Popularitas yang Menakutkan Orang Saleh

Popularitas yang Menakutkan Orang Saleh

Oleh Nuraini Persadani  |  1 Dzulhijjah 1447 H / 18 Mei 2026

Di zaman ketika manusia lebih takut dilupakan daripada takut kehilangan dirinya sendiri, ada satu perlombaan yang terasa makin sunyi sekaligus melelahkan: perlombaan untuk terlihat. Semua serba dihitung — berapa followers, berapa likes, berapa banyak yang mengenal nama kita. Ada istilah yang kini menjadi kecemasan tersendiri: fear of irrelevance — ketakutan tidak relevan, ketakutan tidak diperhatikan, ketakutan senyap di tengah keramaian.

Tetapi ada tiga tokoh dalam sejarah Islam yang justru takut pada hal yang sebaliknya. Mereka takut menjadi terkenal. Bukan karena rendah diri atau anti sosial — melainkan karena mereka memahami sesuatu yang sangat dalam: bahwa popularitas bisa menjadi racun yang masuk secara samar ke dalam hati, perlahan menggeser niat, nyaris tanpa terasa.

Tiga tokoh itu adalah Umar bin Abdul Aziz (عمر بن عبد العزيز), Imam an-Nawawi (يحيى بن شرف النووي), dan Sufyan Ats-Tsauri (سفيان بن سعيد الثوري). Masing-masing hidup di era berbeda, dengan tantangan berbeda — namun mereka semua menjalani satu pola yang sama: menolak agar pujian manusia merusak niat mereka kepada Allah.


Umar bin Abdul Aziz: Ketika Kekuasaan Menjadi Beban

Kisah pertama dimulai dari sebuah tangisan yang tak terduga.

Ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi Khalifah Bani Umayyah ke-8, orang-orang mengira beliau akan bersuka cita. Bukankah itu puncak kekuasaan? Posisi tertinggi yang bisa dicapai siapa pun di zamannya? Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Beliau menangis. Lama dan keras.

Beliau berkata:

"Sesungguhnya aku diuji dengan urusan umat Muhammad ini tanpa aku memintanya. Aku khawatir ada orang lapar, orang miskin, orang dizalimi — lalu Allah menanyakannya kepadaku di hari kiamat."

Ini bukan retorika. Ini cerminan hati yang benar-benar tahu bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hadiah. Dalam kajian psikologi dan neurosains modern, status sosial diketahui berhubungan erat dengan sistem reward otak — menciptakan rasa penghargaan diri, penguatan perilaku, dan dorongan untuk terus mempertahankan posisi. Wajar jika orang cenderung mengejar dan menikmatinya. Namun Umar bin Abdul Aziz membalik seluruh kerangka itu: yang orang lain rasakan sebagai euforia, beliau rasakan sebagai beban pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Satu kisah yang bahkan lebih kecil namun lebih mengguncang: suatu malam beliau bekerja di bawah cahaya lampu minyak milik negara. Ketika keluarganya datang membicarakan urusan pribadi, beliau mematikan lampu negara dan menyalakan lampu pribadinya sendiri. Ditanya kenapa, beliau menjawab dengan tenang: "Yang tadi urusan kaum muslimin. Yang ini urusan keluargaku."

Setetes minyak pun beliau jaga. Bukan karena pelit. Tapi karena beliau tahu: integritas yang sesungguhnya bukan yang tampak di depan orang banyak, melainkan yang terjaga saat tidak ada satu pun mata yang mengawasi.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Kullukum rā'in wa kullukum mas'ūlun 'an ra'iyyatih.

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." — HR. Bukhari dan Muslim

Amanah itu memang berat. Dan orang yang benar-benar memahaminya tidak akan mengejarnya demi tepuk tangan.


Imam an-Nawawi: Zuhud di Tengah Distraksi

Tokoh kedua hadir dengan cara yang berbeda — bukan dari istana, tetapi dari kamar belajar yang sederhana.

Imam an-Nawawi adalah salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam. Lahir di Nawa, Suriah selatan, tahun 631 H. Karya-karyanya — Riyadhus Shalihin, Arba'in Nawawi, Al-Minhaj — dibaca jutaan orang hingga hari ini. Namun hidupnya adalah potret dari sesuatu yang berlawanan dengan apa yang dikejar zaman sekarang: minim distraksi, sederhana, repetitif, dan penuh fokus.

