Sadap, Ngeri-Ngeri Sedap

[ TazkiyatunNafs ]

Sadap, Ngeri-Ngeri Sedap

Ketika Rasa Ingin Tahu Kehilangan Rasa Malu

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

 


Geger! Kabar penyadapan yang semula simpang siur akhirnya memasuki babak baru. Selasa malam, 3 November 2026, Kabareskrim Komjen Asep Safrudin mengumumkan tiga tersangka dalam kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Ia menyebut inisial LSP, ASN, dan EH. Sejumlah media mengidentifikasi mereka sebagai Jenderal Listyo Sigit Prabowo, mantan Kapolri yang kini menjabat Kepala Staf Kepresidenan, bersama Irjen Ahrie Sonta Nasution dan Irjen Eko Hadi Santoso. Menurut penyidik, sasaran dugaan penyadapan tak hanya Presiden, tetapi juga pejabat negara, tokoh politik, media, ormas, LSM, hingga pengusaha.

Penyidikan masih berjalan. Belum ada putusan pengadilan, dan asas praduga tak bersalah tetap berlaku. Tetapi rasa penasaran publik telanjur melesat ke mana-mana.

Dan di sinilah ada sesuatu yang menggelitik.

Kita bisa begitu geram mendengar kabar penyadapan. Mengutuk pelanggaran privasi. Menuntut kerahasiaan dihormati. Namun begitu ada percakapan pribadi yang bocor, diam-diam kita ikut penasaran.

"Mana rekamannya? Ada transkripnya? Bagi link-nya, dong!"

Lho, kok malah ikut antre menikmati hasilnya?

Rupanya, disadap itu mengerikan. Tetapi mengetahui rahasia orang lain kadang terasa menyenangkan.

Ngeri-ngeri sedap.

Dua Macam Ingin Tahu

Perlu ada pembedaan sejak awal. Menuntut kejelasan atas dugaan penyalahgunaan kewenangan pejabat adalah hak, bahkan tanggung jawab warga negara. Itu urusan publik, dan jalurnya adalah hukum, pers yang bertanggung jawab, serta pengadilan.

Yang kita bicarakan di sini hal lain: dorongan mengintip, menikmati, dan meneruskan sesuatu yang bukan urusan kita. Orang Jawa menyebutnya nguping. Anak muda menyebutnya kepo.

Tidak semua rasa ingin tahu itu buruk. Ilmu berkembang karena manusia gemar bertanya. Persoalannya muncul ketika kita tidak lagi bertanya karena membutuhkan informasi, melainkan karena merasa harus tahu apa saja yang disembunyikan orang lain.

Padahal, tidak semua yang bisa diketahui memang berhak kita ketahui.

Ketika Syariat Menjaga Pintu Rahasia

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain." (QS. Al-Hujurat: 12)

Perhatikan urutannya: prasangka, tajassus, lalu ghibah. Prasangka membuat seseorang curiga. Kecurigaan mendorongnya mencari-cari. Setelah menemukan sesuatu, muncul godaan untuk menceritakannya.

Namun Islam tidak mengajarkan kita menutup mata terhadap kejahatan.

Imam An-Nawawi dalam Raudhatuth Thalibin, ketika menukil penjelasan Imam Al-Mawardi, menerangkan bahwa seseorang tidak dibenarkan menyelidiki kesalahan tersembunyi orang lain hanya berdasarkan prasangka. Pengecualian dapat berlaku bila ada petunjuk kuat mengenai bahaya serius yang harus segera dicegah, seperti ancaman pembunuhan.

Artinya, ada beda antara penyelidikan untuk melindungi keselamatan dan mengintip demi memuaskan penasaran. Dalam kehidupan bernegara, penyadapan pun harus tunduk pada kewenangan dan prosedur hukum.

Dua hal perlu dijaga bersamaan. Hak atas privasi tidak boleh dijadikan tameng untuk menutupi pelanggaran. Sebaliknya, kepentingan publik tidak boleh dijadikan alasan untuk menyebarkan semua rincian kehidupan pribadi seseorang.

Pelanggaran harus ditangani melalui jalur yang sah. Aib pribadi yang tak ada hubungannya dengan perkara tidak perlu disebarluaskan.

Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial mengingatkan bahwa tidak semua informasi yang benar boleh dan pantas disebarkan kepada publik.

Bahkan informasi yang benar sekalipun belum tentu layak dibagikan.

Mengapa Rahasia Orang Lain Terasa Menggoda?

George Loewenstein, melalui kajiannya tentang information gap, menjelaskan bahwa rasa ingin tahu muncul ketika kita menyadari ada kesenjangan antara yang kita ketahui dan yang ingin kita ketahui.

Dua orang berbincang pelan. Semula kita tidak peduli. Begitu terdengar nama seseorang yang dikenal, perhatian mendadak berubah.

"Lho, lagi ngomongke sopo kuwi?"

Ada potongan cerita yang hilang, dan pikiran terdorong melengkapinya.

Penelitian Bianca Beersma dan Gerben van Kleef tentang gosip menemukan beberapa motif orang membicarakan orang lain: memperoleh informasi, mencari pembenaran, melindungi kelompok, bahkan sekadar kesenangan sosial. Bergosip memang tidak sama dengan menguping, tetapi motif-motif ini membantu menjelaskan mengapa kehidupan orang lain terasa menarik, apalagi bila bersifat rahasia.

Menariknya, sebagian motif itu bahkan terdengar terhormat. Mencari informasi, melindungi kelompok, memastikan kebenaran. Namun alasan yang terdengar baik belum tentu membuktikan bahwa dorongan di baliknya juga baik.

"Tak kandhani, ning ojo ngomong sopo-sopo, ya!"

Kalimat itu sering menjadi awal perjalanan panjang sebuah rahasia dari satu telinga ke telinga berikutnya. Setiap penerima merasa mendapat amanah untuk menyimpannya, sambil mencari satu orang lagi yang dianggap bisa dipercaya.

Begitulah rahasia bisa berkeliling tanpa pernah merasa sedang disebarkan.

Ketika Nafsu Menyamar Jadi Kepedulian

Jarang ada orang yang berkata, "Saya menguping karena senang." Yang terdengar justru:

"Saya cuma ingin tahu kebenarannya."
"Saya sedang tabayyun."
"Saya bagikan ini supaya orang waspada."

Kadang itu memang benar. Tetapi kadang itulah cara nafsu menyamar. Ia tidak datang membawa tanduk. Ia datang membawa alasan yang baik.

Dan yang paling sulit: sering kali kita sungguh-sungguh percaya niat kita sudah lurus.

Di bawahnya, ada satu penyakit yang halus. Setiap kali mengetahui keburukan orang lain, terkadang muncul bisikan kecil yang terasa menenangkan: setidaknya saya tidak seburuk itu.

Tidak ada yang mengumumkannya. Tetapi diam-diam kita merasa naik satu tingkat, bukan karena menjadi lebih baik, melainkan karena orang lain tampak lebih buruk.

Di situlah bibit ujub bisa tumbuh. Kita mulai merasa lebih baik, bukan karena berhasil memperbaiki diri, melainkan karena menemukan keburukan orang lain.

Kita begitu bersemangat memeriksa apa yang disembunyikan orang lain, tetapi sering kehabisan keberanian memeriksa apa yang belum beres di dalam diri sendiri.

Belajar Tidak Harus Tahu

Barangkali kita perlu belajar satu keterampilan yang semakin langka: mampu menahan diri untuk tidak mengetahui sesuatu yang sebenarnya bisa kita ketahui.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

"Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak menjadi urusannya." (HR. Tirmidzi No. 2317)

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa meninggalkan perkara yang tidak menjadi urusannya menurut tuntunan syariat merupakan bagian dari baiknya keislaman seseorang. Beliau menghubungkannya dengan ihsan dan rasa malu kepada Allah.

Latihannya sederhana, meski tidak mudah.

Sebelum membuka tautan percakapan yang bocor, berhenti sejenak dan tanyakan: Apa perlunya saya tahu ini? Itulah latihan muraqabah, menyadari bahwa Allah melihat bahkan ketika jari kita hendak menekan layar.

Jika dorongan itu tetap kuat, tahan. Tutup layar, letakkan ponsel. Itulah mujahadah, melatih diri melawan keinginan yang tidak semestinya dituruti.

Malamnya, jujurlah kepada diri sendiri: apakah tadi benar karena peduli, atau karena senang? Itulah muhasabah.

Jika informasi itu menyangkut keselamatan, kezaliman, atau pelanggaran yang harus ditangani, jangan diam. Sampaikan melalui jalur yang tepat kepada pihak berwenang. Menjaga aib bukan berarti melindungi pelaku kejahatan.

Namun jika hanya untuk memuaskan penasaran, belajarlah berhenti.

Barangkali kita tidak membutuhkan telinga yang semakin tajam untuk menangkap rahasia orang lain. Kita justru membutuhkan hati yang semakin peka terhadap kekurangan sendiri.

Dan pada akhirnya, ada satu ironi yang layak kita renungkan.

Transparansi pantas dituntut dari pemegang amanah publik. Privasi pantas dijaga bagi setiap orang. Keduanya tidak bertentangan.

Tetapi kita sering memiliki ukuran yang berbeda ketika menyangkut diri sendiri dan orang lain.

Rahasia sendiri kita kunci rapat-rapat. Rahasia orang lain, kita berebut mencari kuncinya.

Referensi

  1. Al-Qur'an, QS. Al-Hujurat: 12.
  2. At-Tirmidzi, As-Sunan, hadis No. 2317.
  3. Imam An-Nawawi, Raudhatuth Thalibin, jilid 10, hlm. 220, mengutip Al-Mawardi. Rujukan kitab.
  4. Ibnu Rajab Al-Hanbali, Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam, syarah hadis meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat. Rujukan kitab.
  5. Majelis Ulama Indonesia, Fatwa No. 24 Tahun 2017, Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Rujukan MUI.
  6. Loewenstein, George (1994), The Psychology of Curiosity: A Review and Reinterpretation, Psychological Bulletin, 116(1), 75–98.
  7. Beersma, Bianca & Gerben A. Van Kleef (2012), Why People Gossip: An Empirical Analysis of Social Motives, Antecedents, and Consequences, Journal of Applied Social Psychology, 42(11), 2640–2670.
  8. ANTARA, detikNews, dan CNN Indonesia, pemberitaan kasus dugaan penyadapan, 3 November 2026.

Artikel Populer

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ: Saat Orang Cerdas Mengadili Dirinya Sendiri

Mesra, tapi Sadis

Sulitnya Bener tur Pener

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...