Jalan Menuju Ihsan: Seni Menyucikan Jiwa dan Menghadirkan Allah dalam Kehidupan
Jalan Menuju Ihsan: Seni Menyucikan Jiwa dan Menghadirkan Allah dalam Kehidupan
Mengapa hati tetap gelisah di tengah kehidupan yang semakin mudah, dan bagaimana ulama salaf menjelaskan jalan menuju ketenangan sejati.
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 4 Juni 2026 - 18 Dzulhijjah 1447
Kita hidup di zaman yang menjanjikan kebahagiaan melalui kemudahan.
Makanan datang hanya dengan satu sentuhan jari. Pengetahuan dapat diakses dalam hitungan detik. Komunikasi berlangsung tanpa batas ruang dan waktu. Namun anehnya, semakin banyak manusia mengaku lelah. Tidak sedikit yang mengalami kecemasan tanpa sebab yang jelas. Sulit tidur. Sulit fokus. Sulit menikmati hidup meski secara lahir tidak ada yang kurang.
Dan yang lebih membingungkan, sebagian merasakan kekosongan bahkan setelah mendapatkan apa yang dulu mereka impikan.
Pertanyaannya sudah bergeser. Bukan lagi: "Bagaimana cara sukses?" Melainkan: "Mengapa setelah sukses, hati masih terasa ada yang hilang?"
Empat belas abad yang lalu, Al-Qur'an telah mengarahkan perhatian manusia pada sebuah pusat kendali yang sering terlupakan: hati.
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Alladzīna āmanū wa tathma'innu qulūbuhum bidzikrillāh. Alā bidzikrillāhi tathma'innul qulūb.
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hati orang beriman merasa tenang ketika mengingat Allah, bersandar kepada-Nya, dan meyakini janji-Nya — karena tidak ada ketenangan hakiki yang mampu menggantikan dzikrullah. Jalalain menambahkan bahwa ketenteraman hati itu hadir karena hati menemukan ketenangan melalui mengingat Allah, setelah sebelumnya gelisah dan bimbang.
Menariknya, sebagian kegelisahan yang kini dibahas dalam psikologi modern — kecemasan tanpa sebab, kehilangan makna, pencarian identitas, kebutuhan akan validasi — memiliki irisan dengan pembahasan para ulama tentang penyakit hati dan tazkiyatun nafs. Namun tradisi Islam tidak berhenti pada pemahaman diri semata. Jika psikologi modern berusaha membantu manusia berdamai dengan dirinya, maka tazkiyatun nafs mengajak manusia kembali mengenal Rabb-nya. Di situlah letak perbedaannya: ketenangan dalam Islam bukan hanya hasil pengelolaan pikiran yang baik, tetapi buah dari kedekatan hati kepada Allah.
Artikel ini adalah undangan untuk menempuh jalan itu — jalan yang telah ditempuh para ulama salaf selama berabad-abad, namun terasa lebih relevan dari sebelumnya di tengah kehidupan modern yang serba riuh ini.
Peta Qur'ani Menuju Ihsan
Sebelum memasuki pembahasan, ada baiknya kita merenungkan terlebih dahulu bahwa Al-Qur'an sendiri sebenarnya sudah menggambarkan seluruh perjalanan menuju ihsan — dari titik awal kegelisahan hingga puncak kedekatan dengan Allah. Ayat-ayat ini tersebar di berbagai surah, namun ketika dibaca berurutan, ia menjadi sebuah peta ruhani yang sangat utuh.
| QS. Ar-Ra'd: 28 | Hati manusia mencari ketenangan — dan ketenangan itu hanya ditemukan dalam dzikrullah. |
| ↓ | |
| QS. Asy-Syams: 9–10 | Ketenangan itu hanya mungkin melalui tazkiyah — penyucian jiwa dari segala yang mengotorinya. |
| ↓ | |
| QS. Al-Mulk: 2 | Tazkiyah melahirkan kualitas amal — bukan yang terbanyak, melainkan yang terbaik dan paling ikhlas. |
| ↓ | |
| QS. An-Nahl: 128 | Kualitas amal itu adalah ihsan — dan Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat ihsan. |
| ↓ | |
| QS. Yunus: 62–63 | Ihsan yang konsisten melahirkan wilayah — kedekatan sejati dengan Allah yang membebaskan hati dari kekhawatiran dan kesedihan. |
Inilah benang merah yang akan menyatukan seluruh artikel ini. Setiap bab adalah satu langkah dalam peta tersebut.
Krisis yang Tidak Terlihat — Ketika Jiwa Lebih Lelah daripada Tubuh
Ada sebuah fenomena yang semakin sering dijumpai: orang-orang yang secara fisik sehat, secara finansial berkecukupan, secara sosial terhubung dengan banyak orang — namun secara batin merasa kosong dan lelah.
Burnout — kelelahan yang bukan sekadar capek, melainkan rasa kehilangan makna dari apa yang dikerjakan. Overstimulation — kondisi ketika otak terlalu jenuh oleh rangsangan informasi hingga tidak mampu lagi merasakan ketenangan. FOMO — kegelisahan terus-menerus bahwa ada sesuatu yang lebih baik yang sedang dinikmati orang lain. Kelelahan mental ini berbeda dari kelelahan fisik. Tidur semalam suntuk tidak selalu menyembuhkannya. Liburan panjang kadang hanya menundanya.
Imam Al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumuddin, menyebut kondisi ini dengan istilah yang sangat tepat: qasawatul qalb — kekerasan hati. Hati yang terlalu sering terpapar dunia tanpa penyucian akan mengeras, kehilangan kepekaan, dan akhirnya tidak lagi mampu merasakan kelezatan ibadah maupun ketenangan dalam dzikir. Beliau membedakan antara amal lahir dan ruh amal: amal lahir tanpa kehadiran hati ibarat jasad tanpa ruh.
Masalah terbesar manusia, menurut ulama salaf, bukan selalu kurangnya informasi. Bukan kurangnya akal. Tetapi banyaknya ran — kotoran yang menyelimuti hati, menutup cahaya fitrah yang sejatinya ada dalam setiap diri. Al-Hasan Al-Bashri menyatakan:
لا يزال المؤمن بخير ما كان له واعظ من نفسه
"Seorang mukmin akan selalu berada dalam kebaikan selama ia masih memiliki penasihat dalam dirinya."
(Hilyat al-Awliya')
Masalah modern sering kali bukan kurangnya nasihat dari luar. Tetapi hilangnya suara hati yang menasihati diri sendiri — karena hati yang dipenuhi ghaflah tidak lagi mampu mendengar bisikan fitrahnya sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Qad aflaha man zakkāhā. Wa qad khāba man dassāhā.
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya."
(QS. Asy-Syams: 9–10)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keberuntungan sejati diberikan kepada orang yang membersihkan jiwanya dari syirik, maksiat, dan akhlak tercela, serta menghiasinya dengan ketaatan. Falah — keberuntungan — bukan dikaitkan dengan kekayaan atau pencapaian, melainkan dengan tazkiyah. Dan kegagalan yang sesungguhnya bukan kemiskinan materi, melainkan jiwa yang dibiarkan kotor dan tertutup.
Apa yang Dimaksud Tazkiyatun Nafs?
Kata tazkiyah berasal dari akar kata Arab zakā, yang memiliki dua makna utama yang saling berkaitan: tathharah (kesucian/pembersihan) dan numuww (pertumbuhan/perkembangan). Tazkiyatun nafs bukan sekadar proses membersihkan jiwa dari kotoran, melainkan juga proses menumbuhkan potensi kebaikan yang memang sudah ada di dalamnya.
Ini penting untuk dipahami sejak awal, karena banyak orang memiliki gambaran yang keliru tentang tazkiyah. Tazkiyah bukan membenci diri. Bukan mematikan emosi. Bukan lari dari dunia. Melainkan membersihkan jiwa agar kembali berfungsi sebagaimana fitrahnya.
Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa tazkiyatun nafs adalah proses mengembalikan jiwa kepada fitrahnya — kondisi asal di mana ia diciptakan dalam keadaan bersih, cenderung kepada kebenaran, dan siap untuk mengenal Tuhannya. Jiwa yang tersucikan bukan jiwa yang mati, melainkan jiwa yang hidup dalam makna yang paling penuh.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menggambarkannya dengan analogi yang sangat indah: hati manusia seperti cermin yang mampu memantulkan cahaya Ilahi. Ketika cermin itu berkarat — tertutup dosa, kelalaian, dan penyakit-penyakit batin — cahaya itu tidak lagi bisa dipantulkan. Bukan karena tidak ada cahaya di luar sana, melainkan karena cermin di dalam diri terlalu kotor untuk menerimanya. Tazkiyah adalah proses membersihkan cermin itu. Bukan membeli cermin baru. Bukan mengganti diri menjadi orang lain. Melainkan mengembalikan diri kepada kondisi terbaiknya.
Dan proses ini berlangsung sepanjang hayat. Tidak selesai dalam satu sesi muhasabah. Tidak tuntas dengan satu kali khatam kitab. Ia adalah perjalanan, bukan destinasi — sebuah arah yang terus ditempuh, bukan garis finish yang pernah terlewati.
Tazkiyatun nafs bukan perjalanan menjadi manusia yang sempurna. Ia adalah perjalanan kembali kepada fitrah yang telah lama tertutup.
Masalah terbesar manusia bukan selalu dosa yang ia lakukan. Tetapi jarak yang perlahan tumbuh antara hatinya dan Allah — tanpa ia sadari.
Mengenal Diri Sebelum Memperbaiki Diri
Banyak orang ingin menjadi lebih baik, tetapi sedikit yang benar-benar mengenal dirinya sendiri.
Kita hidup di zaman yang memudahkan manusia menilai segala sesuatu. Kita dapat menilai berita, menilai kebijakan, menilai tokoh publik, bahkan menilai kehidupan orang lain hanya dari layar yang kita genggam. Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian: diri kita sendiri.
Padahal perjalanan menuju Allah selalu dimulai dari sana.
Sebelum memperbaiki amal, seseorang harus mengenali keadaan hatinya. Sebelum berbicara tentang ihsan, ia harus terlebih dahulu jujur melihat apa yang tersembunyi di balik niat, keinginan, dan dorongan jiwanya. Karena itulah para salaf begitu menekankan muhasabah.
Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
Ḥāsibū anfusakum qabla an tuḥāsabū.
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab."
Kalimat singkat ini mengandung prinsip besar: manusia tidak boleh menunggu hari perhitungan untuk mengenal dirinya. Muhasabah bukan sekadar mengingat dosa yang telah dilakukan. Ia adalah keberanian untuk bertanya kepada diri sendiri: Mengapa aku melakukan amal ini? Apakah aku benar-benar menginginkan ridha Allah? Ataukah diam-diam aku mengharapkan pujian manusia? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering kali lebih berat daripada amal itu sendiri.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
لَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ بِخَيْرٍ مَا كَانَ لَهُ وَاعِظٌ مِنْ نَفْسِهِ
"Seorang mukmin akan senantiasa berada dalam kebaikan selama ia masih memiliki penasihat dalam dirinya."
(Hilyat al-Awliya')
Penasihat yang dimaksud bukanlah suara yang membenarkan semua keinginan, melainkan hati yang masih mampu menegur dirinya ketika menyimpang. Ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mengoreksi dirinya sendiri, pada saat itulah ia mulai berjalan tanpa kompas.
Di sinilah pemikiran Al-Harith bin Asad Al-Muhasibi menjadi sangat penting. Nama beliau bahkan diabadikan oleh sejarah melalui gelar "Al-Muhasibi" — orang yang senantiasa melakukan muhasabah. Karya utama beliau, Ar-Ri'ayah li Huquqillah, telah membangun fondasi ilmu tazkiyah jauh sebelum Imam Al-Ghazali menulis Ihya'. Banyak konsep besar dalam Ihya' sesungguhnya berakar pada pemikiran Al-Muhasibi.
Menurut Al-Muhasibi, banyak manusia tertipu bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena tidak mengenali keadaan jiwa mereka sendiri. Seseorang mungkin mengetahui hukum riya', tetapi tidak menyadari bahwa dirinya sedang mencari pujian. Ia mengetahui bahaya kesombongan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengagumi dirinya sendiri. Musuh terbesar, kata beliau, bukanlah dunia di luar sana —
غَفْلَةُ النَّفْسِ
Kelalaian terhadap keadaan jiwa sendiri.
Karena itu Al-Muhasibi mengajarkan "audit hati" — memeriksa diri sebelum, saat, dan setelah beramal. Sebelum beramal, periksa niatnya. Saat beramal, jaga keikhlasannya. Setelah beramal, koreksi kekurangan dan kelemahannya. Tiga tahap ini membangun sebuah kesadaran yang utuh — bukan sekadar tahu tentang kebaikan, tetapi benar-benar hadir dalam setiap lapis prosesnya.
Tazkiyatun nafs tidak dimulai dengan memperbaiki dunia, memperbaiki orang lain, atau memperbaiki keadaan sekitar. Ia dimulai dengan keberanian menyalakan cahaya ke dalam diri sendiri. Karena seseorang tidak dapat membersihkan hati yang belum ia kenali. Dan ia tidak dapat berjalan menuju ihsan sebelum mengetahui apa yang sebenarnya menghalangi dirinya dari Allah.
Medan Perang yang Sebenarnya — Penyakit Hati yang Paling Sering Tidak Disadari
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah qalb (hati)."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jika Al-Muhasibi mengajarkan kita untuk melihat ke dalam diri, maka Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin mengajarkan kita apa yang akan kita temukan di sana — dan bagaimana cara menyembuhkannya. Beliau menganalisis penyakit hati tidak sekadar dengan menyebutnya, tetapi dengan mengurai akar penyakit, gejala, dampak, dan terapinya — seperti seorang dokter yang teliti.
Berikut lima penyakit hati yang paling relevan dengan kehidupan Muslim modern:
Riya' — Amalan untuk Dilihat
Riya' dalam pengertian klasiknya adalah melakukan ibadah atau kebaikan dengan tujuan mendapatkan pujian manusia. Namun dalam konteks modern, wajahnya jauh lebih halus. Riya' tidak selalu berbentuk keinginan aktif untuk dipuji. Kadang ia hanya berupa ketidaknyamanan ketika tidak ada yang melihat kebaikan kita. Semangat ibadah yang tiba-tiba turun ketika tidak ada teman yang tahu. Atau kegelisahan ketika konten tentang ibadah kita mendapat sedikit respons.
Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata:
ما عالجت شيئًا أشد علي من نيتي
Mā 'ālajtu syai'an asyadda 'alayya min niyyatī.
"Aku tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih berat daripada memperbaiki niatku."
(Siyar A'lam an-Nubala')
Seorang imam besar saja terus berjuang melawan niatnya sendiri. Maka bagaimana dengan kita? Al-Ghazali menyebut riya' sebagai syirkun khafiy — syirik yang tersembunyi — karena ia menduakan Allah dengan pandangan manusia.
Hasad — Kedukaan atas Kebahagiaan Orang Lain
Hasad adalah perasaan tidak suka ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, disertai keinginan agar nikmat itu hilang dari mereka. Di zaman media sosial, hasad mendapatkan lahan yang sangat subur: kita terpapar setiap hari oleh sorotan kehidupan orang lain yang dikurasi dan ditampilkan. Abu Sulaiman Ad-Darani berkata bahwa jika seorang hamba benar-benar ikhlas, banyak bisikan dan riya' akan terputus darinya — karena hati yang ikhlas tidak membutuhkan perbandingan dengan orang lain.
Ujub — Kekaguman Terhadap Diri Sendiri
Ujub adalah perasaan kagum terhadap diri sendiri atas ilmu, ibadah, atau kebaikan yang dimiliki — tanpa menyandarkannya kepada karunia Allah. Di kalangan orang yang aktif secara keagamaan, ujub sering muncul dalam bentuk merasa lebih paham, lebih konsisten, lebih bersih dari orang lain. Dan ketika ujub sudah mengakar, ia menjadi tembok yang menghalangi seseorang dari terus belajar — karena ia sudah merasa cukup. Inilah yang oleh Al-Hasan Al-Bashri disebut sebagai sifat munafik: mengumpulkan keburukan namun merasa aman.
Hubbud Dunya — Cinta Dunia yang Memperbudak
Al-Ghazali menyebut hubbud dunya sebagai ra'su kulli khathi'ah — pangkal dari segala kesalahan. Namun yang perlu dipahami adalah bahwa bekerja mencari dunia, memiliki ambisi, dan menikmati rezeki bukan termasuk hubbud dunya yang tercela. Yang disebut hubbud dunya adalah ketika kecintaan pada dunia menjadi tujuan itu sendiri — bukan alat untuk meraih ridha Allah dan kemashlahatan. Gejalanya: sulit ikhlas melepaskan sesuatu, selalu merasa kurang, dan ukuran keberhasilan hidup hanya diukur dari parameter materi.
Ghaflah — Lalai yang Mematikan Rasa
Al-Ghazali menyebut ghaflah sebagai musuh terbesar ihsan — lebih berbahaya dari kekafiran yang terang, karena seseorang bisa tetap muslim, tetap shalat, tetap beramal, namun hatinya jauh dari Allah. Mereka tahu bahwa hidup sementara, tetapi bertindak seolah hidup selamanya. Dalam perspektif Al-Ghazali, hampir seluruh perjalanan tazkiyah adalah usaha keluar dari ghaflah menuju dzikrullah yang hidup.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang ghaflah dan rannya:
كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Kallā bal rāna 'alā qulūbihim mā kānū yaksibūn.
"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan telah menutupi hati mereka."
(QS. Al-Muthaffifin: 14)
Langkah Pertama Menuju Ihsan — Taubat yang Menghidupkan
Banyak orang mendengar kata taubat dan yang muncul pertama adalah perasaan berat — seolah taubat hanya untuk orang yang sudah melakukan dosa besar, atau seolah bertaubat berarti mengakui kehinaan diri secara terbuka.
Padahal, taubat dalam tradisi ulama salaf adalah sesuatu yang jauh lebih hidup dan lebih mulia dari itu. Taubat adalah keberanian untuk jujur kepada diri sendiri. Keberanian untuk berhenti sejenak dari keriuhan hidup, lalu dengan tenang bertanya: Ke mana hati ini sedang bergerak?
Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah menggambarkan taubat dengan indah dalam Madarij as-Salikin. Taubat, katanya, bukan sekadar menyesali masa lalu. Ia adalah inqilab — perputaran — di mana seseorang berbalik arah dari jalan yang salah menuju jalan yang benar. Gerakan yang penuh harapan — karena yang dituju adalah Allah, dan Allah adalah Tuhan yang paling mencintai hamba-Nya yang kembali.
Taubat yang paling sulit bukan taubat dari dosa yang jelas, melainkan taubat dari penyakit-penyakit halus yang sudah diuraikan sebelumnya — riya', ujub, hasad, ghaflah — yang sering tidak terasa sebagai penyakit karena sudah menjadi bagian dari kebiasaan. Syaratnya sederhana: menyesali yang telah lalu, berhenti dari perbuatan itu, dan bertekad untuk tidak kembali. Tidak perlu ritual yang rumit. Tidak perlu menunggu kondisi tertentu.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Innallāha yuḥibbut-tawwābīna wa yuḥibbul-mutatahhirīn.
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri."
(QS. Al-Baqarah: 222)
Taubat bukan jalan yang memalukan. Ia adalah jalan yang dicintai Allah. Dan jalan yang dicintai Allah selalu terbuka, tidak pernah ditutup, tidak pernah terlambat untuk ditempuh.
Mujahadah — Seni Melawan Diri Sendiri
Ada sebuah paradoks yang jarang dibahas. Manusia modern mampu mengendalikan mesin-mesin besar. Mampu merancang sistem yang mengatur jutaan orang. Namun ketika berhadapan dengan diri sendiri — dengan dorongan untuk menunda shalat, untuk membuka layar saat seharusnya beristirahat, untuk membalas dengan kemarahan saat seharusnya menahan — banyak yang tidak berdaya.
Ulama salaf menyebut perjuangan melawan diri ini sebagai mujahadah. Dan Allah menempatkan mujahadah sebagai salah satu syarat utama untuk mendapatkan bimbingan-Nya:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Walladzīna jāhadū fīnā lanahdiyannahum subulanā.
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."
(QS. Al-'Ankabut: 69)
Mujahadah adalah tentang disiplin — bukan disiplin yang kaku dan menyiksa, melainkan disiplin yang lahir dari kesadaran bahwa jiwa, seperti tubuh, membutuhkan latihan untuk menguat. Imam Al-Ghazali mengajarkan prinsip khilāful hawa — menyelisihi hawa nafsu. Ketika nafsu mengatakan "nanti," disiplin berkata "sekarang." Ketika nafsu mengatakan "tidak ada yang tahu," iman berkata "Allah melihat."
Abdullah bin Al-Mubarak berkata:
نحن إلى قليل من الأدب أحوج منا إلى كثير من العلم
"Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu."
(Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlih)
Mujahadah menghasilkan adab — bukan sekadar pengetahuan tentang kebaikan, tetapi transformasi karakter yang benar-benar mengubah cara seseorang berperilaku. Dan semakin sering seseorang berlatih mujahadah dalam hal-hal kecil, semakin kuat kemampuannya untuk mujahadah dalam hal-hal yang besar.
Menelusuri Makna Ihsan dari Bahasa
Sebelum sampai kepada definisi ihsan dalam hadits Jibril, ada kekayaan makna pada akar kata Arabnya yang sangat layak untuk digali — karena di sinilah pembaca akan memahami bahwa ihsan bukan sekadar "berbuat baik," tetapi sebuah keadaan di mana sesuatu mencapai tingkat keindahan, kesempurnaan, dan kualitas terbaiknya.
Kata الإحسان berasal dari akar:
ح س ن
yang melahirkan kata-kata: حَسَن (hasan) — baik, indah; حُسْن (husn) — keindahan; أَحْسَن (aḥsana) — memperindah, berbuat terbaik; dan إِحْسَان (iḥsān) — melakukan sesuatu dengan kualitas terbaiknya.
Dalam bahasa Arab klasik, husn memiliki dua dimensi sekaligus: kebaikan dan keindahan. Karena itu ketika menggunakan akar kata ini, maknanya lebih luas dari sekadar "baik" — ia mengandung unsur baik sekaligus indah.
Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur'an menjelaskan bahwa ihsan digunakan dalam dua makna: berbuat baik kepada orang lain, dan melakukan sesuatu dengan kualitas yang baik dan sempurna. Lalu beliau menjelaskan bahwa ihsan lebih tinggi daripada adil.
Mengapa? Karena:
Adil = memberikan hak orang lain sebagaimana mestinya.
Ihsan = memberikan lebih dari yang wajib.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
Innallāha ya'muru bil-'adli wal-iḥsān.
"Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan ihsan."
(QS. An-Nahl: 90)
Mengapa adil dan ihsan disebut terpisah? Karena adil adalah batas minimal — ihsan adalah melampaui batas minimal menuju keindahan. Adil adalah kewajiban. Ihsan adalah kemuliaan.
Allah juga berfirman:
وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Wallāhu yuḥibbul muḥsinīn.
"Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan."
(QS. Ali 'Imran: 134)
Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarij as-Salikin merumuskan ihsan sebagai:
لب الإيمان وروحه
"Inti dan ruh iman."
Mengapa? Karena Islam tanpa ihsan hanya menghasilkan gerakan. Iman tanpa ihsan hanya menghasilkan pengetahuan. Sedangkan ihsan mengubah semuanya menjadi kehidupan.
Ada juga kata Arab yang sangat dekat dengan ihsan: الإتقان (itqān) — menyempurnakan sesuatu dengan presisi. Perbedaan keduanya sangat halus: itqān adalah kesempurnaan kerja, sedangkan ihsan adalah kesempurnaan hubungan yang melahirkan kesempurnaan kerja. Ihsan lebih dalam dari sekadar hasil — ia tentang kondisi hati yang melahirkan hasil tersebut.
Secara bahasa, ihsan bukan sekadar "berbuat baik." Ihsan adalah menghadirkan keindahan dalam ketaatan, menghadirkan kualitas dalam amal, menghadirkan kesungguhan dalam hubungan dengan Allah — hingga sesuatu yang semula sekadar benar berubah menjadi indah. Dan itu sebabnya Rasulullah tidak mendefinisikan ihsan dengan jumlah amal, melainkan dengan kualitas kehadiran:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ
An ta'budallāha ka-annaka tarāhu.
"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya."
Hadits Jibril — Peta Perjalanan Ruhani Manusia
Suatu ketika, Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam wujud seorang lelaki berpakaian sangat putih. Ia bertanya tentang Islam, tentang iman, dan kemudian tentang ihsan. Maka Rasulullah menjawab:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
An ta'budallāha ka-annaka tarāhu, fa in lam takun tarāhu fa innahu yarāk.
"Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak (bisa) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
(HR. Muslim)
Perhatikan bahwa Rasulullah tidak berkata an ta'mala (engkau beramal), tetapi an ta'buda (engkau beribadah). Karena ihsan bukan sekadar kualitas tindakan, tetapi kualitas hubungan.
Imam An-Nawawi dalam syarah Hadits Jibril pada Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ihsan mencakup dua tingkatan:
Tingkatan pertama adalah musyahadah — "seakan-akan engkau melihat-Nya." Menurut beliau, ini adalah maqam yang lebih tinggi, di mana hati dipenuhi ma'rifat, pengagungan, cinta, dan kehadiran. Ibadah dilakukan bukan karena terpaksa atau karena takut, tetapi karena Allah menjadi tujuan pandangan hati. Bukan melihat Allah secara fisik — melainkan hati beribadah dengan keyakinan yang begitu kuat seakan tirai antara dirinya dan Rabbnya tersingkap.
Tingkatan kedua adalah muraqabah — "sesungguhnya Dia melihatmu." Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah asal dari muraqabah: seorang hamba menyadari bahwa Allah melihatnya, mendengarnya, mengetahui isi hatinya. Kesadaran ini menjaga amal dari riya' dan maksiat. Dan inilah yang dapat dicapai oleh mayoritas orang beriman yang bersungguh-sungguh.
Hadits ini, kata para ulama, adalah peta perjalanan ruhani manusia yang paling lengkap. Islam sebagai fondasi amal lahir. Iman sebagai fondasi keyakinan batin. Dan ihsan sebagai puncak — ketika seluruh bangunan itu dihidupkan oleh kehadiran.
Muraqabah — Hidup dengan Kesadaran Bahwa Allah Melihat
Mengapa seseorang bisa jujur di tempat yang banyak orang, tetapi curang ketika sendirian? Mengapa bersikap sabar di depan umum, tetapi kasar ketika di rumah? Mengapa beribadah dengan khusyuk ketika ada yang memperhatikan, tetapi asal-asalan ketika sendirian?
Jawaban atas semua pertanyaan ini ada pada satu kata: absennya muraqabah.
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa inti ihsan adalah:
دوام مراقبة العبد لربه
Dawāmu murāqabatil 'abdi li-rabbih.
