Scroll Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Latihan Jiwa
Scroll Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Latihan Jiwa
Oleh Nuraini Persadani | 9 Mei 2026 / 21 Dzulqa'dah 1447 H
Dulu, orang mengeluh karena bosan. Sekarang, orang gelisah karena terlalu ramai. Ada yang berbeda pada zaman ini — bukan sepinya yang mengganggu, melainkan kebisingannya yang tak pernah berhenti. Jari terus bergerak bahkan ketika pikiran sudah lelah. Layar terus menyala bahkan ketika mata sudah meminta istirahat. Hati terus dijejali gambar, suara, dan berita, namun anehnya semakin kosong.
Kita hidup di zaman di mana manusia takut sunyi, lalu menyerahkan jiwanya kepada layar.
Allah bersumpah atas nama waktu — sebuah sumpah yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana waktu kita sedang berlalu? Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
(QS. Al-'Ashr: 1–3)
Apakah waktu kita pergi membawa makna, atau sekadar menguap di antara ribuan video pendek yang bahkan tidak kita ingat esok harinya?
Scroll Itu Tidak Netral
Ada anggapan yang perlu kita luruskan bersama: bahwa scroll itu netral. Bahwa membuka media sosial adalah aktivitas kosong, selingan tak berbahaya, sekadar pengisi waktu. Padahal, tidak ada kebiasaan yang benar-benar netral. Setiap hal yang kita ulangi akan membentuk jiwa kita — tanpa kita sadari, tanpa kita minta izin.
Para ulama salaf telah meletakkan sebuah prinsip yang jauh mendahului temuan ilmu saraf modern: hati — الْقَلْب (al-qalb) — akan terbiasa mencintai apa yang dibiasakan padanya. Hati itu seperti tanah; ia akan menumbuhkan apa yang sering ditaburkan ke dalamnya, benih cinta atau benih kelalaian.
"Sakitnya hati ialah keluarnya hati dari kesesatan dan kenormalannya. Sehatnya hati ialah dengan mengetahui Al-Haq, mencintai-Nya, dan mementingkan-Nya dari yang lain."
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah — Al-Fawaid
Dulu, hati seorang Muslim merasa berat ketika matanya tidak sengaja menatap sesuatu yang tidak layak. Ada rasa tidak nyaman, ada getaran — tanda bahwa hati masih hidup, masih peka. Namun setelah ribuan tayangan serupa melintas setiap hari — setelah terbiasa, setelah menjadi rutin — kepekaan itu menghilang. Bukan karena dosanya berkurang, tetapi karena hati sudah kehilangan sensitivitasnya. Ia tidak lagi bisa merasakan apa yang seharusnya ia rasakan.
Otak Manusia Dibentuk oleh Pengulangan
Ilmu saraf modern berbicara tentang neuroplasticity — kemampuan otak untuk terus berubah berdasarkan apa yang sering kita lakukan. Otak kita bukan benda mati yang statis. Ia dibentuk oleh pengulangan. Setiap kebiasaan membangun jalur saraf, dan jalur yang sering dilewati akan semakin kuat, sementara yang ditinggalkan akan melemah dan menghilang.
Platform digital dirancang dengan sangat cermat — bukan untuk membuat kita selesai, melainkan untuk membuat kita terus tinggal. Setiap scroll, setiap like, setiap notifikasi memberi hadiah kecil pada otak berupa semburan dopamin. Dopamin adalah zat kimia yang membuat kita merasa senang sejenak, lalu segera menginginkan lebih. Inilah yang oleh para peneliti disebut intermittent reward system — sistem hadiah tak menentu yang justru lebih kuat mengikat daripada hadiah yang pasti, dan ia bekerja persis seperti cara mesin judi dirancang.
Nicholas Carr, dalam bukunya The Shallows, menggambarkan bagaimana internet secara perlahan mengubah cara otak kita bekerja. Kita menjadi semakin pandai memindai, namun semakin lemah dalam membaca mendalam. Semakin cepat bereaksi, namun semakin sulit merenung. Bukan karena kita bodoh, tetapi karena otak kita sedang dilatih oleh kecepatan — dan kecepatan itu tidak ramah bagi kedalaman.
"Yang dicuri media sosial bukan cuma waktu kita, tapi kemampuan kita untuk diam dan berpikir panjang."
Yang Dilatih Bukan Tangan, Tapi Jiwa
Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Yang dilatih oleh scroll bukan sekadar tangan kita. Yang dilatih adalah jiwa — cara kita memperhatikan, cara kita bersabar, cara kita menikmati sesuatu yang pelan dan dalam.
