Hasad, Luka Purba yang Tak Pernah Mati

Hasad, Luka Purba yang Tak Pernah Mati

Di balik debu waktu yang membentang sejak langit pertama dihamparkan, ada sebuah penyakit yang tak pernah mengenal usia. Ia lebih tua dari zina, lebih dahulu dari mabuk, lebih dahulu pula dari riba. Namanya hasad. Bukan sekadar iri yang lewat di bibir, melainkan api yang menyelinap di relung dada, menggerogoti iman tanpa suara. Ia adalah bayangan yang menolak cahaya, cermin yang retak, dan luka yang tak berdarah tapi terus menganga.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, mengingatkan kita agar mata dan hati tidak terjebak pada kilau milik orang lain:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
(QS. Thaha: 131)

Hasad bukan dosa yang baru lahir di zaman modern. Ia adalah warisan purba yang diturunkan oleh bisikan syaitan ke dalam fitrah manusia yang lalai. Dalam Kitab ar-Rasa’il al-Adabiyyah, tercatat sebuah kalimat yang menggema di lorong sejarah:

وَالْحَسَدُ رَحِمَكَ اللهُ أَوَّلُ خَطِيئَةٍ ظَهَرَتْ فِي السَّمَوَاتِ وَأَوَّلُ مَعْصِيَةٍ حَدَثَتْ فِي الْأَرْضِ

Ya, hasad adalah dosa pertama di langit—ketika Iblis menolak bersujud bukan karena ketiadaan ilmu, melainkan karena hasadnya kepada Adam yang diciptakan dari tanah, sedangkan ia dari api. Dan hasad adalah dosa pertama di bumi—ketika Qabil membunuh Habil, bukan demi tanah atau emas, melainkan karena hasad terhadap diterimanya amalan saudara sendiri. Sejak detik itu, hasad menancapkan akarnya di dalam sejarah kemanusiaan.

Rasulullah ﷺ memperingatkan dengan kalimat yang pendek namun mengguncang jiwa:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

(HR. Abu Dawud & At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani)

Betapa mengerikannya: amal yang dikumpulkan dengan susah payah, doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, sedekah yang diam-diam diberikan, bisa ludes dalam sekejap hanya karena hati membiarkan api hasad menjilatnya. Ia tidak membakar kulit, tapi menghanguskan pahala. Tidak berdarah, tapi melumpuhkan iman.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin menyebut hasad sebagai penyakit hati yang paling berbahaya, karena ia tak pernah puas dengan nikmat orang lain, dan tak pernah ridha dengan takdir Allah. Ia adalah pemberontakan halus terhadap Sang Penulis Takdir. Ia mengubah syukur menjadi luka, mengubah sabar menjadi dendam, mengubah cinta menjadi abu.

Kadang kita lupa, hasad tak selalu berteriak. Ia sering kali berbisik. “Kenapa dia yang dapat?” “Kenapa bukan aku?” “Kenapa Allah pilih dia?” Padahal, Allah telah menulis rizki, jodoh, taufiq, dan ujian dengan tinta yang tak pernah salah. Hasad hanya memaksa kita menutup mata atas hikmah yang sedang ditata oleh Tangan Yang Maha Lembut.

Maka, Allah mengajarkan obatnya dalam surat yang pendek namun dahsyat:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾

(QS. Al-Falaq: 1–5)

Perlindungan itu bukan hanya dari hasad orang lain, tapi juga dari hasad yang kita sembunyikan di dalam diri sendiri. Ia mengajarkan kita untuk berlindung sebelum terluka, dan memohon cahaya sebelum hati dikaburkan.

Mari bercermin. Bukan pada kaca yang memantulkan wajah, tapi pada hati yang memantulkan niat. Hasad memang tua, tapi taubat lebih tua darinya. Rahmat Allah lebih luas dari sejarah dosa manusia. Jika hasad adalah akar yang menjalar, maka istighfar adalah air yang menyucikannya. Doa, ridha, dan syukur adalah pagar yang tak bisa ditembus api iri.

Ya Allah, bersihkan hati kami dari hasad yang menggerogoti, dari dengki yang menyilaukan, dari iri yang memadamkan cahaya iman. Jadikan kami hamba yang ridha dengan pembagian-Mu, bersyukur atas nikmat-Mu, dan mendoakan kebaikan untuk saudara kami sebagaimana kami mendoakan diri sendiri. Teguhkan hati ini di atas taufiq-Mu, dan jauhkan ia dari bisikan yang memecah belah ukhuwah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Artikel Populer

Wahai Dzat yang Membolak-balikkan Hati: Antara Rapuhnya Jiwa dan Harapan Istiqamah

Akar Sebelum Sayap

Tarbiyah yang Hilang di Balik Ranking

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...