"Kelangsungan kesadaran seorang hamba bahwa Rabb-nya selalu mengawasinya."
Beliau menjelaskan bahwa muraqabah melahirkan ikhlas, rasa malu kepada Allah, meninggalkan dosa tersembunyi, dan menjaga hati dari riya'. Ketika seseorang yakin Allah melihatnya, ia akan merasa malu melakukan maksiat meskipun tidak ada manusia yang melihat. Dalam bahasa Ibnu Rajab: ihsan bukan pertama-tama soal melihat Allah, tetapi tidak pernah melupakan bahwa Allah melihat kita.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
Innallāha ma'alladzīnattaqaw walladzīna hum muḥsinūn.
"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan."
(QS. An-Nahl: 128)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kebersamaan Allah di sini adalah kebersamaan berupa pertolongan, penjagaan, taufik, dan dukungan. Ayat ini menunjukkan bahwa ihsan bukan sekadar kualitas ibadah, tetapi jalan menuju ma'iyyah — kebersamaan khusus — bersama Allah.
Seseorang dengan muraqabah menjalani hidup yang utuh — karena ia tahu bahwa tidak ada "ketika sendirian" di hadapan Allah. Yang tersembunyi dari manusia tetap terbuka di hadapan-Nya. Dan dari keutuhan inilah lahir kepribadian yang konsisten: sama di dalam maupun di luar, sama di tempat umum maupun di kamar yang sepi.
Ma'rifat dan Mahabbah — Mengenal Allah Sebelum Mencintai-Nya
Ada sebuah prinsip yang sangat khas dari Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah:
Seseorang hanya dapat mencintai apa yang dikenalnya.
Prinsip ini sederhana namun mengguncangkan. Ia menjawab pertanyaan yang sering muncul: "Bagaimana cara menumbuhkan cinta kepada Allah?" Jawabannya: mulailah dengan mengenal-Nya.
Menurut Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin, ihsan lahir dari tiga unsur yang berurutan. Pertama, ma'rifatullah — mengenal Allah melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan kekuasaan-Nya. Semakin seseorang mengenal Allah sebagai Ar-Rahman, sebagai Al-Hakim, sebagai Al-Latif, sebagai Al-Ghafur, semakin hidup hatinya. Hati tidak akan mencintai sesuatu yang tidak dikenalnya — dan hati tidak akan memasrahkan diri kepada sesuatu yang tidak dicintainya.
Kedua, mahabbatullah — cinta kepada Allah. Beliau menulis bahwa ibadah sejati berdiri di atas:
كمال المحبة مع كمال الذل
"Kesempurnaan cinta yang disertai kesempurnaan ketundukan."
Menurut Ibnul Qayyim, jika hanya ada rasa takut, seseorang mungkin menjauhi dosa. Tetapi jika mencintai Allah, ia akan berlomba dalam ketaatan. Al-Ghazali menambahkan: manusia secara fitrah mencintai keindahan, kesempurnaan, dan kebaikan — dan tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih baik daripada Allah. Maka ma'rifat yang benar semestinya melahirkan mahabbah; dan mahabbah yang benar semestinya melahirkan ihsan.
Ketiga, hudhurul qalb — kehadiran hati. Ibnul Qayyim menggambarkan: ada orang yang shalat tetapi hatinya mengembara ke mana-mana; ada orang yang shalat dengan seluruh hati hadir di hadapan Allah. Perbedaan keduanya seperti langit dan bumi. Inilah ihsan menurut beliau.
Beliau menggunakan analogi yang sangat dalam — burung: kepala adalah mahabbah; dua sayapnya adalah khauf dan raja'. Jika salah satunya hilang, burung tidak bisa terbang. Ketiganya harus hadir secara seimbang: khauf agar tidak jatuh ke kelalaian, raja' agar tidak jatuh ke keputusasaan, dan mahabbah sebagai ruh yang menggerakkan semuanya.
Ibnu Taimiyah berkata:
إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لم يدخل جنة الآخرة
"Di dunia ada surga; siapa yang tidak memasukinya, ia tidak akan memasuki surga akhirat."
(Al-Wabil ash-Shayyib)
Para murid beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah ma'rifat kepada Allah, dzikir kepada Allah, dan kedekatan kepada Allah. Sebagian manusia mencari surga dalam kenyamanan. Para ulama salaf menemukannya dalam kedekatan dengan Allah — sebuah keadaan yang ternyata sudah bisa dimulai di dunia ini, bukan hanya di akhirat.
Ihsan dalam Ibadah — Ketika Shalat, Dzikir, dan Qur'an Menjadi Kehadiran
Setelah melewati taubat, mujahadah, muraqabah, dan mahabbah, kita tiba di pertanyaan yang paling praktis: bagaimana semua ini tampak dalam ibadah sehari-hari?
Namun sebelum masuk ke sana, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan terlebih dahulu.
Kita hidup dalam budaya yang menghitung segalanya dengan jumlah: jumlah pengikut, jumlah pencapaian, jumlah amal. Seolah-olah ukuran keberhasilan spiritual seseorang dapat dilihat dari angka — berapa kali khatam Al-Qur'an, berapa rakaat shalat malam, berapa banyak shadaqah yang dikeluarkan.
Tetapi Al-Qur'an tidak bertanya: "Siapa yang paling banyak amalnya?"
Allah bertanya:
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Liyabluwakum ayyukum aḥsanu 'amalā.
"Untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang paling baik amalnya."
(QS. Al-Mulk: 2)
Ibnu Katsir menjelaskan: yang diuji bukan siapa yang paling banyak amalnya, tetapi siapa yang paling baik dan paling ikhlas. Dan Al-Fudhail bin 'Iyadh menjawab pertanyaan "apakah amal yang paling baik itu?" dengan kalimat yang sangat padat:
Ambil contoh dzikir. Dzikir dengan ihsan bukan sekadar mengulang lafadz dengan bibir saja. Sa'id bin Jubair menjelaskan tentang QS. Ar-Ra'd: 28:
الذكر طاعة الله
Adz-dzikru ṭā'atullāh.
"Dzikir adalah ketaatan kepada Allah."
Maknanya dalam: ketenangan tidak lahir dari sekadar ucapan lisan, tetapi dari kehidupan yang tunduk kepada Allah. Dzikir yang sejati bukan hanya dua rakaat setelah subuh — ia adalah cara hidup, cara memandang setiap peristiwa, cara merespons setiap kesulitan dan kemudahan.
Ambil contoh membaca Al-Qur'an. Al-Qur'an dengan ihsan bukan lomba kecepatan khatam. Ia adalah perjumpaan dengan firman Allah yang ditujukan kepada jiwa. Ibnu Katsir menceritakan bahwa di antara salaf ada yang menghabiskan satu malam hanya untuk satu ayat — bukan karena tidak mampu membaca, tetapi karena ayat itu terus dibaca berulang, direnungkan, ditangisi, dan diresapi hingga masuk ke dalam hati.
Dan ihsan tidak berhenti di pintu masjid. Al-Ghazali menekankan bahwa hati yang hadir kepada Allah harus tampak dalam seluruh kehidupan: adab makan, adab berteman, adab bekerja, adab bermuamalah. Karena ihsan yang sejati bukan kekhusyukan yang hanya muncul di atas sajadah, lalu menghilang ketika sajadah dilipat.
أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ
Akhlaṣuhu wa aṣwabuhu.
"Yang paling ikhlas dan paling benar."
Beliau menjelaskan: amal yang ikhlas tetapi tidak benar caranya tidak diterima; amal yang benar caranya tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima. Ihsan membutuhkan keduanya. Allah tidak hanya melihat kuantitas amal, tetapi kualitas hati yang melahirkan amal tersebut.
Maka bagaimana wajah ihsan dalam ibadah sehari-hari?
Ambil contoh shalat. Al-Ghazali menegaskan bahwa tujuan shalat bukan sekadar sah secara fiqih. Tujuannya adalah hudhur al-qalb — kehadiran hati. Shalat dengan ihsan adalah ketika seseorang berdiri di atas sajadahnya dengan satu kesadaran: Aku sedang menghadap Allah. Takbir yang diucapkan bukan sekadar bunyi, melainkan pernyataan sungguh-sungguh bahwa Allah lebih besar dari segala urusan yang ditinggalkan. Al-Fatihah yang dibaca adalah percakapan — bukan monolog.
Buah Tertinggi Tazkiyah — Menjadi Wali Allah
Di sini perlu kita luruskan sebuah kesalahpahaman yang sudah lama beredar. Ketika mendengar kata "wali Allah," banyak orang membayangkan sosok dengan karomah yang luar biasa. Gambaran seperti ini membuat kata "wali Allah" terasa seperti sesuatu yang jauh dan tidak terjangkau.
Padahal Al-Qur'an sendiri memberikan definisi yang sangat jelas:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
Alā inna awliyā'allāhi lā khawfun 'alaihim wa lā hum yaḥzanūn. Alladzīna āmanū wa kānū yattaqūn.
"Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa."
(QS. Yunus: 62–63)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa wali Allah adalah setiap mukmin yang sempurna imannya dan konsisten dalam ketakwaannya. Mereka memperoleh keamanan dari ketakutan akhirat dan kesedihan yang merusak. Tidak ada kata "karomah" dalam ayat ini. Yang ada adalah: iman dan taqwa.
Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu menggambarkan dengan sangat indah:
أولياء الله الذين إذا رُؤوا ذُكِرَ الله
Awliyā'ullāh alladzīna idzā ru'ū dzukirallāh.
"Wali-wali Allah adalah orang-orang yang apabila mereka dilihat, orang lain teringat kepada Allah."
Perhatikan: wilayah tidak didefinisikan dengan karomah, melainkan dengan pengaruh ruhani yang lahir dari ketakwaan. Seseorang yang ketika dilihat membuat orang lain teringat kepada Allah — bukan karena ia berusaha tampil saleh, tetapi karena kehadiran Allah sudah begitu kuat memancar dari dalam dirinya.
Ibnu Taimiyah menjelaskan — sebagaimana dinukil dalam berbagai karyanya — bahwa wali Allah sesungguhnya tidak ditentukan oleh penampilan, status sosial, atau kehebatan amalan yang terlihat, melainkan oleh keadaan hati yang bersih dan konsistensi penghambaan kepada Allah. Wilayah adalah buah dari iman, takwa, dan perjalanan ihsan — bukan klaim, bukan gelar, bukan warisan.
Dan buah dari semua itu? Sebagaimana disebutkan dalam ayat: tidak ada kekhawatiran dan tidak ada kesedihan. Bukan berarti tidak lagi merasakan kesulitan. Bukan berarti hidupnya selalu mulus. Tetapi ia menghadapi kesulitan dengan fondasi yang berbeda — dengan ketenangan yang lahir dari keyakinan, bukan dari keadaan. Karena ia sudah menyerahkan segalanya kepada Pemilik segala sesuatu.
Al-Junaid Al-Baghdadi berkata:
الطرق كلها مسدودة على الخلق إلا على من اقتفى أثر الرسول ﷺ
"Semua jalan menuju Allah tertutup kecuali bagi orang yang mengikuti jejak Rasulullah ﷺ."
(Risalah Al-Qusyairiyah)
Perjalanan menuju wilayah, dengan demikian, tidak pernah keluar dari rel syariat. Pengalaman spiritual yang tidak berpijak pada Al-Qur'an dan Sunnah bukan pertanda kedekatan dengan Allah — ia justru pertanda ketersesatan. Wilayah yang sejati selalu hadir beriringan dengan ketundukan yang semakin dalam kepada wahyu.
Resonansi dengan Psikologi Modern
Para peneliti dalam ilmu psikologi modern menemukan sejumlah konsep yang memiliki kesepadanan menarik dengan tradisi tazkiyah Islam:
Muhasabah → Self-awareness: kesadaran mendalam tentang pikiran, emosi, dan pola perilaku diri sendiri.
Muraqabah → Mindfulness: kehadiran dan kesadaran penuh — namun dalam Islam, diarahkan sepenuhnya kepada Allah, bukan sekadar pada momen kini.
Mujahadah → Self-regulation: kemampuan mengelola dorongan dan menunda kepuasan sesaat demi tujuan yang lebih besar.
Ma'rifatullah → Meaning & purpose: kebutuhan manusia akan makna yang melampaui kebutuhan biologis dan sosial.Psikologi membantu manusia memahami dirinya. Tazkiyatun nafs membantu manusia memahami dirinya di hadapan Allah. Di situlah letak perbedaannya — dan di situlah letak kedalamannya.
Penutup: Pertanyaan yang Paling Jujur
Tiga ulama besar telah mengajarkan kita tiga hal yang saling melengkapi dalam perjalanan menuju ihsan ini.
Al-Muhasibi mengajarkan kita melihat ke dalam diri — mengenali jiwa sendiri sebelum mengklaim perbaikan diri. Al-Ghazali mengajarkan kita membersihkan apa yang kita temukan — membuang penyakit-penyakit hati dengan terapi yang telah diwariskan para ulama. Dan Ibnul Qayyim mengajarkan ke mana hati yang telah bersih itu harus melangkah — menuju ma'rifat, mahabbah, muraqabah, dan akhirnya ihsan.
Ketika perjalanan itu mencapai puncaknya, lahirlah apa yang disebut Rasulullah sebagai ihsan: ibadah kepada Allah seolah melihat-Nya.
Mungkin jalan menuju ihsan tidak dimulai dengan melakukan sesuatu yang besar. Mungkin ia dimulai ketika seseorang berhenti sejenak, melihat ke dalam dirinya dengan jujur, dan bertanya dalam sunyi: Ke mana hati ini sedang bergerak?
Mungkin ia dimulai ketika seseorang berhenti sibuk memperbaiki citranya di hadapan manusia, lalu mulai membersihkan hatinya di hadapan Allah.
Sebelum menutup halaman ini, izinkanlah dua pertanyaan diajukan — bukan untuk dijawab kepada siapa pun, tetapi kepada diri sendiri:
Jika hari ini seluruh pencapaian duniamu tetap ada — jabatan, harta, nama baik — tetapi ketenangan hati dicabut, apakah kamu masih merasa dirimu berhasil?
Dan jika ketenangan hati diberikan Allah kepadamu, meskipun dunia belum sempurna, bukankah itu bentuk kekayaan yang selama ini sebenarnya kamu cari?
Para ulama salaf tidak meninggalkan warisan berupa gedung-gedung megah. Yang mereka tinggalkan adalah hati-hati yang bersih, ilmu yang hidup, dan teladan bagaimana menjalani hidup di dunia tanpa kehilangan jiwa.
Dan jejak yang mereka tinggalkan masih bisa diikuti — oleh siapa pun, di zaman mana pun, dalam kondisi apa pun. Karena Allah tidak pernah menutup jalan pulang bagi siapa pun yang sungguh-sungguh ingin kembali kepada-Nya.
Mungkin seluruh perjalanan menuju ihsan ini — tazkiyah, muhasabah, mujahadah, muraqabah, mahabbah, kehadiran hati di hadapan Allah — pada akhirnya adalah perjalanan menuju sebuah panggilan:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
Yā ayyatuhan-nafsul mutma'innah. Irji'ī ilā rabbiki rādhiyatan mardhiyyah.
"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai."
(QS. Al-Fajr: 27–28)
Semoga Allah menyucikan hati-hati kita, melembutkannya, dan menjadikan kita termasuk golongan yang dipanggil dengan panggilan ini.
اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
"Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwa kami ketakwaannya, sucikanlah ia — Engkau sebaik-baik yang menyucikannya, Engkau Pemiliknya dan Pelindungnya."
(HR. Muslim)
Referensi Utama: Al-Qur'an Al-Karim; Shahih Al-Bukhari; Shahih Muslim; Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin; Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Madarij as-Salikin; Ibnu Rajab Al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wa al-Hikam; Imam An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim; Al-Muhasibi, Ar-Ri'ayah li Huquqillah; Ar-Raghib Al-Ashfahani, Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur'an; Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim; Jalalain, Tafsir Al-Jalalain; Al-Junaid Al-Baghdadi dalam Risalah Al-Qusyairiyah; Abu Nu'aim Al-Ashbahani, Hilyat al-Awliya'; Imam Adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala'; Ibn Abd al-Barr, Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlih.
