Para ulama menyediakan perangkat untuk menimbang urusan semacam ini. Yusuf al-Qaradawi membahasnya dalam Fī Fiqh al-Awlawiyyāt, tentang pentingnya menempatkan setiap urusan menurut kadar kepentingannya. Jangan sampai perkara kecil dibesarkan, sementara perkara yang lebih utama justru diabaikan.

Ini bukan selalu soal baik melawan buruk, melainkan sering kali baik melawan lebih baik.

Al-Qur'an mengingatkan bahwa tidak semua yang tampak mulia memiliki kedudukan yang sama:

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ

“Apakah kamu menjadikan pemberi minum bagi orang yang berhaji dan pemakmur Masjidilharam setara dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah.” (QS. At-Taubah: 19, penggalan ayat)

Memberi minum jamaah haji dan memakmurkan Masjidilharam adalah pekerjaan mulia apabila dilandasi iman. Namun kemuliaan sebuah kegiatan tidak dapat dipisahkan dari landasan dan tujuan yang menjadikannya bernilai. Tidak semua yang tampak besar memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah.

Fikih prioritas mengajarkan kita menempatkan sesuatu menurut kadar kepentingannya. Tetapi mengetahui urutan ternyata belum tentu membuat kita bersedia mengikutinya. Sebab kadang yang mengacaukan prioritas bukan kurangnya pengetahuan, melainkan kecenderungan hati yang lebih menyukai sesuatu yang tampak menyenangkan.

Nah, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa setiap pemberian harus ditolak. Tidak. Sedekah tetap sedekah, dan pemberinya tetap layak didoakan. Tetapi bagi orang yang memegang amanah, apalagi amanah sebuah lembaga, ada pertanyaan yang pantas diajukan sebelum mengucapkan “ya”: apakah pemberian ini benar-benar mendatangkan maslahat, atau justru menghadirkan beban baru? Dan bila ternyata beban, adakah cara menolak yang tetap santun dan tetap menghargai niat baik pemberinya?

Sampai di sini kita masih membahas keliru menghitung. Ada lapisan yang lebih menggigit.

Sering kali kita bukan tidak tahu mana yang lebih penting. Kita tahu. Hanya saja yang kurang penting itu lebih menyenangkan: lebih kelihatan hasilnya, lebih mudah dikabarkan, lebih mudah mendatangkan decak kagum. Menerima dan membangun terasa lebih heroik daripada merawat dan menuntaskan. Tujuh puluh ekor ayam mudah dihitung dan dipamerkan. Perhatian yang tersisa untuk hal-hal yang jauh lebih penting tidak tampak di kandang mana pun.

Di titik ini persoalannya bukan lagi sekadar manajemen. Ada hawa nafsu yang ikut menyusun urutannya.

Kita mungkin tidak salah memilih sesuatu yang baik. Kita hanya keliru mengorbankan sesuatu yang jauh lebih baik untuk mendapatkannya.

Tujuh puluh ekor ayam itu tidak pernah berbohong. Semuanya memang diberikan cuma-cuma. Yang keliru hanyalah hitungan di kepala kita: mengira sesuatu yang tidak perlu dibeli juga tidak perlu dibiayai.

Barangkali itulah keblondrok yang sesungguhnya. Bukan tertipu oleh orang lain, melainkan oleh kegembiraan kita sendiri. Dan yang paling menyedihkan bukan ketika kita gagal mendapatkan sesuatu, melainkan ketika kita berhasil mendapatkannya dengan mengorbankan sesuatu yang jauh lebih berharga.

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahf: 10)


Referensi

  1. Al-Qur'an al-Karim, QS. At-Taubah [9]: 19 dan QS. Al-Kahf [18]: 10.
  2. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, hadis no. 6514.
  3. Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim, Kitab az-Zuhd wa ar-Raqa'iq, hadis no. 2960.
  4. Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. At-Taubah: 19.
  5. Al-Qaradawi, Yusuf. Fi Fiqh al-Awlawiyyat: Dirasah Jadidah fi Dhaw' al-Qur'an wa as-Sunnah. Kairo: Maktabah Wahbah, cet. ke-7, 2005.

Artikel Populer

Sadap, Ngeri-Ngeri Sedap

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ: Saat Orang Cerdas Mengadili Dirinya Sendiri

Males, Capek, Cepek

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...