Kita Hanya Melihat Potongan Cerita

Kita Hanya Melihat Potongan Cerita

Hikmah Ulama Salaf untuk Era Cancel Culture dan Komentar Media Sosial

Oleh Nuraini Persadani  |  1 Dzulhijjah 1447 H / 18 Mei 2026

Pernah merasa marah setelah menonton satu video 30 detik?

Kita melihat seseorang berbicara — lalu langsung tahu: dia salah. Dia sesat. Dia tidak paham agama. Kita mengetik komentar dengan keyakinan penuh, dengan perasaan bahwa kita sedang membela kebenaran. Padahal kita bahkan tidak tahu apa yang terjadi lima menit sebelum video itu dimulai. Tidak tahu konteksnya. Tidak tahu perjalanan hidup orang itu. Tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya.

Ini bukan cerita tentang orang lain. Ini cerita tentang kita semua — termasuk penulis artikel ini.

Mungkin masalah terbesar zaman ini bukan kurangnya ilmu. Bukan kurangnya orang yang mau bersuara. Masalah terbesarnya adalah terlalu cepatnya rasa yakin. Terlalu mudahnya kita merasa sudah cukup tahu untuk menghakimi. Para ulama menyebut penyakit ini dengan berbagai nama, tetapi intinya satu: merasa memiliki kebenaran yang belum sepenuhnya kita kuasai.

Dan menariknya, para ulama salaf sudah lama memperingatkan penyakit ini — jauh sebelum internet ada.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan batas ilmu manusia dengan sangat jelas:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Wa mā ūtītum minal-'ilmi illā qalīlā.

"Tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit." — QS. Al-Isra': 85

Sebelum melanjutkan, ada satu hal yang perlu ditegaskan sejak awal: artikel ini bukan tentang melarang kritik atau menghindari amar ma'ruf nahi munkar. Islam justru menempatkannya sebagai tanda umat terbaik:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ

Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnās ta'murūna bil-ma'rūf wa tanhauna 'anil-munkar.

"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia: menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar." — QS. Ali 'Imran: 110

Yang direnungkan bersama dalam artikel ini bukan apakah kita boleh mengoreksi. Yang direnungkan adalah empat hal yang lebih halus: koreksi tanpa ilmu yang cukup, dakwah tanpa rahmah, kritik tanpa adab, dan keyakinan tanpa kerendahan hati. Empat hal yang perlahan menggerogoti dari dalam — dan sering tidak kita sadari.

Tiga tokoh dalam khazanah Islam meninggalkan warisan yang saling menyambung untuk menjawab ini. Kisah Nabi Musa 'alaihis salam dan Khidr mengajarkan keterbatasan penilaian kita terhadap realitas. Jejak hidup Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu mengajarkan bahwa cara menyampaikan kebenaran menentukan apakah hati membuka atau menutup. Dan pemikiran Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah mengajarkan yang paling menusuk: bahwa musuh terbesar sering bukan ada di luar, melainkan di dalam diri kita sendiri.


Musa dan Khidr: Kita Sering Hanya Membaca Ayat 71, Belum Sampai Ayat 79

Ada ujian yang Allah rancang khusus untuk seorang nabi besar — dan pelajarannya sangat relevan untuk kita hari ini.

Nabi Musa 'alaihis salam adalah seorang ulul azmi. Pemimpin besar. Penerima wahyu langsung. Tapi Allah mempertemukannya dengan seorang hamba saleh yang diberi ilmu khusus dari sisi-Nya untuk mengajarkan satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh posisi atau jabatan: bahwa apa yang tampak di depan mata belum tentu seluruh ceritanya.

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

Fa wajadā 'abdan min 'ibādinā ātaināhu raḥmatan min 'indinā wa 'allamnāhu min ladunnā 'ilmā.

"Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu dari sisi Kami." — QS. Al-Kahfi: 65

Imam Jalaluddin al-Mahalli dan as-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa 'ilm ladunni adalah ilmu yang Allah bukakan secara khusus — bukan semata hasil belajar lahiriah. Musa, dengan seluruh kebesarannya, datang sebagai murid. Ia meminta dengan penuh adab:

هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Hal attabi'uka 'alā an tu'allimanī mimmā 'ullimta rushdā.

"Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar?" — QS. Al-Kahfi: 66

Imam Fakhruddin ar-Razi menyoroti adab yang luar biasa dalam kalimat ini: seorang nabi besar masih meminta izin untuk belajar. Justru orang yang paling berilmu yang paling sadar akan batas ilmunya.

Lalu ujian itu dimulai. Khidr melubangi perahu milik orang miskin. Secara lahiriah ini jelas: merusak milik orang lain adalah kemungkaran. Musa pun menegur:

أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا

Akharaqtahā litughriqa ahlahā?

"Mengapa engkau melubanginya, apakah engkau hendak menenggelamkan penumpangnya?" — QS. Al-Kahfi: 71

Penilaian Musa valid secara syariat zahir. Tapi ia belum mengetahui lapisan takdir yang tersembunyi di baliknya. Baru di akhir perjalanan seluruhnya terungkap:

فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

Fa aradtu an a'ībahā wa kāna warā'ahum malikun ya'khudzu kulla safīnatin ghaṣbā.

"Aku sengaja membuat cacat padanya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu yang baik." — QS. Al-Kahfi: 79

Imam Ibnu Katsir menjelaskan: Khidr menerapkan kaidah irtikāb akhaff adh-dhararayn — menanggung kerusakan kecil untuk menolak kerusakan yang jauh lebih besar. Begitu pula dengan seorang anak yang diambil nyawanya — yang pada zahirnya tampak kejam, namun Allah menyingkap hikmahnya:

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا

Wa ammal-ghulāmu fakāna abawāhu mu'minayn fa khasyinā an yurhiqahumā ṭughyānan wa kufrā.

"Adapun anak itu, kedua orang tuanya mukmin, dan Kami khawatir dia akan menyeret keduanya kepada kesesatan dan kekafiran." — QS. Al-Kahfi: 80

Manusia menilai hanya dari potongan waktu. Allah melihat keseluruhan takdir — awal, tengah, dan akhir sekaligus. Imam Al-Ghazali merumuskannya dalam kaidah ruhani yang indah:

رُبَّ مَكْرُوهٍ فِي طَيِّهِ مَحْبُوبٌ

Rubba makrūhin fī ṭayyihi maḥbūb.

"Betapa banyak sesuatu yang dibenci, namun di dalamnya tersimpan kebaikan." — (Ihya' Ulumuddin, Kitab at-Tawakkul)

Hubungannya dengan linimasa kita hari ini sangat langsung: kita menghakimi orang dari screenshot, potongan ceramah, satu kalimat viral. Kita hanya membaca "ayat 71" — melihat perahu dirusak — tanpa tahu "ayat 79" yang menyingkap segalanya. Maka Imam Al-Ghazali memberi adab yang seharusnya mendahului setiap komentar kita:

احْمِلْ كَلَامَ أَخِيكَ عَلَى أَحْسَنِ الْمَحَامِلِ

Iḥmil kalāma akhīka 'alā aḥsanil maḥāmil.

"Bawalah ucapan saudaramu pada kemungkinan makna terbaik." — (Ihya' Ulum al-Din, Adab al-Ukhuwah)

Kisah Musa–Khidr berhenti di sini dengan satu pelajaran: kamu belum tahu seluruh cerita orang itu. Tapi ada pertanyaan berikutnya yang lebih praktis — seandainya pun kita sudah tahu kebenarannya, bagaimana cara menyampaikannya?


Jembatan: Adab Terhadap Informasi

Sebelum masuk ke cara menyampaikan, ada satu lapisan yang sering terlewat: bagaimana kita memperlakukan informasi itu sendiri sebelum bereaksi.

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu — salah satu sahabat yang paling tegas dalam membela kebenaran — meninggalkan prinsip yang dinisbatkan dalam atsar adab salaf dan terasa sangat relevan hari ini:

لَا تَظُنَّنَّ بِكَلِمَةٍ خَرَجَتْ مِنْ أَخِيكَ شَرًّا وَأَنْتَ تَجِدُ لَهَا فِي الْخَيْرِ مَحْمِلًا

Lā taẓunnanna bikalimatin kharajat min akhīka syarran wa anta tajidu lahā fil-khair maḥmilā.

"Jangan sekali-kali berprasangka buruk terhadap ucapan saudaramu jika masih ada kemungkinan memaknainya dengan baik." — (Dinisbatkan dalam atsar adab salaf)

Ini bukan naivitas. Umar adalah orang yang paling tegas menindak kemungkaran. Tapi beliau juga orang yang paling berhati-hati dalam berprasangka. Karena beliau tahu: prasangka yang tergesa adalah pintu masuk kezaliman — bahkan ketika pelakunya bermaksud membela kebenaran.

Al-Qur'an sendiri menyebut tabayyun sebagai kewajiban sebelum bertindak:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Yā ayyuhalladzīna āmanū in jā'akum fāsiqun bimaba'in fatabayyanū.

