Hijrah yang Sesungguhnya:perjalanan hati dan jiwa dari kelalaian menuju kedekatan dengan Allah.
Hijrah yang Sesungguhnya: perjalanan hati dan jiwa dari kelalaian menuju kedekatan dengan Allah
Menyelami makna hijrah dalam perspektif Al-Qur'an, hadis, dan tazkiyatun nufus sebagai jalan mendekat kepada Allah.
Ada pertanyaan yang lebih mendesak dari sekadar "sudah berapa tahun usiamu?" — sebuah pertanyaan yang jarang berani kita hadapi dengan jujur saat memasuki tahun baru Hijriah: sudah sejauh mana hatimu berhijrah menuju Allah?
Muharram hadir bukan sebagai hari raya. Ia hadir sebagai cermin. Dan cermin yang baik tidak berbohong.
Ketika Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu bermusyawarah dengan para sahabat untuk menetapkan penanggalan Islam, mereka memilih peristiwa hijrah Nabi ﷺ dari Makkah ke Madinah sebagai titik tolak. Bukan kelahiran beliau. Bukan pula turunnya wahyu pertama. Ini bukan kebetulan. Para sahabat memahami bahwa hijrah adalah peristiwa yang paling mewakili hakikat perjalanan seorang mukmin: meninggalkan sesuatu demi sesuatu yang lebih dekat kepada Allah. Sebab di antara empat bulan yang dimuliakan Allah — yang Ia sebut dalam firman-Nya di QS. At-Taubah: 36 — Muharram dipilih sebagai pembuka, sebagai pengingat bahwa seluruh tahun yang kita jalani seharusnya dilandaskan pada semangat meninggalkan yang bathil menuju yang haq.
Namun apa sesungguhnya makna kata itu? Apa yang para ulama bahasa dan jiwa-jiwa besar Islam lihat di balik dua suku kata yang sering kita ucapkan dengan ringan: hi-jrah?
Dari Akar Bahasa: Hijrah Bukan Sekadar Bergerak
Para ulama bahasa mengingatkan kita bahwa kata hijrah berakar dari ه ج ر — dan Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah (entri: ه ج ر) menjelaskan bahwa dua makna mendasar yang mengalir dari akar ini adalah: at-tarku (meninggalkan) dan al-mubā'adah (mengambil jarak). Bukan sekadar bergerak. Bukan sekadar berpindah tempat.
Seorang musafir bepergian karena keperluan. Seorang muhajir meninggalkan sesuatu karena keyakinan. Di sinilah beda antara safar dan hijrah — dimensi yang sering luput dari kesadaran kita.
Ar-Raghib al-Ashfahani dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an (entri: هجر) memberikan penjelasan yang sangat dalam: Al-hajru mufāraqatul-insāni ghairahu immā bil-badani aw bil-lisāni aw bil-qalb — hijrah adalah memisahkan diri dari sesuatu, baik dengan badan, dengan lisan, maupun dengan hati. Tiga level sekaligus. Ini berarti seseorang bisa saja telah meninggalkan tempat maksiat secara fisik, tetapi hatinya masih berdiam di sana. Ia telah hijrah secara jasad, tetapi belum berhijrah secara batin.
Dan hijrah batin inilah yang menjadi tema besar yang dibicarakan oleh para imam tazkiyatun nufus sepanjang abad.
Sabda yang Mengubah Makna Sejarah Menjadi Misi Abadi
Rasulullah ﷺ sendiri yang memperluas horizon kata ini. Dalam hadis shahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, beliau ﷺ bersabda:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Wal-muhājiru man hajara mā nahallāhu 'anhu.
"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah."
(HR. Al-Bukhari, Kitab al-Iman)
Para ulama menyebut ini sebagai naqlu al-ma'na — pergeseran makna yang luar biasa. Hijrah tidak lagi terbatas pada perpindahan dari Makkah ke Madinah yang telah selesai dalam sejarah. Hijrah berubah menjadi tugas yang tidak pernah selesai selama seorang hamba masih hidup dan masih berdosa. Selama masih ada larangan Allah yang belum sepenuhnya kita tinggalkan, maka perintah hijrah masih terus menyeru kita.
