Hari Raya Ibrahim, Saat Ego Diam-Diam Menjadi Qarun
Hari Raya Ibrahim, Saat Ego Diam-Diam Menjadi Qarun
Oleh : Tsaqif Rasyid Dai
Hari raya selalu membawa sesuatu yang lembut sekaligus rumit dalam jiwa manusia. Ada syukur yang mengalir, ada haru yang menyapa, dan ada keinginan tulus untuk berbagi. Namun, diam-diam, ada pula getaran halus yang sulit kita akui: kerinduan untuk dilihat, untuk diakui, untuk merasa “cukup” di mata sesama. Di antara gema takbir dan aroma dupa, dua bisikan sering kali bersaing: satu mengajak kita menyerahkan, satunya lagi meminta kita mempertontonkan.
Tentu, tidak setiap foto adalah riya, sebagaimana tidak setiap diam adalah ikhlas. Amal yang tersembunyi bisa saja tercemar ego yang tak terdeteksi, sementara amal yang terlihat bisa lahir dari syukur dan syiar yang mulia. Syariat tidak melarang kita berbagi kebahagiaan. Hanya saja, hati manusia itu licin. Kadang, yang kita kira sebagai syiar, perlahan berubah menjadi panggung. Dan di sinilah ujian itu diam-diam bekerja.
Ibrahim tidak pernah menghitung nilai domba di pasar. Ia hanya menjawab satu pertanyaan abadi: “Apa yang paling kau cintai?” Ketika jawabannya adalah buah hatinya, ia tidak menawar. Ia menyerahkan. Bukan karena tidak mampu, tapi karena memahami bahwa kepemilikan sejati hanya milik Allah. Pengorbanan Ibrahim bukan tentang kehilangan harta, melainkan tentang melepaskan kemelekatan. Ia memilih kehilangan segalanya di dunia, agar tidak kehilangan Sang Pemilik dunia.
Sementara Qarun tidak selalu hadir dalam istana emas atau kunci gudang yang gemerlap. Kadang, ia hidup lebih halus—dalam kegelisahan ketika amal tak terlihat, dalam bisikan kecil yang bertanya, “Apakah orang tahu aku berkorban?”, dalam lomba tak terucap yang membuat kita mengukur ketakwaan dari jumlah tanduk di halaman, bukan dari ketundukan di dada.
“Tidak ada sesuatu yang lebih sulit aku obati dalam diriku selain niatku.”
— Sufyan ats-Tsauri
Kalau kita jujur, penyakit itu memang ada. Bukan pada hewan yang disembelih, melainkan pada hati yang memegang pisau. Psikolog Erich Fromm pernah menggambarkan pergeseran diam-diam dalam jiwa manusia modern: dari being (menjadi) menuju having (memiliki). Ketika nilai diri mulai diukur dari apa yang tampak, bukan siapa diri kita di hadapan nurani, kurban pun bisa berubah fungsi. Ia bukan lagi alat penyembelih ego, melainkan bahan bakar untuknya.
“Dan tidaklah Allah yang sampai kepada-Nya daging-daging (kurban) dan darahnya, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah takwa dari kamu.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini bukan menolak kurban, tapi mengalihkan pandangan. Dari hewan ke hati. Dari kuantitas ke kualitas. Dari panggung ke mihrab. Setiap tetes darah yang mengalir seharusnya mengiringi runtuhnya kesombongan. Setiap daging yang dibagikan seharusnya mengingatkan bahwa kita hanyalah penitip, bukan pemilik.
Maka, sebelum kamera dinyalakan atau caption ditulis, berhentilah sejenak. Tanyakan pada diri sendiri: “Siapa yang sebenarnya sedang kita sembelih?” Bisa jadi, hewan itu tersenyum karena tugasnya selesai, sementara ego kita justru pulang dengan perut yang lebih kenyang. Kurban sejati tidak membutuhkan sorotan. Ia hanya butuh kerelaan yang diam, yang secara perlahan mengubah jiwa dari dalam.
Kita sering mengira kesalehan itu harus teriak, padahal ia berbisik. Kita kira kemuliaan itu harus terlihat, padahal ia tersimpan rapat di dada. Idul Adha bukan tentang siapa yang paling mampu tampil megah, melainkan tentang siapa yang paling berani melepas. Ibrahim diabadikan bukan karena kekayaannya, melainkan karena kerelaannya. Qarun hancur bukan karena kemiskinannya, melainkan karena keengganannya melepaskan.
Ya Allah, jangan biarkan kami menjadikan kurban sebagai panggung bagi ego. Bersihkan niat kami dari riya’ yang samar dan gengsi yang tak bersuara. Jika Ibrahim diabadikan karena kerelaannya, maka ajari kami rela kehilangan pujian demi-Mu. Jadikan hari raya ini bukan sekadar perayaan, tetapi permulaan pulang. Amin.