"Wahai orang-orang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka telitilah kebenarannya." — QS. Al-Hujurat: 6

Jika terhadap berita dari orang fasik saja kita diperintahkan tabayyun — apalagi terhadap potongan video dari seseorang yang bahkan tidak kita kenal, yang konteks utuhnya tidak kita ketahui.

Inilah jembatan antara Musa–Khidr dan tokoh berikutnya: sebagaimana kita tidak tahu seluruh cerita peristiwa, kita juga harus berhati-hati terhadap informasi yang kita gunakan sebagai dasar menilai manusia.


Abdullah bin Mas'ud: Kebenaran yang Kasar Sering Kalah oleh Kebatilan yang Halus

Sekarang pertanyaannya bergeser: kalaupun kita sudah tahu kebenarannya, dan sudah cukup tabayyun — bagaimana cara menyampaikannya?

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah jawabannya.

Beliau adalah sahabat paling awal masuk Islam. Seorang faqih, ahli Qur'an, murid dekat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sampai Nabi bersabda tentangnya:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

Man aḥabba an yaqra'al-Qur'āna ghaḍḍan kamā unzila falyaqra'hu 'alā qirā'ati Ibni Ummi 'Abd.

"Barangsiapa ingin membaca Al-Qur'an sebagaimana diturunkan, hendaklah ia membaca menurut bacaan Ibnu Ummi 'Abd." — HR. Ahmad (hasan shahih)

Namun dengan seluruh kedalaman ilmunya, beliau tidak berceramah setiap hari. Beliau memberi nasihat hanya sekali seminggu. Ketika seseorang meminta lebih sering, beliau menjawab:

إِنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ، وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا

Innī akrahu an umillakum, wa innī atakhawwalukum bil-maw'izhah kamā kānan-Nabiyyu ﷺ yatakhawwalunā bihā.

"Aku tidak suka membuat kalian bosan. Aku memilih waktu dalam menasihati kalian sebagaimana Nabi ﷺ memilih waktu ketika menasihati kami." — HR. Bukhari (Kitab al-'Ilm)

Imam an-Nawawi menjelaskan: seorang pendidik hendaknya memilih waktu yang tepat dan tidak berlebihan dalam nasihat, karena jiwa manusia memiliki kejenuhan. Abdullah bin Mas'ud sendiri berkata:

إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ تَمَلُّ كَمَا تَمَلُّ الْأَبْدَانُ فَابْتَغُوا لَهَا طَرَائِفَ الْحِكْمَةِ

Inna hādhihil qulūba tamallu kamā tamallul abdān, fabtaghū lahā ṭarā'ifal ḥikmah.

"Sesungguhnya hati itu bisa bosan sebagaimana badan juga bosan; maka carilah untuknya sentuhan-sentuhan hikmah."

Allah bahkan memerintahkan Musa dan Harun untuk berbicara kepada Fir'aun — seorang tiran yang mengaku tuhan — dengan lembut:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا

Faqūlā lahu qawlan layyinā.

"Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut." — QS. Thaha: 44

Jika kepada Fir'aun saja diperintahkan lembut, apalagi kepada sesama Muslim yang sedang dalam proses belajar. Allah juga menegaskan manhaj dakwah yang benar:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Ud'u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau'iẓatil-ḥasanah.

"Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik." — QS. An-Nahl: 125

Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan: hikmah berarti menempatkan sesuatu sesuai tempatnya — termasuk memilih cara bicara yang tepat. Allah tidak berkata "menangkan debatmu." Allah berkata bil hikmah dan al-mau'izhah al-hasanah.

Imam Al-Ghazali menambahkan peringatan keras:

النَّصِيحَةُ عَلَى وَجْهِ التَّعْيِيرِ فَضِيحَةٌ

An-naṣīḥatu 'alā wajhit-ta'yīr faḍīḥah.

"Nasihat yang dilakukan dengan mempermalukan hakikatnya adalah membuka aib." — (Ihya' Ulum al-Din, Kitab Adab al-Ukhuwah)

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempertegas:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

Yassirū wa lā tu'assirū wa basysyirū wa lā tunaffirū.

"Permudahlah, jangan mempersulit. Berilah kabar gembira, jangan membuat orang lari." — HR. Bukhari dan Muslim

Orang tidak berubah karena dipermalukan. Orang berubah karena hatinya disentuh. Dan hati punya musimnya sendiri: kadang seseorang menolak nasihat hari ini, lalu menerimanya bertahun-tahun kemudian — ketika cara penyampaiannya tidak melukai, tidak menutup pintu.

مَا كَانَ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ

Mā kānar-rifqu fī syai'in illā zānahu.

"Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu kecuali ia akan menghiasinya." — HR. Muslim

Musa–Khidr berkata: kamu belum tahu seluruh cerita. Umar dan prinsip tabayyun berkata: telitilah dulu sebelum bereaksi. Abdullah bin Mas'ud meneruskan: kalaupun kamu sudah tahu, cara menyampaikan menentukan apakah hidayah terbuka atau tertutup. Dan kini kita sampai di lapisan paling dalam.


Ibn Rajab al-Hanbali: Musuh Terbesar Ada di Dalam, Bukan di Luar

Ada satu pertanyaan yang lebih mengguncang dari semua yang sudah kita bahas:

Bagaimana kalau masalah terbesarnya justru ada di dalam dirimu sendiri?

Di linimasa hari ini mudah sekali menemukan suara-suara yang berbunyi: "Yang selamat hanya kelompok kami." "Yang lain sudah sesat." "Saya pasti benar karena berlandaskan dalil." Ini adalah puncak dari penyakit yang kita bicarakan sejak awal — bukan lagi sekadar tergesa menilai, bukan lagi sekadar kasar dalam berdakwah, melainkan sudah merasa aman dari kemungkinan salah.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah, dalam karya monumentalnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, menjelaskan tanda keselamatan hati sejati dengan cara yang mengejutkan:

الْمُؤْمِنُ يَجْمَعُ إِحْسَانًا وَشَفَقَةً، وَالْمُنَافِقُ يَجْمَعُ إِسَاءَةً وَأَمْنًا

Al-mu'minu yajma'u iḥsānan wa syafaqah, wal-munāfiqu yajma'u isā'atan wa amnā.

"Seorang mukmin menggabungkan antara amal baik dan rasa takut (amalnya tidak diterima), sedangkan orang munafik menggabungkan keburukan dengan rasa aman."

Bukan merasa sudah baik — melainkan justru takut amalnya tidak diterima. Allah memuji hamba-hamba terbaik-Nya dengan gambaran yang berlawanan dari apa yang kita duga:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Walladzīna yu'tūna mā ātaw wa qulūbuhum wajilah annahum ilā rabbihim rāji'ūn.

"Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan, sementara hati mereka takut karena mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." — QS. Al-Mu'minun: 60

Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ini — apakah yang dimaksud mereka yang berbuat dosa lalu takut kepada Allah? Rasulullah menjawab:

لَا يَا ابْنَةَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يُصَلُّونَ وَيَصُومُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ

Lā yā bintaṣ-ṣiddīq, walākinnahumul-ladzīna yuṣallūna wa yaṣūmūna wa yataṣaddaqūna wa hum yakhāfūna an lā yuqbala minhum.

"Bukan, wahai putri ash-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang salat, puasa, bersedekah, namun takut amal mereka tidak diterima." — HR. Tirmidzi (hasan shahih)

Mereka yang paling banyak beramal — justru yang paling banyak gemetar. Karena mereka tahu: niat bisa rusak tanpa terasa, amal bisa terselip riya, istikamah bisa rapuh dari dalam.

Ibn Rajab mengingatkan satu penyakit halus yang disebut ujub spiritual — merasa aman karena amal. Inilah yang membuat seseorang mudah menghakimi orang lain: karena ia sudah merasa posisinya tinggi, sudah berada di sisi yang benar, sudah tidak perlu lagi meragukan dirinya. Allah berfirman dengan tegas:

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

Falā tuzakkū anfusakum huwa a'lamu bimanit-taqā.

"Maka janganlah kalian menyucikan diri kalian. Allah lebih tahu siapa yang bertakwa." — QS. An-Najm: 32

Dan ada hadits yang seharusnya menahan siapa pun sebelum mengetik "sesat" atau "rusak" kepada orang lain:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ

Idzā qālar-rajulu halakan-nās fahuwa ahlakuhum.

"Jika seseorang berkata: 'Manusia semuanya rusak,' maka dialah yang paling rusak di antara mereka." — HR. Muslim

Imam an-Nawawi menjelaskan: ini berlaku bagi yang mengucapkannya karena ujub dan merasa lebih baik dari yang lain.

Ibn Rajab membedakan dua arah husnuzan. Husnuzan kepada Allah adalah wajib — kita selalu berharap rahmat-Nya:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

Ana 'inda ẓanni 'abdī bī.

"Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku." — HR. Bukhari dan Muslim

Tetapi husnuzan kepada diri sendiri — merasa sudah pasti benar, sudah layak menghakimi — itulah yang para salaf waspadai. Imam Ibn 'Athaillah merumuskannya dalam Al-Hikam:

أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ: الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ

Aṣlu kulli ma'ṣiyatin wa ghaflatin wa syahwah: ar-riḍā 'anin-nafs.

"Akar seluruh maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah merasa puas terhadap diri sendiri." — (Al-Hikam)

Ada atsar yang dinisbatkan kepada Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dalam literatur salaf — seorang yang Rasulullah sendiri jaminkan masuk surga — yang mencerminkan bagaimana para wali Allah memandang diri mereka sendiri: seandainya hanya satu orang yang tidak masuk surga, beliau khawatir akulah orang itu. Paradoks ruhani yang dalam: semakin dekat kepada Allah, semakin tajam rasa takut kepada diri sendiri. Semakin alim seseorang, biasanya semakin sedikit ia menghakimi orang lain — karena semakin banyak yang ia lihat di cermin dirinya sendiri.


Muhasabah Bersama, Bukan Kuliah untuk Orang Lain

Tiga tokoh ini — ditambah prinsip tabayyun yang menjahit semuanya — membentuk satu rantai yang utuh.

Musa–Khidr: kamu belum tahu seluruh cerita orang itu.
Tabayyun: telitilah dulu sebelum bereaksi terhadap informasi.
Abdullah bin Mas'ud: cara menyampaikan menentukan apakah hati membuka atau menutup.
Ibn Rajab: yang paling perlu dicurigai justru nafsumu sendiri.

Benang merahnya satu: ilmu yang sesungguhnya melahirkan kerendahan hati, bukan kepercayaan diri untuk menghakimi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Yā ayyuhalladzīna āmanū ijtanibū katsīran minazh-zhann, inna ba'dha zh-zhanni itsm.

"Wahai orang-orang beriman, jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa." — QS. Al-Hujurat: 12

Mungkin ada tiga pertanyaan sederhana yang layak kita letakkan di hati sebelum jari kita mengetik — bukan sebagai aturan dari luar, tapi sebagai muhasabah dari dalam:

Sebelum berkomentar tentang seseorang: sudahkah aku tahu konteks penuhnya — atau hanya "ayat 71"-nya?

Sebelum menegur: apakah caraku ini membuat orang mendekat kepada Allah, atau justru lari menjauh?

Sebelum merasa paling benar: sudahkah aku memeriksa keadaan hati dan niatku sendiri terlebih dahulu?


Apakah Kita Sedang Mencari Kebenaran — atau Hanya Ingin Merasa Benar?

Kita hidup di zaman ketika semua orang punya mikrofon, tapi sedikit yang punya kesabaran.

Kita mengira melihat satu potongan cerita berarti memahami seluruh manusia. Kita mengira semangat membela kebenaran sudah cukup menjamin bahwa cara kita benar. Kita mengira amal yang banyak sudah cukup menjamin bahwa hati kita bersih.

Musa — seorang nabi besar, penerima wahyu, pemimpin umat — pernah mengira ia memahami apa yang terjadi di depan matanya. Lalu Allah menunjukkan: bahkan seorang nabi besar pun tidak selalu melihat seluruh rahasia yang tersembunyi di balik peristiwa. Perahu yang dirusak ternyata keselamatan. Anak yang diambil nyawanya ternyata perlindungan. Tembok yang dibangun gratis ternyata warisan untuk dua anak yatim.

Jika seorang nabi bisa tidak lengkap dalam penilaiannya, apa yang membuat kita — dengan secuil informasi dari linimasa, dari potongan video, dari satu kalimat yang dipotong dari konteksnya — merasa sudah cukup tahu untuk menghapus nama seseorang?

Semoga Allah menjaga lisan kita, jari-jari kita, dan terutama hati kita. Agar tidak mudah menghakimi apa yang belum kita pahami sepenuhnya. Agar tidak merasa aman dengan kondisi kita sendiri. Dan agar setiap kali kita hendak bersuara — ada satu pertanyaan kecil yang hadir lebih dulu, sebelum tombol "kirim" ditekan:

"Ya Allah, tunjukkan aku kebenaran — dan lindungi aku dari kesombongan merasa sudah memilikinya."

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnat-tibā'ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnaj-tinābah.

"Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya; dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya."

Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.

Nuraini Persadani

Artikel Populer

Jika Engkau Jujur kepada Allah, Allah Tidak Akan Menyia-nyiakan Langkahmu

Wudhu yang Sering Salah Tanpa Disadari

10 Hari yang Menguji Kejujuran Hati

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya