Sujud yang Ditolak Bumi
Sujud yang Ditolak Bumi
Mengapa Salat Belum Mengubah Akhlak? Refleksi QS. Al-‘Ankabut: 45 & Jalan Pulang Hati yang Lelah
Oleh : Tsaqif Rasyid Dai
Ada orang yang sujudnya panjang, tapi hatinya tetap gelisah. Bibirnya lancar melafalkan dzikir, namun pandangannya masih lapar pada yang diharamkan. Dahinya menghitam oleh gesekan sajadah, tetapi amarah dan syahwat masih duduk tegak di singgasana jiwa. Lalu, bagaimana jika selama ini bukan langit yang menjauh, melainkan hati kita yang tertutup? Bagaimana jika bumi menerima dahi kita, tapi menolak sujud kita?
Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45). Tapi kita sering bertanya dalam diam: mengapa banyak yang rajin shalat, namun akhlaknya tak kunjung berubah? Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa shalat yang benar akan menjadi penghalang dari maksiat, sebab di dalamnya tertanam pengagungan kepada Allah dan rasa muraqabah—kesadaran bahwa kita senantiasa diawasi-Nya. Bila shalat belum mengubah cara kita memperlakukan manusia, bukan berarti ayat ini keliru. Melainkan, ada bagian dari ruh shalat yang belum sepenuhnya hidup di dalam dada.
Tidak semua gerakan rukuk melahirkan ketundukan. Tidak semua air mata di sajadah berarti kedekatan yang hakiki. Tubuh mungkin sedang bersimpuh, tetapi ego masih berdiri tegak, menghitung validasi, atau merencanakan dunia. Ada orang yang jidatnya mencium bumi, tapi ambisinya masih menyembah pengakuan.
Tanda Sujud Kehilangan Ruahnya:
• Lisan yang berdzikir, namun lidah yang melukai.
• Mata yang menangis saat doa, namun asyik bermaksiat saat sunyi.
• Sujud yang berubah menjadi panggung, bukan pertemuan.
Pertama, lisan yang berdzikir, namun lidah yang melukai. Tasbih berputar di jari, namun gosip dan sindiran masih berjalan tanpa ampun. Kita menyebut nama Allah setelah shalat, tapi sebelum Maghrib tiba, hati kita sudah menyakiti sesama. Sufyan ats-Tsauri pernah merenung, “Aku terhalang qiyamul lail hanya karena satu dosa yang aku lakukan.” Kadang, bukan ibadah yang berat. Tapi dosa kecil yang dianggap remeh, justru mencabut nikmat kehadiran yang seharusnya kita rasakan.
Kedua, mata yang menangis saat doa, namun asyik bermaksiat saat sunyi. Di ruang hening, pandangan mudah tergelincir pada layar yang mengotori hati. Abdullah bin Mas‘ud mengingatkan, “Aku mengira seseorang dilupakan ilmunya karena dosa yang ia lakukan.” Mata yang terlalu sering bermaksiat perlahan membuat hati kehilangan kemampuan untuk menangis di hadapan-Nya.
Namun, dengarlah ini baik-baik: hati yang kotor bukan berarti hati yang mati. Selama masih ada rasa gelisah setelah dosa, selama masih ada penyesalan di balik kemaksiatan, itu bukan tanda Allah mencintaimu lalu pergi. Itu justru tanda Allah masih mengetuk, masih menyisakan cahaya kesadaran agar kau tidak tenggelam selamanya.
Ketiga, dan yang paling halus: ketika sujud berubah menjadi panggung. Riya’ tidak selalu berteriak. Ia sering berbisik pelan, “Semoga ada yang melihat aku berubah. Semoga namaku dicatat saleh.” Sementara Ayyub as-Sikhtiyani menangis semalaman, lalu pagi harinya berpura-pura matanya sakit agar tidak diketahui manusia. Kita takut amal kecil tak terlihat orang lain, padahal para salaf justru takut amal besar mereka terlihat. Dalam ilmu tazkiyatun nafs, kondisi ini dikenal sebagai idhthirabun nafsi (kegelisahan batin): tubuh menjalankan ritual, tapi jiwa masih berpihak pada dunia. Dan ketegangan itulah yang akhirnya membuat ibadah terasa hampa.
“Tidaklah seorang hamba dihukum dengan hukuman yang lebih besar daripada kerasnya hati.”
— Malik bin Dinar
Tanda hati mengeras bukan ketika kita berhenti shalat. Tapi ketika kita masih shalat… namun tak lagi merasa apa-apa. Sujud terasa cepat. Doa terasa hambar. Air mata terasa mahal. Dan Allah terasa jauh. Padahal, mungkin yang menjauh bukan rahmat-Nya, melainkan sensitivitas hati kita sendiri. Dosa yang diulang-ulang tanpa taubat perlahan menebalkan dinding antara hamba dan Tuhannya, hingga sujud hanya menjadi gerakan fisik, bukan pertemuan jiwa.
Jangan hanya hitung rakaatmu. Hitung juga berapa dosa yang belum kau tinggalkan. Apakah shalatmu membuatmu lebih lembut? Apakah maksiat sunyi itu diam-diam mencuri nikmat ibadahmu? Atau jangan-jangan, kau sedang bersujud kepada citra dirimu sendiri, bukan kepada Allah?
Kabar baiknya, Allah tidak pernah menutup pintu bagi hamba yang sungguh ingin pulang. Ayat yang sama yang menyebut shalat mencegah maksiat, diakhiri dengan peringatan lembut: “Dan mengingat Allah itu lebih besar. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Ia tahu niat kita yang retak. Ia tahu usaha kita yang goyah. Dan Ia Maha Penerima taubat, selama kita masih berani jujur.
Mungkin selama ini kita sibuk mencari sajadah yang lebih nyaman, suasana tahajud yang lebih tenang, atau suara imam yang lebih menyentuh. Padahal persoalannya bukan di tempat sujud itu.
Bukan semua sujud yang panjang itu dekat. Sebab yang sampai kepada Allah bukan hanya dahi yang menyentuh bumi, tetapi hati yang benar-benar runtuh. Ya Allah, lembutkan hati kami yang mulai kapalan oleh dosa yang diulang. Kembalikan kami pada sujud yang sesungguhnya. Aamiin.