Pernahkah kita merasa bahwa shalat terasa sangat panjang? Bahwa kajian terasa berat hanya setelah sepuluh menit? Bahwa membaca Al-Qur'an terasa sulit dinikmati, kata-katanya meluncur di depan mata tanpa menyentuh hati? Bahwa doa — الدُّعَاء (ad-du'a') — terasa hambar, diucapkan tanpa kehadiran jiwa?
Kita mungkin mengira itu karena iman sedang turun, atau karena kita memang lemah. Namun ada kemungkinan lain yang perlu direnungi dengan jujur: kita kesulitan menikmati ibadah bukan karena Islam terlalu berat, melainkan karena jiwa kita sudah dilatih oleh kecepatan. Jiwa yang terbiasa dengan konten tiga detik akan merasa tersiksa ketika diminta diam selama tiga menit.
Allah memuji ulul albab — أُولُو الْأَلْبَاب — mereka yang tidak hanya melihat, tetapi merenung. Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, ada tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi."
(QS. Ali 'Imran: 190–191)
Tafakkur — تَفَكُّر — merenungi dengan serius dan hadir sepenuhnya — adalah salah satu puncak amal hati dalam Islam. Namun tafakkur membutuhkan sesuatu yang semakin langka di zaman ini: kemampuan untuk diam.
Ulama Salaf dan Bahaya Kelalaian
Para ulama terdahulu berbicara tentang bahaya kelalaian — الْغَفْلَة (al-ghaflah) — jauh sebelum era media sosial lahir. Mereka berbicara tentang jiwa yang perlahan rusak, bukan karena satu dosa besar, melainkan karena ribuan momen kecil yang dianggap biasa.
"Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu."
Hasan Al-Bashri
"Di antara tanda Allah berpaling dari seorang hamba, Allah menjadikannya sibuk dalam hal yang sia-sia sebagai tanda Allah menelantarkannya."
Hasan Al-Bashri
Satu video terlihat kecil dan tak berbahaya. Satu jam terasa wajar dan dapat dimaafkan. Namun ribuan video dan ratusan jam itulah yang membentuk umur. Itulah yang mengisi lembaran hari-hari yang kelak akan ditanya.
"Sepantasnya bagi seseorang untuk mengetahui tentang betapa berharganya usianya dan betapa bernilainya waktu yang Allah berikan kepadanya. Janganlah dia menyia-nyiakan sekejap pun dari usianya di dalam selain ketaatan kepada Allah."
Ibnul Jauzi — Shaidul Khatir
Algoritma vs Hati Manusia
Ada yang lebih dalam dari sekadar soal waktu. Media sosial bukan hanya memakan jam kita — ia juga mempelajari kita. Algoritma bekerja dengan satu prinsip sederhana namun sangat kuat: memberi kita apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita butuhkan. Ia memperhatikan apa yang kita tonton lebih lama, apa yang membuat kita berhenti, apa yang membuat kita marah atau tertawa atau iri. Lalu ia menyuapi itu terus-menerus, tanpa henti, tanpa belas kasihan.
"Algoritma modern bekerja seperti hawa nafsu: memberi apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita butuhkan."
Ibnu Taimiyyah pernah menuliskan sebuah kalimat yang terasa seperti ditulis untuk zaman ini:
"Jika hati manusia telah kosong dari perasaan, maka setan akan mudah masuk ke dalamnya. Setan akan sulit masuk ke dalam hati manusia jika hatinya diisi dengan dzikr — ذِكْر — kepada Allah."
Ibnu Taimiyyah
Ketika hati terus diberi syahwat, kemarahan, hiburan kosong, dan validasi instan, ia kehilangan kemampuan menikmati yang lebih tinggi: ilmu, dzikir, kesunyian, dan ibadah. Hati yang terus diberi gula murahan akan kehilangan kemampuan merasakan cita rasa yang sesungguhnya.
أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ
"Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya sama dengan orang yang membatu hatinya? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata."
(QS. Az-Zumar: 22)
Manusia Modern Kehilangan Kemampuan Tafakkur
Dulu — tidak terlalu lama, mungkin hanya satu generasi silam — ada momen di mana orang benar-benar sendirian dengan pikirannya. Di perjalanan. Di ruang tunggu. Di malam yang sunyi sebelum tidur. Dalam kesendirian itulah hati berbicara. Di situlah manusia merenungi hidupnya, menyesali kesalahannya, merindukan Tuhannya.
Sekarang, begitu sunyi datang, tangan sudah bergerak lebih cepat dari pikiran. Layar menyala. Scrolling dimulai. Sunyi terusir. Dan jiwa, sekali lagi, tidak mendapatkan ruang untuk bernapas.
"Kalbu yang kosong dari dzikir kepada Allah, niscaya akan kekurangan sumber mata air kehidupan ruhani. Kalbu akan kering, gersang, keras, penuh bara api, serta gejolak nafsu dan syahwat."
Al-Hakim at-Tirmidzi (dikutip oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyyah)
Allah berfirman tentang orang-orang yang berpikir dan merenung:
وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, sebagai rahmat dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir."
(QS. Al-Jathiyah: 13)
Bukan Berarti Harus Membenci Teknologi
Perlu ditegaskan di sini: ini bukan seruan untuk membenci teknologi. Islam adalah agama yang mengajak kita melihat alat sebagai alat, bukan sebagai tuan. Teknologi itu netral — yang menjadi masalah adalah ketika ia mendominasi, ketika kendali berpindah dari kita kepada layar, ketika kita hidup tanpa kesadaran.
Wasathiyah — الْوَسَطِيَّة — jalan tengah yang seimbang — adalah prinsip yang menolak dua kutub: baik ekstremisme penolakan maupun penyerahan diri yang buta. Yang berbahaya bukan kepemilikan smartphone. Yang berbahaya adalah ketika smartphone memiliki kita.
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)
Ketenangan itu tidak akan ditemukan dalam ribuan reels. Ia ada dalam dzikir, dalam sunyi yang dijaga, dalam ibadah yang dihayati.
Solusi: Melatih Kembali Jiwa yang Terlanjur Terburu
Lantas apa yang bisa kita lakukan? Bukan daftar langkah motivasional yang terasa kosong setelah tiga hari. Melainkan sebuah latihan jiwa yang sesungguhnya — karena jiwa yang telah dilatih oleh kecepatan harus dilatih kembali untuk menikmati kedalaman.
Mulailah dengan hal yang sederhana namun bukan hal yang mudah: latih dirimu untuk menikmati sunyi. Duduk tanpa layar, walau hanya sepuluh menit. Biarkan pikiran bergerak ke mana ia ingin pergi. Jangan segera mengisi jeda itu dengan distraksi. Sunyi bukan musuh — ia adalah ruang di mana jiwa akhirnya bisa berbicara jujur kepada dirinya sendiri.
Biasakan membaca yang panjang — sebuah buku, beberapa halaman Al-Qur'an dengan tadabbur — تَدَبُّر — yang sungguh-sungguh. Kemampuan membaca panjang bukan sekadar soal intelektual; ia adalah latihan jiwa untuk bersabar, untuk bertahan dalam proses, untuk menikmati makna yang tidak datang seketika. Kurangi konten short-form. Ganti sebagian waktu scroll dengan tilawah. Berjalan kaki tanpa earphone, biarkan langkah dan udara menjadi teman berpikir.
"Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia."
Imam Syafi'i (dikutip dalam Al-Jawaabul Kaafi)
"Jiwa yang terus diberi kebisingan akan kehilangan kemampuan mendengar dirinya sendiri."
Penutup
Di penghujung renungan ini, ada satu hal yang paling menakutkan dari scroll tanpa akhir — bukan bahwa ia menghabiskan waktu kita, meskipun itu sudah cukup serius. Yang paling menakutkan adalah bahwa ia perlahan mengubah siapa diri kita. Tanpa kita sadari. Tanpa kita setujui.
Kita tidak selalu rusak karena satu dosa besar. Kadang kita melemah karena terlalu lama hidup dalam distraksi kecil yang terus diulang tanpa kesadaran.
Hati yang sehat — الْقَلْبُ السَّلِيم (al-qalbus salim) — bukan hati yang tidak pernah tergoda. Hati yang sehat adalah hati yang masih bisa merasa: masih bisa tersentuh oleh ayat, masih bisa menangis dalam doa, masih bisa merasakan betapa indahnya khusyuk walau sejenak. Menjaga kepekaan itu adalah jihad jiwa yang sungguh-sungguh di zaman ini.
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian."
(QS. Al-'Ashr: 1–2)
Semoga Allah menjaga hati kita. Semoga setiap momen sunyi yang kita jaga menjadi ladang tumbuhnya tafakkur. Dan semoga layar-layar yang mengelilingi hidup kita tidak pernah berhasil menggantikan cahaya yang seharusnya mengisi dada kita.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا قُلُوبًا خَاشِعَةً لَكَ، وَاحْفَظْنَا مِنَ اللَّهْوِ الَّذِي يُبْعِدُنَا عَنْكَ
"Ya Allah, jadikanlah hati-hati kami sebagai hati yang khusyuk kepada-Mu, dan jagalah kami dari kelalaian yang menjauhkan kami dari-Mu."
Wallahu a'lam bish-shawab.
Nuraini Persadani
persadani.org — Media Analitik Islam Wasathiyah