Beliau bahkan tidak mau makan buah-buahan Damaskus. Bukan karena tidak suka. Tetapi karena khawatir sebagian kebun di sana berasal dari tanah wakaf atau kepemilikan yang bercampur dengan kezaliman penguasa. Beliau takut sesuatu yang syubhat masuk ke dalam tubuhnya dan menggelapkan hatinya.

Ada fragmen lain yang lebih menghunjam: ketika seorang alim mengingatkan beliau tentang kematian — bukan ceramah panjang, bukan pidato, hanya beberapa kalimat pengingat akhirat — Imam an-Nawawi langsung menangis keras. Orang-orang di sekitarnya terdiam. Karena bagi beliau, nasihat tentang akhirat bukan sekadar informasi. Ia adalah peringatan untuk jiwa yang harus langsung dirasakan, bukan hanya didengar.

Di zaman kita, ketika banyak orang sulit fokus beribadah, mudah bosan, dan terus-menerus mencari stimulasi baru — psikologi modern mengenali kondisi ini sebagai gejala pikiran yang terlalu sering mendapat rangsangan instan hingga kehilangan kemampuan menikmati hal-hal yang sederhana dan bermakna. Imam an-Nawawi, jauh sebelum terminologi itu ada, telah menjalani sebuah disiplin hidup yang dalam bahasa psikologi modern mungkin paling dekat dengan delayed gratification dan pengendalian stimulus: menunda kenikmatan sementara demi sesuatu yang jauh lebih berharga — keberkahan hidup dan kedalaman amal.

Dan ketika Sultan yang zalim meminta fatwa yang menguntungkan kekuasaannya, Imam an-Nawawi menolak. Ia diusir dari Damaskus. Tapi beliau tidak bergeming. Karena baginya, menjual ilmu demi kenyamanan adalah kehilangan yang jauh lebih besar daripada kehilangan tempat tinggal.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

Likaila ta'sau 'alā mā fātakum wa lā tafraḥū bimā ātākum.

"Agar kamu tidak bersedih atas apa yang luput darimu dan tidak pula terlalu bergembira atas apa yang diberikan kepadamu." — QS. Al-Hadid: 23

Imam an-Nawawi wafat di usia yang sangat muda, sekitar 45 tahun. Namun amalnya belum selesai sampai sekarang. Seolah Allah menjawab kezuhudan beliau dengan cara-Nya sendiri: engkau meninggalkan dunia, tapi Aku buat namamu hidup di bumi.


Sufyan Ats-Tsauri: Takut pada Popularitas

Tokoh ketiga adalah yang paling menggetarkan — karena ketakutannya bukan pada hal yang kasar, melainkan pada sesuatu yang senyap dan nyaris tak terlihat.

Sufyan Ats-Tsauri adalah seorang imam hadits yang dijuluki oleh para ulama sebagai أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ فِي الْحَدِيثِAmīrul Mu'minīn fil Hadīts, pemimpin kaum mukmin dalam ilmu hadits. Abdullah ibn al-Mubarak, muridnya, berkata: "Aku menulis hadits dari lebih seribu guru. Tidak ada yang lebih utama daripada Sufyan Ats-Tsauri."

Namun justru beliau yang paling takut pada popularitas.

Ketika orang-orang mulai banyak berkumpul mengelilinginya, beliau merasa gelisah. Beliau pernah berkata:

"Seandainya aku tahu mereka datang karena Allah, aku akan tenang. Tapi aku takut mereka datang karena diriku."

Dan satu kalimat lainnya yang bahkan lebih dalam — kalimat yang sering dikutip para ulama tazkiyah hingga hari ini:

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ إِنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ

Mā 'ālajtu syai'an asyadda 'alayya min niyyatī; innahā tataqallabu 'alayya.

"Tidak ada yang lebih berat aku obati selain niatku; ia selalu berubah-ubah atasku."

Bayangkan. Ini diucapkan oleh seorang imam besar. Ahli hadits. Guru para ulama. Tapi beliau masih terus-menerus bermuhasabah tentang niatnya sendiri. Karena beliau tahu: riya tidak selalu datang di awal. Seseorang bisa mulai beramal karena Allah — lalu pelan-pelan, hampir tak disadari, bergeser menjadi mencari pengakuan.

Inilah yang disebut para ulama tazkiyah sebagai riya khafi (رِيَاء خَفِيّ) — riya yang tersembunyi. Bukan yang tampak kasar. Melainkan yang samar: sedih kalau tidak dipuji, kecewa kalau tidak dilihat, semangat kalau ada apresiasi, kendur kalau tidak ada yang memperhatikan.

Ada orang pernah memuji Sufyan Ats-Tsauri di hadapannya. Alih-alih senang, beliau justru menangis, lalu berkata kira-kira: "Ya Allah, Engkau mengetahui diriku lebih baik daripada mereka. Jangan hukum aku karena pujian mereka." Karena beliau tahu: manusia sering memuji versi terbaik kita — sementara kita sendiri tahu sisi gelap diri yang tersembunyi.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ — الرِّيَاءُ

Inna akhwafa mā akhāfu 'alaikum asy-syirkul-aṣghar — ar-riyā'.

"Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil: riya." — HR. Musnad Ahmad (hasan maknanya)

Sufyan Ats-Tsauri bukan takut miskin. Bukan takut dibenci. Beliau takut satu hal: amalnya dicuri oleh pujian.


Penyakit yang Sama di Zaman Modern

Jika kita lihat ketiga tokoh ini berdampingan, ada satu pola besar yang menyatukan mereka. Umar bin Abdul Aziz menghadapi godaan kekuasaan — dan ia jawab dengan amanah. Imam an-Nawawi menghadapi godaan kenyamanan dunia — dan ia jawab dengan zuhud. Sufyan Ats-Tsauri menghadapi godaan popularitas — dan ia jawab dengan ikhlas yang terus-menerus dijaga.

Mereka semua melakukan satu hal yang sama: menolak kepuasan ego demi keselamatan ruhani. Para ulama menyebutnya mujahadah an-nafs (مجاهدة النفس) — perjuangan melawan nafsu. Psikologi modern menyebutnya delayed gratification. Nama berbeda, hakikat sama.

Yang membedakan mereka dengan kebanyakan orang bukan kecerdasan atau banyaknya amal. Tapi kejernihan mereka tentang satu pertanyaan: untuk siapa ini semua?

Mungkin ada baiknya kita bertanya jujur kepada diri sendiri: apakah kita lebih semangat beramal ketika ada yang melihat? Apakah kita kecewa ketika kebaikan kita tidak diperhatikan? Apakah kita lebih rajin menulis, berbicara, atau berderma ketika ada yang merekam? Jika jawabannya iya — bukan berarti kita buruk. Tapi mungkin kita perlu lebih jeli memperhatikan ke mana arah hati kita sesungguhnya bergerak.

Mungkin inilah yang paling ditakutkan orang-orang saleh itu: bukan kemiskinan, bukan kehilangan pengaruh, bukan pula tidak dikenal manusia. Tetapi hati yang pelan-pelan berubah arah. Hati yang awalnya mencari Allah — lalu senyap bergeser mencari tepuk tangan.

Karena pada akhirnya, yang paling menakutkan bukan ketika manusia tidak mengenal kita. Tetapi ketika Allah tahu bahwa amal kita tidak lagi sepenuhnya untuk-Nya.

"Jika hatimu terlalu lapar pujian, kau akan sulit merasakan manisnya ikhlas."

Semoga Allah menjaga hati kita — hati yang mudah berubah ini — agar tetap teguh di atas agama-Nya. Dan semoga amal-amal kita, sekecil apa pun, tetap mengalir karena-Nya saja.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī 'alā dīnik.

"Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu."

(HR. Sunan at-Tirmidzi, hasan shahih)

Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.

Nuraini Persadani

Artikel Populer

Wudhu yang Sering Salah Tanpa Disadari

10 Hari yang Menguji Kejujuran Hati

Mengapa Perempuan Disebut Lebih Dulu dalam Ayat Hukum Zina?

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya