Haus Validasi: Ketika Riya' Berganti Medium

Haus Validasi: Ketika Riya' Berganti Medium

Membaca Kecemasan Modern melalui Kacamata Imam Al-Ghazali, Ulama Salaf, Ibnu Qayyim, dan Ibnu Rajab

Oleh : Tsaqif Rasyid Dai


الْإِخْلَاصُ أَنْ لَا تَطْلُبَ عَلَى عَمَلِكَ شَاهِدًا غَيْرَ اللَّهِ

"Ikhlas adalah ketika engkau tidak lagi mencari saksi atas amalmu selain Allah."

— Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, Al-Fawā'id


Pernah merasa sedikit kecewa ketika sebuah unggahan yang terasa bermakna ternyata sepi respons? Atau diam-diam mendapati diri lebih bersemangat melakukan sesuatu ketika ada yang melihat dibanding ketika sendirian?

Atau mungkin bukan kecewa — hanya merasa sedikit tidak berarti.

Berhenti sejenak. Mungkin ini bukan soal narsis. Mungkin kita sedang mengalami sesuatu yang jauh lebih manusiawi dari itu: ingin diakui.

Dalam bahasa psikologi kontemporer, ini disebut validation seeking — kecenderungan menjadikan likes, respons, pujian, dan pengakuan sosial sebagai bahan bakar harga diri. Dalam bahasa para ulama, ada istilah yang terasa lebih sunyi, dan jauh lebih dalam: riyā' dan sum'ah. Dan yang mengejutkan, para ulama besar Islam telah membicarakannya berabad-abad sebelum era media sosial ada.

Artikel ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Bukan pula untuk mengharamkan eksistensi digital. Ini hanya sebuah ajakan untuk duduk sebentar dan bertanya: siapa sebenarnya yang sedang kita cari?


Kebutuhan Dihargai Bukan Riya' — Sebuah Perbedaan yang Penting

Sebelum melangkah lebih jauh, ada satu hal yang perlu dijernihkan.

Tidak semua kebutuhan validasi adalah riya'. Ingin diapresiasi, ingin diterima, ingin dicintai — semua itu manusiawi. Allah subḥānahū wa ta'ālā menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan keterikatan dengan sesamanya. Bahkan Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam mengapresiasi para sahabat, dan apresiasi itu tidak beliau anggap sebagai celaan.

Masalah baru muncul ketika pengakuan berubah dari kebutuhan menjadi sumber nilai diri. Ketika harga diri sepenuhnya digantungkan pada penilaian manusia. Ketika sepi respons terasa seperti sepi eksistensi.

Islam tidak melarang seseorang terlihat baik. Yang diajak untuk diperiksa adalah: ke mana hati sesungguhnya mengarah ketika ia beramal?


Bukan Selalu Soal Ego — Kadang Ini Soal Luka

Ada satu hal yang perlu disampaikan dengan hati-hati sebelum kita melanjutkan.

Tidak semua orang yang haus validasi sedang bersombong. Kadang kebutuhan untuk diakui bukan lahir dari ego yang membesar, melainkan dari luka yang belum sembuh. Ada orang yang terlalu lapar akan pengakuan bukan karena merasa paling tinggi, tetapi karena terlalu lama merasa tidak cukup — tidak cukup baik, tidak cukup dicintai, tidak cukup berarti.

Dalam bahasa psikologi, kondisi ini kadang berakar pada pengalaman relasional yang membentuk cara seseorang memandang dirinya. Pola pengasuhan yang dingin, pengalaman ditolak, bertumbuh dalam lingkungan yang tidak pernah memberi apresiasi — semua itu bisa membentuk hati yang sangat lapar akan pandangan manusia. Dan kelaparan itu bukan kesalahan yang harus dihukum, ia adalah luka yang butuh disembuhkan.

Karena itulah, artikel ini tidak sedang menyederhanakan semua kebutuhan validasi sebagai riya'. Tapi para ulama mengajak kita memeriksa satu hal: ketika luka itu ada, kepada siapa akhirnya hati menggantungkan nilai dirinya? Di sanalah letak pertanyaan yang sesungguhnya.


Media Sosial Bukan Penyebabnya — Ia Hanya Memperbesar Panggung

Ada satu hal yang sering terlewat dalam diskusi tentang riya' di era digital: riya' bukan lahir dari media sosial.

Media sosial bukan penyebab riya'. Ia hanya memperbesar panggung bagi sesuatu yang sudah lama hidup dalam diri manusia — jauh sebelum layar ada, jauh sebelum algoritma diciptakan. Jika dahulu panggungnya adalah mimbar dan majelis ilmu, hari ini mungkin berupa unggahan dan notifikasi. Tapi manusianya tetap sama. Kecenderungan hatinya tetap sama.

Ini penting agar kita tidak terjebak pada dua kesalahan sekaligus: merasa bahwa menghindari media sosial otomatis membebaskan hati dari riya', atau merasa bahwa aktif di media sosial pasti berarti riya'. Keduanya keliru. Riya' adalah persoalan orientasi hati, bukan persoalan medium.


Masalahnya Bukan Ingin Dilihat — Tapi Takut Tidak Terlihat

Ada rumusan sederhana yang mungkin lebih jujur untuk menggambarkan kondisi ini:

Masalahnya bukan ingin dilihat, melainkan takut tidak terlihat.

Ketika rasa takut itu yang memimpin — takut terlupakan, takut tidak relevan, takut kebaikannya tidak diketahui — di situlah biasanya orientasi hati mulai diam-diam bergeser. Bukan selalu secara sadar. Bukan selalu dengan niat buruk. Seringkali terjadi perlahan, tanpa terasa, seperti arus yang mengalir pelan di bawah permukaan.

Mungkin yang kita cari bukan pujian itu sendiri. Mungkin kita hanya ingin diyakinkan bahwa kita berarti — bahwa kehadiran kita dirasakan, bahwa kebaikan kita meninggalkan jejak. Dan keinginan itu, sekali lagi, sangat manusiawi. Masalahnya hanya pada satu hal: kepada siapa kita meminta keyakinan itu?


Semakin Haus Dilihat, Semakin Sulit Merasa Dilihat

Ada paradoks yang jarang dibicarakan dalam diskusi tentang validasi: semakin seseorang bergantung pada pengakuan manusia, semakin sulit ia merasa benar-benar diakui.

Validasi bekerja seperti rasa haus: ia reda sebentar setelah terpuaskan, lalu datang lagi lebih kuat. Seribu likes hari ini tidak membuat kita puas — ia hanya menaikkan ambang batas untuk besok. Satu komentar baik tidak cukup kalau ada satu komentar buruk yang lebih keras terasa. Pujian yang diterima minggu lalu terasa basi; yang dibutuhkan adalah yang hari ini, lalu nanti, lalu terus.

Para ulama penyakit hati menjelaskan bahwa ketergantungan berlebihan pada pandangan manusia adalah salah satu bentuk ujian terbesar bagi keikhlasan — karena manusia tidak pernah benar-benar mampu memberi rasa cukup. Imam Al-Ghazali menyebut kecenderungan ini sebagai bagian dari ḥubb al-jāh — hasrat akan posisi dalam hati manusia yang, bila tidak dijaga, sulit menemukan titik puas. Hanya Dia yang ketika hati benar-benar menghadap kepada-Nya, ketenangan itu datang tidak perlu diminta ulang.


Riya' Bukan Isu Baru — Al-Quran Sudah Membicarakannya

Allah subḥānahū wa ta'ālā berfirman dalam QS. Al-Mā'ūn: 4–6:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

Fa wailul lil-muṣallīn. Allażīna hum 'an ṣalātihim sāhūn. Allażīna hum yurā`ūn.

"Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yaitu orang-orang yang berbuat riya'."

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yurā`ūn merujuk pada orang yang memperindah amalnya agar dilihat dan dinilai baik oleh manusia. Ayat ini bukan sekadar bicara tentang pamer ibadah di masjid. Ini bicara tentang bagaimana hati bisa perlahan berpindah arah — dari Allah menuju pandangan makhluk.

Dan "amal yang diperlihatkan" hari ini hadir dalam wajah yang jauh lebih halus dari sekadar berdiri di mimbar.


Imam Al-Ghazali: Hasrat Mencari Tempat di Hati Manusia

Imam Al-Ghazali dalam Ihyā' 'Ulūm ad-Dīn, khususnya pada Kitāb Żamm ar-Riyā' wa Ḥubb al-Jāh, mendefinisikan riya' bukan sekadar pamer, melainkan:

طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ النَّاسِ بِإِظْهَارِ الْخِصَالِ الْمَحْمُودَةِ

Ṭalabul manzilah fī qulūbin-nās bi iẓhāril khiṣālil maḥmūdah.

"Mencari kedudukan di hati manusia dengan menampilkan sifat-sifat yang dipandang baik."

Perhatikan betapa akuratnya rumusan ini untuk dunia hari ini. Jika dahulu bentuknya adalah ingin dipandang saleh di majelis, maka hari ini ia hadir dalam wujud yang lebih halus: ingin dianggap bijak, mendalam, religius, produktif, berwawasan, atau peduli. Bukan selalu lewat ibadah — bisa lewat opini, konten, gaya hidup, bahkan cara berpakaian yang terkesan sederhana.

Imam Al-Ghazali menyebut akar dari semua ini sebagai ḥubb al-jāh — hasrat memiliki tempat di mata manusia. Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa cinta kedudukan (ḥubb al-jāh) sering kali lebih kuat daripada kecintaan pada harta; sebagian orang bahkan lebih terluka ketika kehilangan penghormatan dibanding kehilangan materi. Bukankah itu yang sering kita rasakan ketika diabaikan di ruang digital?

Beliau juga memberi tanda-tanda riya' yang bisa dijadikan bahan muhasabah: jika sendirian amal cenderung menurun; jika dipuji semangat naik tajam; jika diabaikan muncul kekecewaan; jika tak ada yang tahu, hati berat untuk bergerak.

Dan lawannya, menurut Al-Ghazali, adalah:

اسْتِوَاءُ الْمَدْحِ وَالذَّمِّ عِنْدَ الْعَبْدِ

Istiwā'ul madḥi waż-żamm 'indal-'abd.

"Pujian dan celaan menjadi relatif sama di sisi seorang hamba."

Bukan berarti tidak punya perasaan. Tapi kompas amalnya tidak lagi bergantung pada arah angin opini manusia.


Suara Ulama Salaf: Niat Adalah Medan Perang Terberat

Para ulama generasi salaf berbicara tentang ini dengan nada yang rendah hati — bukan karena mereka bebas dari ancaman itu, melainkan justru karena mereka menyadari betapa halusnya ia bekerja.

Sufyan Ats-Tsauri, salah seorang imam besar generasi tabi'in, berkata:

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي

Mā 'ālajtu syai`an asyadda 'alayya min niyyatī.

"Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku perangi selain niatku sendiri."

(Ḥilyat al-Awliyā', Abu Nu'aim al-Aṣfahāni)

Seorang imam besar mengaku bahwa perang terberatnya bukan dengan dunia luar, melainkan dengan motif batinnya sendiri. Ini bukan kelemahan — ini kejujuran seorang yang benar-benar mengenal dirinya.

Sementara itu, Fudhail bin 'Iyadh menyampaikan pernyataan yang sangat mendalam — dan perlu dibaca dengan hati yang lapang:

تَرْكُ الْعَمَلِ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالْعَمَلُ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ. وَالْإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا

Tarkul 'amali min ajlin-nās riyā', wal-'amalu min ajlin-nās syirk. Wal-ikhlāṣu an yu'āfiyakaLlāhu minhumā.

"Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', dan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah Allah menyelamatkanmu dari keduanya."

Kata syirk dalam pernyataan Fudhail bin 'Iyadh ini perlu dipahami dalam konteksnya. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan keluar dari Islam, melainkan syirik kecil dalam niat — yakni ketika hati menjadikan manusia sebagai tujuan amal, bukan Allah semata. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Musnad Ahmad:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ

Inna akhwafa mā akhāfu 'alaikum asy-syirkul aṣghar… qāla: ar-riyā'.

"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Riya'."

(HR. Ahmad; tentang syirik kecil berupa riya', dinilai hasan oleh sebagian ulama muḥaqqiqīn)

Paradoks yang disampaikan Fudhail bin 'Iyadh sangat tajam: bahkan menahan diri dari berbuat baik karena takut dikira riya' — itu pun masih terikat pada pandangan manusia. Jalan keluarnya bukan tentang dilihat atau tidak dilihat. Tapi tentang hati yang benar-benar merdeka dari keduanya. Dan merdeka seperti itu, menurut beliau, adalah anugerah — bukan semata hasil usaha.


Takut Riya' Justru Kadang Tanda Iman yang Hidup

Ada satu hal yang perlu disampaikan di sini — agar pembaca tidak selesai membaca dengan beban yang salah.

Jika setelah membaca ini muncul kekhawatiran: "Jangan-jangan semua amal saya selama ini ternoda riya'?" — berhentilah sejenak. Karena para ulama justru menegaskan sebaliknya: rasa gelisah dan takut terhadap riya' adalah tanda hati yang masih hidup dan peka.

Orang yang benar-benar tenggelam dalam riya' biasanya tidak lagi gelisah memeriksa niatnya. Ia sudah terbiasa, sudah nyaman, sudah tidak merasa perlu bermuhasabah. Justru kegelisahan itulah — rasa tidak nyaman saat niat terasa tidak bersih — yang menunjukkan bahwa hati masih merespons, masih bergerak, masih mencari arah yang benar.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal, ketika beliau ditanya tentang orang yang takut riya' saat hendak beramal, makna dari jawabannya menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap niat justru bagian dari tanda hidupnya hati.

Maka jangan biarkan takut riya' menjadi penghalang untuk beramal. Biarkan ia menjadi pendorong untuk terus memperbaiki niat — sedikit demi sedikit, hari demi hari.


Ibnu Rajab dan Ibnu Qayyim: Hati yang Terlalu Sibuk Membaca Manusia

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jāmi' al-'Ulūm wa al-Ḥikam menjelaskan bahwa riya' pada hakikatnya adalah:

طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ بِالْعِبَادَاتِ

Ṭalab al-manzilah fī qulūbil khalq bil-'ibādāt.

"Mencari kedudukan di hati manusia melalui ibadah."

Dan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madārij as-Sālikīn merumuskan penyakit hati terbesar dalam kalimat yang singkat namun sangat dalam:

الْتِفَاتُ الْقَلْبِ إِلَى الْخَلْقِ

Iltifātul qalbi ilā al-khalq.

"Berpalingnya hati kepada manusia."

Ukuran nilai diri bergeser: dari "Apa Allah ridha?" menjadi "Apa orang suka?" Dan pergeseran itu tidak selalu terasa dramatis. Ia bisa terjadi dalam satu momen kecil: ketika kita mengecek notifikasi bukan untuk mencari informasi, tapi untuk mencari konfirmasi bahwa kita berarti. Ketika semangat beramal muncul bukan karena dorongan keikhlasan, tapi karena ada yang sedang menonton.

Persoalannya bukan medium-nya. Persoalannya terjadi ketika hati terlalu sibuk membaca respons manusia, hingga lupa bahwa ada satu Pandangan yang senantiasa hadir — tanpa harus kita minta, tanpa harus kita promosikan.


Wajah-Wajah Riya' Modern yang Tidak Selalu Mudah Dikenali

Para ulama klasik membahas riya' dalam konteks ibadah dan majelis ilmu. Tapi manifestasinya di zaman ini jauh lebih beragam dan halus.

Ada spiritual branding — menampilkan identitas religius yang konsisten di ruang publik, bukan semata karena memang begitu, tapi karena ingin dipersepsikan begitu. Ada intellectual performance — mengutip dalil atau pemikiran mendalam bukan untuk mencerahkan, tapi untuk dianggap berbobot. Ada moral signaling — menyuarakan keprihatinan sosial yang sesungguhnya lebih bertujuan membangun citra daripada menggerakkan perubahan nyata. Ada humble bragging — pencitraan kesederhanaan yang justru dirancang untuk mengesankan. Bahkan ada sedekah yang perlu disaksikan, dan kebaikan yang baru terasa bermakna kalau ada yang tahu.

Kalimat yang jujur untuk semua ini mungkin bukan bahwa kita jahat. Mungkin hanya ini:

Kadang kita tidak sedang mencari pujian secara sadar. Kita hanya takut kehilangan rasa berarti.


Jangan Romantisasi "Anti-Validasi" — Apresiasi Tetap Manusiawi

Ada satu jebakan lain yang perlu disebutkan agar artikel ini berimbang.

Bukan berarti setelah membaca ini kita harus benci pada pengakuan, menghindari apresiasi, atau merasa berdosa setiap kali menikmati pujian. Itu bukan yang diajarkan Islam.

Manusia tetap membutuhkan apresiasi — dan itu manusiawi, bahkan diakui syariat. Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam sendiri memuji sahabat-sahabatnya. Dan ketika seseorang melakukan kebaikan lalu orang-orang memandang baik kepadanya, itu bukanlah riya' — itu bagian dari kabar gembira Allah bagi hamba yang ikhlas, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat.

Yang perlu dijaga adalah ketergantungan terhadap pengakuan — bukan kesenangan terhadap apresiasi. Pujian boleh menyenangkan. Tapi jangan biarkan ia menjadi sumber identitas.


Muhasabah Tanpa Menghakimi Diri Sendiri

Berikut beberapa pertanyaan reflektif yang bisa diajukan kepada diri sendiri — bukan sebagai vonis, tapi sebagai lampu penerang:

Apakah semangatku untuk beramal berubah signifikan ketika ada yang melihat dibanding ketika sendirian? Apakah aku merasa kecewa, hampa, atau gelisah saat kebaikan yang kulakukan tidak diapresiasi? Apakah aku masih akan melakukan ini jika tidak ada satu pun yang tahu?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mengundang ketidaknyamanan — itu bukan tanda bahwa kita buruk. Mungkin itu tanda bahwa kita sedang jujur. Dan kejujuran adalah pintu pertama menuju ikhlas.

Ayyub al-Sakhtiyani pernah berkata:

مَا صَدَقَ اللَّهَ عَبْدٌ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ

Mā ṣadaqallāha 'abdun aḥabbasy-syuhrah.

"Tidaklah benar keikhlasan seorang hamba kepada Allah bila ia mencintai popularitas."

(Ḥilyat al-Awliyā', Abu Nu'aim al-Aṣfahāni)

Kata-kata itu bukan untuk menuduh. Kata-kata itu adalah cermin — yang kadang perlu kita tatap dengan keberanian dan kelapangan, bukan dengan rasa takut yang melumpuhkan.


Ikhlas Bukan Berhenti Ingin Dihargai — Tapi Belajar Ke Mana Menghadap

Ada hari-hari ketika kita tetap ingin dilihat, tetap ingin dipuji, tetap ingin dianggap berarti. Dan mungkin itu tidak membuat kita buruk — hanya membuat kita manusia.

Yang para ulama ajarkan bukan membenci kebutuhan itu, melainkan menata arahnya. Agar ketika kebutuhan itu muncul, kita tahu ke mana membawanya. Agar manusia tidak menjadi kiblat terakhir hati. Agar ada yang lebih kokoh dari tepuk tangan manusia yang bisa kita andalkan sebagai sumber rasa berarti.

Mungkin ikhlas bukan tentang berhenti ingin dihargai. Mungkin ia hanya tentang perlahan belajar bahwa nilai diri tidak harus selalu dititipkan pada penilaian manusia.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah merumuskannya dengan sangat indah dalam Al-Fawā'id:

الْإِخْلَاصُ أَنْ لَا تَطْلُبَ عَلَى عَمَلِكَ شَاهِدًا غَيْرَ اللَّهِ، وَلَا مُجَازِيًا سِوَاهُ

Al-ikhlāṣ an lā taṭluba 'alā 'amalika syāhidan ghairallāh, wa lā mujāziyan siwāh.

"Ikhlas adalah engkau tidak mencari saksi atas amalmu selain Allah, dan tidak mencari balasan selain-Nya."

(Al-Fawā'id, Ibnu Qayyim al-Jawziyyah)

Di dunia yang mengukur nilai lewat respons — mungkin salah satu bentuk kebebasan terbesar yang bisa kita miliki adalah: tetap bertumbuh, tetap memberi, tetap berbuat baik, bahkan ketika tak ada yang bertepuk tangan.

Karena ada satu Pandangan yang tidak pernah absen. Tidak membutuhkan likes. Tidak pernah luput. Dan tidak pernah sepi.


Referensi Turats:

Ihyā' 'Ulūm ad-Dīn, Imam Al-Ghazali (Kitāb Żamm al-Jāh wa ar-Riyā') · Jāmi' al-'Ulūm wa al-Ḥikam, Ibnu Rajab al-Hanbali · Madārij as-Sālikīn & Al-Fawā'id, Ibnu Qayyim al-Jawziyyah · Ḥilyat al-Awliyā', Abu Nu'aim al-Aṣfahāni · QS. Al-Mā'ūn: 4–6 · HR. Ahmad (syirik kecil berupa riya') · Hadits sum'ah: Shahih Bukhari & Muslim · Shahih Muslim no. 2985 (Hadits Qudsi)

Artikel Populer

APBN 2026 Dirancang Pro-UMKM

Mengapa Nabi Daud Tetap Bekerja? Hikmah Kerja Halal dan Bahaya Mental Instan Menurut Islam

Jika Engkau Jujur kepada Allah, Allah Tidak Akan Menyia-nyiakan Langkahmu

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya