Wara' di Tengah Perebutan Perhatian

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Wara' di Tengah Perebutan Perhatian

Ketika Hati Menjadi Medan yang Paling Diperebutkan di Zaman Algoritma

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Syubhat dan syahwat bukanlah tamu baru dalam kehidupan manusia. Keduanya telah berjalan bersama anak Adam sejak awal sejarah. Yang berubah bukan hakikatnya, melainkan cara keduanya mengetuk pintu hati.

Dahulu, syubhat sering datang melalui bisikan, desas-desus, atau pembicaraan di sudut pasar. Syahwat datang melalui apa yang tertangkap pancaindra: yang dilihat mata, yang didengar telinga, yang tersentuh tangan. Hari ini, keduanya bisa datang dari satu tempat yang sama — sebuah layar kecil yang hampir selalu berada dalam genggaman.

Namun ada satu fakta sederhana yang sering terlewat begitu saja. Syubhat tidak dapat memengaruhi sesuatu yang tidak kita perhatikan. Syahwat tidak dapat menguasai sesuatu yang tidak kita fokuskan.

Maka boleh jadi, medan pertempuran terbesar zaman ini bukan lagi sekadar perebutan harta, kekuasaan, atau informasi. Medan yang sesungguhnya adalah perebutan perhatian manusia. Dan di sinilah wara' menemukan wajah barunya — bukan hanya menjaga apa yang masuk ke mulut atau keluar dari lisan, tetapi juga menjaga apa yang masuk ke pikiran dan menetap di dalam hati.

Ada sebuah pergeseran yang berlangsung pelan, hampir tanpa disadari, sepanjang sejarah manusia. Pada satu masa, kekayaan terbesar dianggap emas — sesuatu yang bisa disimpan, diwariskan, dan diperebutkan.

Kemudian manusia mulai menyadari bahwa waktu lebih berharga daripada emas. Emas yang hilang masih bisa dicari penggantinya. Waktu yang telah berlalu, tidak pernah kembali.

Tetapi hari ini, ada sesuatu yang lebih halus mulai terasa: perhatian lebih berharga daripada waktu itu sendiri. Sebab waktu yang hilang kadang tidak segera disadari. Sementara perhatian yang hilang akan menentukan ke mana waktu itu mengalir.

Sebagian pemikir kontemporer menyebut fenomena ini sebagai attention economy — sebuah kondisi ketika perhatian manusia menjadi komoditas yang diperebutkan, diukur, dan diperdagangkan. Jika ekonomi klasik memperdagangkan barang, maka ekonomi perhatian memperdagangkan fokus manusia.

Kita hidup di tengah sebuah sistem yang — disadari atau tidak — memang dirancang untuk memperebutkan perhatian. Notifikasi, umpan tanpa akhir, video yang otomatis berputar ke video berikutnya, semuanya bekerja dengan satu tujuan: membuat kita berhenti sejenak, lalu bertahan lebih lama dari yang kita rencanakan.

Ini bukan tentang menuding pihak mana pun sebagai jahat. Ini tentang menyadari sebuah realitas: bahwa di zaman ini, perhatian telah menjadi sesuatu yang sangat berharga — dan kita masing-masing memutuskan, setiap hari, kepada siapa harga itu kita berikan.

Jika perhatian sedemikian berharga, mengapa kita sering memberikannya dengan begitu murah?

Ada seorang ayah yang suatu hari menyadari sesuatu yang membuatnya terdiam. Ketika dihitung-hitung, ia menyadari bahwa dalam sehari, ia mungkin lebih sering memandangi layar ponselnya daripada memandangi wajah anaknya sendiri.

Bukan karena ia tidak mencintai keluarganya. Bukan karena ia sengaja mengabaikan mereka. Fokusnya hanya berpindah, sedikit demi sedikit, tanpa terasa — sampai suatu hari anaknya bertanya dengan polos, "Ayah lihat HP lagi ya?"

Kadang kehilangan besar tidak terjadi sekaligus. Ia terjadi melalui ribuan gangguan kecil yang, satu per satu, terasa tidak berarti.

Mungkin sebagian dari kita pernah mengalami momen yang serupa. Tidak ada dosa besar yang sedang dilakukan. Tidak ada maksiat yang sedang direncanakan. Hanya sebuah layar yang terus meminta perhatian. Dan tanpa terasa, ruang batin itu perlahan berpindah dari orang-orang yang sebenarnya paling kita cintai.

Para ulama terdahulu tentu tidak mengenal istilah notifikasi, algoritma, atau layar sentuh. Tetapi mereka mengenal sesuatu yang jauh lebih mendasar daripada semua itu: hati manusia, dan betapa mudahnya hati itu lalai.

Al-Harith al-Muhasibi, salah satu peletak dasar ilmu tazkiyatun nufus, hidupnya banyak diwarnai oleh satu kata — muhasabah, yaitu menghitung dan memeriksa diri sendiri. Beliau mengajarkan bahwa hati manusia perlu terus diawasi, bukan karena hati itu jahat, tetapi karena hati itu hidup, dan sesuatu yang hidup selalu bisa bergeser arah tanpa disadari pemiliknya.

Bagi Al-Muhasibi, kesadaran paling mendasar yang melahirkan kehati-hatian adalah satu hal sederhana: bahwa hati seseorang selalu dalam pengawasan — bukan oleh manusia, tetapi oleh Allah.

Al-Muhasibi mengingatkan bahwa akar kehati-hatian bukanlah ketakutan kepada manusia, melainkan kesadaran bahwa Allah mengetahui gerak hati yang paling tersembunyi — lintasan pikiran yang bahkan tidak sempat kita ucapkan, dorongan hati yang muncul dan hilang dalam sepersekian detik.

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

An ta'budallāha ka'annaka tarāh, fa illam takun tarāhu fa innahu yarāk.

"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Muslim, Hadits Jibril)

Dari kesadaran "sesungguhnya Allah melihatmu" inilah lahir kepekaan hati yang oleh para ulama disebut wara'.

Jika muraqabah adalah kesadaran bahwa Allah melihat kita, maka Al-Qur'an mengajarkan sisi lain yang melengkapinya: bahwa apa yang kita lihat, dengar, dan simpan di dalam hati pun kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Di antara ayat yang sering kita baca, namun mungkin belum sepenuhnya kita renungkan maknanya secara mendalam, adalah firman Allah dalam Surah Al-Isra'.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Wa lā taqfu mā laisa laka bihī 'ilm. Inna as-sam'a wal-baṣara wal-fu'āda kullu ulā'ika kāna 'anhu mas'ūlā.

"Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban." (QS. Al-Isra': 36)

Selama ini, banyak dari kita membaca ayat ini sebagai ayat tentang ilmu — larangan mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan. Itu benar. Tetapi ada lapisan lain yang sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini.

Ayat ini menyebut tiga hal secara khusus: pendengaran, penglihatan, dan hati. Ketiganya akan dimintai pertanggungjawaban. Bukan hanya perbuatan tangan dan kaki, tetapi juga apa yang kita dengarkan, apa yang kita lihat, dan apa yang kita biarkan memenuhi hati.

Dengan kata lain, perhatian bukan sekadar fenomena psikologis yang dipelajari ilmu kognitif modern. Perhatian adalah amanah spiritual — sesuatu yang dipercayakan kepada kita, dan akan ditanyakan kembali bagaimana ia digunakan.

Kepekaan semacam ini — kepekaan terhadap apa yang masuk dan menetap, bukan sekadar soal halal-haram secara kasar — pernah ditunjukkan dengan sangat dalam oleh sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ.

Suatu hari, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu meminum susu yang dibawakan oleh pelayannya. Setelah meminumnya, beliau bertanya dari mana susu itu berasal. Pelayannya menjelaskan bahwa penghasilan yang digunakan untuk mendapatkan susu itu berasal dari sesuatu yang syubhat, dari masa sebelum keislamannya.

Mendengar itu, Abu Bakar segera memasukkan jarinya ke tenggorokan, memaksa dirinya memuntahkan seluruh susu yang telah ia minum. Beliau berkata, "Seandainya susu itu tidak keluar kecuali bersama nyawaku, niscaya akan aku keluarkan."

Yang dijaga oleh Abu Bakar bukan sekadar isi perutnya. Yang beliau jaga adalah kejernihan hatinya — agar tidak ada sesuatu pun yang masuk ke dalam dirinya melalui jalan yang tidak ia yakini bersih.

Jika Abu Bakar begitu teliti terhadap sesuatu yang masuk ke perutnya, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan hari ini adalah: seberapa teliti kita terhadap sesuatu yang masuk ke dalam perhatian kita setiap hari?

Di titik inilah istilah wara' menjadi relevan untuk direnungkan kembali. Secara bahasa, wara' berarti menahan diri dan menjauh. Dalam tradisi para ulama tazkiyah, wara' memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar menjauhi yang haram.

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ ۚ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ

Innal-ḥalāla bayyinun wa innal-ḥarāma bayyinun wa bainahumā umūrun musytabihāt. Famanittaqāsy-syubuhāt faqadistabra'a lidīnihi wa 'irḍih.

"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya." (Muttafaq 'Alaih)

Imam Ahmad bin Hanbal menjelaskan wara' dengan kalimat yang sangat sederhana:

الْوَرَعُ تَرْكُ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ

Al-wara'u tarku mā yarībuka ilā mā lā yarībuk.

"Wara' adalah meninggalkan sesuatu yang meragukanmu, menuju sesuatu yang tidak meragukanmu." (Imam Ahmad bin Hanbal)

Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskannya dari sudut yang sedikit berbeda: wara' adalah menjauhi apa pun yang dikhawatirkan membahayakan akhirat — baik perkara itu jelas haram, maupun sekadar mubah yang berpotensi menyeret hati.

Sementara Imam An-Nawawi memadukan keduanya: wara' adalah meninggalkan syubhat, dan juga meninggalkan apa pun yang tidak memberi manfaat. Beliau bahkan menempatkan satu hadits sebagai salah satu pokok akhlak dalam Islam.

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Min husni islāmil-mar'i tarkuhu mā lā ya'nīh.

"Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya." (HR. At-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976, Hasan)

Para ulama ini hidup jauh sebelum dunia digital. Mereka berbicara tentang pasar, makanan, harta, dan pergaulan. Tetapi prinsip yang mereka letakkan ternyata sangat lentur untuk dibawa ke zaman ini.

Dalam dunia yang memperdagangkan perhatian, wara' tidak lagi hanya berbicara tentang apa yang kita makan atau kita miliki. Ia juga berbicara tentang apa yang kita tonton, kita baca, kita ikuti, dan kita biarkan menetap di dalam hati.

Generasi terdahulu berjuang menjaga pandangan mereka dari pasar.

Generasi hari ini berjuang menjaga pandangan mereka dari layar yang selalu ikut ke mana pun mereka pergi.

Ada satu hikmah dalam Al-Hikam yang terasa seperti ditulis untuk zaman ini — sebuah zaman ketika mata kita jarang benar-benar kosong.

كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ صُوَرُ الْأَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِي مِرْآتِهِ

Kaifa yusyriqu qalbun ṣuwarul-akwāni munṭabi'atun fī mir'ātih.

"Bagaimana hati akan bersinar sementara gambar-gambar dunia masih melekat pada cerminnya?" (Ibnu Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam)

Jika dahulu "gambar-gambar dunia" itu hadir melalui pasar, keramaian, dan perjalanan, hari ini ia hadir bahkan ketika kita sedang sendiri.

Cermin hati tidak lagi menunggu dunia datang menghampiri. Kitalah yang membawanya ke dalam saku.

Mungkin kita pernah mengalami sesuatu yang terasa kontradiktif, namun begitu akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Kita terhubung dengan lebih banyak orang dibanding generasi mana pun sebelumnya. Tetapi rasa sepi tidak ikut berkurang — kadang justru bertambah.

Kita memiliki akses ke lebih banyak informasi dibanding siapa pun dalam sejarah manusia. Tetapi hikmah — kemampuan mencerna informasi menjadi kebijaksanaan — terasa semakin jarang kita temui, termasuk dalam diri kita sendiri.

Kita memiliki lebih banyak hiburan yang tersedia kapan saja. Tetapi ketenangan justru menjadi sesuatu yang semakin sulit kita rasakan, bahkan setelah berjam-jam menikmati hiburan itu.

Kita semakin mudah mengetahui apa yang terjadi di berbagai penjuru dunia. Tetapi semakin sulit mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam hati kita sendiri.

Mungkin kita pernah membuka ponsel hanya untuk satu menit, dan tanpa sadar tiga puluh menit telah berlalu. Mungkin kita pernah ingin mencari satu informasi, lalu tersesat ke puluhan video lain yang tidak pernah kita rencanakan untuk ditonton. Mungkin kita pernah ingin beristirahat, tetapi justru merasa lebih lelah setelah scrolling daripada sebelumnya.

Ada satu kisah dari ulama Nusantara yang — meski terjadi jauh sebelum era digital — terasa sangat relevan untuk direnungkan dalam konteks ini.

Buya Hamka pernah mengalami masa-masa sulit ketika dipenjara oleh kekuasaan pada zamannya. Beliau memiliki cukup alasan untuk menyimpan kemarahan, bahkan dendam, terhadap mereka yang memenjarakannya.

Namun yang lahir dari masa-masa itu bukan tulisan tentang dendam. Yang lahir adalah sebagian besar karya tafsirnya — Tafsir Al-Azhar — yang hingga hari ini masih dibaca banyak orang.

Seolah-olah beliau mengajarkan satu hal: tidak semua yang menarik pandangan hati harus dipelihara.

Tidak semua yang hadir dalam hati harus diberi tempat tinggal.

Termasuk luka. Termasuk kemarahan. Termasuk dendam.

Salah satu hikmah dalam Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari menyebutkan sesuatu yang terasa seperti ditulis untuk zaman kita.

مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْءٌ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ

Mā nafa'al-qalba syai'un mitslu 'uzlatin yadkhulu bihā maidāna fikrah.

"Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati selain menyendiri, yang dengannya seseorang memasuki medan tafakur." (Ibnu Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam)

Dunia modern memberi kita lebih banyak informasi dari yang pernah ada sepanjang sejarah. Tetapi tidak selalu memberi kita kesempatan untuk mencerna informasi itu menjadi hikmah.

Tafakur menjadi sesuatu yang langka. Bukan karena manusia kehabisan waktu untuk merenung. Tetapi karena perhatian kita terus-menerus terpecah, berpindah dari satu rangsangan ke rangsangan lain, sebelum satu pun benar-benar selesai diolah oleh hati.

Mungkin masalah terbesar zaman ini bukan kurangnya waktu untuk beribadah. Mungkin masalah terbesar zaman ini adalah hilangnya kemampuan untuk menghadirkan hati ketika beribadah.

Barangkali wara' pada zaman ini tidak selalu tampak seperti yang kita bayangkan.

Ia mungkin hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: meletakkan ponsel ketika seseorang yang kita cintai sedang berbicara. Menahan diri untuk tidak membuka notifikasi ketika azan berkumandang. Atau memilih memberi beberapa menit pertama setelah bangun tidur kepada Allah, sebelum memberikannya kepada dunia.

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Inna as-sam'a wal-baṣara wal-fu'āda kullu ulā'ika kāna 'anhu mas'ūlā.

"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban." (QS. Al-Isra': 36)



Referensi

  1. QS. Al-Isra' (17): 36 — Tafsir Ibnu Katsir; Tafsir Jalalain.
  2. HR. Bukhari dan Muslim, Hadits Nu'man bin Basyir tentang halal, haram, dan syubhat (Muttafaq 'Alaih).
  3. HR. Muslim — Hadits Ihsan (Hadits Jibril).
  4. HR. At-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976 — Hadits "Min husni islāmil-mar'i tarkuhu mā lā ya'nīh", dinilai hasan oleh Imam An-Nawawi dan Ibnu Rajab Al-Hanbali; dinukil pula dalam Riyadhus Shalihin.
  5. Al-Harith al-Muhasibi, Ar-Ri'ayah li Huquqillah — konsep muraqabah dan muhasabah.
  6. Ahmad bin Hanbal — definisi wara', sebagaimana dinukil dalam kitab-kitab manaqib dan tabaqat Hanabilah.
  7. Ibnu Rajab Al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wa al-Hikam — syarah hadits syubhat dan tingkatan wara'.
  8. Ibnu Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam — hikmah tentang 'uzlah, maidān al-fikrah, dan cermin hati (mir'ātul-qalb).
  9. Sirah Abu Bakar Ash-Shiddiq — riwayat tentang susu syubhat, dinukil dalam berbagai kitab manaqib sahabat.
  10. Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar — latar belakang penulisan pada masa pemenjaraan.

Artikel Populer

Saat Ego Bersembunyi di Balik Kesalehan

Cara Kerja Iblis dalam Hati Manusia: Peta Tersembunyi yang Dijelaskan Para Ulama

Ketika Allah Mencintai Hamba-Nya

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...