Tarbiyah yang Hilang di Balik Ranking
Oleh : Tsaqif Rasyid Dai
Kadang kita lupa, bahwa anak-anak itu bukan angka yang berjalan. Mereka bukan lembaran rapor yang bisa diurutkan dari satu hingga tiga puluh. Mereka adalah napas yang dititipkan langit, adalah doa yang dipanjatkan ibu dengan air mata, adalah janji yang dipegang teguh oleh seorang ayah yang berharap anaknya menjadi manusia yang baik. Namun di suatu sudut ruang kelas, di balik papan peringkat yang tergantung angkuh, kita perlahan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Kita kehilangan tarbiyah itu sendiri.
Tarbiyah, yang seharusnya menjadi tanah subur tempat karakter tumbuh, perlahan tergantikan oleh lomba lari yang tak pernah benar-benar kita sadari. Anak-anak diajar mengejar angka, bukan makna. Mereka dilatih menjadi yang pertama, bukan menjadi yang terbaik. Dan tanpa terasa, kita sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai masyarakat, ikut memalingkan wajah dari pertanyaan paling penting: apakah mereka bahagia? Apakah mereka tahu makna kebaikan? Apakah mereka masih mengenal Tuhan mereka saat mereka menangis di malam hari?
Di antara seratus soal latihan dan lima puluh kali try out, ada raut wajah kecil yang mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Aku cukup atau tidak, ya? Mama bangga atau kecewa? Guru melihatku atau melewatkanku? Pertanyaan-pertanyaan itu tumbuh seperti lumut di dinding yang lembap, pelan tapi pasti menggerus kepercayaan diri mereka yang seharusnya tumbuh laksana pohon yang akarnya menghujam kuat ke bumi.
Kita tidak bermaksud jahat. Sungguh. Kita hanya ingin mereka selamat di dunia yang kita anggap kejam ini. Kita ingin mereka punya pekerjaan, punya gelar, punya pengakuan. Tapi di tengah jalan, kita lupa bahwa yang paling membuat seseorang bertahan bukanlah ijazah yang digantung di dinding, melainkan akhlak yang tertanam di dada. Bukan ranking yang bisa berubah setiap semester, melainkan keimanan yang harus dijaga hingga nafas terakhir.
Seorang anak yang pernah mendapat peringkat terakhir di kelasnya bisa jadi adalah orang yang paling sabar mengaduk adonan roti di dapur ibunya di kemudian hari. Anak yang nilainya biasa saja mungkin kelak menjadi tetangga yang paling peduli saat engkau sakit. Dan anak yang tidak pernah masuk daftar teratas bisa jadi adalah manusia yang paling dekat dengan Tuhannya, yang sujudnya paling lama, yang air matanya paling tulus saat bermunajat. Siapa kita yang berani mengukur keutamaan seorang hamba dengan alat ukur duniawi?
Mari sejenak kita hening. Mari kita lihat kembali anak-anak kita bukan dari atas kertas ujian, melainkan dari dalam hati mereka yang sesungguhnya. Apakah mereka masih tahu cara berbagi? Apakah mereka masih mau menolong teman yang jatuh? Apakah mereka masih berkata jujur saat tidak ada yang melihat? Apakah mereka masih menengadahkan tangan ke langit untuk berdoa? Itulah tarbiyah yang sesungguhnya. Itulah pendidikan yang tidak pernah ditulis di rapor, tapi akan abadi di hadapan Yang Maha Melihat.
Kepada para guru yang telah lelah membagi ilmu, kepada para orang tua yang telah habis-habisan berkorban, kepada siapa saja yang pernah merasakan getirnya tidak pernah cukup baik menurut ukuran dunia—dengarkanlah ini: engkau tidak gagal. Anak-anakmu tidak gagal. Karena manusia bukan lomba, dan hidup bukan perlombaan lari menuju garis finish yang bernama prestasi. Hidup adalah perjalanan pulang kepada Sang Pencipta, dan setiap langkah kebaikan, sekecil apapun, adalah bekal yang tidak akan pernah sia-sia.
Maka izinkanlah anak-anak itu bernapas. Izinkanlah mereka gagal dan bangkit dengan pelukan, bukan dengan celaan. Izinkanlah mereka menjadi manusia yang utuh, bukan mesin penghasil nilai. Tanamkan dalam diri mereka bahwa yang paling mulia di sisi Allah bukan yang paling pintar, melainkan yang paling bertakwa. Bangunlah dalam hati mereka masjid kecil yang kokoh, tempat mereka bisa kembali setiap kali dunia terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri.
Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami penyejuk mata dan hati, bukan sekadar kebanggaan yang rapuh di hadapan manusia. Jadikanlah mereka orang-orang yang berilmu dan berakhlak, yang rendah hati di saat beruntung dan tegar di saat diuji. Ampunilah kami para pendidik dan orang tua yang telah khilaf, yang lebih mencintai nilai daripada jiwa, yang lebih memuja peringkat daripada karakter. Ya Rabb, limpahkanlah rahmat-Mu kepada setiap anak yang pernah merasa tidak cukup baik, dan tunjukkanlah kepada kami jalan tarbiyah yang sesungguhnya—yang menyentuh hati, yang menumbuhkan cinta, yang mengantarkan mereka pulang kepada-Mu dengan senyum dan damai. Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.