Penjara Melahirkan Tafsir Mendunia
Penjara Melahirkan Tafsir Mendunia
Nuraini Persadani | Persadani.org
4 Mei 2026 / 17 Dzulqa'dah 1447 H
Dinding sel itu dingin. Cahaya masuk hanya melalui celah sempit di dekat langit-langit — cukup untuk membedakan siang dan malam, tidak cukup untuk menghangatkan tulang. Di sinilah, di dalam sebuah kamar tahanan di Sukabumi, seorang lelaki berusia lima puluh enam tahun duduk bersila dengan secarik kertas di pangkuannya dan pena di tangannya. Di luar, dunia sedang bergolak. Angin politik bertiup kencang. Tuduhan dilayangkan tanpa sidang, nama-nama dicatat tanpa pembuktian. Tetapi di dalam sel itu, lelaki ini memilih untuk menulis — bukan surat protes, bukan petisi, bukan curahan kemarahan. Ia menulis tafsir Al-Qur'an.
Lelaki itu adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Dunia mengenalnya sebagai Buya Hamka.
Pada Februari 1964, Hamka ditangkap atas tuduhan subversif — tuduhan yang tidak pernah dibuktikan di hadapan pengadilan mana pun. Ia dimasukkan ke dalam tahanan tanpa proses hukum yang jelas, ketika tubuhnya sendiri sedang tidak sehat: tekanan darahnya tinggi, usianya tidak lagi muda, dan kondisi sel tidak memberikan banyak ruang untuk istirahat yang layak.
Dalam kondisi seperti itu, banyak manusia akan memilih untuk menunggu. Menunggu pembebasan. Menunggu keadilan. Menunggu kondisi membaik. Tetapi Hamka memilih sesuatu yang berbeda. Ia memilih untuk tidak menunggu.
Ia teringat ceramah-ceramah Subuhnya di Masjid Agung Al-Azhar Jakarta — ratusan kajian tafsir yang ia sampaikan selama bertahun-tahun kepada jamaah yang setia hadir sebelum fajar. Ceramah-ceramah itu hidup dalam ingatannya: ayat demi ayat, surah demi surah, konteks demi konteks. Dan di dalam sel yang sunyi itu, ia mulai menuliskan semuanya. Bukan dari perpustakaan yang lengkap, bukan dari meja kerja yang nyaman, melainkan dari sumur hafalan dan kedalaman ilmu yang telah ia bangun selama puluhan tahun.
Penjara itu — tanpa ia rencanakan — telah menjadi ruang khalwat.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
— QS. Al-Insyirah: 5–6
Para ulama tafsir mencatat sesuatu yang menakjubkan dari ayat ini: kata al-'usr (kesulitan) disebutkan dengan alif-lam — bentuk definitif yang merujuk pada satu kesulitan yang sama. Sementara kata yusran (kemudahan) hadir dua kali dalam bentuk nakirah — tak terbatas, tak berulang. Artinya: satu kesulitan yang sama dapat melahirkan dua kemudahan yang berbeda. Bukan setelah kesulitan, melainkan bersama kesulitan — ma'a, bukan ba'da.
Hamka tidak perlu menunggu bebas untuk memulai karya terbesarnya. Karya itu lahir di dalam kesempitan.
Dua tahun empat bulan ia ditahan. Selama itu, halaman demi halaman terisi. Ayat demi ayat ditafsirkan. Ia tidak memiliki buku referensi yang lengkap — hanya yang ada dalam ingatannya, dalam dirinya, dalam jalinan ilmu yang telah ia tenun sejak kecil di Maninjau hingga perjalanan panjangnya menuntut ilmu ke berbagai penjuru. Ketika akhirnya ia dibebaskan pada 1966 setelah rezim berganti, naskah itu tidak ia tinggalkan di sel. Ia bawa keluar, ia sempurnakan, dan ia terbitkan.
Tafsir Al-Azhar — tiga puluh juz, lengkap — menjadi salah satu tafsir Al-Qur'an berbahasa Melayu paling berpengaruh yang pernah ditulis. Ia dibaca di Malaysia, Brunei, Singapura, dan di mana pun ada jiwa yang berbahasa Melayu dan merindukan pemahaman terhadap Kitabullah. Sebuah karya yang lahir bukan dari gedung akademik atau ruang tenang di perpustakaan, melainkan dari sel tahanan yang dingin.
Buya pernah berkata — dan kalimat ini seperti tetesan air yang meresap jauh:
"Penjara ini adalah universitas saya."
Bukan kepahitan. Bukan sinisme. Melainkan sebuah pandangan hidup yang telah dimatangkan oleh iman.
Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, dalam Al-Fawa'id, menulis sesuatu yang terasa seolah ditujukan untuk momen-momen seperti ini:
الْقَلْبُ إِذَا تَجَرَّدَ لِلَّهِ لَمْ يَحْبِسْهُ حَابِسٌ وَلَمْ يُقَيِّدْهُ مُقَيِّدٌ
"Hati yang telah berserah sepenuhnya kepada Allah — tidak ada penjara yang bisa mengurungnya, dan tidak ada belenggu yang bisa mengikatnya."
— Ibn al-Qayyim, Al-Fawa'id
Hamka adalah bukti hidup dari kalimat itu. Jasadnya dikurung. Tapi ilmunya mengalir. Penanya bergerak. Hatinya bebas.
Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin berbicara tentang kekuatan niat sebagai penentu arah amal. Sebuah amal yang berangkat dari niat yang bersih tidak terhenti oleh kondisi eksternal — ia hanya berubah bentuk. Hamka tidak bisa berkhutbah di masjid, maka ia menulis. Ia tidak bisa mengajar di kelas, maka ia menuangkan ilmu ke dalam halaman. Niat untuk menyampaikan cahaya Al-Qur'an kepada umat tidak padam — ia hanya menemukan jalan lain.
Inilah yang dimaksud dengan istiqamah yang sesungguhnya: bukan tegak ketika jalan mudah, melainkan terus bergerak ketika semua jalan tampak tertutup.
Penelitian dalam ilmu psikologi modern — khususnya dalam kajian post-traumatic growth yang dikembangkan oleh Tedeschi dan Calhoun — menunjukkan bahwa sebagian manusia, ketika menghadapi krisis berat, tidak sekadar pulih. Mereka tumbuh melampaui titik semula. Kondisi ekstrem memaksa mereka menemukan makna yang lebih dalam, komitmen yang lebih kuat, dan kapasitas yang sebelumnya terpendam. Hamka bukan pengecualian aneh dari hukum alam. Ia adalah contoh paling nyata dari apa yang terjadi ketika iman bertemu dengan tekanan.
Tekanan tidak menghancurkan berlian. Tekanan adalah yang menciptakannya.
Dan kini — di sini, dalam hidup kita masing-masing — ada sebuah pertanyaan yang diam-diam menunggu untuk dijawab.
Kita yang bebas. Kita yang tidak dikurung dinding sel. Kita yang bisa membuka laptop, menyalakan lampu, memilih waktu, memilih tempat duduk yang nyaman. Kita yang punya akses ke perpustakaan digital, ke ribuan buku, ke ilmu yang tersebar luas.
Apa yang sudah kita tulis? Apa yang sudah kita ajarkan? Apa yang sudah kita wariskan?
Buya Hamka menulis tafsir tiga puluh juz dalam sel tahanan yang dingin. Kita menunda satu langkah kebaikan karena menunggu waktu yang tepat — menunggu mood yang pas, menunggu semua beres, menunggu kondisi ideal yang tidak pernah benar-benar datang.
Kesempitan bukan penghalang bagi orang yang benar-benar punya sesuatu untuk diberikan. Justru kesempitanlah yang menyingkap siapa kita sesungguhnya: apakah kebaikan kita bersyarat pada kenyamanan, atau ia mengalir dari sesuatu yang lebih dalam dari itu.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
— QS. Al-Baqarah: 286
Allah tidak meminta kita menjadi Hamka. Ia hanya meminta kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri — dengan apa yang ada, dari mana kita berada, dengan waktu yang tersisa.
Mungkin kita tidak akan menulis tafsir tiga puluh juz. Tapi barangkali ada satu pelajaran yang belum kita sampaikan kepada anak kita. Satu tulisan yang belum selesai. Satu kebaikan yang masih kita tunda. Satu ilmu yang menunggu untuk diteruskan.
Hamka memulainya di dalam penjara.
Kita — apa alasan kita untuk belum memulai?
Ya Allah, jadikanlah setiap sempitnya hidup kami sebagai ruang yang melahirkan karya terbaik kami. Jadikanlah keterbatasan kami bukan penghalang, melainkan penyaring — yang memisahkan niat yang sungguh-sungguh dari niat yang menunggu kenyamanan. Anugerahkan kepada kami hati seperti hati hamba-hamba-Mu yang tidak bisa dikurung oleh penjara mana pun, karena ia telah bebas di dalam ridha-Mu.
Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.
Nuraini Persadani — Persadani.org | Media Analitik Islam Wasathiyah