Bosan Itu Datang dari Hati yang Tak Lagi Takjub
Bosan Itu Datang dari Hati yang Tak Lagi Takjub
oleh Nuraini Persadani
Ada orang yang mengganti ponselnya setiap tahun, namun tetap gelisah. Ada yang bosan dengan pasangan yang setia menemaninya sejak lama. Ada yang jenuh dengan rumah yang dulu ia tangisi dalam doa, minta kepada Allah agar tiba saatnya ia bisa menempatinya. Pagi ini ia terbangun di rumah itu, tapi hatinya sudah tidak di sana.
Apa yang sebenarnya berubah? Bukan ponselnya. Bukan pasangannya. Bukan rumahnya. Yang berubah adalah cara hati memandang semua itu.
Kita hidup di zaman yang secara sistematis melatih manusia untuk cepat bosan. Video dipercepat. Konten dipersingkat. Hubungan diganti ketika mulai terasa berat. Bahkan ibadah pun ingin serba instan — shalat minta khusyuk dalam hitungan detik, doa minta dikabulkan sebelum selesai mengucap aamiin. Otak manusia modern dibanjiri rangsangan baru setiap saat, sehingga ia kehilangan kemampuan untuk menikmati yang sudah ada. Para ilmuwan menyebutnya dopamine dysregulation: ambang rangsangan terus naik, dan nikmat yang kemarin terasa luar biasa, hari ini terasa biasa saja.
Tetapi Islam datang bukan hanya sebagai agama ritual. Ia datang sebagai pembentuk jiwa — dan salah satu jiwa yang hendak dibentuknya adalah jiwa yang mampu bertahan bersama nikmat, tidak mudah membuangnya, tidak cepat melupakannya.
لَا أَمَلُّ ثَوْبِي مَا وَسِعَنِي، وَلَا أَمَلُّ زَوْجَتِي مَا أَحْسَنَتْ عِشْرَتِي، وَلَا أَمَلُّ دَابَّتِي مَا حَمَلَتْنِي، إِنَّ الْمَلَالَ مِنْ سَيِّءِ الْأَخْلَاقِ
"Aku tidak akan bosan dengan pakaianku selama masih muat kupakai. Aku tidak bosan dengan istriku selama ia berperilaku baik dalam kebersamaan denganku. Dan aku tidak bosan dengan tungganganku selama ia masih mampu membawaku. Sesungguhnya, rasa bosan itu datang dari buruknya akhlak."
— 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhu (dinukil dalam Tahdzibul Kamal fi Asmair Rijal, 22/81)
Ungkapan 'Amr bin al-'Ash ini bukan sekadar pernyataan pribadi seorang sahabat. Ia adalah prinsip: kebosanan bukan masalah objek di luar diri, melainkan masalah akhlak di dalam diri. Ketika seseorang mudah bosan, yang ia perlihatkan bukan kekurangan nikmat yang dimilikinya — melainkan kelemahan hatinya dalam memandang nikmat itu.
Namun sebelum kita berbicara lebih jauh, ada satu hal yang perlu diluruskan agar tidak menghakimi secara berlebihan.
Tidak semua rasa jenuh adalah keburukan. Islam mengakui bahwa manusia memiliki futur — masa-masa turunnya semangat secara alami. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri bersabda bahwa setiap amal memiliki masa semangat dan masa futur, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya. Kelelahan setelah bekerja keras, kejenuhan setelah tekanan panjang, atau turunnya mood karena kondisi fisik — semua itu adalah bagian dari tabiat manusiawi yang dimaklumi. Yang Islam ingin sembuhkan bukan jenuh fitrah ini, melainkan bosan yang berakar dari rusaknya cara hati memandang nikmat: hati yang tak lagi mau bersyukur, tak lagi mau setia, selalu mengejar sensasi baru, dan tak pernah merasa cukup.
Perbedaan keduanya terletak pada arah geraknya. Futur yang fitrah akan pulih dengan istirahat, dengan doa, dengan kembali kepada Allah. Sedangkan bosan karena rusaknya hati akan terus mencari objek baru — dan ketika mendapat yang baru pun, kebosanan itu tidak hilang, ia hanya berpindah sasaran.
Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
"Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya, manusia itu sangat zalim dan sangat kufur." (QS. Ibrahim: 34)
Ayat ini berbicara tentang dua sifat manusia yang saling terkait: zhulm (berbuat zalim pada diri sendiri) dan kaffar (mengingkari nikmat). Sifat bosan yang destruktif adalah perpaduan keduanya — kita menzalimi diri sendiri dengan membuang nikmat yang masih layak dinikmati, lalu mengingkari nilainya seolah-olah ia tidak berarti apa-apa.
Dan di surat Ar-Rahman, Allah mengulangi pertanyaan yang sama sebanyak 31 kali:
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kalian dustakan?" (QS. Ar-Rahman: 13)
Pengulangan itu bukan tanpa makna. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pengulangan ini adalah metode Allah dalam mendidik hati manusia — agar kita berlatih melihat nikmat satu per satu, bukan memandangnya sebagai satu blok yang membosankan. Setiap pengulangan ayat itu adalah undangan untuk berhenti sejenak dan bertanya: nikmat mana yang hari ini aku lewatkan tanpa rasa takjub?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri mengajarkan bahwa kebosanan adalah sesuatu yang perlu dilindungi darinya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau sering membaca doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gundah dan sedih, dari lemah dan malas, dari bakhil dan takut, dari belitan hutang dan tekanan orang." (HR. Bukhari)
Perhatikan: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meminta perlindungan dari al-hamm — kegundahan batin yang merupakan pangkal kebosanan — sejajar dengan malas, lemah, dan bakhil. Ini bukan kebetulan. Kebosanan yang dibiarkan tumbuh akan menghalangi amal, sebagaimana malas menghalangi ibadah dan bakhil menghalangi infak.
Beliau juga bersabda dalam riwayat yang disepakati Imam Bukhari dan Muslim:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus dikerjakan, walaupun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini adalah pernyataan keras melawan budaya kita hari ini. Kita hidup di era yang mengagungkan yang besar, yang viral, yang mengejutkan. Sementara Nabi mengajarkan bahwa yang kecil namun konsisten jauh lebih mulia di sisi Allah. Kebosanan adalah musuh konsistensi. Dan konsistensi adalah ciri orang yang berakhlak mulia dalam beramal.
Para ulama salaf telah lama mengenal hubungan antara kebosanan dan kelemahan jiwa ini. Makna yang sejalan dengan apa yang dijelaskan Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam Madarijus Salikin-nya adalah bahwa hati manusia memiliki dua cara memandang nikmat: ada yang memandangnya dengan mata syukur yang selalu menemukan kebaruan, dan ada yang memandangnya dengan mata yang sudah jenuh sejak awal karena hatinya tidak pernah hadir secara penuh. Yang pertama tidak akan kehabisan rasa takjub. Yang kedua tidak akan pernah puas walau mendapat lebih.
Ibnul Jauzi rahimahullah dalam Shaidul Khatir-nya juga menulis dengan nada yang sama, bahwa banyak manusia gagal meneruskan amal mereka bukan karena tidak mampu, melainkan karena mereka turun di tengah perjalanan — berhenti ketika perbekalan sebenarnya masih ada, ketika jalan masih terbuka. Seakan mereka menunggangi kendaraan yang sejatinya kuat, namun mereka memilih untuk berjalan kaki karena bosan.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Yang pertama adalah muhasabah yang jujur. Setiap kali rasa bosan datang, tanyakan ke dalam: apakah objeknya yang berubah, atau cara hatiku memandangnya yang berubah? 'Amr bin al-'Ash mengajarkan bahwa pakaian, istri, dan kendaraannya tetap sama — yang ia jaga adalah akhlaknya terhadap mereka. Muhasabah adalah cermin yang mengembalikan kita ke pertanyaan yang benar.
Yang kedua adalah syukur yang spesifik. Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 7:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
"Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kalian."
Syukur yang dimaksud bukan sekadar mengucap alhamdulillah secara umum. Ia adalah perhatian yang tertuju — mensyukuri satu per satu kebaikan spesifik pada nikmat yang sama. Pasangan yang sama akan terasa berbeda jika setiap hari kita memperhatikan satu kebaikannya yang kemarin tidak kita sadari. Rumah yang sama akan terasa lebih hangat jika kita berhenti sejenak dan mengingat hari ketika kita sangat mendambanya.
Yang ketiga — dan ini yang paling sulit di zaman ini — adalah memperlambat konsumsi. Bukan hanya konsumsi barang, tetapi konsumsi konten, konsumsi sensasi, konsumsi pengalaman baru. Otak yang terus-menerus diberi rangsangan baru akan kehilangan kemampuannya untuk menikmati yang lama. Para ilmuwan saraf menyebutnya hedonic adaptation: semakin banyak stimulasi baru yang kita terima, semakin tinggi ambang yang dibutuhkan untuk merasa puas. Islam, jauh sebelum neurosains, telah menawarkan solusinya: qana'ah — rasa cukup yang bukan pasif, melainkan aktif memilih untuk hadir bersama apa yang ada.
Dan yang keempat adalah menjaga niat dalam ibadah. Kebosanan dalam shalat, dalam dzikir, dalam membaca Al-Qur'an, sering kali bukan karena ibadah itu sendiri yang membosankan — melainkan karena kita hadir secara fisik tetapi hati kita sudah di tempat lain. Para ulama salaf memiliki kebiasaan memperbarui niat mereka setiap kali memulai ibadah, sehingga amal yang sama terasa segar setiap harinya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: "Innama al-a'malu binniyyat" — sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.
Betapa banyak orang kehilangan sesuatu yang berharga bukan karena benda itu rusak atau pasangannya berubah buruk — tetapi karena hatinya terlalu terbiasa menerima, hingga kehilangan kemampuan untuk takjub.
Kita bosan pada pasangan yang dulu kita perjuangkan. Kita bosan pada rumah yang dulu kita impikan. Kita bosan pada ibadah yang dahulu membuat kita menangis di sepertiga malam. Dan kita tidak sadar bahwa ini bukan kisah tentang kekurangan nikmat — ini adalah kisah tentang hilangnya rasa takjub.
Allah Ta'ala menutup surat Al-'Ashr dengan tiga perkara terakhir yang menyelamatkan manusia dari kerugian:
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"…kecuali orang-orang yang beriman, beramal shaleh, saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 3)
Tawashaubi shabr — saling menasihati untuk bersabar. Sabar di sini bukan menahan diri dari kepedihan saja, tetapi juga sabar bersama nikmat: tidak membuangnya terlalu cepat, tidak melupakannya terlalu dini, tidak menggantikannya sebelum waktunya.
Semoga Allah memperbaiki akhlak kita terhadap nikmat-nikmat-Nya yang tak terhitung. Semoga Ia mengembalikan rasa takjub yang pernah kita miliki ketika pertama kali menerimanya. Dan semoga kita menjadi orang-orang yang mampu bertahan bersama kebaikan — bukan karena terpaksa, tetapi karena hati kita benar-benar hadir di sana.
Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tiba'ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnaj tinabah. Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.
—
Nuraini Persadani | Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah
Membaca Dunia dengan Kacamata Islam
www.persadani.org