Dan ini bukan berita yang memberatkan. Ini adalah kabar baik yang luar biasa: bahwa pintu hijrah tidak pernah tertutup karena tidak ada ketentuan geografis yang membatasi.
Lima Lensa Para Imam: Memandang Hijrah dari Kedalaman Jiwa
Marilah kita belajar melihat hijrah melalui mata para imam besar yang hidupnya habis untuk memetakan perjalanan jiwa manusia menuju Allah.
Al-Harits al-Muhasibi — ulama yang namanya sendiri berasal dari kata muhasabah karena begitu dalamnya beliau menghisab diri — meletakkan titik awal hijrah pada satu keyakinan yang menjadi inti seluruh karyanya dalam Ar-Ri'ayah li Huquqillah: bahwa seorang hamba tidak akan meraih keberuntungan sejati selama ia belum jujur menghisab dirinya sendiri. Jiwa yang lalai menghisab diri, menurut Al-Muhasibi, adalah jiwa yang berjalan dalam kegelapan tanpa kompas. Ini sangat sejalan dengan apa yang Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu serukan kepada seluruh kaum mukminin:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
Ḥāsibū anfusakum qabla an tuḥāsabū.
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab."
(Atsar Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu — dinukil oleh Ibnu Abi al-Dunya dalam Muhasabat an-Nafs)
Hijrah, menurut Al-Muhasibi, tidak bisa dimulai sebelum seseorang berani bercermin: dosa apa yang belum ditaubati? Niat apa yang masih tercampur riya'? Hak siapa yang belum ditunaikan? Hati ini lebih dekat kepada Allah atau kepada dunia? Tanpa muhasabah, seseorang hanya pindah tempat, bukan pindah arah.
Intisari Al-Muhasibi: Hijrah dimulai dari muhasabah (mengenal penyakit jiwa sendiri) → lalu muraqabah (sadar diawasi Allah) → lalu ikhlas (membersihkan niat dari riya').
Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, Rub' al-Muhlikat, memulai peta hijrah dari diagnosa penyakit yang paling berbahaya: ghaflah, kelalaian. Ketika hati lupa bahwa hidup memiliki tujuan, ketika rutinitas mengubur kesadaran akan Allah — itulah penyakit yang harus menjadi titik keberangkatan hijrah. Allah ﷻ sendiri mengingatkan dalam QS. Al-A'raf: 205: Wa lā takun minal-ghāfilīn — "Janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai." Dari kelalaian menuju dzikir, dari hawa nafsu menuju mujahadah, dari akhlak yang rendah menuju akhlak yang diridhai Allah — inilah peta perjalanan yang al-Ghazali bentangkan di hadapan kita.
Intisari Al-Ghazali: Gaflah (lalai) → Yaqzhah (sadar) → Hijrah dari nafsu → Hijrah dari dunia → Hijrah menuju akhlak Nabi ﷺ.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, Syarah Hadis ke-2 (hadis Wal-Muhajiru), mensyarah hadis hijrah dengan kalimat yang seperti pisau yang tajam menyentuh nurani: Fal-hijratul-ḥaqīqiyyatu hijratu mā nahallāhu 'anhu minad-dhunūbi wal-khaṭāyā — "Hijrah yang hakiki adalah meninggalkan segala dosa dan kesalahan yang dilarang Allah." Beliau membagi hijrah ke dalam tiga tingkatan: hijrah anggota tubuh dari maksiat lahiriah, hijrah hati dari riya', ujub, hasad, dan ketergantungan kepada makhluk, serta hijrah yang paling tinggi — ketika seluruh tujuan hidup berubah: dari mencari pujian manusia menjadi mencari ridha Allah. Beliau menegaskan bahwa banyak orang mampu meninggalkan maksiat yang tampak, namun masih membawa bongkahan penyakit hati yang tidak terlihat. Itulah yang justru paling berbahaya.
Intisari Ibnu Rajab: Hijrah anggota tubuh (lahir) → Hijrah hati (batin) → Hijrah seluruh orientasi hidup menuju ridha Allah.
Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, Bab al-Hijrah, dan dalam Riyadhus Shalihin, Bab al-Ikhlas, mengingatkan bahwa nilai hijrah tidak ditentukan oleh bentuk lahiriahnya, tetapi oleh tujuan dan niatnya. Dua orang bisa melakukan perbuatan yang sama persis; satu bernilai ibadah karena Allah, satu bernilai dunia karena untuk manusia. Inilah yang membuat hijrah ma'nawiyyah — meninggalkan dosa, memperbaiki akhlak, mengikhlaskan amal — menjadi ibadah yang tidak membutuhkan perjalanan jauh, tidak membutuhkan bekal banyak. Ia hanya membutuhkan satu hal: niat yang tulus karena Allah semata.
Intisari An-Nawawi: Niat adalah ruh hijrah. Hijrah dengan niat karena Allah bernilai ibadah. Hijrah dengan niat dunia hanya bernilai dunia.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Tariq al-Hijratain dan Madarij al-Salikin, Manzilah al-Mahabbah, menyempurnakan gambaran ini dengan sesuatu yang sangat khas dari pemikirannya: mahabbah, cinta. Menurut beliau, hati manusia selalu bergerak menuju apa yang paling ia cintai. Maka hijrah sejati bukan soal tekad semata — ia adalah soal ke mana cinta itu mengalir. Ketika seseorang mencintai Allah dengan cinta yang benar, maka seluruh hidupnya secara alami bergerak menuju Allah. Beliau merumuskannya: hijrah dari selain Allah menuju Allah, dan hijrah dari selain Rasulullah ﷺ menuju Rasulullah ﷺ — dari hawa nafsu menuju ubudiyah, dari ego menuju ridha-Nya.
Intisari Ibnu Qayyim: Hijrah ilallah (menuju Allah) + Hijrah ilar-Rasul (mengikuti sunnah) + Mahabbah sebagai bahan bakar perjalanan.
Tiga Lapisan Hijrah yang Disepakati Para Ulama
Menarik bahwa meskipun mereka hidup di zaman berbeda dan menulis dengan gaya yang berbeda-beda, para imam tazkiyatun nufus — dari Al-Muhasibi hingga Al-Junaid al-Baghdadi, dari Al-Qusyairi hingga Ibn Atha'illah as-Sakandari — hampir seluruhnya bersepakat bahwa hijrah memiliki tiga lapis yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Lapisan pertama adalah hijrah lahir: meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa yang tampak. Zina, riba, ghibah, kezaliman — ini adalah pintu masuk hijrah, bukan puncaknya. Al-Junaid al-Baghdadi berkata dalam Risalah al-Qusyairiyyah: "Tasawuf adalah keluarnya dirimu dari setiap akhlak yang rendah dan masuk ke dalam setiap akhlak yang mulia." Meninggalkan yang rendah adalah langkah pertama.
Lapisan kedua adalah hijrah batin: meninggalkan penyakit-penyakit yang bersembunyi di dalam hati — riya', ujub, hasad, takabbur, ketergantungan berlebihan kepada makhluk. Imam Asy-Syadzili bahkan mengingatkan bahwa seseorang bisa terhijab dari Allah bukan hanya oleh maksiat, tetapi juga oleh rasa bangga terhadap ibadahnya sendiri. Sahl at-Tustari merangkumnya dalam kalimat yang singkat namun menyeluruh: "Hijrah adalah meninggalkan seluruh keburukan" — mencakup pikiran, lisan, hati, dan perbuatan sekaligus.
Lapisan ketiga adalah hijrah ilallah: perjalanan menuju Allah melalui taubat, dzikir, ikhlas, dan mahabbah. Ibn Atha'illah as-Sakandari dalam Al-Hikam, Hikmah ke-6 mengajarkan: Ariḥ nafsaka minat-tadbīr — "Istirahatkan dirimu dari terlalu mengatur segala sesuatu." Banyak kegelisahan lahir bukan karena ujian yang berat, tetapi karena hati belum berhijrah dari rasa "mengendalikan" menuju "menyerahkan diri kepada Allah." Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam Al-Fath ar-Rabbani mengucapkan kalimat yang seperti petunjuk arah: Ukhruj min nafsika taṣil ilā rabbik — "Keluarlah dari dominasi nafsumu, niscaya engkau akan sampai kepada Tuhanmu."
Hijrah yang Paling Jauh Jaraknya
Imam al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah, Bab Tark al-Ma'ashi, menulis sesuatu yang perlu kita resapi perlahan: hijrah yang paling berat bukanlah perpindahan langkah kaki. Seseorang bisa berpindah benua, tetapi hatinya belum berpindah satu sentimeter pun dari sifat-sifat yang menghalanginya dekat dengan Allah.
Para ulama menyebut ada lima hijrah yang paling sulit namun paling menentukan: hijrah dari ghaflah menuju dzikir — karena kelalaian adalah anestesi yang tidak terasa; hijrah dari hawa nafsu menuju mujahadah — karena nafsu tidak pernah menyerah tanpa perlawanan; hijrah dari ketergantungan kepada makhluk menuju tawakal kepada Allah — karena jiwa manusia secara fitrah mencari sandaran; hijrah dari akhlak yang tercela menuju akhlak Nabi ﷺ — karena beliau ﷺ bersabda: Innamā bu'itstu li utammima makārimal-akhlāq — "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak" (HR. Imam Malik dalam Al-Muwaththa', Kitab Husn al-Khuluq, dinilai hasan shahih oleh al-Hakim dan para ulama hadis); dan hijrah dari cinta dunia yang berlebihan menuju cinta Allah dan akhirat — karena hati yang dipenuhi dunia tidak memiliki ruang yang cukup untuk Allah.
Inilah yang dimaksud para ulama ketika berkata bahwa hijrah yang paling panjang jaraknya bukanlah dari Makkah ke Madinah, melainkan dari nafsu menuju Allah, dari ego menuju ubudiyah.
Hijrah yang Terlihat dalam Amal Nyata
Salah satu kelemahan pemahaman kita tentang hijrah adalah memisahkannya dari amal kongkret sehari-hari. Kita membayangkan hijrah sebagai sesuatu yang serba batin dan tidak teraba. Padahal para ulama selalu menghubungkan transformasi jiwa dengan perubahan yang terlihat dalam kehidupan nyata.
Hijrah yang sesungguhnya meninggalkan jejak yang jelas. Shalatnya menjadi lebih terjaga waktunya — karena shalat adalah tiang yang menopang seluruh bangunan ibadah. Transaksinya menjadi lebih bersih dari yang syubhat dan haram — karena keberkahan rezeki bukan soal jumlah, melainkan soal dari mana ia datang. Lisannya menjadi lebih terjaga dari ghibah dan dusta — sebab Nabi ﷺ menjadikan keselamatan lisan sebagai salah satu tanda keislaman seseorang yang baik. Hubungannya dengan orang tua dan keluarga menjadi lebih hangat dan penuh hormat — karena silaturahmi yang putus adalah salah satu tanda hati yang sakit. Dan sikapnya terhadap sesama menjadi lebih rendah hati dan lebih sedikit menghakimi — karena ujub dan kesombongan adalah tanda jiwa yang belum berhijrah.
Allah ﷻ memerintahkan dalam QS. Adz-Dzariyat: 50 dengan kalimat yang sangat tegas:
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ
Fa firrū ilallāh.
"Maka larilah menuju Allah."
Kata firrū — larilah — adalah kata kerja yang menuntut gerakan nyata, bukan hanya perubahan di dalam hati. Hijrah sejati selalu bergerak: dari kebiasaan lama menuju kebiasaan yang lebih baik, dari pola hidup yang lalai menuju pola hidup yang bertauhid. Itulah mengapa para ulama tidak pernah memisahkan antara tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) dan amal salih (perbuatan nyata). Keduanya adalah dua sisi dari satu koin yang sama.
Hijrah dalam Bahasa Jiwa Modern
Salah satu bukti keagungan ajaran Islam adalah relevansinya yang tidak pernah usang. Ketika psikologi modern berbicara tentang perubahan manusia, ia menemukan — tanpa disadari — bahwa para ulama Islam telah membahasnya secara lebih mendalam berabad-abad sebelumnya.
Dalam psikologi kontemporer, perubahan yang bertahan lama disebut sebagai identity transformation — bukan sekadar mengubah perilaku, tetapi mengubah siapa diri seseorang di tingkat yang paling dalam. Seseorang yang hanya berubah perilaku tanpa berubah identitas akan kembali ke kebiasaan lama ketika tekanan meningkat. Inilah yang dikenal sebagai relapse. Tetapi seseorang yang telah mengubah identitas dirinya — dari "orang yang sering berbohong" menjadi "seorang hamba Allah yang harus jujur" — memiliki motivasi yang jauh lebih kuat untuk bertahan.
Para ulama Islam menyebutnya dengan bahasa yang lebih dalam: taghayyur al-qalb, perubahan hati. Ibnu Qayyim mengatakan bahwa hati yang telah benar-benar berhijrah akan merasakan kepahitan pada dosa yang dulu terasa manis. Ini bukan sekadar perubahan kebiasaan — ini adalah perubahan pada selera jiwa. Dan inilah yang dalam bahasa psikologi modern disebut sebagai intrinsic motivation: dorongan yang tumbuh dari dalam, bukan karena takut dihukum atau ingin dipuji.
Muhasabah yang diajarkan Al-Muhasibi memiliki resonansi yang kuat dengan self-awareness dalam psikologi kognitif — kesadaran akan pola pikir, emosi, dan kebiasaan yang selama ini tidak disadari. Muraqabah yang diajarkan Al-Ghazali sejalan dengan prinsip God-centered mindfulness — kesadaran penuh yang bukan hanya berpusat pada pengalaman saat ini, tetapi pada kehadiran Allah yang selalu menyertai. Dan mujahadah yang ditekankan oleh seluruh ulama tazkiyah adalah apa yang dalam penelitian psikologi kontemporer dikenal sebagai self-regulation — kemampuan menunda kepuasan sesaat demi tujuan yang lebih besar.
Namun ada satu perbedaan mendasar yang tidak boleh kabur. Dalam psikologi modern, tujuan akhir perubahan diri sering kali adalah well-being — kesejahteraan psikologis. Dalam Islam, tujuan akhir hijrah adalah ridha Allah dan kedekatan dengan-Nya. Inilah yang Allah gambarkan dalam QS. Al-Fajr: 27–28 sebagai an-nafs al-muthma'innah — jiwa yang tenang karena telah pulang kepada Tuhannya. Ketenangan itu bukan produk dari teknik psikologi, melainkan hadiah dari Allah kepada hamba yang telah sungguh-sungguh berhijrah.
Muharram sebagai Cermin, Bukan Perayaan
Dari keseluruhan pembahasan para imam tazkiyatun nufus, dapat dipahami bahwa kerugian terbesar bagi seorang mukmin adalah berlalunya waktu tanpa bertambah ilmu, iman, atau kedekatan kepada Allah. Jika satu hari demikian, bagaimana dengan satu tahun?
Maka ketika Muharram tiba, pertanyaan yang paling tepat bukanlah: "Resolusi apa yang hendak aku buat?" Pertanyaan yang lebih mendasar, yang diajarkan Al-Muhasibi kepada kita, adalah: "Penyakit hati apa yang akan aku tinggalkan tahun ini demi lebih dekat kepada Allah?"
Allah ﷻ sendiri memberikan panduan evaluasi ini dalam QS. Al-Hasyr: 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
Yā ayyuhalladzīna āmanū ittaqullāha waltanzur nafsun mā qaddamat lighad.
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok."
Hari esok di sini bukan hari Selasa. Ia adalah yaumul akhirat — hari yang terlalu penting untuk dilewatkan tanpa persiapan.
Dan persiapan itu dimulai dari hijrah. Dari satu langkah kecil yang nyata. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara terus-menerus meskipun sedikit — Aḥabbul-a'māli ilallāhi adwamuhā wa in qalla (HR. Al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq; Muslim, Kitab Shalah al-Musafirin — Muttafaq 'Alaih). Maka mulailah dari satu: menjaga shalat tepat waktu, meninggalkan satu dosa yang terus diulang, memperbaiki satu akhlak yang merusak hubungan, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an setiap hari meski hanya beberapa ayat.
Tanda Bahwa Seseorang Sedang Berhijrah
Hijrah yang sejati tidak selalu terlihat dari perubahan penampilan. Para ulama mengajarkan bahwa tanda hijrah yang hakiki adalah: hati lebih mudah taat, lebih cepat bertaubat ketika tergelincir, lebih rendah hati di hadapan sesama, lebih menjaga lisan, lebih mencintai Al-Qur'an, dan lebih ikhlas dalam setiap amal. Sebab ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan yang paling tampak perubahannya, tetapi yang paling bertakwa — Inna akramakum 'indallāhi atqākum (QS. Al-Hujurat: 13).
Dan ada satu perbedaan mendasar yang perlu kita pahami: taubat adalah kembali kepada Allah setelah terjatuh dalam dosa. Sedangkan hijrah adalah proses yang berlangsung sesudahnya — meninggalkan keadaan lama secara permanen menuju keadaan yang lebih diridhai Allah. Taubat sering menjadi pintu masuk hijrah. Hijrah adalah perjalanan panjang yang terbentang setelah pintu itu dibuka.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Hijrah
Apakah hijrah harus dimulai dengan berganti penampilan? Tidak harus. Perubahan penampilan boleh jadi bagian dari hijrah, tetapi bukan tolok ukurnya. Ibnu Rajab dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa banyak orang berubah penampilan tetapi hatinya belum berpindah dari riya', hasad, dan ujub. Hijrah yang hakiki diukur dari bertambahnya ketaatan dan berkurangnya dominasi hawa nafsu dalam kehidupan sehari-hari.
Apa perbedaan antara hijrah dan taubat? Taubat adalah kembali kepada Allah setelah tergelincir dalam dosa — ia mencakup penyesalan, penghentian dosa, dan tekad tidak mengulangi. Hijrah adalah perpindahan permanen dari satu keadaan menuju keadaan yang lebih diridhai Allah. Taubat adalah pintunya; hijrah adalah perjalanan sesudahnya. Seseorang bisa bertaubat berkali-kali dari satu dosa; tetapi hijrah yang sempurna berarti dosa itu benar-benar ditinggalkan.
Bagaimana cara memulai hijrah yang realistis? Para ulama — khususnya Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah — menganjurkan memulai dari yang paling dekat dan paling mendesak: perbaiki shalatmu terlebih dahulu. Shalat yang benar akan menjadi penjaga dari seluruh keburukan lainnya, sebagaimana Allah firmankan dalam QS. Al-'Ankabut: 45. Setelah itu, pilih satu kebiasaan buruk yang paling sering kamu ulang, dan mulailah meninggalkannya hari ini. Jangan menunggu sempurna sebelum memulai.
Apakah hijrah bisa gagal? Yang lebih tepat adalah: hijrah bisa terhenti sementara. Ketika seseorang kembali terjatuh ke kebiasaan lama, itu bukan akhir dari perjalanan — itu adalah ujian apakah ia akan bangkit kembali atau menyerah. Ibnu Qayyim dalam Madarij al-Salikin mengajarkan bahwa yang membedakan orang yang berhijrah dari orang yang tidak adalah: ketika jatuh, ia segera bangkit. Ia tidak membiarkan satu kegagalan menjadi alasan untuk menyerah dari seluruh perjalanan.
Apa tanda bahwa hijrah seseorang sedang berjalan ke arah yang benar? Tandanya bukan pada kesempurnaan, tetapi pada arah. Al-Muhasibi mengajarkan bahwa seseorang yang sedang benar-benar berhijrah akan merasakan: dosa yang dulu terasa ringan kini terasa berat, amal yang dulu terasa besar kini terasa kecil di hadapan keagungan Allah, dan kerinduan kepada Allah mulai tumbuh di dalam hati. Itulah tanda bahwa jiwa sedang bergerak ke arah yang benar.
Penutup: Sebelum Menutup Artikel Ini
Sebelum melanjutkan ke doa penutup, ada satu hal kecil yang para ulama tazkiyatun nufus selalu ajarkan kepada murid-muridnya: ilmu tanpa tindakan adalah seperti pohon tanpa buah. Maka sebelum menutup artikel ini, ambillah selembar kertas — atau cukup dalam hati — dan tulislah tiga hal:
Satu dosa atau kebiasaan buruk yang ingin saya tinggalkan tahun ini. Satu amal yang ingin saya jaga dengan istiqamah. Satu sifat yang ingin saya perbaiki dalam diri saya.
Itulah langkah pertama hijrah Anda. Bukan pidato. Bukan deklarasi publik. Cukup tekad yang jujur antara diri dan Allah ﷻ.
Allah ﷻ memanggil jiwa yang telah menempuh perjalanan hijrah ini dengan panggilan yang paling indah, yang Ia abadikan dalam QS. Al-Fajr: 27–28:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
Yā ayyatuhan-nafsul muṭma'innah. Irji'ī ilā rabbiki rāḍiyatan marḍiyyah.
"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai."
Itulah muara dari seluruh hijrah. Bukan perpindahan yang diukur dengan kilometer. Bukan perubahan yang diukur dengan pujian manusia. Melainkan sebuah kepulangan — jiwa yang berhijrah dari lalai menuju sadar, dari maksiat menuju taat, dari cinta dunia menuju cinta Allah, akhirnya pulang kepada Tuhannya dalam keadaan ridha dan diridhai.
Semangat Muharram bukan sekadar ganti tahun. Ia adalah undangan untuk ganti arah. Dan arah yang paling benar selalu menunjuk kepada satu kiblat: ila Allah — menuju Allah ﷻ.
Ibnu Rajab menutup pembahasannya dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam dengan kalimat yang seharusnya kita simpan di dalam hati:
فَمَنْ هَجَرَ مَا يَكْرَهُهُ اللَّهُ إِلَى مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهَاجِرُ حَقًّا
Fa man hajara mā yakrahuhullāh ilā mā yuḥibbuhullāh fahuwa al-muhājiru ḥaqqan.
"Barang siapa meninggalkan sesuatu yang dibenci Allah menuju sesuatu yang dicintai Allah, maka dialah orang yang benar-benar berhijrah."
Semoga Allah menjadikan Muharram ini sebagai awal perjalanan hijrah kita yang paling sungguh-sungguh. Hijrah dari apa yang Ia benci menuju apa yang Ia cintai. Hijrah dari siapa kita kemarin menuju siapa yang Ia ridhai dari kita. Allahumma amin.
Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukan berapa kali tahun berganti — tetapi sejauh mana hati telah bergerak menuju Allah.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Tsaqif Rasyid Dai
Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah Ahlu Sunnah wal Jamaah
persadani.org
Rujukan :
• Al-Qur'an: QS. At-Taubah: 36 • QS. Al-A'raf: 205 • QS. Al-Hasyr: 18 • QS. Al-Hujurat: 13 • QS. Al-'Ankabut: 45 • QS. Adz-Dzariyat: 50 • QS. Al-Fajr: 27–28 • HR. Al-Bukhari, Kitab al-Iman (hadis Wal-Muhajiru) • HR. Al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq + HR. Muslim, Kitab Shalah al-Musafirin — Muttafaq 'Alaih (hadis amal dawam) • HR. Imam Malik, Al-Muwaththa', Kitab Husn al-Khuluq (hadis makaarim al-akhlaq — dinilai hasan shahih oleh al-Hakim) • Atsar Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu — Ibnu Abi al-Dunya, Muhasabat an-Nafs • Ibnu Faris, Maqayis al-Lughah (entri: ه ج ر) • Ar-Raghib al-Ashfahani, Al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an (entri: هجر) • Al-Harits al-Muhasibi, Ar-Ri'ayah li Huquqillah (Bab Muhasabah an-Nafs) • Abu Hamid al-Ghazali, Ihya Ulumuddin (Rub' al-Muhlikat) • Abu Hamid al-Ghazali, Bidayatul Hidayah (Bab Tark al-Ma'ashi) • Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (Syarah Hadis ke-2) • Imam an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim (Kitab al-Imarah, Bab al-Hijrah) • Imam an-Nawawi, Riyadhus Shalihin (Bab al-Ikhlas) • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, Tariq al-Hijratain • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, Madarij al-Salikin (Manzilah al-Mahabbah) • Al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah (kutipan Al-Junaid al-Baghdadi) • Ibn Atha'illah as-Sakandari, Al-Hikam (Hikmah ke-6) • Abdul Qadir al-Jilani, Al-Fath ar-Rabbani
