Ulama yang Memilih Pelarian daripada Kehilangan Integritas
Ulama yang Memilih Pelarian daripada Kehilangan Integritas
Sufyan Ats-Tsauri dan Harga Menjaga Independensi
Oleh: Nuraini Persadani | Persadani.org
Ketika Suara Ulama Mulai Melunak
Ada masa ketika suara ulama begitu merdeka. Mereka mampu berkata benar tanpa takut kehilangan kursi, bantuan, atau kedekatan dengan penguasa. Mereka tegak bukan karena tidak tahu risiko, tetapi karena tahu ada sesuatu yang lebih besar dari rasa aman — yaitu integritas di hadapan Allah.
Hari ini, pemandangan itu terasa semakin langka. Kedekatan dengan kekuasaan sering membuat suara menjadi lunak, posisi menjadi pertimbangan, dan keberanian berkata benar perlahan tergerus oleh kepentingan. Di tengah kegelisahan semacam itu, nama Sufyan Ats-Tsauri hadir bukan sebagai kisah masa lalu yang usang, tetapi sebagai cermin yang mengguncang: seberapa mahal sesungguhnya harga menjaga independensi seorang alim?
Siapa Sufyan Ats-Tsauri?
Beliau adalah Abu 'Abdillah Sufyān bin Sa'īd bin Masrūq ats-Tsaurī al-Kūfī, lahir di Kufah, Irak, tahun 97 H (± 716 M), dari kalangan tabi'ut tabi'in — generasi ketiga terbaik Islam setelah para sahabat dan tabi'in.
Ayahnya, Sa'īd bin Masrūq, adalah seorang ahli hadis yang tsiqah (tepercaya). Lingkungan ini membentuk Sufyan sejak dini. Ibunya, perempuan sederhana penenun kain, pernah berkata kepadanya:
"Carilah ilmu, aku akan mencukupi kebutuhanmu dengan alat tenunku."
Kalimat itu bukan sekadar dorongan seorang ibu. Ia menjadi fondasi cara pandang Sufyan terhadap ilmu: sesuatu yang harus dicari dengan seluruh diri, bukan sebagai tangga menuju kekuasaan.
Beliau belajar kepada para imam besar tabi'in, di antaranya Ja'far ash-Shadiq, Al-A'masy, dan Amr bin Dinar. Murid-muridnya pun bukan orang sembarangan — Abdullah bin al-Mubarak, Yahya bin Sa'id al-Qattan, dan Waki' bin al-Jarrah termasuk di antara mereka.
Syu'bah bin al-Hajjaj, salah satu imam hadis terbesar zamannya, memberikan penilaian yang tidak ringan:
« سُفْيَانُ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ فِي الْحَدِيثِ »
Sufyānu amīrul mu'minīna fil hadīts.
"Sufyan adalah pemimpin kaum mukmin dalam bidang hadis."
— Syu'bah bin al-Hajjaj, dinukil dalam Siyar A'lam an-Nubala'
Imam Ahmad bin Hanbal pun berkata:
« مَا رَأَيْتُ أَعْلَمَ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مِنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ »
Mā ra'aitu a'lama bil-halāli wal-harāmi min Sufyān ats-Tsaurī.
"Aku tidak melihat orang yang lebih alim tentang halal dan haram dibanding Sufyan Ats-Tsauri."
— Imam Ahmad bin Hanbal, dalam Siyar A'lam an-Nubala' karya Adz-Dzahabi
Ulama dalam Pelarian — Sebuah Babak yang Tidak Banyak Diketahui
Sufyan Ats-Tsauri bukan sekadar ahli hadis besar dengan deretan murid dan pujian. Ia dikenal karena sesuatu yang lebih langka: keteguhannya menjaga jarak dari kekuasaan.
Ketika jabatan hakim negara ditawarkan kepadanya oleh khalifah, ia memilih menolak. Bukan karena membenci pemerintahan, tetapi karena takut agama berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan. Beliau sadar bahwa jubah hakim yang tampak mulia bisa menjadi rantai yang mengikat keberanian berkata benar.
Bahkan sejarah mencatat sesuatu yang lebih mengejutkan: menjelang akhir hidupnya, Sufyan Ats-Tsauri hidup dalam pelarian. Ia meninggalkan kota demi kota, berpindah dari Kufah ke Makkah, lalu ke Basrah — bukan karena pengecut, tetapi karena tahu bahwa menyerah kepada tekanan kekuasaan adalah kehilangan yang jauh lebih besar dari sekadar keamanan fisik.
Beliau wafat pada tahun 161 H (778 M) di Basrah, dalam keadaan bersembunyi dari tekanan penguasa. Menjelang ajal, bukan kesombongan yang mengisi dadanya, melainkan air mata — tangisan karena takut hisab di hadapan Allah.
Bagi sebagian ulama salaf, kehilangan kebebasan berkata benar lebih menakutkan daripada kehilangan keamanan hidup.
Pelajaran 1 — Hati-hatilah terhadap Pintu-Pintu Penguasa
Di antara nasihat Sufyan Ats-Tsauri yang paling masyhur dan paling relevan sepanjang zaman:
إِيَّاكَ وَأَبْوَابَ السَّلَاطِينِ
Iyyāka wa abwābas-salāṭīn.
"Hati-hatilah terhadap pintu-pintu penguasa."
— Sufyan Ats-Tsauri, dinukil dalam Siyar A'lam an-Nubala'
Kalimat ini tidak berarti semua pejabat buruk, atau semua ulama harus menjauh dari pemerintahan. Sufyan sedang mengingatkan satu bahaya tua yang terus berulang dalam sejarah: ketika kedekatan membuat seseorang kehilangan keberanian mengatakan yang benar.
Beliau mempertegas dengan kalimat lain:
مَا ازْدَادَ رَجُلٌ مِنَ السُّلْطَانِ قُرْبًا إِلَّا ازْدَادَ مِنَ اللَّهِ بُعْدًا
Mā izdāda rajulun minas-sulṭāni qurban illā izdāda minallāhi bu'dā.
"Tidaklah seseorang bertambah dekat dengan penguasa, kecuali ia berisiko bertambah jauh dari Allah."
Perhatikan cara beliau berkata: berisiko. Ini bukan vonis mutlak. Ini peringatan tentang gravitasi kuasa — daya tarik yang diam-diam menarik seseorang lebih jauh dari keberanian, sedikit demi sedikit, tanpa terasa.
Pelajaran 2 — Zuhud Bukan Soal Kemiskinan, tetapi Kemerdekaan Hati
Sufyan Ats-Tsauri meluruskan satu salah paham besar tentang zuhud:
الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا قِصَرُ الْأَمَلِ لَيْسَ بِأَكْلِ الْغَلِيظِ وَلَا لُبْسِ الْعَبَاءِ
Az-zuhdu fid-dunyā qiṣarul-amal, laisa bi aklil-ghalīẓ wa lā lubsil-'abā'.
"Zuhud terhadap dunia bukanlah makan makanan kasar atau memakai pakaian sederhana, tetapi pendek angan-angan — tidak terlena oleh dunia."
— Sufyan Ats-Tsauri, dalam Hilyat al-Auliya'
Zuhud sejati bukan penampilan. Ia bukan soal seberapa sederhana pakaian atau seberapa kasar makanan. Zuhud adalah kondisi batin: hati yang tidak diperbudak dunia, tidak dibelenggu ambisi, tidak dikuasai ketakutan kehilangan. Dari sanalah lahir keberanian berkata benar — karena tidak ada yang benar-benar ingin dipertahankan kecuali ridha Allah.
Pelajaran 3 — Ikhlas Adalah Perjuangan Seumur Hidup
Di antara ucapan Sufyan yang paling dalam dan paling jujur tentang dirinya sendiri:
مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي
Mā 'ālajtu syai'an asyadda 'alayya min niyyatī.
"Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku perjuangkan daripada meluruskan niatku."
— Sufyan Ats-Tsauri, dalam Hilyat al-Auliya'
Kalimat ini bukan kerendahan hati palsu. Ini pengakuan seorang Amirul Mukminin fil Hadits bahwa ilmu banyak tidak otomatis menjamin niat yang bersih. Bahwa semakin seseorang naik dalam ilmu dan kedudukan, semakin halus pula godaan yang menyusup: ingin dihormati, ingin didengar, ingin dilihat sebagai pejuang kebenaran.
Sufyan tahu bahaya itu. Maka ia berjuang setiap hari melawan sesuatu yang tidak terlihat dari luar, tetapi paling menentukan di hadapan Allah.
Keseimbangan — Pandangan yang Lebih Matang
Penting untuk tidak membaca teladan Sufyan Ats-Tsauri secara sepihak. Tradisi Islam dalam menyikapi hubungan ulama dan penguasa tidak tunggal.
Ada ulama yang memilih menjaga jarak seperti Sufyan Ats-Tsauri, karena kondisi penguasa yang zalim dan risiko fitnah begitu nyata. Namun ada pula ulama besar yang justru mendekati penguasa — bukan untuk meraih keuntungan, melainkan untuk memberi nasihat, meluruskan kebijakan, dan memperbaiki keadaan. Para ulama seperti Imam Nawawi pernah berhadapan langsung dengan penguasa untuk menolak keputusan yang zalim, bukan demi jabatan.
Yang menjadi ukuran bukan sekadar dekat atau jauhnya seorang alim dari kekuasaan, tetapi: apakah integritas masih utuh? Apakah keberanian berkata benar masih ada?
Sufyan memilih pelarian karena menilai itulah cara paling selamat bagi dirinya dan agamanya di zamannya. Pilihan itu bukan satu-satunya jalan, tetapi ia adalah pilihan yang lahir dari ketulusan, bukan kelemahan.
Ketika "Penguasa" Tidak Selalu Berbentuk Istana
Hari ini, "penguasa" tidak selalu berbentuk khalifah atau raja. Ia bisa berupa jabatan struktural, popularitas di media sosial, ketergantungan pada sponsor, tekanan algoritma, atau sekadar ketakutan kehilangan posisi di mata komunitas.
Betapa banyak orang yang awalnya bersuara lantang, lalu perlahan diam. Bukan karena berubah pikiran, tetapi karena terlalu banyak yang ingin dipertahankan.
Betapa banyak tulisan yang mulanya tajam, lalu mengabur. Bukan karena argumennya lemah, tetapi karena ada "pintu" yang mulai sering dimasuki.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa kemampuan memahami agama dengan benar adalah tanda kebaikan yang Allah kehendaki bagi seseorang:
« مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ »
Man yuridillāhu bihi khairan yufaqqihhu fid-dīn.
"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan memahamkannya dalam agama."
— HR. Bukhari dan Muslim, muttafaq 'alaih
Pemahaman agama yang sejati bukan hanya keluasan ilmu, tetapi keberanian mengamalkan ilmu itu meski mahal harganya.
Mutiara Hikmah Sufyan Ats-Tsauri
Sebelum kita menutup, ada beberapa kata mutiara beliau yang layak direnungkan:
| Tema | Hikmah |
|---|---|
| Dunia dan akhirat | "Dunia hanyalah mimpi, akhirat adalah kenyataan. Kematian menjadi pemisah di antara keduanya." |
| Dosa dan ibadah | "Sungguh, aku terhalang dari salat malam karena dosa yang aku lakukan." |
| Diam dan bicara | "Jika diam membuatmu bangga, maka berbicaralah. Jika bicara membuatmu bangga, maka diamlah." |
Kata mutiara terakhir itu perlu dibaca pelan-pelan. Ini bukan paradoks kosong — ini terapi dari ujub dan riya': selalu lakukan yang bertentangan dengan kebanggaan diri.
Muhasabah untuk Kita
Barangkali pertanyaannya bukan: apakah kita dekat dengan kekuasaan?
Pertanyaan yang lebih dalam adalah: adakah sesuatu di dunia ini yang mulai membuat kita takut berkata jujur?
Adakah jabatan, hubungan, popularitas, atau ketakutan tertentu yang perlahan mengikis keberanian kita? Adakah "pintu" yang mulai kita masuki terlalu sering, sampai kita lupa harus berdiri di sisi mana?
Sufyan Ats-Tsauri mengajarkan bahwa kadang menjaga agama bukan tentang menjadi besar — tetapi tentang berani menjaga jarak dari sesuatu yang bisa merusak hati.
Beliau memilih pelarian. Bukan dari tanggung jawab, tetapi dari godaan yang lebih halus dan lebih berbahaya: kehilangan keberanian untuk jujur di hadapan Allah dan manusia.
Semoga Allah merahmati Sufyan Ats-Tsauri, dan semoga kita termasuk di antara orang-orang yang diberi taufik untuk menjaga niat, menjaga ilmu, dan menjaga keberanian berkata benar — di manapun kita berdiri.
📚 Referensi: Siyar A'lam an-Nubala' (Adz-Dzahabi) · Hilyat al-Auliya' (Abu Nu'aim al-Ashbahani) · Az-Zuhd al-Kabir · Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim
